
Kencana Sari berada di bawah tekanan, untung saja dia miliki mental yang bagus. Sari sangat sering berada dalam keadaan darurat, hingga dia bisa dengan baik mengendalikan diri dan tidak terlihat gugup meskipun detak jantungnya meningkat. Wajahnya mampu berpura - pura polos seolah benar tidak tahu apa-apa. Dalam hati, Kemuning menyanjung keberanian Kencana Sari. Padahal yang dia hadapi bukanlah orang sembarangan, seorang panglima perang yang ternama.
"Begitu teguh dia menjaga amanat, sungguh aku sangat terkesan," batin Kemuning. Sementara dia sendiri sangat yakin kalau wajahnya menjadi pucat pasi.
"Gusti Panglima, sungguh saya mana mungkin berani berbohong. Atau jika benar-benar tidak percaya, silahkan sedikit bersabar dan tunggu Jenderal Muda," ucap Kencana Sari meyakinkan.
"Di mana Jenderal Muda?" tanya Panglima Lodaya.
Kencana Sari tidak tahu persisnya. Akan tetapi yang dia lihat, Jenderal Muda membawa Tabib Dewa melalui pintu samping, "sepertinya keadaan Tabib Dewa sedikit buruk. Dan harus kalian tahu, penyakit yang diderita Nona ini bukanlah penyakit biasa."
Panglima Lodaya memandang pada Kemuning, dia terlihat menimbang ucapan Kencana Sari. Jika dilihat, nampaknya mulai percaya pada Kencana Sari.
Di lain sisi, tentu saja sebagai orang yang telah lama mengenal Kencana Sari, Arya Winangun menangkap gelagat aneh teman sejawatnya itu. Akhirnya Arya Winangun mengerti, Kencana Sari terpaksa berbohong demi sesuatu yang penting. Dia menyesal terlambat menyadari hal tersebut, membuat Kencana Sari terpojok. Tabib Dewa terkadang menyembunyikan sesuatu demi menjaga segala hal yang tidak baik. Dia selalu menimbang dengan seksama sebelum memutuskan.
"Ah, maaf. Kami hanya terlalu khawatir. Kaget karena merasakan getaran dahsyat yang terasa hingga ke ruang depan. Hmm ... kiranya sebagian teknik pengobatan," Arya Winangun tersenyum lebar, segala kecurigaan seketika lenyap.
Sedikit menanyakan keadaan pasien, kemudian Arya Winangun kembali mengajak Panglima Lodaya untuk kembali ke ruang depan. Dia turut mengelabui sang Panglima dengan beberapa kalimat yang sulit dimengerti. Maklum, bicara juru sembuh terkadang dengan isyarat tersendiri.
"Huuuhhh ..." Kencana Sari menghembuskan napas lega. Setelah semuanya pergi, barulah Kencana Sari mengelap keringat dingin yang mengalir di dahinya.
"Dasar sialan! Apa yang kau lihat? Senang menyaksikan aku menderita?! Huuuhhh, aku hentikan aliran darahmu baru tahu rasa!" Kemuning lagi yang jadi sasaran amukan Kencana Sari. Entah mengapa, setiap melihat wajah Kemuning selalu saja ingin memaki.
"Nona, mengapa kau begitu membenciku?" tanya Kemuning.
"Kau pikir saja sendiri! Selain seorang penjahat, ternyata kau juga tidak tahu malu. Apa kau tidak merasa bersalah melihat junjungan kami bertengkar? Atau sebenarnya kau sengaja?! Kau sengaja melukai dirimu supaya Pendekar Cakra membawa pada Tabib Dewa kemudian memecah belah mereka? Ternyata benar, iblis memiliki paras yang jauh lebih menarik dari manusia!"
Hati Kemuning terasa sangat sakit mendengar segala tuduhan yang diarahkan padanya. Jika harus jujur, sebenarnya Kemuning tidak paham akan maksud dari perkataan Kencana Sari. Meskipun sedikitnya Kemuning mulai menyadari jika ada sesuatu antara Tabib Dewa dan Danur Cakra. Saling mengenal, itu sudah pasti.
