Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Burung Pengintai


__ADS_3

"Apa?! Begitu banyak jasad di sini. Itu artinya ..." Kemuning terbelalak, meskipun tidak sepenuhnya sanggup menembus rimbunnya daun, tapi cahaya matahari sudah lebih dari cukup untuk memberikan pancaran yang begitu jelas.


Begitu banyak jasad-jasad berserakan tidak tentu arah, tentu saja Kemuning tidak mengetahui jika mereka adalah orang-orang yang telah menculiknya. Saat itu Kemuning tidak sadarkan diri, mana dia tahu hal yang sebenarnya terjadi.


"Bagaimana bisa aku tertidur dengan sangat lelap, ataukah seseorang sengaja membuatku pingsan?" Kemuning memeriksa satu persatu jasad.


Tidak ada petunjuk ataupun tanda pengenal yang Kemuning temukan di balik pakaian mereka. Begitu rapinya mereka menyembunyikan jati diri, sampai-sampai mati tanpa diketahui asal-usulnya.


Tidak peroleh apa pun, Kemuning segera berlalu. Dia tidak begitu ingat secara pasti di mana posisinya semalam, gelapnya malam ditambah dengan kabut yang pekat membuat hutan itu terlihat berbeda kala siang. Hanya sedikit yang Kemuning ingat yakni pohon berwarna putih di tepi tebing yang mana nampak dari tempat peristirahatan, itu yang ia jadikan tanda. Dan Kemuning akan berusaha untuk menemukan pohon tersebut.


Menyusuri bekas injakan kaki, yang nampaknya ada yang melintas di sana semalam. Kemuning yakin jika itu merupakan bekas injakan orang-orang yang membawanya kabur. Hati Kemuning bertanya-tanya, atas hal apa yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin Tabib Dewa dan Kencana Sari juga bernasib seperti dirinya? Di bawa lari ke arah yang berbeda.


Kemuning mempercepat langkahnya, matanya yang indah sudah bisa melihat ujung kayu besar berwarna putih yang dia tuju. Dengan menjadikan pohon kayu itu sebagai pedoman, Kemuning pasti akan sampai di tempat terakhir dia beristirahat bersama dengan Tabib Dewa.


TEP! Satu tangan memegang pundak Kemuning dari arah belakang.


"Ah?!" Kemuning tersentak, bahkan dia tidak merasakan adanya aura asing yang datang. Tapi tiba-tiba saja seseorang sudah berhasil menyentuh pundaknya.


"Hup! Yaatt!" tanpa bicara lagi, Kemuning memutar tubuhnya dan langsung melepaskan serangan.


"Yee ... tidak kena !!!" sosok yang Kemuning serang hanya tertawa mengejek, pada kecepatan yang tinggi, serangan Kemuning hanyalah permainan anak kecil baginya.


"Cakra! Kau benar Cakra?!" Kemuning terperangah rasa tidak percaya. Meskipun sangat senang, tapi Kemuning tidak mengendurkan konsentrasinya, mana tahu sosok di hadapannya hanyalah siluman yang menyamar dan merubah wujud menyerupai Danur Cakra.


"Menurutmu?! Aku ini palsu?" Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya. 


"Tentu saja, aku harus hati-hati. Begitu banyak modus kejahatan yang belakangan ini berkembang," jawab Kemuning dengan tawa.


Sekarang Kemuning yakin jika pemuda itu memanglah Danur Cakra. Asli dan bukan sekadar penjelmaan. Dan pasti, orang yang telah menghabisi kelompok pasukan tadi adalah Cakra. Tidak mungkin meleset lagi.


"Cakra ... aku takut ..." Kemuning berlari menghambur, merengkuh tubuh Danur Cakra dengan erat. Menghirup aroma maskulin dari tubuh kekar itu, merupakan satu-satunya terapi yang menyejukkan jiwa.


"Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Danur Cakra dengan lembut. Tangannya membelai rambut Kemuning, rasa sayang yang tiada berbeda seperti yang Cakra berikan pada Suhita.


"Mana mungkin aku baik-baik saja, sementara kau pergi tanpa kabar berita. Kau sengaja menjauhi diriku?"


Danur Cakra tertawa kecil, dia tidak bisa memberikan jawaban apa pun. Rasanya masih terlalu berat untuk bercerita, paling tidak untuk saat ini.


