
Sementara Suhita membaca kitab yang membahas mengenai kisah benih teratai berduri di masa lalu, Nyi Nilam Sari terus bicara dan menjelaskan satu persatu kitab yang ada di ruangan tersebut. Suhita hanya sesekali saja menimpali, dia memfokuskan perhatiannya pada kitab yang sedang dia baca.
Kesempatan untuk mempelajari kitab itu hanya satu kali, pastinya Nyi Nilam Sari sengaja membagi konsentrasi Suhita pada kitab menarik lainnya supaya Suhita tidak memperoleh keterangan lebih jauh. Hita ingat betul pesan ayahnya, jangan mudah percaya pada orang lain. Apalagi pada siluman, tentunya mereka terlihat menurut hanya karena takut.
"Tabib kecil, apa kau sama sekali tidak tertarik pada kitab pengobatan ini? Kau bisa baca sekaligus di sini," Nyi Nilam Sari datang dan meletakkan kitab usang di dekat Suhita duduk.
"Terima kasih, Nyai. Kebaikan hati Anda akan selalu saya ingat," ucap Suhita dengan senyum mengembang.
Nyi Nilam Sari melangkah meninggalkan Suhita sendirian di ruangan itu. Nampaknya dia mulai frustrasi untuk mengacaukan konsentrasi Suhita. Bagaimanapun dia memancing, Suhita tetap tidak perduli dan terus mempelajari kitab yang dipegangnya.
"Mungkinkah?!" Suhita mengerutkan dahi, kala menemukan dua hal yang dia anggap bertolak belakang. Saat Nyi Nilam Sari pergi, Suhita menyiapkan satu kertas sebagai catatan kecil. Dia mungkin tidak bisa mengingat seluruh informasi yang terdapat di dalam kitab setebal itu, makanya Suhita mencuri catat untuk kepentingan nanti.
Benih Teratai Berduri hanya tumbuh dari darah sang pemilik, kurang lebih catatan itu yang membuat Suhita terkejut. Jika itu benar, maka tebakan Suhita mungkin tidak meleset. Pendekar Tongkat Emas memang menanam pohon teratai tersebut, tanpa dia sadari jika tanaman langka itulah yang hampir mencabut nyawanya.
"Apa karena ini, ayah mengajakku untuk pergi ke kediaman Pendekar Tongkat Emas? Mungkinkah sebenarnya ayah mengetahui sesuatu? Ah, tidak. Tidak mungkin ayah mempersulit diriku. Pastinya hanya dugaan ayah semata," Suhita menghela napas panjang.
Tanpa membuka kitab lain yang diserahkan oleh Nyi Nilam Sari, Suhita mengembalikan kitab yang dia pinjam ke tempat semula. Dia bergegas kembali di mana ayahnya menunggu. Namun, betapa terkejutnya Suhita ketika dia menyadari jika ruangan dan seluruh lekuk jalan di sekitar tempat itu telah berubah, tidak seperti saat dia datang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa?! Kelokan jalan di tempat ini berubah setiap satu jam sekali, aku bisa merasakan jika aku telah tinggal beberapa jam lamanya. Lalu, ke mana aku harus pergi?" Suhita celingukan.
Dengan yakin, Suhita menyusuri lorong ke sebelah kiri. Jika terjadi sesuatu, dia tinggal gunakan kemampuan yang dia punya untuk atasi lawan. Lagi pula, bukankah kalau Suhita gunakan Pukulan Tapak Naga maka ayahnya akan bisa menemukan? Hal itu membuat rasa gentar di dalam diri Suhita hilang, berganti dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Hahaha! Kau pikir, bisa dapatkan semuanya secara cuma-cuma? Kau pikir siapa dirimu?!" Suara Nyi Nilam Sari menghentikan langkah Suhita.
__ADS_1
Beberapa sosok yang mengikuti di belakang Nyi Nilam Sari bergegas mengepung Suhita.
"Kau yang menawarkan jasa, sama sekali aku tidak pernah memaksa. Jika kau mau, maka lakukan sesuka hatimu, bukankah ini adalah tempatmu?" jawab Suhita.
Tidak bisa dihindari lagi, Suhita segera mempersiapkan kemampuannya. Aliran energi tenaga dalam telah membuat telapak tangannya bersinar berkilau.
