Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Eee ... Ketemu Lagi


__ADS_3

Langit tidak berjanji, akan selalu biru. Tapi dia berjanji akan selalu menemani. Bumi juga tidak berjanji, jalan selalu rata. Tapi dia berjanji berikan kekuatan.


Dengan begitu, semuanya seri. Saat manusia menyerah, bukan berarti dia telah kalah. Tapi hanya karena lelah berjuang. Sangat miris memang, karena sebenarnya bahkan setelah mendapatkan pun, bukan berarti berhenti berjuang.


Mengejar seseorang, apa itu termasuk perjuangan. Tentu saja iya. Apa lagi, jika sampai mengeluarkan keringat seperti itu. Suhita menghembuskan napas panjang ketika kehilangan orang yang dia ikuti di kelokan jalan. Sepertinya, orang itu sadar jika diikuti hingga sengaja menghilangkan jejak.


"Hei, ah. Kiranya Tabib kecil. Aku tidak menduga jika itu dirimu," murid padepokan yang merupakan pasukan pengawal dari Padepokan Api Suci itu tiba-tiba muncul dari arah belakang Suhita. Ya, dia bersembunyi dan baru muncul saat orang yang ditunggunya datang.


"Maaf, saya berusaha untuk menyusul Tuan. Tapi Tuan begitu cepat," jawab Suhita berbohong.


"Itu salahku, maaf. Oh, ya. Apakah Tabib kecil berniat untuk mencari penginapan kami? Kalau begitu, mari ikuti aku."


"Terima kasih," Suhita membungkuk hormat. Kemudian dia bersama pendekar itu menuju ke penginapan di mana Raka Jaya menginap.


Memang itu tujuan utama Suhita hingga jauh-jauh dia nekat datang ke Giling Wesi. Dia ingin menyaksikan secara langsung bagaimana Raka Jaya meraih gelar sebagai peserta terbaik di Giling Wesi kali ini.


"Tuan, apa Raka Jaya belum tidur?" tanya Suhita pada pendekar yang membawanya.


"Kau bisa menginap di sini, kami menyewa banyak kamar. Tabib kecil tidak perlu khawatir."


Langkah mereka terus meniti anak tangga hingga sampai di lantai tiga. Justa Jumpena dan yang lain terlihat sedikit terkejut melihat Suhita yang datang, juga tanpa ditemani oleh pengasuhnya.


"Saya datang bersama dengan guru saya. Tapi beliau sedang ada kepentingan, makanya saya tinggal bersama teman dari Padepokan Kidang Kencana," papar Suhita.


"Baiknya Tabib kecil tinggal bersama kami saja, aku akan kirimkan pesan pada Padepokan Kidang Kencana," ucap Justa Jumpena. Kemudian seorang prajurit segera mengantar Suhita ke sebuah kamar kosong.

__ADS_1


Suhita mengucapkan banyak terima kasih. Dia segera menempati kamarnya. Tidak disangka, hidupnya terlalu beruntung. Setelah menyimpan kotak pengobatan yang dia bawa, Suhita tinggal mencari waktu untuk bertemu sahabatnya.


Satu hal yang sama sekali tidak Suhita ketahui, jika malam itu tepat di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya ditempati oleh saudara kembarnya. Danur Cakra Prabaskara. Hanya saja, Danur Cakra tidak terus bergabung dengan rombongan dari Padepokan Api Suci karena dia juga merupakan peserta kompetisi yang bukan merupakan wakil dari Padepokan Api Suci.


Danur Cakra masih berlatih di kamar sebelah, dia juga tidak menduga jika orang yang baru menempati kamar di sebelahnya adalah Suhita Prameswari. Danur Cakra hanya membuka matanya sejenak ketika mendengar ada orang yang menempati kamar. Tentu sangatlah wajar karena memang anggota pengawalan Raka Jaya sangatlah banyak.


Mereka adalah saudara kembar satu ayah, satu ibu. Jarang berjumpa dan pastinya telah saling memendam rindu rindu mendalam. Berada dalam satu tempat, akan tetapi terpisah oleh dinding yang membuat keduanya tidak bisa saling sapa.


Percayalah, meskipun seorang kakak tidak pernah berkata "Aku sayang kamu adik" akan tetapi rasa sayang di hatinya melebihi dari apa pun juga.


Keduanya terlelap, terbuai dalam mimpi masing-masing juga tidak sempat untuk saling berjumpa dalam mimpi tersebut.