"Cakra, apa kau tahu di mana keberadaan Tabib Dewa? Semalam kami bersama, tapi ketika aku terjaga ternyata sesuatu telah terjadi."


Danur Cakra mengangguk, dengan singkat padat dan jelas dia menceritakan garis besar kejadian yang berlalu disaat Kemuning tidur. Sebenarnya bukanlah hal yang teramat gawat, tapi juga bukan masalah sepele. Yang Cakra tahu, mereka merupakan utusan rahasia yang dikirim istana. Alasan di balik semua itu, belum diketahui secara pasti. Tapi Cakra menduga jelas ini erat kaitannya dengan dirinya. Ibarat kail, Kemuning adalah umpan. Saat Danur Cakra muncul, maka saat itulah tujuan utama dikerjakan.

__ADS_1


"Syukurlah jika Tabib Dewa baik-baik saja. Sudah terlalu banyak pengorbanan yang dia lakukan, aku sangat berhutang budi dan tidak mungkin bisa untuk membalasnya," Kemuning menghela napas lega.


Danur Cakra tersenyum, dia tidak menanggapi ucapan Kemuning. Padahal, sesuatu yang sangat gawat justru terjadi pada Suhita. Semalam hampir saja Suhita dilec*ehkan, hampir kehilangan mahkota paling berharga, seandainya Cakra tidak datang di waktu yang tepat, entah apa yang terjadi.


Kejadian paling memalukan, tentu saja Cakra tidak akan mengumbar aib saudaranya pada siapa pun juga. Biarlah dinginnya malam dan gelapnya hutan yang mengetahui dalam bisu.


°°°


"Tempat paling nyaman untuk beristirahat ialah tempat seperti ini. Penginapan besar dengan banyak pengunjung. Selain mereka memiliki pengamanan yang ketat, juga akan banyak pertolongan dari orang-orang baik hati seandainya sesuatu hal buruk terjadi pada kita. Lain kali, hindari tempat-tempat yang akan menyulitkan kita. Kecuali jika keadaan yang tidak memungkinkan," Danur Cakra masih terus mengungkit.


"Kak, hari apes itu adalah rahasia, tidak pernah ada yang tahu kapan akan datang. Lagi pula, bukanlah kali pertama Hita melakukan perjalanan jauh. Sangat sering, bahkan hampir setiap waktu. Tapi terima kasih, karena kau begitu peduli padaku. Katanya, jika laki-laki sudah tidak peduli lagi itu tandanya dia sudah lelah, telah mencapai titik kejenuhan. Terima kasih, karena kau begitu menyisakan banyak ruang sabar untukku," Suhita membalas ceramah Cakra dengan senyum.


Kontan saja Danur Cakra ikut tertawa, lagi pula mana mungkin Cakra bisa meninggalkan Suhita. Ya, meskipun semakin ke sini, dunia mereka semakin berlawanan. Mereka ibaratkan dua mata koin yang saling berseberangan.


"Kau tidak merampok 'kan? Kalau uang itu merupakan hasil rampasan, aku tidak sudi menerimanya. Bekal kami pun masih lebih dari cukup, kami bisa bayar sendiri," ucap Suhita ketika Danur Cakra mengambil alih pembayaran penginapan.


"Tenang saja, aku tidak serendah itu. Aku pemangsa darah, bukan penghisap keringat hasil kerja keras orang lain," jawab Danur Cakra enteng.


Pelayan penginapan membawa mereka ke lantai paling atas. Memberikan kamar terbaik yang dipesan. Selain itu, mereka juga tidak perlu turun lagi ke bawah sekadar untuk memesan makanan. Tinggal hubungi pelayan kamar, apa pun yang diminta akan di kirimkan secepatnya.


"Sebenarnya aku tidak terlampau suka pada kemewahan, tapi apa boleh buat. Aku juga bisa melihat jika Tabib Dewa pun hanya menghormati niat baikmu."


"Orang aneh! Di luar sana, orang-orang kerja keras banting tulang untuk bisa tidur dan makan enak. Eh, kau malah sebaliknya. Menolak hidup enak. Tapi tentu saja aku percaya, bukankah itu juga yang menjadi alasanmu pergi dari rumah? Menanggalkan status bangsawan darah biru dan hidup lontang-lantung di dalam hutan. Bagaimana enak bukan?!"


