Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Surat Perjanjian


__ADS_3

"Hmmm ... benar. Mereka adalah asisten Tabib Asih. Lalu, mengapa mereka justru berdiam di sini?!" Suhita memeriksa beberapa barang bawaan yang ada di dalam kamar penginapan. Satu hal yang janggal, yakni tidak didapati perlengkapan obat-obatan ataupun sumberdaya yang mereka bawa. Melainkan hanyalah perlengkapan perjalanan biasa.


Terdengar suara langkah yang menghampiri daun pintu. Suhita menoleh dan dia memastikan jika suara itu meraih gagang pintu. Dan tepat sekali, Suhita segera menyelinap di balik gorden. Sembunyi.


"Ah, sial! Di mana Kakang Tantra menyimpan surat itu?! Mengapa aku tidak sekalian bertanya?!" pria itu menggaruk kepalanya.


Dari balik celah, Suhita memperhatikan gerak-gerik pria itu yang tidak menyadari adanya sepasang mata yang juga berdiam di dalam ruangan itu.


Surat apa? Suhita jadi penasaran. Sementara dia sendiri telah mencurigai satu tempat yang diduga merupakan tempat menyimpan barang yang dimaksud oleh si pria.


"Ah, tinggal bayar saja repot. Kalau tidak becus, mengapa harus membahas uang. Dasar pembunuh amatir. Menyusahkan aku saja," pria yang mencari itu terus mengomel tiada henti. Dia merasa jika dia adalah orang yang paling dirugikan.


Hmmm ... pembunuh amatir? Suhita semakin yakin jika yang dimaksud oleh orang tersebut adalah para pembunuh yang menyerang Suhita di Cugung Badas. Ya, orang yang coba menghalangi Suhita kembali ke Giling Wesi ialah Kartanta dan rekan-rekannya. Lalu untuk apa?


Klotrak!


"Ah?! Siapa itu?!" asisten Tabib Asih berteriak dan memandang berkeliling. Dia mendengar suara dari dalam ruangan tempatnya berdiri. Namun, tidak ditemukan apa pun jua di sana. Aneh. Pria itu sampai mengerutkan dahinya dengan dalam.


"Kau cari surat perjanjian ini ya?!"


"???" baru saja pria itu kembali membuka lemari, dia justru mendengar suara sapaan seorang anak perempuan. Dengan secepat kilat, dia menoleh.

__ADS_1


Kedua bola mata pria itu melotot bahkan hampir keluar menyaksikan hal yang dia dapatkan di depan mata. Tabib kecil itu ... dialah yang menyapanya. Di tangan Suhita, tergenggam segulung kertas dengan ikatan berwarna merah muda. Jika tidak salah ingat, itulah surat yang sedang dia cari. Bagaimana bisa telah berpindah tangan dan dipegang oleh Suhita?!


"Kau ... kau bagaimana bisa kau masuk ke sini?!" dia nampak kebingungan dan mengucek-ngucek kedua matanya.


"Tuan, kau kenapa?! Kelihatannya begitu terkejut bertemu dengan saya. Bukankah kita sudah pernah saling bekerjasama?!" Suhita tersenyum.


"Cepat serahkan keras itu. Tidak di sangka, kau ternyata seorang pencuri," pria itu menatap Suhita dengan beringas. Dia tidak ingin jika sampai Suhita mengetahui apa yang sedang mereka lakukan.


"Apa kau pikir aku tidak membaca isinya? Dengan sekali gerakan, bahkan saya mampu untuk hancurkan surat perjanjian ini. Lalu, apa yang bisa kau lakukan?!" Suhita balik mengancam.


"Tabib kecil. Ini bukanlah urusanmu! Jadi, aku peringatkan untuk kau tidak membuat masalah!"


Suhita mengelus dagu. Dia menatap kedua bola mata si asisten Tabib Asih dengan dalam. Ada hal yang disembunyikan oleh pria itu. Apa mungkin, semuanya berkaitan dengan serangan di Cugung Badas?! Suhita harus mencari tahu.


Raut wajah pria itu langsung berubah merah. Dadanya berdebar kencang, dia terlihat sangat terkejut kala Suhita menyebut nama Cugung Badas.


"Apa maksudmu?! Jangan bicarakan hal yang tidak aku mengerti. Sekarang, urusanmu adalah denganku. Kembalikan surat itu!"