Kemuning hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Kencana Sari. Sama sekali tidak ada gunanya, lagipula apa yang dapat dia lakukan? Bahkan untuk bergerak saja dia tidak begitu miliki kekuatan. Kemuning yang membutuhkan belas kasihan, walaupun kenyataannya jiwanya tertekan dan terus menerus dipojokkan. Pelayan Suhita, begitu memusuhi dirinya. Tapi ... Kemuning harus bersabar, dia harus menghargai perjuangan Danur Cakra. Seperti yang diinginkan oleh Danur Cakra, Kemuning harus sembuh.
"Nona, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" beberapa saat kemudian Kemuning membuka suara.
"Katakan saja, meskipun aku tidak berjanji untuk bisa menjawab pertanyaanmu," jawab Kencana Sari tanpa menoleh.
"Apa mungkin sakit saya ini bisa disembuhkan?"
Kencana Sari menghentikan pekerjaannya. Dia menoleh dan menatap pada Kemuning. Untuk beberapa waktu lamanya, Kencana Sari tidak menjawab. Bicara penyakit dan tata cara pengobatan mungkin Kencana Sari tidak sepandai Tabib Dewa, akan tetapi dia bisa melihat betapa parahnya luka dalam yang Kemuning derita. Tubuh Kemuning menerima pukulan keras yang disertai racun. Selain kemampuan lawan lebih tinggi darinya, luka tersebut juga telah terlalu lama dibiarkan. Saat Kemuning diculik dan tidak mendapatkan asupan obat-obatan, pada fase itu sisa racun bergerak menyerang dan menambah intensitas luka yang terlanjur parah.
"Kau tahu, kami akan berusaha untuk membantu ringankan sakit yang kau alami. Tapi, bicara kesembuhan tentu bukan kuasa seorang tabib untuk menentukan. Banyaklah berdoa, mungkin Tuhan akan memberikan kesempatan padamu untuk memperbaiki diri."
__ADS_1
Kemuning mengangguk lemah. Dia merasa jika Kencana Sari merupakan seorang yang sangat baik hati. Pelayan Tabib Dewa, menerapkan apa yang diajarkan. Sementara perlakuan Kencana Sari padanya, Kemuning paham jika itu hanyalah rasa kesal semata. Dia salah yang semula menduga jika kedatangannya dengan kesalahan di masa lalu membuat Tabib Dewa akan menolak mentah-mentah. Tabib Dewa memiliki hati yang jauh lebih mulia dari apa yang orang-orang bicarakan.
°°°
Di tempat lain, Raka Jaya telah berhasil membuat suasana hati Suhita menjadi lebih tenang. Suhita tidak lagi terlihat buas, dia kembali menjadi Suhita si Tabib Dewa.
"Mengapa aku ini? Apakah yang aku lakukan telah melebihi batas?" ucap Suhita.
Raka Jaya tersenyum, dengan lembut dia terus mencoba untuk mengajak Suhita berpikir positif. Lagi pula, tidak seorang pun dari mereka yang tahu alasan mengapa Danur Cakra tiba-tiba berubah. Pasti ada alasan hingga Danur Cakra yang pemarah bisa melakukan pembunuhan berantai. Alangkah indahnya jika suatu masalah diselesaikan dengan kepala dingin. Dengan begitu pasti akan jalan keluarnya. Karena dengan menyiram minyak, tidak mungkin mampu padamkan kebakaran. Yang ada hanya membuat suasana semakin kacau.
"Jika berpikir aku melakukan kejahatan nepotisme, karena satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan. Aku butuh alasan yang masuk akal, kendati tugas mengikat di leherku," Raka Jaya mengelus dagu.
"Justru kau yang akan terbawa masalah karena ini. Kesalahan yang Cakra perbuat, haruskah ditanggung bersama? Tidak masuk akal!" seru Suhita kesal.
"Harta yang paling berharga adalah keluarga. Karena dalam hidup harus ada yang dipertaruhkan. Saat itulah perjuangan akan perlihatkan hasil," Raka Jaya kembali tersenyum.
Suhita menatap Raka Jaya, bibirnya menyunggingkan senyuman bangga. Tangan Suhita merapikan rambut Raka Jaya yang tergerai, "Kak, kau begitu dewasa. Cara berpikirmu membuatku terkesan. Terimakasih, kau memberiku banyak pelajaran berharga."
"Hahaha! Kau terlalu berlebihan. Apa aku sudah pantas menggendong bayi?" tanya Raka Jaya bercanda.
"Emmm ... memangnya kau sudah punya calon, mana?? Cepat kenalkan padaku!"
"Hah?! Cemburu? Mengapa harus cemburu?!" Suhita mengerutkan dahi.
