Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Seorang Buronan


__ADS_3

"Hei! Apa kau ingin celaka?!"


Tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan jangkrik pun enggan menyahut.


Danur Cakra Prabaska melompati meja, sekilat saja tangannya sudah menghentikan gerakan Suhita yang masih bekerja, tentu saja meramu obat.


"Hei, apa yang kau lakukan? Harusnya kau pergi tidur, tubuhmu juga perlu istirahat."


Suhita menghela napas panjang, tanpa bicara meski hanya sepatah kata. Dia menyandarkan tubuhnya, duduk di pangkuan Danur Cakra yang tersudut pada meja.


Meskipun dadanya mendadak berdebar kencang, Danur Cakra lekas membopong tubuh adiknya menuju kursi di sudut ruangan. Diperlukan demikian, Suhita tersenyum. Tangannya melingkar di leher kakaknya. Bagaimanapun juga angkuh dan menyebalkan, pria ini adalah seorang lelaki yang paling dia sayang setelah ayah. Meskipun Danur Cakra bukan tipe pria yang lembut dan penuh perhatian, tapi Suhita yakin kalau Danur Cakra begitu menyayangi dirinya. Dipeluk sang kakak? Ah, rasanya suatu hal yang istimewa. Tidak pernah Danur Cakra berinisiatif demikian, bahkan andaipun Hita sedang dalam kesedihan. Padahal, Suhita sangat berharap.


"Hita tahu, Kakak pasti sangat khawatir. Iya 'kan?"


"Tentu saja. Jika kau tidak sehat, lalu siapa yang akan menyembuhkan ku? Ditambah para pasien barumu yang sangat banyak. Apa kau tidak kasihan pada dirimu sendiri?" Danur Cakra mendudukkan Suhita di atas kursi, tapi Suhita tak kunjung melepaskan dekapan tangannya. Sungguh, membuat Danur Cakra merasa tidak nyaman.


Jika ada yang melihat, Danur Cakra khawatir perbuatan norak adiknya malah akan membawa pengaruh buruk, bisa-bisa mencoreng nama Suhita sebagai tabib ternama.


"Dengan kondisi seperti sekarang, Kakak tidak bisa menggunakan kemampuan lebih dari sepuluh jurus. Jika memaksa, akan berakibat buruk."


"Tapi itu bukan alasan untuk membuat kau menyiksa diri. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."


Suhita tersenyum sinis mendengarnya. Dengan menghindari prajurit kerajaan saja, Suhita sudah bisa menduga jika Danur Cakra sedang dalam masalah. Ditambah lagi dengan luka dalam yang begitu serius, siapa orangnya yang tidak khawatir.


"Semua hanya salah paham. Sayangnya, aku tidak memiliki bukti yang cukup untuk membela diri. Teman-temanku, mereka yang percaya padaku semuanya telah tiada ..." Danur Cakra menghela napas panjang, sebelum kemudian perlahan menceritakan kejadian yang dia alami di Candi Karusian.


Suhita tertegun, dalam diam dia menjadi iba. Dari seribu, jika ada seratus orang maka Suhita adalah satu dari seratus itu. Tapi jika hanya sepuluh, Suhita termasuk dalam sepuluh orang tersebut. Seandainya hanya ada satu orang, berarti hanya Suhita saja. Hita sangat percaya pada Danur Cakra, bukan karena mereka merupakan saudara. Akan tetapi, sejak kecil Danur Cakra bukanlah seorang yang bercabang lidah. Suhita tahu betul.


"Kakak jangan khawatir, Hita akan bantu kesembuhan kakak secepatnya. Hita masih memiliki beberapa sumberdaya yang bisa dipergunakan. Tapi harus sedikit bersabar, karena semua butuh proses," ucap Suhita dengan senyum.


"Aku tidak akan pernah lupa. Suatu saat, aku pasti akan membalas jasamu."


Suhita menutup jalur pendengarannya, dia tidak ingin menanggapi perkataan Danur Cakra. Bagaimana bisa, ayah dan kakeknya yang sangat tahu sopan santun harus miliki seorang keturunan seperti Danur Cakra. Bicara asal jeplak, tidak dipikir dulu. Kalau saja dia tidak dibekali dengan kemampuan yang sangat tinggi, mungkin sudah sejak lama dia tidak lagi di dunia. Setiap orang yang bertemu, pasti ingin mencincang dan menjadikan bagian tubuh Danur Cakra untuk pakan anjing.