"Tidak! Ini adalah sebuah bukti yang menunjukkan jika kalian adalah orang yang hendak celakai aku. Dengan menyewa para pembunuh bayaran. Setibanya di Giling Wesi, aku ingin lihat. Apa saja yang bisa kalian lakukan," Suhita memutarkan gulungan kertas di tangannya.


Pemandangan menakjubkan terjadi. Tiba-tiba gulungan kertas itu lenyap dari pandangan mata. Bahkan beberapa benda lain yang berasal dari kotak yang sama, juga mengalami hal serupa. Hilang. Tanpa diketahui oleh orang itu, sebenarnya Suhita menyimpan semua benda di tangannya ke dalam Cincin Mustika miliknya, hingga hilang dari pandangan.

__ADS_1


"Kepa*rat! Beraninya kau bermain-main denganku!" dengan penuh kemarahan, kebuntuan pikir orang itu langsung mengarahkan serangan pada Suhita. Dia menyergap Hita dengan sebilah pedang pendek.


Suhita melompat menghindar. Dia berkelit di seberang meja, hingga sabetan pedang itu hanya menghantam meja. Tidak berhenti di situ saja, setelah serangan pertamanya gagal, asisten Tabib Asih itu langsung melakukan serangan lanjutan. Tidak putus asa, dia kembali menebaskan pedang pendeknya ke arah tubuh Suhita.


Suhita menggunakan kursi dan perabot lain untuk menghalau serangan pedang ke arahnya, dalam beberapa jurus saja kamar itu telah berubah seperti kapal pecah. Tidak ada kalimat rapi, yang ada meja dan kursi yang terbelah. Namun sejauh itu, tidak satu serangan pun yang bisa menyentuh tubuh Suhita. Anak itu terlalu lincah untuk ukuran kemampuan asisten Tabib Asih tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, dari balik pintu ruangan yang masih tertutup itu tidak terdengar lagi adanya suara perkelahian.


"Watmo! Watmooo! Mengapa lama sekali?! Hei, cepat Kakang Tantra sudah lama menunggu! Dasar bodoh!" terdengar panggilan kencang dari luar pintu. Seorang asisten Tabib Asih yang lain datang menyusul rekannya yang tak kunjung kembali.


Tidak terdengar adanya jawaban, dengan wajah yang kesal orang itu akhirnya mendorong kasar daun pintu.


Kreeekkk! Saat pintu terbuka, sambutan yang dia dapat sangatlah di luar nalar. Jakunnya naik turun berulang kali, meyakinkan hatinya atas apa yang dia saksikan.


°°°


Di tempat lain, Kartanta dan tiga rekannya masih menunggu dengan gusar. Dua orang mereka tunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa sulitnya mengambil sepucuk surat perjanjian di dalam kamar sendiri. Dasar tidak berguna.


"Kakang, apakah ada hal yang terjadi?! Jika tidak, mana mungkin Watmo begitu lama. Si Cungkring pun, menyusul tapi malah ikut menghilang. Bagaimana jika aku menyusul mereka berdua," ujar seorang bertubuh gemuk.


"Kepa*rat! Menambah masalah saja. Harusnya kita sudah hampir mencapai tempat perjanjian itu. Aku yakin, para pembunuh bayaran itu sudah menjalankan tugas mereka dengan baik!"


Kartanta berjalan hilir-mudik. Kepalanya terasa pecah, sakit karena rencananya tidak berjalan sesuai rencana.

__ADS_1


Saat tengah malam, Kartanta meninggalkan hutan dan menungggu kabar gembira di penginapan. Dia telah membayar 80 kepeng uang emas pada pembunuh bayaran Pring gading. Dengan sisa 70 kepeng lain yang akan dia lunasi bersama dengan selesainya pekerjaan. Dan kepala Tabib kecil Suhita sebagai penukarnya. Total 150 kepeng uang emas, sungguh harga yang sangat mahal untuk ukuran kepala seorang bocah. Bahkan harga itu menyamai penghasilan seorang saudagar besar selama satu bulan.


Celakanya, saat Kartantra dan rekannya pergi untuk menemui agen pembunuh Pring gading, surat perjanjian yang merupakan ikatan kesepakatan mereka tertinggal. Hingga dia harus menunggu di tepi jalan dan mengutus seorang anak buah untuk mengambil di penginapan. Seorang tidak kunjung datang, Kartanta mengutus seorang lagi untuk segera menyusul. Tapi hingga detik itu, tidak ada seorang pun yang menunjukkan batang hidung mereka.


__ADS_2