
Setelah melalui pertarungan sengit yang cukup alot, Danur Cakra berhasil memukul jatuh lawan-lawannya. Ketiga anak buah Muning Raib bisa diringkus dengan masing-masing alami patah tulang yang cukup parah. Jika tidak memikirkan adanya Suhita di sana, ingin rasanya Danur Cakra mencabik-cabik dan menguliti tiga orang tersebut.
"Mengapa banyak orang tua yang sudah payah dan sakit-sakitan terus bertahan hidup? Itu karena mereka sayang pada anak cucu. Jika kalian mati sekarang, takutnya tidak ada kesan yang tertinggal untuk cucu kalian nanti. Hmmm ... menyedihkan sekali," Danur Cakra menggeleng penuh rasa prihatin.
Dengan berkata begitu, Danur Cakra berharap agar perkataannya di dengar dan berhasil masuk ke dalam hati salah seorang penjahat yang dikalahkannya. Mempengaruhi salah satu dari mereka supaya tidak bunuh diri. Cakra masih butuhkan keterangan dari mulut mereka. Siapa yang bertanggung jawab atas serangakaian serangan yang bertujuan untuk mengacaukan ulang tahun Raditya.
Sementara itu, Raka Jaya sudah siuman. Dia nampak terkejut ketika membuka mata dan mendapati adanya Suhita yang membantu menyembuhkan lukanya. Semakin tercengang Raka Jaya, saat dia juga melihat Danur Cakra yang telah melumpuhkan tiga orang yang menghajar dirinya tadi. Dia diselamatkan oleh saudaranya, tapi bagaimana dengan ibunya?
"Ibu!" Danur Cakra teringat pada Dewi Api, dia segera bangkit meskipun tubuhnya masih lemah.
"Kak, jangan memaksakan diri. Kau kehilangan banyak cairan juga tenaga dalammu. Istirahatlah sebentar," ucap Suhita menahan gerakan Raka Jaya.
"Bagaimana aku bisa berdiam diri di sini. Ibuku dalam bahaya, orang-orang itu pasti sudah menangkap ibu!" Raka Jaya menepis lengan Suhita. Dia bersikeras pada keinginannya untuk tetap pergi menolong ibunya.
"Heh, Jenderal yang terhormat. Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? Lihat dirimu ... bahkan melawan anak kecil pun kau tidak mampu. Yang ada, kau hanya akan menjadi beban bagi ibumu!" Danur Cakra datang dan langsung mendorong pundak Raka Jaya sampai jatuh terduduk di tanah.
Memang benar, untuk beberapa saat ini kemampuan Raka Jaya tidak mungkin bisa untuk selamatkan ibunya. Dia masih lemah, dan perlu istirahat memulihkan tenaga dalam. Setidaknya dalam satu ataupun dua jam, pastilah Suhita bisa berikan bantuan supaya kondisi Raka cepat pulih.
"Kalian tidak tahu apa yang aku alami, apa yang ibuku alami. Sementara musuh menyerang Ibu. Apakah aku akan bisa diam di sini? Dia ibuku, bukan ibu kalian. Jelas kalian tidak pikirkan seperti apa yang aku pikirkan!" jawab Raka Jaya pula dengan nada tinggi.
"Kak! Apa kau sadar atas apa yang baru saja kau ucapkan?! Kau tahu, jika hatiku terluka mendengarnya?" tanya Suhita dengan suara yang terdengar bergetar.
"Hita, jangan berpura-pura di hadapanku. Jika benar kau menaruh simpati pada ibuku, maka biarkan aku pergi. Aku harus membantu ibu, jangan halangi jalanku!"
"Hahaha!" Danur Cakra tertawa lebar. Dia menatap Raka Jaya dengan tatapan miris, seraya menggelengkan kepalanya berulang kali. Sikap Danur Cakra begitu terasa merendahkan Raka Jaya, itu yang Raka rasakan. Membuat hatinya bergolak, meskipun sekarang dia tidak punya cukup kemampuan untuk mengekspresikan.
"Kak Raka, bukan saatnya untuk ego. Jika saja kau sedikit bisa mengerti ... begitu berharga waktu yang terbuang sia-sia dan hanya kita lewati memperdebatkan hal yang tidak berguna," Suhita menghela napas, sebelum kemudian dia duduk di hadapan Raka Jaya, menunjukkan sebutir sumberdaya di depan wajah Raka Jaya.
