Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bantuan Tidak Terduga


__ADS_3

Cahaya menyilaukan nan panas, membuat mata berkedip saat memandang. Pepohonan pun memalingkan pandangan mereka karena tak kuasa melawan hawa yang terpancar. Bahkan titik api bermunculan di sana-sini akibat imbas energi tenaga dalam yang menyebar.


"akhh ... huuuhhh, sialan! Siapa yang berani ikut campur urusanku!" seraya mengipas-ngipas wajahnya yang terasa seperti mengelupas, pendekar Aliansi Utara Selatan itu bangkit dan memandang berkeliling.


Tidak nampak adanya manusia yang berdiri di sana. Hanya napas Kali Age yang terdengar kasar, efek aura dari energi api yang muncul sangatlah buruk bagi pernapasan pria yang hampir tewas itu.


"Bang*sat! Suruh temanmu itu muncul!" bentaknya pada Kali Age.


Kali Age semakin kebingungan. Karena memang dia hanya datang seorang diri. Jika muncul sosok pendekar lain yang juga ikut campur, pastinya dia datang dengan tujuan yang sama. Dalam hati, Kali Age berdoa jika yang datang adalah seorang pendekar besar yang bisa dia andalkan untuk membalas dendam pada para pendekar Aliansi Utara Selatan yang telah merampas haknya untuk hidup. Siapa pun itu, Kali Age tidak perduli. Yang dia inginkan hanyalah kematian orang yang telah menyiksanya. Saat bertemu di neraka nanti, mungkin ada kesempatan baginya untuk membalas dendam.


"Hei, siapa yang kau cari?!" suara mengejutkan tiba-tiba muncul di samping mereka.


Serentak Kali Age dan pendekar Aliansi Utara Selatan itu menoleh. Dan di luar dugaan, mereka mendapati sosok seorang wanita berusia tiga pulahan tahun berdiri amat dekat. Wajah itu ... sangat tidak asing. Wajah seorang pendekar yang sangat terkenal di Utara, bahkan seantero dunia persilatan. Seorang pendekar pengendali energi api yang maha sempurna, pendekar nomor satu di Utara, Dewi Api.


"Senang sekali kau datang. Pendekar baik hati, mereka ... mereka menyekap Tabib Titisan Dewa. Sekarang, calon penolong di masa depan itu di bawa ke Klan Perisai Hujan. Kau harus selamatkan dia, demi dunia persilatan di masa depan. Mereka ..."


"Tutup mulutmu!"

__ADS_1


PLAAAKKKK!!! Tanpa bisa dicegah, tangan pendekar Aliansi Utara Selatan itu bergerak cepat dan menghantam geraham Kali Age. Menghabisi pendekar paruh baya itu dengan sekejap. Mengakhiri penderitaannya saat itu juga.


Dewi Api menyaksikan pembunuhan itu tanpa ekspresi, tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun. Bahkan tanpa berkedip. Lalu pandangan matanya teralih pada pendekar dari Aliansi Utara Selatan yang terlihat begitu gugup.


"Tidak disangka, seorang pendekar ternama dari padepokan besar pun bersedia mengotori diri dengan berjuang memperebutkan apa yang tidak di takdirkan menjadi milik kalian. Menyedihkan ..."


"Benarkah?! Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dari pada seorang yang putus asa?!" Dewi Api melangkah mendekat. Istri Mahesa itu tersenyum kecut menghampiri lawannya.


"Kau mau apa?! Jangan mendekat, atau aku tidak akan segan menghabisi seorang wanita!" dengan segera pendekar tersebut mengarahkan mata pedangnya pada Dewi Api.


Ujung pedang itu bergetar, menandakan jika mental sang pendekar telah tertekan. Ya, dia telah kalah sebelum berperang. Sangat mudah bagi Dewi Api untuk bisa selesaikan orang itu, karena orang yang gentar hanya bisa lakukan tindakan konyol tanpa mampu gunakan akal dan pikiran sebagai mana mestinya.


"Omong kosong! Aku ingin lihat, bagaimana cara pedang apimu itu bekerja!" dengan berpura-pura tegar, pendekar itu langsung menyergap ke arah Dewi Api.


