
Lencana kerajaan, perlambang tugas penting yang diemban pasukan. Tentu saja tidak seorang pun rakyat yang berhak untuk bisa membayangi apa lagi coba untuk menghalangi. Kecuali, sudah miliki kemampuan yang bisa untuk membalik dunia.
Suhita menundukkan wajahnya, pertanda tunduk akan perintah. Dia menunggu sampai kepala pasukan angkat bicara, akan hal yang harus dilakukan untuk bisa membantu. Sebagai rakyat yang taat hukum, tentu saja Suhita akan berpihak pada kerajaan.
Kedatangan Suhita ke dalam istana, bersifat tertutup juga di bawah pengawalan ketat Jenderal Muda dan para pengawal khusus. Bahkan para pejabat di luar kubu Raka Jaya, akan sulit untuk sekadar menatap wajah Suhita. Apalah lagi mereka yang hanya prajurit dengan pangkat rendah. Nama Tabib Dewa hanya di dengar dari cerita orang-orang, untuk melihat wajahnya tentu tidak terduga jika bersosok menyerupai bidadari.
"Nona, apa kau melihat adanya kelompok berkuda yang melintas di jalanan ini?" tanya kepala pasukan.
Suhita menghela napas, bersyukur karena bukan Naga Kresna yang ditanya, ataupun pertanyaan lain yang dirasa lebih sulit untuk dijawab. Jika pertanyaan itu, tentu sangat mudah. Karena baru saja mereka bertemu dengan kelompok berkuda di kedai ujung desa tersebut.
"Tuan prajurit, maaf. Apakah boleh kami tahu, atas hal apa yang terjadi?" tanya Suhita.
Mungkin, karena paras yang dimiliki oleh tiga orang wanita itu termasuk dalam salah satu penyegaran mata, membuat para prajurit betah berlama-lama untuk bisa memandang rupa bidadari. Hingga mereka menyempatkan waktu untuk memberikan penjelasan atas pertanyaan Suhita.
Ya, memang benar. Suhita mendengar jika rombongan berkuda itu menyebut Desa Sasak sebagai tujuan perjalanan mereka. Hanya saja, Suhita tidak curiga jika di sana merupakan satu tempat pelatihan militer. Benteng pertahanan yang pelan-pelan dibangun dan di duga akan digunakan sebagai basecamp pemberontak yang diduga bakal merongrong kewibawaan kerajaan dalam beberapa tahun ke depan. Keputusan yang bijak. Sebelum tumbuh dan berkembang, akan lebih mudah menumpas benih calon parasit agar tidak menggerogoti lebih jauh.
"Oh, ya, Nona. Apa kami boleh tahu namamu?" tanya pimpinan prajurit itu kemudian. Caranya menjelaskan jika ia inginkan lebih kedekatan.
"Tuan Prajurit, maaf. Saya rasa kau jauh lebih paham. Tidak etis rasanya sikapmu menggoda seorang gadis di tepi jalan, saat dirimu dalam keadaan sedang bertugas," Kencana Sari menyela.
Pimpinan prajurit melirik pada Kencana Sari, memang benar apa yang diucapkan pelayan Suhita tersebut hingga pimpinan prajurit hanya bisa tersipu malu. Kendati demikian, tentunya Kencana Sari tidak menyematkan rasa penasaran dalam hati pimpinan prajurit. Ketika pimpinan prajurit tersebut pamit hendak melanjutkan perjalanan, Kencana Sari memberi tahu jika orang yang baru saja diajak bicara tidak ialah Tabib Dewa.
Pimpinan prajurit dan beberapa orang lainnya yang mendengar dengan jelas, hampir mati tersedak ludah, mendapati penuturan Kencana Sari. Ingin rasanya mereka tidak percaya, akan tetapi sulit untuk diterima akal sehat.
Menutup interaksi, Kencana Sari menunjukkan tanda pengenal yang khusus diberikan oleh Raja pada Suhita. Lencana yang terbuat dari emas, sebagai jaminan akan keselamatan juga kebebasan Tabib Dewa untuk datang kapan pun dan di mana pun, di seluruh sudut penjuru istana dan tanah utara.
Seperti halnya yang dilakukan oleh pimpinan prajurit, Kencana Sari membalas dengan cara yang serupa. Dia mengangkat tanda pengenal tersebut tepat di hadapan wajah pimpinan prajurit. Supaya mereka tidak salah lihat.