"Dengan ini, maka kau bisa cepat pulihkan kemampuanmu, Hita akan membantu Kakak. Setelah itu, maka kita akan sama-sama menemukan bibi Dewi," ucap Suhita dengan lembut. Berusaha menenangkan hati Raka Jaya yang kalut.
"Bicara tapi tidak didengar, menolong tidak dihargai. Terlalu keras hati, harusnya cari orang lain saja. Terkadang seorang yang tidak waras pun akan lebih mengerti," Danur Cakra terus bicara dengan kalimat yang membuat telinga Raka Jaya panas.
"Kak Cakra! Sssttt! Bisa tidak, kau urus saja mereka?!" Suhita bangkit dan mendorong Danur Cakra supaya menjauh. Lebih baik Cakra korek informasi dari ketiga tawanannya.
Di balik hati Raka Jaya yang panas akibat perkataan Danur Cakra, pada akhirnya dia bertekad untuk menunjukkan pada Cakra jika dirinya sama sekali tidak butuh bantuan Danur Cakra. Raka Jaya setuju pada Suhita, untuk lebih dulu mengobati luka dalam yang ia alami. Mengingat apa yang terjadi padanya, sudah barang pasti saat ini Dewi Api sudah tidak lagi dijumpai di tempat terakhir Raka Jaya tinggalkan. Pasti lawan yang datang sudah meringkus Dewi Api, membawanya entah ke mana.
"Ibu, maafkan aku. Tapi aku pasti akan datang untuk selamatkan ibu," batin Raka Jaya. Tekadnya semakin kuat kala bayangan wajah ibunya melintas di benak.
__ADS_1
Raka Jaya duduk bersila, setelah menelan pil yang diberikan Suhita, dia memusatkan konsentrasinya. Mengatur napas dengan tenang, mencoba kumpulkan serpihan energi yang menyebar. Sementara itu, Suhita membantu Raka Jaya. Hita duduk di belakang Raka dengan kedua tangan menempel di punggung saudaranya, mengerahkan tenaga dalam murni untuk memperlancar proses yang Raka sedang lakukan. Tangan Tabib Dewa, biasanya sangat mujarab.
"Sari, kemari!" Danur Cakra melambaikan tangannya pada Kencana Sari.
"Iya," Kencana Sari segera mendekat pada Cakra.
"Jelaskan pada mereka, siapa dirimu dan juga majikanmu itu. Biarkan mereka tahu, kalau apa yang aku ucapkan bukanlah bualan," Danur Cakra mempersilakan Kencana Sari untuk bicara pada tiga orang anak buah Muning Raib.
Kencana Sari mengangguk, dia segera melakukan seperti apa yang Danur Cakra minta. Bagaimana mereka bisa melihat proses pengobatan yang belum pernah ada di muka bumi. Jelas menandakan kalau gadis muda yang mengobati itu bukanlah juru sembuh abal-abal.
"Aku tidak yakin, tapi aku berharap kalian pernah mendengar nama Tabib Titisan Dewa bukan? Sejak kecil Tabib Dewa telah jadi incaran para pendekar seperti kalian. Dan sekarang, Tabib Dewa telah berubah menjadi gadis cantik yang kalian lihat itu," ucap Kencana Sari.
"Makanya, bicara jujur. Dan mungkin Tabib Dewa akan berbaik hati untuk berikan kalian barang satu atau dua butir pil penyembuh, supaya kalian bisa bertemu dengan anak cucu kalian lagi!"
Rencana yang Danur Cakra jalankan berjalan dengan mulus. Setelah nampak berpikir sejenak, tiga anak buah Muning Raib memutuskan untuk memaparkan apa yang Danur Cakra ingin ketahui. Mereka berkhianat pada pimpinan dan lebih memilih untuk jalan kesembuhan diri mereka sendiri.
"Kalian tidak akan tahu, bahkan meski hanya mendengar. Pimpinan kami bernama Raja Iblis dari Lereng Utara. Dia seorang pendekar yang juga berasal dari selatan seperti layaknya Kakek Jenderal Muda. Dan kalian tahu, pimpinan kami berencana untuk menjadikan Menantu dan Cucu Pendekar Naga Suci sebagai jaminan supaya Pendekar Naga Suci mau berduel dengan pimpinan kami," jelas seorang dari anak buah Muning Raib.
