
Suhita Prameswari melangkah dengan sangat hati-hati, diusahakan agar daun dan ranting kering tidak menimbulkan suara berisik seiring langkah kakinya yang terus mendekat ke arah tadi dia melihat ada bayangan yang berkelebat.
Suhita tidak menemui siapa-siapa selain Bulan Jingga yang duduk seorang diri menghadap perapian. Gadis itu sepertinya sedang sibuk pada aktivitasnya, hingga tidak perduli pada keadaan di sekitarnya. Suhita menggaruk kepalanya, rasanya ada yang janggal.
Apa mungkin Bulan Jingga telah menghabisi mereka yang datang, secepat itu?! Rasanya tidak masuk akal. Setidaknya seorang pendekar pun butuh waktu beberapa jurus lamanya untuk menuntaskan perlawanan mereka yang miliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Muncul kecamuk di dalam hati Suhita. Jangan-jangan gadis cantik berwajah polos itu merupakan seorang pendekar yang sebetulnya memiliki tujuan pribadi. Mungkin juga dia hanyalah utusan yang bertugas untuk menyandera Suhita. Dan beberapa bayangan yang bergerak cepat tadi merupakan komplotannya yang bertugas menjaga lokasi di sekitar tempat itu.
"Aku harus berhati-hati. Nampaknya dia sangat berbahaya. Huuuhhh ... sebenarnya apa yang diinginkan dari diriku?!" Suhita sungguh tidak mengerti.
Selama hidup, Suhita tidak pernah memilah-milah dalam membantu orang. Tidak ada orang baik dan jahat di matanya, yang ada hanyalah orang sakit dan sehat. Dengan demikian, rasanya terlalu berlebihan jika ada orang yang memiliki niat untuk menyekap Suhita dan memaksa untuk melakukan sesuatu. Bahkan tanpa di bawah ancaman pun, Suhita selalu siap sedia menolong. SIAPA SAJA.
"Ah, orang-orang memang sangat aneh. Jika mereka punya dendam pada ayah, tidak mungkin juga libatkan diriku. Itu sama saja mereka merugikan diri sendiri di masa depan," Suhita kemudian memutuskan untuk segera mendekat pada Bulan Jingga dan melupakan bayangan misterius yang sempat dia lihat.
"Tabib kecil, kau sudah selesai mandi?!" Bulan Jingga menyapa dengan senyum. Wajahnya yang polos, menunjukkan seolah setiap ekspresi yang dia tunjukkan berasal dari dalam hati.
Suhita balas tersenyum. Dia hanya mengangguk, tanpa menjawab pun jelas-jelas sekarang Hita sudah kembali dari sungai dan berganti pakaian. Tubuhnya terlihat begitu segar dan kembali fresh.
Saat kemudian Bulan Jingga beranjak menuju sungai, Hita memilih untuk berjalan-jalan menyusuri sungai di sekitar tempat mereka istirahat. Mana tahu ada sesuatu yang bisa dia manfaatkan entah itu tanaman atau pun lainnya.
__ADS_1
Setiap langkah kaki Suhita, selalu berada dalam pengawasan. Pasang mata yang tersembunyi keberadaannya tidak melepaskan sedikit pun pergerakan yang Suhita lakukan. Hal itu membuat Suhita menjadi sangat tidak nyaman. Dia semakin curiga jika Bulan Jingga memiliki niat yang kurang baik terhadap dirinya.
"Hahaha! Apa yang sedang kau cari tabib?" seiring dengan sapaan diiringi tawa itu, dari dahan pohon tepi sungai muncul sesosok tubuh pria paruh baya. Kumisnya yang baplang membuat ekspresi tertawanya seolah tertutupi.
"Tuan, selamat sore. Senang bisa memiliki teman bicara," Suhita membungkuk memberi hormat dengan seutas senyum menghiasi wajahnya yang manis.
Pria itu kembali tertawa kecil, dia bergerak mendekat. Dengan tangan kanannya meraih pundak Suhita, "kalau ingin puas mengobrol, ayo ikut denganku sekarang."
Suhita tersentak, dia coba berontak dan melepaskan telapak tangan pria itu dari pundaknya. Tapi gagal. Seolah memiliki perekat yang sangat kuat, malah pundak Suhita yang tersedot oleh telapak tangan tersebut.