Perubahan sikap yang amat cepat. Seketika para prajurit menjadi sopan dan segan. Tanpa lagi memiliki pemikiran ingin mengenal sosok gadis di hadapan mereka, karena mereka sadar siapa itu Tabib Dewa.
"Sari, berulang kali aku katakan, jangan bersikap seperti anak kecil. Mulutmu harimaumu, jadi pandai-pandailah menjaga lidah," Suhita kembali mengingatkan Kencana Sari.
Kencana Sari menundukkan wajah dengan dalam, dia tidak berani membuka suara, apalah lagi menyela ucapan majikannya.
__ADS_1
°°°
Gelap telah mengambil alih dengan sempurna, menggantikan terang yang menghilang sejak raja siang tertutup bukit. Berangsur suara jangkrik yang menghias di seluruh penjuru hutan berbalut samar oleh suara burung-burung malam. Sesekali terdengar lolongan pilu serigala di kejauhan. Menambah keseraman, pepohonan rindang yang saat siang terlihat gagah dengan dedaunannya yang segar, dalam pandangan mata sekarang berubah menjadi menyeramkan layaknya tubuh monster raksasa yang tinggi hitam. Malam semakin larut.
Perapian yang Kencana Sari buat, menjadi satu-satunya sumber penghangatan. Tiga gadis muda tersebut duduk mengelilingi api seraya menikmati bekal yang tersisa. Mereka memutuskan untuk beristirahat setelah jalanan tidak lagi memungkinkan untuk dilalui. Kabut tebal yang turun, sangat mengganggu jarak pandang. Dari pada memaksa kemudian dapatkan hal yang tidak diinginkan, tentu lebih baik beristirahat seraya melemaskan otot.
"Aku merasa jika hutan ini bukanlah merupakan jalan lintas. Begitu jarang adanya aura manusia. Jangan-jangan masih angker," celetuk Kencana Sari.
"Kau takut? Atau berharap membaringkan tubuh di atas dipan empuk? Hutan belantara begini, mana ada selain bermimpi," Suhita menanggapi.
Kencana Sari cemberut, dia hanya menyampaikan apa yang disaksikan. Bukannya berharap seperti yang Suhita katakan. Lagi pula, aura mistis di hutan itu memang benar-benar terasa menyengat sumsum, Sari sangat yakin kalau Suhita lebih memahami dari pada dirinya. Selain untuk bergurau tidak ada lain tujuan Hita.
Tanpa disadari, dalam jarak yang cukup jauh, seseorang sedang memata-matai Suhita dan dua rekannya. Sepasang mata yang sejak tadi terus mengawasi dari kejauhan, tidak melewatkan barang sedikit pun atas apa yang terjadi. Dia mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang, juga nyamuk-nyamuk yang berterbangan mendekat, fokus matanya untuk setiap detail laporan.
Api yang dinyalakan oleh Kencana Sari tentu menjadi pusat perhatian. Dari tempat yang jauh pun nyala api tersebut dapat mengabarkan bila sedang ada manusia di sana. Tapi sebaliknya, Suhita tidak bisa melihat ada orang atau tidak di sekitar mereka. Lagi pula, Suhita maupun yang lain tidak pernah coba untuk mencari tahu, andaipun binatang buas pasti akan pergi dengan sendirinya karena tidak diusik sama sekali.
"Hmmm ... nampaknya mereka akan bermalam di tempat itu" batin pengintai. Dari pergerakan yang ditujukan, tidak ada tanda-tanda Suhita akan melanjutkan perjalanan di bawah tebalnya kabut.
Pengintai itu kemudian bangkit, pelan-pelan menjauhkan tubuhnya dari bongkahan batu tempatnya mengintai. Sebelum pergi, dia lebih dulu membersihkan beberapa pacat yang menempel di kakinya. Hewan tanpa tulang yang menghisap darah itu terlihat sudah kenyang meminum darah manusia. Pacat. Meskipun gerakannya lambat, melata, tanpa mata dan senjata, nyatanya dia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya yang justru sebagai pemangsa darah. Karena pada dasarnya, bentuk fisik tidak membatasi bagaimana jalan hidup suatu mahluk.
