Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kitab Langit dan Bumi ll


__ADS_3

Di ruangan yang berbeda, Danur Cakra masih terus berlari. Dia menghindar dari kejaran dua orang pengawal yang terus membuntuti.


"Hahaha! Ternyata menarik juga. Dengan begini, aku bisa sambil mengukur kemampuan ilmu meringankan tubuh yang ku miliki," Danur Cakra justru senang memiliki teman bermain. Di tempat tinggalnya, dia hanya miliki kakek dan nenek yang jelas-jelas kemampuan segala ilmunya berada jauh di atasnya.


Danur Cakra melompat lalu kemudian tubuhnya berputar di udara. Kakinya mengarah pada sebongkah batu dan langsung menyutik batu tersebut.


Wuuussshh!


Dengan bantuan energi tenaga dalam Tapak Naga, Danur Cakra mengarahkan batu tersebut pada seorang pengawal yang mengejarnya.


"Kampret!" pendekar itu mengumpat saking kagetnya.


Tidak diduganya jika bocah kecil yang mereka kejar akan melakukan serangan mendadak. Awalnya mereka mengira jika bocah itu lari karena takut.


Baamm!


Pengawal itu hanya bisa mengangkat kedua tangannya, menjadikan alat untuk melindungi wajah dari berbenturan dengan batu yang sangat keras.


Kerasnya batu bertingkat berkali lipat setelah dikombinasi oleh energi Tapak Naga yang Danur Cakra gunakan.


"Auuu ... bocah sialan! Kepa*rat!" tubuh pengawal itu terhempas keras ke tanah. Tangannya terasa sangat sakit sekali. Sepertinya ada sendi yang bergeser.


Kemampuan yang Danur Cakra tunjukkan, hampir serupa seperti yang Suhita dan Mahesa miliki. Meskipun kenyataannya semuanya memiliki perbedaan yang begitu besar.


Kemampuan terbaik ialah yang Mahesa miliki. Sebab merupakan kesempurnaan dari apa yang Raditya kembangkan. Sepuluh Tapak Penakluk Naga yang ada pada Mahesa dilengkapi dengan seratus satu teknik dan trik yang tidak semua orang bisa pelajari. Tidak terbaca dan penuh dengan kepandaian untuk bisa menang dalam segala keadaan dan suasana. Kehormatan bagi seorang pendekar ialah untuk mereka yang bisa raih kemenangan.


Danur Cakra Prabaskara, mempelajari kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga langsung dari Raditya. Jika harus bicara jujur, dalam kenyataan pembandingan kemampuan, sesungguhnya Raditya sekalipun bukanlah lawan sepadan bagi Mahesa. Akan ada cara untuk Mahesa bisa kalahkan ayahnya jika dalam pertarungan. Ya, apalagi Danur Cakra yang hanya didukung oleh ambisi dan semangat baja semata.


Suhita lain lagi. Dari ketiga anak Mahesa, Suhita Prameswari merupakan yang paling berbakat. Tapi seperti yang sama kita ketahui, gadis kecil itu malah lebih tertarik untuk menggeluti dunia pengobatan dan menjadi tabib.


Tidak seorang pun yang miliki keberuntungan bakat layaknya sang ayah. Hingga tidak ada yang bisa capai target, diusia muda telah tumbuh menjadi seorang pendekar dengan kemampuan tenaga dalam tiada tanding. Namun bukan berarti mereka tidak berguna, justru takdir mereka tidak seburuk sang ayah yang selalu terbelenggu karma hingga kerap berada dalam kesusahan hidup. Memang bukan karena kalah dalam pertarungan, melainkan kehidupan pribadi yang tetap saja kusut hingga sekarang.

__ADS_1


Lalu, jika anak-anak Mahesa merupakan pecahan rubik yang terpisah, mampukah mereka bergabung untuk ciptakan kesempurnaan? Justru dari sanalah, menariknya kisah hidup mereka akan dimulai.


Braak! Danur Cakra menjatuhkan diri, menggunakan kakinya untuk menerjang jebol pintu kayu. Tubuh Danur Cakra meluncur mengikuti lorong setelah penutupnya jebol.


"Ah, ini dia ruangannya!" Danur Cakra bersorak gembira. Akhirnya dia menemukan apa yang dia cari.


Danur Cakra memusatkan pikirannya. Setelah beberapa waktu dia mengumpulkan konsentrasi, Danur Cakra menghentakkan kedua tangannya.


Wuuussshh! Wuuussshh!


Angin kencang berputar di seantero ruangan, mengacak-acak isi ruangan bawah tanah itu hingga tidak sepotong barang pun yang tidak berpindah tempat. Semuanya berantakan.