Raka Jaya tertawa geli. Sungguh sikap Suhita membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. "Katakan padaku, bukankah karena gadis cantik itu kau menjadi sangat marah pada Cakra? Apakah itu bukan cemburu namanya?"
Suhita semakin memperdalam kerutan di keningnya. Ucapan Raka Jaya membuatnya berpikir amat keras.
"Ah, bicara apa kau ini. Sudahlah, aku jadi ingat pada pasienku. Kau tahu, kondisinya sangatlah kritis. Kau baiknya urus temanmu tadi, Panglima Lodaya pasti sedang merangkai pertanyaan. Jangan sampai karena buronan itu kau terlibat masalah."
Sebelum pergi, Suhita menghadiahi Kakaknya satu kecvpan di pipi. Memang gadis itu sangatlah manja. Setiap kali bertemu dengan saudara-saudaranya dia kerap bertingkah konyol layaknya balita. Terlebih pada saudara kembarnya, Suhita bahkan tidak rela jika melihat Cakra lebih perhatian pada orang lain, meskipun itu adalah ibunya. Tidak berlebihan jika Raka Jaya menyimpulkan kalau kemarahan besar Suhita bukan HANYA disebabkan oleh Danur Cakra yang dikabarkan menjelma menjadi seorang pemberontak dan telah mencelakai beberapa orang Tumenggung. Tapi karena kedatangan Danur Cakra dengan membawa seorang gadis dan juga karena gadis itu membuat Danur Cakra jadi bodoh. Itulah penyebab utama kemarahan Suhita. Raka Jaya paham, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Cemburu! Ya, karena Suhita cemburu Danur Cakra memberi perhatian pada orang lain.
"Dasar gadis aneh. Terkadang aku melihat Hita hanyalah seorang anak kecil yang entahlah ..." Raka Jaya mengangkat bahu, mengapa juga dia harus terlahir dari keluarga yang terasa janggal. Bahkan punya saudara pun seperti tidak punya saudara, tidak ada orang lain yang tahu.
°°°
Suhita kembali menghampiri Kencana Sari. Di sana tentunya dia bertemu lagi dengan Kemuning. Untuk kali ini, Suhita dipaksa untuk meng-iyakan perkataan Raka Jaya tadi. Kembali melihat wajah Kemuning, mengapa hati Suhita terasa sakit? Apa iya dia cemburu. Mengapa harus cemburu, seandainya benar Danur Cakra dan Kemuning ada hubungan dekat. Entoh Danur Cakra 'kan saudara kembarnya, harusnya dia ikut senang.
Akan tetapi ... mendapati Danur Cakra rela mengorbankan diri demi Kemuning, sungguh hati kecil Suhita belum bisa menerimanya. Karena Kemuning, bisa saja Danur Cakra akan kehilangan nyawa. Jumlah Energi murni yang dimiliki seorang pendekar bukannya tidak terbatas. Sisi buruknya ialah jika digunakan terlalu banyak pada orang lain maka si pemilik justru akan kehilangan banyak kemampuan. Dalam jangka waktu tertentu, dia akan menjadi sangat lemah dan keadaan seperti itu sangatlah berbahaya bagi seorang pendekar. Jika mendadak mendapatkan musuh yang tangguh maka bisa dipastikan dia tidak akan mampu untuk melindungi diri.
__ADS_1
"Apa istimewanya wanita ini? Apa karena dia cantik seperti bidadari?! Ah, itu bukan suka tapi nafsu. Apa mungkin Cakra sudah melakukan ... ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh berprasangka, di sini aku merupakan seorang tabib," Suhita mengatur napasnya, mencoba untuk mengendalikan diri. Dia harus bersikap profesional, layaknya sumpah dan ikrar sebagai seorang tabib.
"Mengapa perasaanku tidak enak? Aku tahu, Tabib Dewa hanya berpura-pura di depanku. Dia ... mungkin dalam hatinya dia sangat ingin mencelakaiku. Benarkah ini berkaitan dengan Cakra?" dalam hati, Kemuning pun memikirkan satu hal.
