Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Ratu Racun


__ADS_3

Wuuusss! Wuuusss!


Dua bilah pisau berukuran kecil melesat kencang menembus gundukan kabut yang merangkak di tanah.


Beruntung tiada satu pun dari mata pisau yang tepat mengenai sasaran. Salah satu dari pisau itu menerobos batang pisang yang seketika langsung menguning daunnya.


"Wow, racun mentari senja. Sungguh aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja kau menyerangku?!" Suhita berbicara ke arah sosok yang menyerangnya.


Tidak lama berselang, satu bayangan muncul dari balik gelapnya malam. Seorang wanita berusia tiga pulahan tahun. Sebenarnya wajah wanita itu cukup menarik, hanya saja pakaian dan hiasan yang dia gunakan terlalu mengerikan. Hingga memberikan kesan angker pada wajahnya.


Sama sekali Suhita belum pernah melihat paras wanita itu. Bertemu pun rasanya baru kali ini. Tapi mengapa dia langsung menyerang dengan senjata beracun? Itu tandanya niat si wanita tersebut tidaklah baik. Nyawa adalah incarannya.


Oh, Suhita baru ingat. Jangan-jangan dia adalah salah seorang kaki tangan Bergala Ireng, yang tadi para pekerjanya sempat bertemu dengan Suhita. Cepat sekali dia datang, atau memang sejak tadi telah membuntuti?!


"Hahaha! Dugaanmu benar bocah ingusan. Kau tidak salah! Memang aku adalah kepala penanggung jawab orang-orang yang tadi kau tindas. Dengar baik-baik, namaku Dewi Macau. Ratu racun dari barat. Berani kau ikut campur urusanku, sama saja kau mencari mati," dengan berkacak pinggang, Dewi Macau memperkenalkan dirinya.


Tentu saja tidak ada kesan ketakutan yang terpancar dari ekspresi wajah Suhita. Dia benar-benar tidak mengenal siapa wanita itu. Mengaku sebagai Ratu racun, wajar-wajar saja karena Suhita sudah saksikan kehebatan racun mentari senja yang hampir mengenai tubuhnya.


"Bibi, apakah aku telah lakukan kesalahan? Sama sekali aku tidak mengganggu anak buahmu yang sedang mencari nafkah."

__ADS_1


"Fuuiiihhh! Terlalu ingin tahu, sama saja dengan mencampuri urusan orang lain. Jangan kira aku tidak melihatnya. Kau masih kecil saja, sudah pandai bermain lidah. Ku siapkan satu peti jenazah untukmu!" selepas bicara, Ratu racun segera mengibaskan tangannya kembali menyerang Suhita.


Ancaman yang diucapkan oleh Ratu racun bukanlah gertakan belaka, dia benar-benar berniat untuk habisi Suhita dalam satu serangan.


Dengan cekatan, Suhita melompat dengan gunakan jurus tarian naga yang dia miliki. Menghindari beberapa racun yang melesat ke arahnya. Tidak lupa, Suhita melakukan gebrakan dengan mengambil satu serangan racun dengan gunakan selendang miliknya. Dengan mudah Suhita menjinakkan racun tersebut dan memasukkannya ke dalam bumbung bambu kecil sebelum kemudian bumbung bambu tersebut lenyap, hilang ke dalam cincin mustika miliknya.


"Aku terlalu merendahkan dirimu. Kiranya kau tidak seperti yang terlihat," Dewi Macau alias Ratu racun mendengkus kesal.


Sebagai orang yang telah mendedikasikan sebagai ratu racun, harga dirinya seolah diinjak-injak oleh bocah ingusan yang dengan mudahnya menaklukkan bahkan menyimpan racun terbang yang dia gunakan. Untung saja, di tempat itu hanya ada mereka berdua. Hingga masih banyak kesempatan bagi Ratu racun untuk mencelakai Suhita. Salah satunya ialah dengan pertarungan.


"Tindakanmu yang berusaha untuk mencelakai aku, membuat aku semakin menaruh curiga jika kegiatan yang kelompok kalian lakukan merupakan tindakan yang melanggar hukum. Besar kemungkinan kaulah yang mencelakai orang yang ada di dalam peti jenazah itu," tuding Suhita.


