Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Dewi Kundalini


__ADS_3

Tiada yang menjelaskan bahwa hujan akan segera turun. Akan tetapi dengan melihat awan tebal nan hitam, menuntun pemikiran untuk berpendapat demikian. Sekadar melihat ekspresi mimik wajah Arsita, Danur Cakra bisa menyimpulkan untuk dirinya sendiri.


"Saya tidak tahu. Ayah saya hanya untuk memastikan teman-teman tidak tersesat."


"Ya, aku yakin jika kalian jauh lebih paham daerah sini. Apalah diriku yang kebetulan melintas. Namun demikian, aku tahu di mana tempat makanan yang enak," ucap Danur Cakra seraya berlalu.


Arsita tidak mengejar atau mungkin bertanya kemana tujuan Danur Cakra. Bicaranya seolah mencari makanan, siapa duga jika langkah kaki pendekar tersebut juga untuk mencari tahu. Selama tidak merugikan, rasanya bukan merupakan satu kesalahan.


Dalam waktu yang singkat, Danur Cakra telah begitu jauh meninggalkan gua persembunyian. Sekarang Danur Cakra tengah berdiri di puncak bukit kecil seraya melepaskan pandangan ke segenap penjuru. Dari tempat itu, dia bisa dengan leluasa mengawasi daerah di sekitar. Dan benar, meskipun dari ketinggian yang bagus tapi letak gua tersebut tidak terlihat juga tidak mencurigakan. Semakin penasaran saja, siapa sebenarnya orang yang pertama menemukan gua tersebut, sampai-sampai menyimpan begitu banyak koin emas di dalamnya. Apa mungkin bajak laut?!


"Sialan! Mengapa tidak terpikirkan olehku, buaya yang terlihat tadi berasal dari muara ataukah buaya laut. Dan pasti ada spesies ikan, kalau ikannya berasal dari laut, itu artinya gua itu memiliki tembusan ke laut sana," Danur Cakra menggaruk-garuk keningnya. Ah, nanti bisa diperiksa ulang. Yang jelas sekarang, Danur Cakra harus segera tahu di mana keberadaan Ayahnya Arsita (Jatmiko).


"Lebih baik aku menyusul. Berpangku tangan di sini, benar-benar tidak berguna!" Danur Cakra kembali melompat, turun menuju jalan yang tadi di lalui Jatmiko.


Sementara itu jauh di depan, Jatmiko sedang berjalan mengendap-endap menghampiri ke arah pertarungan. Jatmiko curiga kalau pertarungan itu merupakan pertarungan teman-temannya para anggota sirkus. Lalu, siapa yang menjadi lawannya?!


"Ah, gawat!" Jatmiko terbelalak. Benar saja, dia menemukan beberapa orang teman-temannya sudah jatuh terluka. Dan wanita bercadar yang sedang bertarung itu tidak lain ialah Kemuning, yang juga kerap dinamai Dewi Kundalini.


"Ah, bagaimana ini?!" Jatmiko syok. Dia juga melihat kalau pimpinan kelompok sirkus mereka, Ki Wadas sedang menuju ke arena pertarungan.


Dengan dua bilah pedang pendek di tangannya, Kemuning terus membuka serangan. Berharap satu dari sekian puluh serangan yang dia lakukan bisa membuahkan hasil, meskipun kenyataannya masih nihil.


Maung Hitam sudah tidak tahan lagi. Perlawanan yang dilakukan oleh Kemuning hanya membuat kemarahannya terpancing pada tingkat paling tinggi. Terlebih lagi kala melihat bentuk tubuh yang dimiliki oleh Kemuning sangat indah, tentu semakin memancing jakun Maung Hitam naik-turun. Semakin berhasrat dirinya untuk bisa menaklukkan wanita tersebut.


"Dasar anj*ing tua tidak punya muka!" Kala Munding meludah jijik. Satu hal yang paling tidak dia suka dari sahabatnya itu. Hal bodoh seperti itulah yang kerap menimbulkan masalah. Bodoh, benar-benar bodoh! Maung Hitam tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu.


Setelah merobohkan beberapa anggota sirkus, Kala Munding tidak coba untuk membantu Maung Hitam. Kemampuan yang dimiliki oleh Maung Hitam lebih tinggi, tentu dalam beberapa waktu ke depan ia akan mampu merobohkan lawannya.