Dewi Api mengangkat pedangnya, menahan sabetan pedang lawan tanpa kesulitan. Senyum di bibirnya menandakan jika sang lawan sama sekali bukanlah tandingannya. Tenaga dalam yang mereka miliki sangat jauh berbeda. Hingga pada saat Dewi Api melakukan serangan balasan, pendekar itu tidak mampu melakukan apa pun. Pedangnya terangkat, namun sama sekali tidak berfungsi untuk menepis serangan Dewi Api malah memberikan ruang di dadanya yang terbuka untuk Dewi Api melemparkan pedang api miliknya.


Saat berikutnya, tubuh Dewi Api muncul di belakang sang lawan. Tangannya menangkap pedang yang meluncur di udara. Tidak ada tetesan darah yang mengalir karena api pada bilah pedang telah lebih dari cukup untuk membakar apa pun yang menempel.

__ADS_1


"Akhhh ..." pendekar Aliansi Utara Selatan tadi, menatap dadanya yang terbelah. Sepersekian detik pedang Dewi Api melintas dan hanya menyisakan lubang tanpa rasa sakit.


Pelan tapi pasti, bukan darah yang muncul melainkan rasa panas beserta titik api yang mulai menyala di tubuhnya.


"Aku harap, kau tidak penasaran lagi. Dan begitulah cara pedangku bekerja. Kau tidak perlu merepotkan orang untuk menggali lubang kubur," sambil berlalu, Dewi Api bicara. Dia tidak perduli apakah orang yang dia ajak bicara masih mendengar atau tidak.


"Aliansi Utara Selatan, aku sudah menduga jika kalian pasti yang melakukan semua ini. Berani mengganggu putraku, maka jangan pernah kalian salahkan aku!" Dewi Api mengepal penuh kemarahan.


°°°


Sementara itu, Suhita Prameswari masih terguncang di atas kereta kuda. Dia duduk di samping kusir sambil bersandar rileks. Setelah diperhatikan baik-baik, Suhita melihat seperti ada sesuatu yang menempel di bagian kepala belakang sang kusir. Hita tidak langsung bicara, melainkan mencari tahu akan benda apa itu. Dia berupaya untuk mengalihkan pembicaraan pada lokasi jalan yang mereka lalui, hingga kusir kereta kuda itu menoleh ke kiri dan kanan. Saat dia memalingkan pandangan dengan dalam, Suhita bisa melihat jika benda tersebut menancap di kepala kusir. Menyerupai jarum pentul, Suhita yakin jika yang terlihat itu hanyalah bagian belakang jarum.


"Apa mungkin, itu merupakan jarum pengendali jarak jauh?!" Suhita memicingkan mata.


Sejauh yang Suhita ketahui, ada beberapa jenis jarum pengendali yang umum di gunakan. Pada tahap tertinggi, bahkan jarum tersebut mampu mengendalikan orang yang sudah meninggal. Dengan kata lain, mayat yang tidak bernyawa akan kembali hidup dan melakukan perintah si pengendali seperti layaknya manusia normal. Hanya saja, mereka tidak memiliki rasa sakit. Jarum itu dikenal dengan nama Jarum Kehidupan.


Untuk membuat mayat-mayat yang terpengaruh oleh Jarum Kehidupan, menurut dan menyerang lawan maka dibutuhkan serbuk Anggrek Pencabut Nyawa sebagai pucuk perintah. Maka, mayat-mayat hidup itu akan menyerang tanpa kenal takut, sampai orang yang dituju tewas tak bersisa.

__ADS_1


Suhita bisa mengenali jika melihat secara langsung Anggrek Pencabut Nyawa itu, tapi dia sama sekali belum mengetahui di mana dan dari apakah serbuk jaha*nam itu terbuat.


Suhita tiba-tiba teringat pada kejadian di utara Kota Giling Wesi, ketika itu Hita berangkat dari padepokan Giling Wesi untuk mencari ayahnya. Suhita sempat menemukan ada beberapa mayat yang di bawa ke luar kota. Dia juga bahkan sempat bertarung dengan seorang pendekar wanita, Ratu Racun dari barat. Suhita curiga jika semuanya bukanlah merupakan suatu kebetulan?!


__ADS_2