"Tanpa gurumu, kita lihat apa yang bisa kau lakukan. Tangkap anak kecil itu!" perintah Nyi Nilam Sari.
Secara bergiliran, para pasukan yang mengepung Suhita bergerak untuk berusaha meringkus Suhita. Tubuh yang mereka miliki, sedikit lebih besar dari ukuran rata-rata manusia biasa. Hingga tubuh Suhita yang kecil, seolah hilang tersembunyi di balik kepungan.
Dengan gunakan jurus tarian naga, Suhita melakukan perlawanan alot. Kemampuan tenaga dalam yang dia kuasai, berada di atas lawan-lawannya hingga membuat tidak seorang pun pasukan Nyi Nilam Sari yang bisa mendekat.
"Gila! Anak kecil ini, apa benar dia adalah Tabib Titisan Dewa?! Apakah aku telah salah mengambil keputusan?!" Nyi Nilam Sari menghela napas berat. Dia bisa melihat sendiri betapa kemampuan yang Suhita miliki tidak seperti anak pada umumnya. Sepuluh Tapak Penakluk Naga, ya jurus legenda tersebut pastinya akan hancur luluhkan tempat mereka mana kala Bayu Samudera pun muncul di sana.
"Hump!" Suhita melepaskan pukulan tapak naga guna menahan ujung selendang yang menyerang ke arahnya. Jangan sampai, Hita terlilit oleh selendang tersebut.
BAARRR !!! Benturan terjadi, tubuh Suhita terdorong ke belakang tapi dia masih bisa mempertahankan keseimbangan dan mendarat dengan baik.
Sementara itu, ujung selendang milik Nyi Nilam Sari tergulung dan membeku terbungkus lapisan es. Nilam Sari sampai harus mengibaskan berulang kali, barulah selendangnya terbebas.
Dengan datangnya Nyi Nilam Sari, anak buahnya menjadi lebih punya keberanian untuk melakukan serangan yang nekad. Tidak jarang dari mereka yang mencoba menubruk Suhita, untuk bisa mengunci pergerakan tangan anak kecil tersebut.
"Gawat! Apa aku harus celakai mereka?! Tapi jika tidak, pasti aku yang akan celaka!" Suhita gugup. Pengalaman pertama saat dia menghabisi nyawa orang sampai sekarang masih belum bisa Suhita lupakan. Haruskah mengulang untuk kedua kali?!
__ADS_1
Bugh! Desh!
Sekuat apa pun pertahanan yang Suhita bangun, pada saatnya dia kebobolan juga. Tubuhnya terhempas ke tanah saat Nyi Nilam Sari berhasil menyarangkan pukulan.
"Uhuukkk ... uhuukkk ..." Suhita menyeka titik darah di sudut bibirnya yang pecah.
"Anak kecil, kau tidak akan bisa lolos!" Seorang prajurit tinggi besar berteriak dan melompat ke arah Suhita.
Suhita terbelalak, belum juga dia bisa bangun. Begitu cepatnya tubuh itu hendak meringkusnya.
"Tapak Naga - Embun Beku" Suhita menghentakkan kedua tangannya.
Seketika itu juga, tubuh prajurit yang melayang ke arahnya langsung berbalik arah. Tubuhnya yang hitam mengkilap karena keringat, mendadak menjadi putih mengkilap layaknya butiran salju.
Praaaaakkkk !!! Bongkahan salju itu hancur berkeping-keping mana kala berbenturan dengan langit-langit gua. Tubuh prajurit yang gagah, kini telah berubah menjadi debu salju yang berserak tidak beraturan.
Suhita segera bangkit. Dia memandang berkeliling, memastikan jika tidak ada seorang prajurit pun yang akan kembali melakukan serangan.
Dengan jarak yang cukup jauh, Suhita dan Nyi Nilam Sari berdiri saling berhadapan. Sekarang, mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa. Tabib Dewa. Tabib tiada tanding di masa mendatang.
CLIB! CLIB! CLIB!
Terdengar suara aneh, seperti suara batu yang tenggelam ke dasar sungai. Dan saat Nyi Nilam Sari sadar, dia telah mendapati seluruh anak buahnya telah terbungkus oleh gelembung kristal es. Tanpa terkecuali, tubuh para prajurit itu mengapung di udara.
__ADS_1
"Nilam Sari, kau telah berkhianat!"