Tidak meleset, pada jurus-jurus berikutnya Kemuning semakin terdesak dan terdesak. Puncaknya, Maung Hitam berhasil membuat kedua pedang di tangan Kemuning jatuh terpental. Disusul dengan satu pukulan yang bersarang di perutnya, membuat tubuh Kemuning jatuh terlentang. Tetes darah mengalir dari sudut bibir.


"Hehehe ... menyerahlah cah ayu, aku tidak akan membuat dirimu sakit. Malah ku beri enak," senyum menyeringai yang memuakkan ditunjukkan oleh Maung Hitam.


Kemuning cepat bangkit, dia tidak lagi memperdulikan wajahnya yang terekspos. Cadar yang ia gunakan sudah berada di tangan Maung Hitam. Berulang kali, Maung Hitam mencivmi cadar tersebut. Prilakunya yang hipers*ks sudah cukup membuat hati Kemuning semakin bergemuruh. Khawatir, takut, tapi tetap memiliki rasa tanggung jawab untuk hentikan tindakan biadab yang dilakukan Maung Hitam.


TES! Air liur Maung Hitam sampai menetes. Pikirannya sudah melayang, wajah Kemuning berhasil membuat jiwanya meronta. Tiada lagi ada artinya tubuh dan kecantikan istri saudagar yang semula dia sandera. Asalkan bisa miliki pesona yang dipancarkan oleh Kemuning, rasanya lebih nikmat dari dua kali kehidupan sekalipun.


Melihat lawan sedikit lengah, Kemuning memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali melancarkan serangan. Pedang yang semula telah jatuh ke tanah kembali berada dalam genggaman. Kemuning melompat sekuat tenaga, menusukkan pedang mengincar leher Maung Hitam.


DAARRR !!! Namun sebelum Kemuning berhasil melakukan serangan, sebuah pukulan keras kembali menghantam tubuhnya.


Kala Munding berdiri di depan Maung Hitam. Tangannya pun melayangkan satu tamparan keras pada wajah Maung Hitam.


"Fuuiiihhh! Anj*ing geladak! Kalau mau mati, tidak perlu cari orang lain. Aku pun bisa!" bentak Kala Munding seraya mengangkat sebelah tangan, berniat menghantam Maung Hitam dengan tenaga dalam.


"Ahhh ... dasar sialan! Biar aku bereskan gadis ini sampai ke buah-buahnya!" Maung Hitam melemparkan tubuh istri saudagar dari gendongan. Seolah tubuh itu hanyalah sampah, sehelai daun yang sama sekali tidak berguna.

__ADS_1


Tubuh Maung Hitam menjadi jauh lebih ringan tanpa adanya beban yang ia bawa. Kali ini, dia benar-benar fokus dalam berburu. Menjangan yang dia kejar, jauh lebih menawan dari puluhan kelinci kurus.


Hanya dengan sebuah pedang, Kemuning kembali melakukan perlawanan. Meskipun saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah bertahan, coba untuk menghindari gempuran Maung Hitam yang semakin menggila. Desau angin dari tenaga dalam yang dilepaskan Maung Hitam membuat dedaunan kering di sekitar tempat itu berterbangan, menciptakan suasana epik layaknya nuansa di musim gugur.


"Mungkinkah ini adalah akhir dari perjalanan hidupku?! Ayah ... maafkan aku, maafkan anakmu yang tidak berguna ini," tangis putus asa dalam hati Kemuning mulai menghiasi. Dia tahu batas kemampuannya, tiada mungkin sehelai daun mampu untuk arungi muara.


Plaaakkk !!! satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Kemuning. Balutan tenaga dalam yang disertakan menambah tingkat rasa sakit yang pula menekan ulu hati.


Tubuh Kemuning berputar beberapa kali sebelum kemudian jatuh tersungkur. Pakaian yang ia kenakan sudah basah berwarna kemerahan. Darah segar tertumpah, seiring pandangan Kemuning yang mulai berkunang-kunang. Namun demikian, dia tetap berusaha untuk bangkit.


Pada saat yang genting tersebut, Ki Wadas muncul diikuti beberapa orang pemain sirkus yang lain. Memberikan ruang pada Kemuning untuk bisa menghela napas karena sejenak Maung Hitam mengendurkan serangan.


"Siapa kalian ini sebenarnya?" tanya Ki Wadas.