Kemudian dia juga menambahkan jika akar masalah sebenarnya berasal dari dendam lama, dendam keluarga padepokan yang belum sempat dibalas. Saat ulang tahun Raditya (Pendekar Naga Suci) yang keseratus, Raja Iblis dari Lereng Utara berencana untuk menantang berduel. Hidup atau mati. Menuntaskan segala dendam yang membara selama puluhan tahun.
"Apa yang kami rencanakan pasti akan berhasil jika saja kalian tidak ikut campur. Dan kalian tahu, jika saat ini mungkin Dewi Api sudah tidak akan bisa kalian temui di sekitar hutan ini," setelah berhenti beberapa saat kemudian anak buah Muning Raib melanjutkan perkataannya. "Di barat daya Kota Bukit Hijau ada sebuah kuil tua. Di sana kami berjanji untuk bertemu. Akan tetapi, Tuan Muning Raib sudah pergi dan pastinya dia memberi tahu atas apa yang terjadi di tempat ini. Selebihnya, aku tidak tahu."
"Aku berpikir jika kalian adalah penjahat yang paling licik. Tapi ternyata tidak, karena aku lebih licik! Hahah!" Danur Cakra tertawa terbahak. Setelah itu, tatapan mata Danur Cakra berubah sangat mengerikan. Dia mendekatkan wajahnya pada ketiga anak buah Muning Raib.
"Kalian pikir aku merupakan seorang yang baik hati layaknya Tabib Dewa? Aku percaya, Tabib Dewa akan menyembuhkan kalian jika kalian memohon. Tapi satu hal yang harus kalian tahu ... kalian tidak punya kesempatan untuk memohon pada Tabib Dewa," suara Danur Cakra mendesis penuh nada ancaman. Dia tidak sedang bermain-main, dan akan melakukan apa yang telah dikatakan.
"Bang*sat! Terku*tuk kau baji*ngan!" anak buah Muning Raib hanya bisa mengumpat. Mereka tahu jika pendekar di hadapannya adalah pendekar aliran sesat seperti juga mereka. Mana mungkin menyimpan kebaikan di dalam hatinya.
Satu kesalahan yang telah dilakukan dan tidak mungkin bisa diperbaiki. Kata yang telah terucap mana mungkin ditarik kembali. Mengapa tiga orang itu harus percaya pada ucapan busuk Danur Cakra. Setelah mengetahui perkiraan keberadaan Dewi Api, sudah pasti mereka akan dihabisi.
"Oh, ya. Satu hal lagi yang perlu kalian ketahui sebelum mati. Atas perbuatan kalian, bukan hanya Dewi Api dan Jenderal dungu itu yang terlibat. Tapi juga Tabib Dewa. Dia merupakan bagian dari keluarga Raditya. Dan aku yakin, Tabib Dewa sangat menghargai ku jika saat ini aku menanggalkan nyawa kalian!" Danur Cakra mengangkat kedua alisnya.
"Ayo, lakukan kepa*rat! Kau kira kami takut mati?!"
"Hahaha! Sabar ... raja neraka sedang persiapkan tempat untuk kalian!" Danur Cakra tertawa, kemudian bangkit dan mengajak Kencana Sari meninggalkan ketiga orang yang masih terikat tali.
Kencana Sari sempat menoleh pada ketiga orang itu, dia tidak melihat Danur Cakra melakukan tindakan. Mengalirkan racun ataupun melepaskan pukulan tenaga dalam. Sari mengira jika Danur Cakra hanya mengancam. Akan tetapi ...
__ADS_1
Ketika Kencana Sari menoleh untuk terakhir kalinya, dia melihat jika tiga orang tersebut telah kaku. Tubuh mereka menghitam, dengan darah yang sepenuhnya habis dihisap oleh sesuatu.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, sembari melangkah meninggalkan tiga tawanannya, Danur Cakra mengirim Naga Hitam dari alam evolusi miliknya, memerintahkan siluman naga remaja untuk menghabisi mereka, menghisap darah ketiganya tanpa ampun.