"Apa lagi?! Kau tahu, tingkahmu mirip anak kecil. Norak! Bagaimana jika orang-orang melihat, ternyata Tabib Titisan Dewa yang mereka banggakan seperti ini?! Bahkan wanita penghibur saja masih bisa menjaga sikap!" Danur Cakra sudah mencapai puncak risih. Dia berharap Suhita marah dan tidak lengket-lengket seperti prangko, membuat bulu kuduk Danur Cakra merinding panas-dingin.


Suhita melotot dan menunjuk lurus hidung Danur Cakra. Tatapan mata Suhita menghunjam inci demi inci wajah Danur Cakra, seolah menyelam untuk menemukan sesuatu. Membuat Danur Cakra jadi serba salah.


"Bagaimana kau bisa tahu mengenai wanita penghibur? Atau jangan-jangan ... aku akan bilang kakek!" ancam Suhita.


Danur Cakra tergagap, mulutnya terbuka hendak melakukan pembelaan tapi tidak sedikitpun suara yang keluar. Hanya hatinya yang mendongkol, Suhita tidak pernah berubah. Justru semakin menyebalkan. Danur Cakra angkat tangan dibuatnya.


°°°


Arya Winangun baru kembali saat matahari telah meninggi. Beruntung hanya ada Kencana Sari ketika dia datang. Suhita dan Danur Cakra, sudah menghilang entah pergi ke mana.

__ADS_1


"Kecurigaan kita benar. Pendekar itu seorang buronan," ucap Arya Winangun dengan suara yang sangat pelan.


Keduanya telah memastikan jika tidak ada siapa pun di sana. Tentu saja mereka tidak mau kalau ada yang mendengar, sama saja mereka mengikat tali di leher Suhita. Padahal, jelas-jelas Suhita hanyalah korban yang kebaikannya diperalat.


"Kita harus beritahu ini pada Tabib Hita. Aku tidak rela, jika dia harus terlibat akibat kejahatan yang tidak dia ketahui," wajah Kencana Sari terlihat begitu cemas.


Kencana Sari mungkin baru mengenal Suhita beberapa tahun ke belakang, akan tetapi dengan sepenuh hati dia telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani Suhita. Menjadi pelayan Suhita, mengabdikan diri untuk melayani masyarakat luas yang membutuhkan pertolongan. Belum pernah Kencana Sari menemukan orang berhati emas layaknya Tabib Dewa. Mana mungkin dia bisa berdiam diri dengan munculnya masalah yang berkemungkinan menyeret nama besar Suhita.


"Sari, kau cukup dekat dengan Tabib Hita. Lakukan sesuatu untuk selamatkan tabib. Terus terang, aku belum terpikirkan caranya. Kau tahu bukan, Hita seperti orang yang terkena hipnotis. Bahkan dia tidak pernah menceritakan siapa pendekar itu pada kita, para pelayannya," ucap Arya Winangun seraya mengurut keningnya.


"Kau tolong lanjutkan pekerjaanku, sekarang juga aku akan cari Hita. Pasti pendekar itu membawa Hita cari makan," Kencana Sari segera berlalu.


"Iya, hati-hati!" pesan Arya Winangun seraya menghela napas, terus memandangi langkah kaki Kencana Sari hingga rekannya lenyap tak terlihat. Berharap, ada hal baik yang akan mereka dapatkan.


Dengan sedikit berlari kecil, Kencana Sari menuruni anak tangga penginapan. Dia tidak sabar untuk bisa memberitahukan berita yang dibawa oleh Arya Winangun, meskipun Kencana Sari masih belum tahu bagaimana cara terbaiknya.


Mendadak, langkah kaki Kencana Sari terhenti sebelum dia mencapai anak tangga terakhir. Di hadapannya muncul orang yang dia cari, Suhita dan Danur Cakra. Dua orang itu sepertinya baru selesai berlatih. Ah, tidak. Kencana Sari baru ingat kalau pendekar itu sedang terluka parah, pastinya Suhita kehilangan banyak tenaga dalam untuk bantu kesembuhan.