Maung Hitam tertawa terbahak. Diikuti oleh Kala Munding. Keduanya mengamati Ki Wadas dengan seksama, seraya coba untuk mengukur tingkat kemampuan yang dimiliki oleh pimpinan kelompok sirkus tersebut. Tawa kembali pecah, karena setelahnya mereka mengetahui jika tidak akan ada seorang pun yang bisa hentikan tindak-tanduk mereka. Meskipun bergabung, kesemuanya hanya mampu untuk membuat repot, tidak untuk mengalahkan. Maung Hitam telah mengatur siasat untuk melakukan serangan dengan kekuatan penuh pada mereka yang punya kemampuan mendingan. Dengan begitu, tidak akan ada yang dikhawatirkan lagi.


"Ki Wadas ..." terdengar satu suara berteriak kencang.


Jatmiko berlari seraya tangannya membawa sesuatu. Beberapa saat kemudian, dengan sekuat tenaga Jatmiko melemparkan benda tersebut pada Ki Wadas.


"Hehehe! Mainan anak ingusan!" ucap Kala Munding merendahkan.


Yang dibawa oleh Jatmiko tidak lain ialah alat peledak yang biasa digunakan saat melakukan pertunjukan. Ledakan yang menimbulkan banyak asap dapat digunakan oleh para pemain sirkus melakukan pertukaran tanpa dilihat penonton. Pastinya, Jatmiko bermaksud gunakan benda tidak berguna itu untuk bisa kabur. Tidak semudah itu!


Tanpa menunggu lagi, Kala Munding segera melepaskan satu pukulan jarak jauh ke arah benda yang melayang. Sebelum benda tersebut jatuh ke tangan Ki Wadas, maka telah lebih dulu meledak.


"Ba-bagaimana ini?!" Jatmiko berdiri terpaku, kakinya terpasak pada bumi.


WUSSS !!! satu kilau cahaya melesat mendekat, hendak membelah dada Jatmiko.


"Awasss !!!" Ki Wadas mengangkat tangannya, berniat untuk menahan serangan. Namun dia terlambat sepersekian detik, hingga tiada lagi yang bisa dilakukannya untuk selamatkan Jatmiko.


Jatmiko memejamkan kedua matanya, hatinya pasrah apa pun yang akan terjadi pada dirinya. Dengan tenang bersiap menyambut kematian.


"Tidaaakkk ..." teriak Kemuning lemah, bahkan dia tidak punya kemampuan meski sekadar membuka suara. Apatah lagi coba untuk bantu Jatmiko hindari kematian.


Ajal merupakan salah satu rahasia terbesar yang hanya diketahui oleh Tuhan kapan kedatangannya hampiri pemilik tubuh. Sekuat apa pun coba untuk menghindar, jika suratan telah tiba maka tiada yang akan mampu untuk menolak. Begitu pula sebaliknya, jika takdirnya selamat maka tidak akan bisa celaka.


BAMMM !!! Ledakan terdengar sangat jelas, mengoyak gendang telinga.


"Ah?! Aku masih hidup? Aku masih hidup?!" Jatmiko meraba kedua pipinya, tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya. Ya, dia masih di dunia fana. Masih hidup.


Ketika Jatmiko sepenuhnya sadar, dia baru tahu kalau di dekatnya telah berdiri seorang pemuda yang dia kenal. Pemuda yang kemarin datang ke gua tempatnya bersembunyi. Dan sekarang pemuda tersebut yang menyelamatkan dirinya dari maut.


Kala Munding, Maung Hitam, bahkan Ki Wadas dan semua yang menyaksikan serentak mengerutkan dahi. Dengan satu kibasan tangan, pendekar muda itu mampu menghalau serangan Kala Munding, bahkan tanpa menggunakan alat, benda magis, sejenis pusaka atau sebagainya.

__ADS_1


Danur Cakra menyipitkan matanya, mengenali tanda pengenal yang tergantung di pinggang Maung Hitam. Cakra tersenyum, pasti kedatangan kedua orang itu untuk membuat perhitungan dengan dirinya setelah beberapa waktu yang lalu, di Padepokan Lembah Wilis Danur Cakra mencelakai begitu banyak anggota Klan Macan Api.


"Owh ... ternyata aku salah. Awalnya aku menduga kalau Klan Macan Api sudah hancur. Kiranya bersembunyi di tempat ini?!" ucap Danur Cakra mengejutkan.


"Fuuiiihhh! Siapa kau anj!ng kurap. Aku akui, kau miliki nyali yang cukup besar. Sudah diambang kematian masih berani menyalak!" dengan cibiran masam, Maung Hitam membalas ejekan Danur Cakra atas Klan miliknya.