"Hahaha! Aku justru senang jika kau melawan. Dengan demikian, kau bisa tunjukkan kemampuan yang kau punya hingga aku tidak menjatuhkan harga diriku karena membunuh bocah ingusan yang tidak berdaya."


Ratu racun melompat menyergap ke arah Suhita. Menggunakan cakar yang terbuat dari besi beracun. Dia akan mencabik tubuh Suhita menjadi dua bagian.


Suhita tidak tinggal diam. Dia bukanlah seorang pendekar yang selalu siap sedia untuk pertarungan, tapi untuk membela diri tentunya Suhita telah membekali kemampuannya dengan tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga pada tahap yang paling tinggi. Semakin Suhita sering bertemu dan bertarung dengan lawan yang tangguh, maka kemampuan yang telah dibuka seluruhnya itu bisa cepat disempurnakan. Sama saja dengan Suhita berlatih tenaga dalam tentunya.


Pertukaran jurus telah berlangsung. Ratu racun harus membuka matanya lebar-lebar jika kemampuan tenaga dalam yang dimiliki oleh lawannya tidak bisa dianggap remeh. Meskipun terlihat jelas jika Suhita bukan merupakan anak yang rajin berlatih bela diri. Dia bukan pesilat, tidak berniat menjadi seorang pendekar wanita. Tapi mengapa dibekali dengan kemampuan yang sulit diukur? Siapa lawannya kali ini, sungguh Ratu racun dari barat jadi sangat penasaran.

__ADS_1


Dalam pertarungan, fokus adalah pokok yang utama. Kendati pengalaman bertarung Suhita tidak mumpuni, tapi dengan ratu racun yang berpikir keras membuat Suhita punya kesempatan untuk menyarangkan satu pukulan tepat di pundak lawannya.


Praaaaakkkk!


Terdengar seperti suara tulang yang remuk saat pukulan Tapak Naga Es yang Suhita lepaskan menghantam keras pundak ratu racun.


"Akkkhhh!" jerit tertahan keluar dari mulut ratu racun. Seiring dengan tubuhnya yang terdorong keras ke samping.


Beruntung Suhita menghentikan serangannya. Jika saja bocah itu terus memburu, maka pasti tubuh ratu racun akan kembali terkena pukulan susulan.


"Keparat! Ilmu ini ... rasanya aku pernah melihat," ratu racun memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia benar-benar telah memandang lawannya terlalu rendah, hingga kejadiannya jadi begini.


Suhita mempelajari seluruh teknik bertarung yang diajarkan oleh ayahnya. Tentu saja karena itu Suhita repleks gunakan kekuatan Tapak Naga Es, sebagai teknik dasar dalam tangani lawan. Sebenarnya, sudah hampir separuh teknik bertarung yang Mahesa ajarkan dan telah Suhita kuasai, akan tetapi mengingat rasa welas asihnya sebagai seorang tabib Suhita tidak tega untuk mencelakai orang.


Jika ada orang yang sakit, maka Suhita akan berusaha keras untuk menyembuhkan. Bagaimana dia bisa dengan mudahnya untuk menyakiti orang yang sehat. Sekali lagi, Suhita harus akui jika dunia persilatan jauh berbeda dengan dunia seorang tabib.


"Bibi, aku bisa tawarkan racun yang sejak tadi kau taburkan. Hingga kau hanya alami kerugian yang besar. Tentunya kau begitu sulit peroleh sumberdaya itu bukan? Baiknya, kita jangan perpanjang masalah ini. Silahkan bibi pergi. Aku pun masih punya urusan lain," ucap Suhita melepaskan Ratu racun.


Sebagai seorang ahli racun, Dewi Macau tahu jika yang diucapkan Suhita bukanlah omong kosong. Dia juga merasakan jika bocah itu juga menguasai kemampuan ilmu racun yang sangat tinggi. Dengan menekan rasa malu, Dewi Macau melangkah meninggalkan Suhita. Dadanya masih terasa panas dingin. Pukulan tidak terduga yang dilepaskan bocah itu memerlukan perawatan khusus. Setidaknya, ratu racun harus merogoh saku lebih dalam untuk keluarkan biaya besar membeli sumberdaya pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2