DAARRR !!! Serasa petir menyambar di atas kepala. Memang nada bicara Danur Cakra biasa-biasa saja, tapi isi dalam kalimatnya membuat jantung Kemuning berhenti berdetak.


"Maaf ..." suara lirih Kemuning. Darimana Cakra tahu semuanya? Apa mungkin Tabib Dewa yang telah bercerita? Apakah ini saat yang tepat?!


"Mungkin aku adalah orang terakhir yang tahu. Mataku benar-benar kabur. Tapi tidak masalah bagiku, karena tidak ada seorang pun jua yang kuasa menulis jalan hidup sesuai yang diinginkan. Tapi setidaknya, aku mau tahu alasannya," sambung Danur Cakra. Tatapan matanya begitu dalam, menusuk sampai menembus ulu hati Kemuning.


Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Dan tentunya ini adalah saat yang Kemuning tunggu sejak lama. Orang paling dekat dalam hidupnya, justru menjadi yang terakhir tahu. Sungguh Kemuning merasa sangat berdosa.


Reaksi Danur Cakra sungguh tidak seperti yang diduga-duga oleh Kemuning. Cakra nampak sangat dewasa menyikapi kebohongan yang Kemuning lakukan selama ini. Dia selalu menegaskan bahwa semuanya merupakan kehendak takdir. Manusia hanya menjalani hidup sesuai ketentuan sang pencipta, hanya bisa berdoa, berharap dan berusaha untuk hal yang baik-baik.


Bicaranya, membuat Cakra menjadi sosok yang berbeda. Seolah-olah dia seperti malaikat yang memandang segala segi dari sudut kebaikan. Tentu saja berbeda jauh dengan tindak-tanduk yang Cakra perbuat. Karena pada dasarnya Cakra pun curhat akan keadaan yang telah menjebaknya. Cakra tidak bisa menuntut orang lain, karena dia pun mengalami hal yang serupa. Terjebak dalam takdir, siklus kehidupan yang serba bertentangan.


Suhita masuk, mendorong pintu tanpa mengucap permisi. Dia tidak menyangka jika di dalam kamar Cakra ada Kemuning yang datang lebih dulu. Membuat suasana menjadi sedikit canggung.


"Apa aku mengganggu?" tanya Suhita.


Serentak Cakra dan Kemuning menggelengkan kepala, dan mempersilakan Suhita untuk bergabung. Terlebih lagi Kemuning, matanya berbinar penuh bahagia. Tentu saja karena suasana hatinya dalam keadaan suka cita.

__ADS_1


"Mana Kencana Sari?" tanya Danur Cakra.


"Ah, kau tidak puas dengan dua wanita di dalam kamarmu?" canda Suhita seraya mengerutkan dahi.


"Sialan!" umpat Danur Cakra, mengurungkan niatnya untuk lanjut bicara.


°°°


Dengan cepat waktu terus berjalan. Malam merangkak naik, tanpa terasa satu hari telah berlalu. Di dalam kamarnya, Suhita masih duduk termenung, memandangi sumberdaya Mutiara Hati di telapak tangannya. Sekarang kedua bagian sumberdaya itu masih berada berdekatan. Bahkan Suhita belum ada niatan untuk mengkonsumsi, menyatukan ke dalam tubuhnya.


"Ini bukanlah duniaku. Bagiku, tidak ada kekerasan yang bisa selesaikan masalah. Kecuali hanya menambah beban saat dendam hiasi hati anak cucu," Suhita menghela napas panjang.


Seandainya saja Mutiara Hati ini bisa dibagi menjadi tiga bagian, tentu tidak akan buat pusing. Hita miliki dua orang saudara, masing-masing tentunya dapatkan bagian yang sama. Sementara, Suhita merasakan kalau dirinya pun membutuhkan kekuatan Mutiara Hati maka karena itu Mutiara Hati datang padanya. Menandakan jika mereka memang berjodoh.


Danur Cakra Suhita tahu sendiri bagaimana watak dan tindak tanduknya belakangan ini. Dia cenderung menyeberang dari jalan kebenaran, mengikuti hawa nafsu dan menumpahkan darah di sana-sini. Sementara seorang lagi saudara Hita ialah seorang dengan latar berseberangan dibanding Cakra. Seorang Jenderal perang, pemimpin pasukan yang bertugas menjaga perdamaian tanah air.