Danur Cakra hendak menjawab, tapi keburu terpotong oleh suara batuk seorang wanita. Kemuning yang terluka parah kembali memuntahkan darah. Meskipun baru pertama kali melihat, hati kecil Danur Cakra yakin kalau gadis itulah yang sedang dia cari. Dewi Kundalini. Ah, ternyata benar dia miliki wajah begitu manis.


Danur Cakra membawa Jatmiko bergerak mendekat pada kelompok Ki Wadas dan Kemuning. Dengan tidak lagi menghiraukan Maung Hitam dan Kala Munding, Danur Cakra justru memeriksa kondisi Kemuning yang hampir jatuh pingsan.


"Nona, bertahanlah!" Danur Cakra menotok beberapa titik untuk hentikan darah yang mengalir. Cakra juga mentransfer energi murni dalam jumlah besar untuk menjaga jantung Kemuning supaya tetap berdetak normal.


Luka dalam yang diderita gadis itu begitu parah, bahkan lebih parah dari luka yang pernah Danur Cakra alami. Mendadak, hati Danur Cakra tersentuh. Dia begitu iba melihat kondisi Kemuning. Yang terbayang, bagaimana jika Suhita adiknya yang ada di posisi seperti ini? Ah, ada apa ini? Begitu banyak gadis yang pernah Cakra temui, mengapa hanya pada gadis ini mendadak secara tiba-tiba muncul rasa welas di hatinya. Ah, persetan! Danur Cakra lekas menepis segala pemikiran aneh yang membayang.


"Tuan pendekar ... apa dia masih bisa diselamatkan?" tanya Jatmiko.


Danur Cakra mengangguk, meskipun dalam hati dia juga ragu karena belum menemukan cara untuk bisa sembuhkan.


"Kalian ...?" Ki Wadas menunjuk pada Jatmiko dan Danur Cakra.


Jatmiko mengangguk. Pasti maksud Ki Wadas ialah bahwa mereka telah saling mengenal. Tentu saja, kendati belum 24 jam, setidaknya mereka telah tinggal bersama dalam satu gua.


"Kepa*rat! Berani sekali kalian abaikan kami! Kalian benar-benar telah bosan hidup!" maki Maung Hitam dengan geram. Baru kali ini, ada orang yang begitu meremehkan keberadaannya meski telah tahu betapa mereka mengancam nyawa.


"Jangan hiraukan saya ... penjahat itu sangat kuat ..." ucap Kemuning lemah, sebenarnya gadis itu telah kehilangan kesadaran.


"Sudah hampir mati, masih juga memikirkan keselamatan rekan. Luar biasa!" puji Danur Cakra dalam hati. Tanpa sadar, senyum tersungging di bibirnya seiring pujian tersebut.


"Anak muda, tolong selamatkan Kemuning. Urusan mereka, biar aku yang tangani," Ki Wadas meminta Cakra untuk segera pergi membawa Kemuning.


"Iya, benar. Bawa dia ke gua kita, cepat!" Jatmiko ikut menimpali.


Danur Cakra belum memutuskan, ketika itu Ki Wadas diikuti beberapa anak buahnya telah melompat menyambut serangan Maung Hitam.


"Huuuhhh !!! Hal yang tidak aku suka! Paman, kau saja yang bawa gadis ini. Aku akan lindungi dirimu," Danur Cakra mengalih tugaskan pada Jatmiko.


Sontak saja Jatmiko kaget. Dia melirik para Ki Wadas yang telah terlibat dalam pertarungan sengit. Sementara Danur Cakra belum juga berhanjak pergi, malah meminta dirinya yang pergi membawa Kemuning. Memangnya, apa yang bisa dia lakukan?!


"Ah, tidak-tidak! Kau sudah gila ya? Yang ada, kami berdua bisa mati bersama," tolak Jatmiko seraya melambaikan kedua tangannya.


"Ya, sudah. Kalau begitu, tunggu saja di sini. Aku akan bantu kakek tua itu sebentar," Danur Cakra hendak bangkit, tapi Jatmiko cepat meraih pundaknya.


"Kau tidak dengar apa kata Ki Wadas tadi?"


Danur Cakra tersenyum tipis, "kau harus tahu. Kedua orang itu, sengaja mencari diriku. Lihat saja, kali ini Klan Macan Api akan benar-benar lenyap dari muka bumi."

__ADS_1


Jatmiko semakin terbelalak mendengar perkataan Danur Cakra.


__ADS_2