Bukan satu orang saja, melainkan ada beberapa mata-mata yang disebar. Secara fungsional, akhirnya secara tidak langsung mereka menjadi penjaga Suhita, Kemuning dan Kencana Sari. Walaupun pada hakikatnya beda tugas yang diemban.
Harimurti dan sebagian besar rombongan, mendirikan kemah yang berjarak cukup jauh. Mereka tidak ingin sampai keberadaan mereka diketahui oleh Suhita. Apalagi jika sampai terbongkar kalau tugas yang diemban ialah untuk menculik Kemuning. Bisa-bisa mereka akan berhadapan dengan Suhita. Dan tentu itu bukanlah kabar baik.
"Bagaimana, apa ada kabar terbaru?" tanya Harimurti pada anak buahnya.
Anak buah Harimurti kemudian menyampaikan kabar yang diperoleh dari mata-mata yang posisinya paling dekat dengan Tabib Dewa. Bahwa Tabib Dewa, Kemuning dan seorang pelayan, mereka memutuskan untuk berhenti dan menunggu hingga kabut tebal menghilang yang artinya hari telah pagi. Mereka akan melanjutkan perjalanan besok.
"Huuuhhh ... apa mungkin kita bertindak malam ini juga? Apa kau punya rencana Lintang Dalu?" tanya Harimurti pada seorang rekannya.
Lintang Dalu lebih dulu menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Harimurti. Sebenarnya dia tidak yakin, jika rencananya akan berhasil. Akan tetapi, tentu saja tidak ada salahnya untuk dicoba. Ilmu Sirep.
Dengan media asap kemenyan, kemampuan menidurkan orang dalam kekuatan Ilmu Sirep sudah banyak terbukti. Siapa pun yang mengirup aroma harum dari asap kemenyan yang telah disertakan mantera sirep, maka dalam waktu yang singkat orang ataupun kelompok orang akan tertidur pulas seperti layaknya orang mati. Hilang kesadaran.
__ADS_1
"Baik! Sebagian besar dari kita tetaplah di sini. Kita pastikan dulu Ilmu Sirep bekerja baru melakukan tindakan selanjutnya. Aku yakin, Tabib Dewa juga hanyalah manusia biasa yang miliki banyak kelemahan. Tapi seandainya Ilmu Sirep ini tidak bekerja, tentu kita tidak terlalu menanggung resiko jika mereka tidak tahu keberadaan kita," ucap Harimurti.
Lintang Dalu setuju, begitu juga dengan anggota yang lain. Yang akan berangkat hanyalah tiga orang. Harimurti, Lintang Dalu, dan seorang lagi ialah mata-mata yang mengetahui secara persis posisi Suhita. Pasukan Sayap Kelelawar yang lain, tidak diperkenankan untuk berhanjak dari posisi sebelum ada perintah selanjutnya.
"Sssttt!!! Hati-hati, aku dengar jika kemampuan yang Tabib Dewa miliki, tidak jauh berbeda dengan Jenderal Muda. Meskipun itu terasa berlebihan, tiada salahnya untuk tetap hati-hati," Lintang Dalu mengingatkan.
Pada dasarnya, para pendekar seperti Harimurti, Lintang Dalu, juga pendekar-pendekar lainnya di dunia persilatan, mereka bukannya gentar terhadap kemampuan olah kanuragan yang dimiliki oleh Tabib Dewa. Namun jauh dari pada itu, satu hal yang mereka takutkan ialah jika suatu saat nanti mereka akan membutuhkan uluran tangan Tabib Dewa. Lantas, mau ditaruh di mana muka mereka? Bahkan tokoh aliran sesat sekalipun, tidak berniat untuk berurusan dengan Tabib Dewa. Dengan alasan serupa.
Harimurti terus berjalan mendekat. Dengan sangat hati-hati, bahkan ranting kecil yang berpotensi mengeluarkan suara sebisa mungkin mereka hindari. Terus mencari posisi yang tepat, seraya menilik arah angin yang akan membantu untuk mengantarkan Mantra Sirep melalui wangi kemenyan.
Dalam jarak yang cukup, Harimurti kemudian menghentikan langkah. Mereka mencari posisi duduk yang sedikit tersembunyi. Padahal, secara pasti mereka sudah tertutup oleh gelapnya malam yang berselimut kabut, tidak mungkin bisa dijangkau oleh pandangan mata.