"Ah, tidak. Baiknya aku berikan separuh sumberdaya untuk Kak Cakra saja. Dengan demikian, dia akan tetap selamat. Tidak peduli apa pun kesalahannya, aku tidak bisa terima jika dunia mengambil nyawanya, itu tidak adil bagiku. Sejak kecil sampai sekarang pun, Kak Cakra adalah satu-satunya orang yang paling mengerti aku!"


Suhita sudah mengambil keputusan, itu artinya berbagai macam pertimbangan telah dia lakukan. Tidak ubahnya seperti sang ayah, keputusan Suhita adalah final dan tidak mungkin bisa diganggu gugat. Sekali hatinya yakin, maka tidak mungkin bisa tergoyahkan.


Dengan sumberdaya Mutiara Hati yang berada di dalam dua tubuh, semakin menambah kekuatan atas karomahnya. Di mana satu tubuh menyatu dengan kekuatan tubuh yang lain. Untuk bisa celakai satu, maka harus kedua-duanya. Dan pastinya bukanlah hal yang mudah.


Jika sepasang pendekar yang lakukan hal itu, maka mereka akan menjadi pendekar yang tak terkalahkan di seantero jagat. Jika pendekar baik, maka akan mampu menumpas segala bentuk angkara murka. Begitu juga bila sebaliknya.


Akan tetapi, bagaimana jika seorang pembunuh kejam dan seorang lagi baik hati. Untuk bisa celakai si penjahat, maka harus mengorbankan yang baik. Akan menarik bukan?


Keputusan Suhita malam itu, tanpa ia duga akan membuat satu kesulitan besar di masa mendatang. Dan mungkin, ini merupakan satu kesalahan besar yang Hita lakukan. Tanpa sadar.


Seekor burung pengintai melesat dengan kecepatan tinggi, tanpa hambatan apa pun ia membelah cakrawala yang hanya bersama kerlip bintang. Burung pengintai tersebut sangat buru-buru, dia membawa satu informasi penting.


Suhita melongok ke luar jendela, dia tidak bisa melihat dengan jelas ke mana perginya si burung pengintai. Hanya saja Suhita tidak habis pikir, atas dasar apa dirinya terus diikuti. Perihal Kemuning, apa mungkin? Jika benar, itu tandanya ada seorang yang juga mengetahui perihal jati diri Kemuning. Hingga berusaha untuk membawa Kemuning kembali. Lalu siapa? Sejauh yang Kemuning akui, dia hanya bercerita pada Raka Jaya. Mana mungkin Raka Jaya lakukan hal itu. Atau ada orang lain yang mencuri dengar?


Suhita kembali menutup jendela kamarnya. Menyadari kegiatannya telah diawasi oleh burung pengintai, membuat hati Suhita jadi tidak tenang. Semakin lama dia berpikir, maka semakin banyak pula dugaan-dugaan yang dikait-kaitkan.


Suhita kembali memandangi Mutiara Hati. Mendadak matanya menyipit, besar kemungkinannya jika segala kejadian pula berkaitan dengan sumberdaya langka yang bersamanya itu. Terlalu banyak orang yang ingin memiliki Mutiara Hati, masa iya Suhita dapatkan dengan mudah lalu tidak ada tantangan lain dalam menjaganya. Para pendekar senior dengan kemampuan terbaik, rasanya tidak lama lagi akan datang untuk merebut Mutiara Hati dari Suhita. Kebiasaannya para pendekar itu tidak segan-segan untuk pertaruhkan nyawa demi mencapai tujuan.


Tajamnya bisik angin, cepatnya kabar menyebar, akan semakin mempersempit ruang gerak Suhita. Tidak butuh waktu lama, dunia persilatan akan bisa mengendus keberadaan Mutiara Hati di tangannya.


"Ah, mengapa lagi-lagi aku lalai. Harusnya aku jangan ceroboh!" Suhita menepuk keningnya. Untuk hal ini, prinsip yang diajarkan Danur Cakra sangatlah tepat.


Dengan sedikit kesal, Suhita melemparkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Hita lekas bangkit dan menuju kamar tempat Danur Cakra beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2