"Di mana Kitab Langit dan Bumi itu disimpan, mengapa tidak ada?!" Danur Cakra mengerutkan keningnya. Dia menatap berkeliling. Tidak nampak adanya kitab yang dia cari.


Danur Cakra berjalan mengitari ruangan. Dia mencari kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dia jadikan petunjuk. Ada sebuah kursi yang besar dan tinggi. Seperti kursi para raja. Danur Cakra berniat untuk menaikinya.


"Hei bocah kecil! Sekarang kau tidak bisa lari lagi!" seorang pengawal yang mengejar Danur Cakra juga meluncur melalui lorong bekas Danur Cakra tadi.


Pendekar yang sejak tadi mengejarnya segera melompat mendekat. Wajahnya nampak geram karena merasa dipermainkan oleh Danur Cakra.


"Kau sambut yang satu ini!" Danur Cakra menerbangkan seekor naga berwarna putih ke arah orang yang menyerang.


"Hump!" orang itu menghentikan lajunya mendekat pada Danur Cakra. Lebih dulu dia melompat menghindari pukulan tenaga dalam tersebut.


Danur Cakra tersenyum masam. Tanpa hirau pada sang pendekar, dia lekas menaiki tangga dan memeriksa kursi tinggi.


Kreeekkk! Tiba-tiba terdengar suara, Danur Cakra merasakan tempatnya berdiri bergerak dan dirinya berputar.


"Ah?! Tempat apa ini, gelap sekali," Danur Cakra masih berdiri di tempatnya semula ketika dia telah berpindah ruangan.


Pelan-pelan, retina mata Danur Cakra mulai menyesuaikan dengan kegelapan di sana. Perlahan di bisa melihat isi yang ada di dalam ruangan. Terdapat banyak sekali peti kayu. Entah apa isinya. Atau mungkin Kitab Langit dan Bumi tersimpan di salah satu peti tersebut.

__ADS_1


Danur Cakra memperhatikan lokasi tempatnya berdiri, dia baru menyadari jika tadi dia telah menginjak sesuatu hingga dinding batu tersebut berputar. Iseng, Danur Cakra malah kembali menginjak batu kecil yang menyembul di lantai.


Kreeekkk! Pintu kembali berputar, membuat Danur Cakra kembali berada di dalam ruangan pertama.


"Ah?! Di mana pendekar yang tadi menyerangku?!" Danur Cakra celingukan. Dia tidak menemukan ada siapa-siapa di sana. Atau jangan-jangan ...


Buru-buru Danur Cakra menginjak batu yang merupakan kunci untuk membuat dinding tersebut berputar. Membawanya kembali ke dalam ruangan yang gelap.


Benar saja, orang yang tadi mengejarnya telah jatuh tersungkur di dalam ruangan. Tadi, saat si pendekar itu sedang memeriksa dinding yang tiba-tiba berubah bentuk. Mendadak saja lantai yang menjadi tempatnya berdiri berputar dan membawanya masuk ke dalam ruangan yang gelap.


"Aaa ..." karena terkejut dan gugup, orang itu jatuh tersebut menimpa beberapa kotak peti kayu.


Ketika Danur Cakra kembali membuat dinding tersebut berputar, mereka tidak lagi dipisahkan oleh dinding, melainkan berada pada satu ruangan yang sama. Ruangan yang sangat gelap.


"Fuuiiihhh! Dasar kau bocah nakal. Beraninya kau permainkan aku!" dengan geram, si pendekar itu bangkit dan menatap ke arah Danur Cakra.


Namun bertapa terkejutnya dia, ketika sadar jika bocah kecil itu telah melompat menyerang, menggunakan lututnya untuk menghantam dadanya.


"Akh !!!" pendekar itu kembali terjatuh menghantam peti kayu. Danur Cakra yang telah duduk di atas tubuhnya, melayangkan pukulan berulang kali.


Pukulan yang disertai dengan tenaga dalam tersebut langsung menghantam tanpa ampun. Danur Cakra baru menghentikan pukulannya setelah tidak terdengar suara apa pun. Itu tandanya, orang yang di pukuli olehnya telah lama tiada.


"Mati, kau!" Danur Cakra menampar wajah orang yang telah tidak bernyawa itu. 


Danur Cakra bergegas bangkit dan mencari kitab bumi dan langit yang dia inginkan.


Seluruh peti yang ada telah dia bongkar, ruangan itu di acak-acak. Pokoknya dia belum berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Hahaha!" tawa Danur Cakra pecah ketika dia menemukan kitab langit dan bumi yang dia cari-cari.


Setelah menyimpan rapi kitab tersebut, Danur Cakra bergegas keluar.

__ADS_1


__ADS_2