Wuuusss! Wuuusss!
Berselang sepersekian detik berikutnya, beberapa badik kecil melesat cepat. Diikuti oleh para pendekar yang langsung melayangkan serangan pada pria paruh baya yang hendak menculik Suhita.
Saat berikutnya, yang bisa Suhita saksikan ialah kelebat bayangan orang-orang yang bertarung. Mereka sama-sama memiliki kemampuan yang sangat tinggi hingga setiap kecepatan gerakan yang dilakukan sukar untuk diikuti oleh mata biasa.
"Tabib kecil, kau baik-baik saja?!" Bulan Jingga muncul di samping Suhita dan memeriksa kondisinya.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih. Hanya saja, sedikit terkejut. Siapa orang itu? Mengapa tiba-tiba saja menyerang saya?" tanya Suhita.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas mereka tidak bermaksud baik," Bulan Jingga menatap ke arah pertarungan. Terlihat jika para pendekar anak buahnya berada dalam posisi terdesak.
Pendekar paruh baya yang datang adalah seorang pendekar aliran netral yang berasal dari barat. Saat ini dia bekerja di bawah naungan Panji Tengkorak. Salah satu kelompok aliran netral yang menduduki wilayah barat Kerajaan Utara. Kedatangannya sudah barang pasti karena Tabib Titisan Dewa.
"Sialan! Begitu cepatnya berita ini tersebar. Terpaksa aku harus menjadi kacung bocah ingusan ini. Jika tidak begitu, maka aku tidak punya harapan," dalam hati Bulan Jingga berdecak kesal. Mengapa harus ada masalah dalam rencana yang dia anggap berjalan mulus ini.
"Tabib kecil, baiknya kau segera pergi. Kereta kuda sudah siap! Aku akan segera menyusul," ucap Bulan Jingga kemudian. Dia menambahkan, besar kemungkinan orang yang akan datang bukan hanya seorang diri. Takutnya hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Suhita tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab ucapan Bulan Jingga. Lidah yang dimiliki oleh Bulan Jingga terlalu lihai dalam merangkai kata-kata.
Tidak berselang lama, tubuh Suhita telah terguncang di atas kereta kuda yang kembali berjalan. Dia tidak berkesempatan untuk menyaksikan pertarungan yang terjadi. Bagaimana sepak terjang Bulan Jingga, juga apa yang sebenarnya terjadi. Yang Suhita tahu, Bulan Jingga adalah seorang pendekar pilih tanding yang mampu membaca pikiran lawan. Siapa pun itu, tidak akan bisa berbohong darinya.
Suhita berpindah tempat duduk. Dia menemani kusir yang mengendalikan laju kuda. Kepada sang kusir, Suhita banyak bertanya ini dan itu. Dan dia mendapatkan keterangan yang dia inginkan. Bulan Jingga memang seorang pendekar pilih tanding. Bahkan dalam kelompoknya, dia merupakan seorang pendekar wanita yang tidak memiliki lawan. Kemampuannya sangat aneh. Bulan Jingga mampu membaca dan meniru gerakan lawannya. Hingga tidak jarang dia menghabisi lawan dengan jurus andalan mereka sendiri.
"Lalu, apakah bapak tahu mengenai saudara seperguruannya yang sakit itu?" tanya Suhita lebih jauh.
Tidak ada jawaban yang pasti, sebagai seorang kusir kuda tentunya tidak banyak yang dia ketahui. Tapi yang jelas, memang sangat banyak orang-orang yang sakit. Berbagai macam penyakit. Dari penyakit biasa, hingga penyakit aneh akibat serangan racun.
"Ah, setiap hari? Yang benar saja! Apakah kalian begitu hobi berperang?!" Suhita tercekat mendengar penuturan kusir kereta.
__ADS_1
Kusir kereta itu tertawa kecil. Kepalanya menggeleng berulang kali. Dia menampik tuduhan Suhita yang menyebut mereka hobi berperang. Hanya saja, memang masalah kerap timbul dalam setiap pergerakan kelompoknya.
"Itu sama saja. Tidak membuat masalah, tapi kerap mendapatkan masalah. Mungkin misi dan tujuan kelompok kalian yang bermasalah!" ucap Suhita dalam hati. Dia semakin penasaran, seperti apa bentuk sebenarnya Klan Perisai Hujan itu?!