°°°


"Hita, kau ... kau sudah sejak semalam di sini?!" Raka Jaya tertegun heran ketika pagi-pagi sekali dia telah mendapati Suhita berdandan cantik dan ada di tempatnya menginap.


"Ah, kau terlalu berlebihan. Jika saja, lawan yang ku hadapi seperti dirimu, maka tidak mungkin aku akan sampai sejauh ini," Raka Jaya merendahkan diri.


Ya, memang bukan sekadar basa-basi saja. Raka Jaya tahu sebatas apa kemampuan tenaga dalam yang dia kuasai. Jika dibandingkan dengan Suhita, tentu mereka tidak sedang berada dalam satu level. Dari ketiga anak Mahesa, dalam urusan kesempurnaan tenaga dalam, hanya Suhita seorang yang mampu setarakan pencapaiannya dengan Mahesa. Di usia yang sama.


"Hita, selain kami anak-anak dari Padepokan Api Suci, ada juga seorang anak yang berasal dari tempat lain. Dia juga peserta kompetisi. Dia sahabatku. Biar akan ku perkenalkan padamu," ucap Raka Jaya.


Suhita setuju. Bukankah teman Raka Jaya, dia pun bisa berteman? Banyak teman banyak rejeki, Suhita percaya itu.


"Hei, ini kamarku. Dia tidur di kamar yang bersebelahan denganku, ya? Menarik sekali," Suhita mengerutkan dahi, menyadari hal yang baru dia ketahui.

__ADS_1


Sayangnya, orang yang Raka Jaya maksud sudah tidak ada di kamarnya. Kata seorang prajurit, Danur Cakra sudah berangkat pagi-pagi sekali. Dia berolahraga sekaligus langsung berangkat ke lokasi kompetisi. Ya, sudah. Pagi itu mereka gagal saling bertemu.


Suhita pun pamit. Dia tidak mungkin ikut makan bersama anggota Padepokan Api Suci yang lain. Dia hanyalah seorang biasa. Suhita sadar itu. Dengan berbagai alasan, akhirnya Raka Jaya mengizinkan sahabatnya itu pergi. Walaupun dengan sangat berberat hati.


Masalah makan dan minum, bukanlah masalah. Suhita memiliki bekal uang yang cukup melimpah di dalam cincin mustika pemberian ibunya.


"Hai, manis ... boleh kita berkenalan?" sapaan singgah di telinga Suhita.


Suhita segera menoleh dan mendapati empat orang anak yang miliki usia sekitar dua atau tiga tahun lebih tua darinya. Seperti biasa, Suhita melemparkan senyum yang ramah. Wajahnya memang selalu ceria bertemu dengan siapa pun saja.


"Hai, namaku Hita. Aku hanya orang biasa. Kalian pastinya peserta kompetisi bukan? Tidak disangka, sepagi ini aku bisa bertemu kalian," jawab Suhita dengan ramah.


"Hahaha! Aku memang kandidat kuat juara kemampuan olah kanuragan. Wajar saja kau begitu mengagumiku. Hita, kau sungguh terlihat cantik," jawab bos dari keempat orang anak tersebut. Sementara, tiga orang lain yang merupakan anak buah cuma cengangas-cengenges tidak jelas.


"Kau terlalu berlebihan. Oh, ya. Bisa beri jalan? Aku mau lewat," dengan nada yang sedikit memohon, Suhita meminta keempat anak yang menghalanginya untuk minggir.


Mereka merupakan anak-anak yang iseng. Suka sekali mengganggu teman sebaya. Terus terang, Suhita tidak suka cara mereka. Tapi bagaimanapun, Suhita masih bersikap ramah.


"Jangan buru-buru, baiknya kita minum dulu," ucap anak yang sejak tadi tidak menyebutkan namanya itu.


Tangannya memegang pundak Suhita. Namun Suhita segera menepis tangan anak yang tidak sopan itu. Seorang lagi, bukannya sadar jika gadis kecil di hadapan mereka tidak suka pada cara mereka, malahan mencoba untuk menyentuh dagu Suhita.


"Kurang ajar!"


PRAAAKKKK !!! Sepotong kayu lebih dulu melayang ke arah empat ank tersebut sebelum Suhita melakukan tindakan.

__ADS_1


Siapa yang datang? Suhita segera menoleh.


__ADS_2