"Andai saja, Hita tahu ... ah, bagaimana caranya aku memberi tahunya?" batin Kencana Sari, bingung.


Sementara, Kencana Sari tidak menampik kalau dia melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Suhita. Bagaimana bisa seorang buronan kerajaan bisa menarik hati Suhita, menjadikannya seperti orang bodoh.


"Sari, mau ke mana, kau terlihat begitu buru-buru?" tanya Suhita.


"Emmm ..." Kencana Sari kebingungan hendak menjawab apa, dia hanya bisa menggaruk kepala.


Danur Cakra berpikir keras, dia coba mengingat sesuatu. Di mana ketiga pelayan Suhita saat mereka meninggalkan lokasi badai dini hari tadi?! Ada kemungkinan salah satu dari mereka yang menemui Tumenggung Sukamulya dan mendapatkan informasi.


"Tunggu ... tunggu ... sebenarnya ini ada apa? Terjadi sesuatu diantara kalian?" Suhita menatap ke arah Kencana Sari dan Danur Cakra.


"Kau mendengar sesuatu?!" tanya Danur Cakra pada Kencana Sari.


Kencana Sari ternganga. Memang dia ingin mengungkap tentang Danur Cakra, tapi tidak begini caranya. Di tempat umum, juga banyak orang. Yang ada hanya akan membuat nama Suhita semakin jatuh. Kencana Sari baru hendak mengarang alasan untuk itu, tapi sebelum dia sempat bicara, muncul tiga orang pendekar mendekat.


Beruntung, Suhita cepat tanggap. Situasi akan menjadi buruk jika mereka masih berdiam di sana. Danur Cakra dan Kencana Sari diminta untuk segera kembali ke kamar, sementara Hita tetap di sana menemui para pendekar yang datang. Mungkinkah berita begitu cepat tersebar?


Tanpa menoleh, Danur Cakra segera memasuki kamar. Pasti berita tentang dirinya sudah menyebar, atau mungkin juga para pelayan Suhita yang membocorkan keberadaannya? Danur Cakra mengepalkan telapak tangan, ruang geraknya saat ini terhalang oleh luka dalam.


"Aku tidak boleh terus begini. Membebankan Suhita, menyeretnya dalam masalah bukanlah hal yang benar," Danur Cakra segera bangkit dari tempat duduk, melangkah menghampiri lemari.


Sementara itu, dengan mendompleng nama besarnya Suhita berhasil meyakinkan para pendekar yang datang untuk akhirnya mereka pergi dari penginapan itu.


"Ini gawat. Apa mungkin mereka sudah tahu kalau kak Cakra bersamaku? Atau jangan-jangan Sari pun sudah tahu hal ini?" Suhita mengerutkan dahi.


Sejenak Suhita menoleh ke ruang atas, untuk sementara waktu Cakra akan aman tinggal di sana. Apa pun alasannya, Hita akan tetap membela Cakra. Karena memang dia hanyalah sebagai korban. Namun yang lebih penting ialah kesembuhan Danur Cakra, Suhita akan lakukan apa pun untuk itu.

__ADS_1


Suhita bergegas menemui ketiga pelayannya yang sedang berkumpul. Saat Suhita datang, seketika pembicaraan ketiganya terhenti. Suhita tersenyum, sekarang dia yakin jika mereka telah mengetahui sesuatu. Hanya saja coba untuk menyembunyikan semuanya dari Suhita.


"Jadi ... kalian sudah tahu, mengapa tidak ada yang bicara padaku?" tanya Suhita langsung pada pokok bahasan.


Arya Winangun, Kencana Sari dan Prana saling bertukar pandang, menerka reaksi Suhita selanjutnya.


"Untuk kali ini, apa kalian masih mau menolongku?" tanya Suhita lagi, dia menunggu reaksi para pelayannya.


"Hita, mengapa kau bicara begitu? Kami ... kami tidak mengerti maksudmu," jawab Kencana Sari.


Suhita tersenyum, dia menatap satu persatu wajah pelayannya. "Dari mana kalian tahu kalau Kak Cakra merupakan seorang buronan kerajaan? Apa kalian juga yang memberi tahu keberadaannya di sini?"


Ketiga pelayannya tersentak kaget. Suhita juga sudah tahu, tapi mengapa justru dia malah menyembunyikan keberadaan Cakra. Kenapa?