Kencana Sari hanya bisa menelan ludah, dalam hati dia merasa ngeri jika harus dekat-dekat dengan Danur Cakra. Saudara kembar Suhita ini memiliki sifat layaknya langit dan bumi, berbeda jauh dengan Suhita.
Tapi tunggu dulu ... Kencana Sari baru saja dikejutkan oleh satu perkataan Danur Cakra yang tadi diucapkan pada tiga orang anak buah Muning Raib. Jika Tabib Dewa memiliki hubungi dengan Raditya, yang notabene-nya merupakan kakek kandung Jenderal Muda, apa tidak mungkin mereka bertiga pun miliki hubungan keluarga?
Huuuhhh ... kepala Kencana Sari nyut-nyutan memikirkan itu. Selama ini dia, bahkan juga Kemuning sudah menaruh curiga. Tapi tidak menyangka jika bakal seperti ini. Merupakan beban mental bagi Kencana Sari karena harus ikut sembunyikan ini dari dunia persilatan. Lebih baik dia tidak tahu apa-apa, tidak ada resiko untuknya. Tapi apa boleh buat, mau tidak mau Sari harus menerima semua kenyataan ini. Pemilik badan saja bisa tenang, mengapa harus Sari yang bingung?
°°°
Setelah beberapa waktu berlalu, tubuh Raka Jaya kembali diselimuti oleh pancaran aura jingga, menandakan jika sepenuhnya aura yang dia miliki tidak lagi terkontaminasi oleh energi lain. Menunjukkan kalau proses pemulihan kesembuhan tenaga dalamnya berjalan sebagaimana mestinya.
"Huuuhhh ..." Suhita menarik tangannya dari punggung Raka Jaya, kemudian menghembuskan napas panjang. Hita tersenyum, besarnya semangat dan tekad Raka Jaya membuat proses pengobatan berjalan lebih cepat.
"Kak, bagaimana kau merasa baikan?" tanya Suhita pada Raka Jaya.
Raka Jaya tersenyum, kemudian mengangguk. Dia mengucapkan banyak terima kasih pada Suhita. Hanya saja Raka Jaya mempertanyakan mengapa juga ada Danur Cakra dan Kencana Sari di tempat itu.
"Ceritanya sangat panjang. Nanti pasti aku ceritakan. Yang terpenting sekarang kita harus atur siasat untuk secepatnya selamatkan Bibi Dewi," jawab Suhita yang seketika mengalihkan topik pembicaraan.
Raka Jaya kembali teringat pada ibunya. Dia beruntung telah terbebas dari rasa sakit yang melilit perut karena bantuan Suhita. Tapi ibunya ... Raka bisa membayangkan betapa buruknya kondisi Dewi Api saat ini. Dia pasti ditawan dengan berbagai perlakuan tidak mengenakkan. Seketika darah Raka Jaya kembali mendidih.
Dengan segera Raka Jaya bangkit. Diikuti Suhita dia bergegas mendekat pada tiga orang anak buah Muning Raib. Tapi, yang mereka temukanlah hanyalah tiga sosok mayat. Pasti perbuatan Danur Cakra.
"Ops, ops, ops. Jangan dulu kencangkan urat leher. Silakan tanya pelayanmu, aku tidak melakukan apa pun pada mereka. Tiba-tiba saja mereka mati," Danur Cakra langsung menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir Suhita ketika Suhita baru saja berbalik badan, bersiap untuk neyerocos.
"Fuuiiihhh! Siapa orang yang akan percaya padamu?! Jika saja kau tidak bisa pertanggung jawabkan semua ini, jangan harap ..."
"BERISIK! Bisa tidak, bicara pelan-pelan, lemah lembut seperti pencitraanmu di depan banyak orang? Gilir padaku saja, seperti kucing ingin kawin!" Danur Cakra terus main-main, memancing Suhita untuk selalu marah-marah.
"Sari, coba jelaskan pada mereka!" Danur Cakra memilih untuk diam, karena pastinya kedua saudaranya lebih percaya kalau Kencana Sari yang menjelaskan.
Dan benar saja, setelah Kencana Sari selesai bicara Raka Jaya dan Suhita langsung bergegas. Mereka akan segera menemukan kuil tua di barat daya Kota Bukit Hijau.
"Sialan! Hei, tunggu aku!" Danur Cakra mendengkus, dengan segera dia pun ikut menyusul.
__ADS_1