"Lintang ... silakan dimulai," ucap Harimurti setelah beberapa menunggu.
Lintang Dalu mengangguk, kemudian mengeluarkan buntalan kain putih dari balik pakaiannya. Sementara itu, seorang anak buah Harimurti berusaha untuk menyalakan api. Nanti Lintang Dalu akan gunakan untuk membakar kemenyan, mengantarkan Ilmu Sirep yang tentunya bertujuan untuk membuat tidur Suhita, Kemuning dan Kencana Sari semakin lelap.
°°°
Kemuning berusaha untuk membuka matanya, terasa sangat rekat sekali. Padahal jelas dia ingat jika sudah tertidur dalam waktu yang cukup lama. Tapi rasa kantuk ini ... sungguh tidak bisa Kemuning mengerti.
"Tidak, aku harus bangun!" meskipun dalam keadaan mata tertutup, Kemuning memaksakan diri untuk duduk.
"Astaga! Di mana aku?!" separuh kesadaran Kemuning baru kembali, tapi dia yakin benar jika semalam tidak tertidur di tempat seperti sekarang dia terjaga.
Dengan mengucek-ngucek mata, Kemuning memandang berkeliling, dia tidak menemukan Suhita maupun Kencana Sari ada di sana. Jelas telah terjadi sesuatu, ada yang tidak beres dalam tidurnya semalam. Kemuning lekas memeriksa aset-aset indah yang dia punya, berharap tidak menemukan apa pun yang dikhawatirkan.
"Tabib, Tabib Dewa !!!" Kemuning coba memanggil berulang kali. Dia pun meneriakkan nama Kencana Sari, tapi tidak mendapatkan jawaban seperti yang diinginkan. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Beberapa saat lamanya Kemuning termenung, sebelum kemudian dia berusaha untuk bangkit dan berjalan. Seluruh persendian di tubuh Kemuning terasa sakit, sepertinya dia telah mengkonsumsi obat penghilang kesadaran atau sejenisnya. Tapi kapan? Kemuning tidak ingat. Yang dia ingat ialah saat terakhir sadar dia berada di tengah hutan bersama Tabib Dewa juga Kencana Sari. Memang mereka bersantap, tapi makanan itu mereka beli dari kedai di desa. Jika harus kehilangan kesadaran, tentunya mereka bertiga sama-sama pingsan. Ah, bagaimana jika itu benar-benar terjadi?
Hati Kemuning bergemuruh, dag-dig-dug tidak karuan. Berbagai pemikiran negatif seketika muncul dalam benaknya. Dia harus segera mencari Tabib Dewa dan Kencana Sari, tapi ke mana? Kemuning akan merasa sangat bersalah, dia sangat yakin bila semua yang terjadi akibat permasalahan pribadinya. Hati kecil Kemuning mengatakan kalau ini berkaitan dengan keluarganya, keluarga bangsawan yang begitu banyak protokoler yang tidak Kemuning sukai. Keluarga yang hanya menilai manusia dari golongan. Darah biru, anak konglomerat, bangsawan, apalah itu. Pembuat batasan yang tidak manusiawi. Bukankah semua manusia memiliki hak dan kesempatan yang sama? Pencipta tidak pernah memberikan pembeda hanya dari mana dia terlahir.
Tapi pertanyaannya, siapa yang membocorkan rahasia identitas dirinya? Tabib Dewa, sangat tidak mungkin. Jenderal Muda juga Kemuning percaya padanya. Atau jangan-jangan ada mata-mata yang dikirim oleh ayahnya, dan berhasil mengendus semuanya. Kepala Kemuning terasa seperti mau pecah dibuatnya.
__ADS_1
"Tidak sewajarnya Tabib Dewa ikut terlibat, aku berharap demikian. Akan tetapi, aku belum puas jika tidak mengetahui secara langsung," Kemuning menghembuskan napas panjang, sebelum kemudian dia memutuskan untuk segera mencari keberadaan Tabib Dewa.
Kemampuan Kemuning sepenuhnya telah bisa digunakan, dia bukanlah seorang gadis biasa, melainkan sosok pendekar wanita yang dulu sangat popular sebagai pemain sirkus. Bedanya sekarang dia tidak lagi mengenakan cadar, itu saja.