"Ya ... aku sudah tahu semuanya, bahkan alasan mengapa sampai Kak Cakra menjadi buronan kerajaan. Dan mungkin, aku telah membuat kesalahan dengan menyembunyikan dia dari jerat hukum. Tapi kalian juga harus mengerti, aku punya alasan yang kuat untuk bersikeras menolongnya. Tidak peduli apapun resikonya ..."


Kencana Sari dan yang lain hanya bisa diam. Suhita meminta mereka untuk membantu tutupi keberadaan Cakra, lalu apa yang bisa mereka lakukan?


"Baik, aku berjanji. Percaya padaku, apa pun resikonya bahkan jika itu adalah nyawa," ucap Kencana Sari dengan mantap.


"Terima kasih, sudah percaya padaku," sambut Suhita dengan senyum haru. Dia lega, ketiga pelayannya bersedia kerja sama.


°°°


Kitab Langit dan Bumi yang Danur Cakra pelajari sedari kecil, sepenuhnya telah Cakra kuasai saat usianya tepat sepuluh tahun. Hanya saja sudah lama sekali Cakra  tidak menggunakan jasa Genderuwo ataupun siluman lainnya untuk membantunya.


"Ah ... aku merasa jika kekuatan fisikku mulai membaik, tiada salahnya kalau aku mencoba. Lagi pula si bawel itu tidak lagi ada di sini," Danur Cakra menghela napas panjang. Dia kemudian mengambil posisi duduk bersila dan mulai merapal mantra.


Sejatinya, kekuatan tenaga dalam Danur Cakra telah kembali hampir separuh. Hanya saja pengaruh obat yang Suhita berikan membuat Danur Cakra tidak bisa merasakan hal itu. Suhita sengaja melakukannya untuk membuat Danur Cakra mau menjalani pengobatan seperti semestinya. Hingga dia akhirnya kesembuhan total datang dengan serentak, pada saat itu sudah tidak lagi ada yang perlu dikuatirkan.


Tidak lama berselang, di hadapan Danur Cakra muncul kepulan asap yang tebal. Beberapa detik kemudian, muncul sesosok tubuh tinggi besar dan menyeramkan. Sebelum kemudian sosok itu mengecil dan berubah pada ukuran manusia normal hanya berkulit gelap dan bermata merah.


"Haduuuhhh ... Tuan Besar, sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Hamba kira Tuan Besar sudah melupakan hamba," sembah sujud Genderuwo haturkan pada Danur Cakra.


Danur Cakra sedikit terkejut mendapati kekuatannya sudah kembali berkali lipat dari yang dia duga. Ada sesuatu yang Suhita sengaja sembunyikan darinya. Sialan bocah itu!


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud melupakanmu, akan tetapi sejauh ini aku bisa atasi segala masalah sendiri."


Genderuwo menjatuhkan tubuhnya, dia begitu terkejut mendengar Danur Cakra mengucapkan kata maaf padanya. Pengaruh positif Suhita, sedikitnya telah berhasil merubah sikap Danur Cakra.


"Tidak ada banyak waktu, kau lihat ini. Cepat cari tahu!" Danur Cakra menyerahkan bungkusan yang berisi debu dan beberapa benda penting yang dia dapatkan dari badai misterius kemarin. Cakra ingin Genderuwo itu pergi menyelidiki.


Tanpa banyak bicara, Genderuwo tersebut langsung menghilang. Dia akan segera menjalankan perintah Danur Cakra. Entah itu kebaikan atau kejahatan, Genderuwo hanya patuh pada perintah majikannya.


"Semoga saja, siluman jelek itu bisa menemukan bukti penting. Setidaknya ini sebagai bentuk balas budiku pada Hita, dengan membantu dia memecahkan misteri hilangnya anak laki-laki di kota Binar Embun ini," Danur Cakra menghembuskan napas lega.

__ADS_1


Meskipun terkadang Cakra merasa heran pada pola pikir Suhita yang dirasa tidak masuk akal. Sudah terlalu baik Suhita membantu kesembuhan para penduduk secara gratis. Tapi dia juga masih sibuk untuk menyibak misteri akan hilangnya anak-anak. Jelas-jelas itu merupakan siluman.


__ADS_2