Ya, tiga orang di satu ruangan yang sama. Namun mereka saling diam dengan pemikiran dalam benak yang saling menerka-nerka. Kencana Sari, dia yang HANYA tahu jika Suhita memiliki hubungan dekat dengan Danur Cakra tentunya memiliki pemikiran yang sama dengan Raka Jaya. Dia melihat gelagat Suhita yang nampak tidak senang karena mengetahui kalau Danur Cakra datang bersama wanita lain. "Itu artinya, Hita dan Pendekar Cakra benar-benar pacaran. Ih, masa iya. Apa yang Hita pikirkan kala itu?"
Kencana Sari mulai memikirkan suatu rencana. Meskipun dia masih bingung, pada siapa dia harus berpihak? Kalau Kencana Sari memanas-manasi Suhita, dia yakin kalau dia akan berhasil membuat Suhita meninggalkan Danur Cakra. Akan tetapi, bukankah itu hal yang salah? Itu namanya Sari telah mengkhianati majikannya. Bagaimanapun juga, sebagai abdi yang berbakti harusnya Kencana Sari tetap mendukung Suhita dan membuat si 'perusak' yang angkat kaki.
"Ah, sialan! Masa iya aku membuat wanita ini tersenyum sementara Hita menangis. Meskipun sungguh, aku tidak suka jika Hita dekat dengan pemberontak Cakra itu. Meskipun dia lebih tampan, bukankah hatinya tidak sebaik Jenderal Muda. Kalau aku, pasti tidak salah pilih," Kencana Sari terus merenung. Sampai-sampai dia tidak sadar telah mencampurkan ramuan yang salah.
"Sari! Apa yang kau pikirkan," beruntung Suhita melihat dan segera menegur. Membuat Kencana Sari tersadar atas kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan.
"Ah, ma-maaf, tabib. Aku hanya ... ah, tidak, tidak. Ini memang salahku," Kencana Sari jadi malu sendiri.
Suhita menggelengkan kepalanya, tanpa sengaja tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan mata Kemuning. Beberapa saat mereka saling memandang, tanpa kata.
"Nona, bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kau masih merasakan seperti ada tusukan di ulu hatimu?" tanya Suhita setelah memeriksa ulang kondisi Kemuning.
"Masih, tapi hanya sedikit. Akan tetapi rasanya tidak begitu ngilu seperti tadi," jawab Kemuning menjelaskan kondisinya.
"Tentu saja. Bukannya kepandain yang dipunya justru membuat orang sakit, sakit hati maksudnya," ucap Kencana Sari pelan. Akan tetapi, karena suasana begitu sepi tentu saja perkataan Kencana Sari bisa di dengar meskipun samar.
"Sari, bisa kau jaga cara bicaramu?!" tanya Suhita.
Kencana Sari tergagap, sendok kayu yang dia pegang sampai terjatuh dibuatnya. Dia masih teringat bagaimana mengerikannya saat Suhita marah. Gawat, mengapa harus terdengar. Kencana Sari menyesal sudah bicara sembarangan.
"Emmm ... tabib, apakah Jenderal Muda sudah kembali ke kerajaan? Apa dia akan ke sini lagi?" Kencana Sari langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak bertanya sedetail itu. Lalu, mengapa kau yang begitu bersemangat?" Suhita balik bertanya.
"Karena dia amat baik. Sering bawa makanan, selalu membuat tabib tersenyum, juga tidak pernah bicara kasar. Masa iya Tabib justru memikirkan seseorang yang bahkan tidak pantas untuk diingat."
"Bersuara hanya untuk mencairkan suasana, aku rasa suara katak setelah hujan lebih enak di dengar dari pada lidahmu bergerak tidak beraturan."
Kencana Sari kembali diam. Mulutnya terasa terjejal buah maja yang pahit. Biasanya, Suhita tidak seganas itu. Tapi sekarang ucapannya begitu pedas, tidak bisa salah sedikit, langsung marah-marah seperti sedang datang bulan.
Kencana Sari menunjuk lurus pada Kemuning, hingga membuat Kemuning semakin kebingungan. Dia tahu kalau Kencana Sari mengatakan jika Kemuning-lah penyebab semuanya. Membuat Kemuning semakin memutar otak, berpikir keras untuk temukan letak kesalahan yang dia lakukan.
"Sari, saat teman Nona Kemuning datang, kau berikan catatan ini padanya. Ada jenis tanaman obat yang kita tidak punya. Aku yakin dia akan segera penuhi, bahkan jika itu adalah jantungnya."
__ADS_1
Suhita memberikan catatan kecil pada Kencana Sari. Namun kalimat terakhir yang dia ucapkan, terasa tidak lazim.