Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Akibat Perut Sakit


__ADS_3

Eaaakkk !!! Suara kuda yang menjerit kesakitan. Kuda itu meronta-ronta tidak karuan, hingga buang air besar di sepanjang jalan.


Dewi Api segera menyambar perbekalan yang tergantung di punggung kudanya sebelum kemudian dia melompat turun. Aneh sekali, tiba-tiba saja kudanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Kuda itu berlari sekuat tenaga, tidak tentu arah lalu kemudian berguling di atas tanah, merasakan sakit yang mengaduk-aduk isi perutnya.


Tidak berselang lama, kuda yang ditunggangi Raka Jaya pun bertingkah sama. Jelas ada sesuatu yang telah terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Dewi Api melayangkan pandangannya ke segenap penjuru, barang kali ada sesuatu yang menjadi penyebab tingkah aneh kuda mereka.


"Sebelumnya semua baik-baik saja. Sebelum kita berhenti di sungai kecil di padang tandus tadi. Apa mungkin, Bu. Air yang juga kita minum tadi ternyata mengandung racun?" Raka Jaya mengerutkan dahi seraya tangannya meraba-raba perut, mencoba mengecek apakah perutnya juga bermasalah.


Dewi Api coba mengingat, tapi secara pasti dia telah lebih dulu mengecek air sebelum diminum. Apa mungkin, dia kecolongan? Dewi Api membuka tabung berisi air yang masih ada padanya, kemudian mencium aroma air. Dan tidak ada yang berbeda, air itu masih sama seperti saat tadi dia lihat.


"Bagaimana, Bu?" tanya Raka Jaya.


"Kau lihat sendiri, tidak ada yang aneh dari air ini. Lagi pula, tidak terjadi apa pun pada diri kita. Ayolah, kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mana tahu di depan kita bisa dapatkan kuda yang lebih baik."


Dewi Api dan Raka Jaya segera melanjutkan perjalanan. Mereka melupakan apa yang baru saja terjadi pada kuda-kuda mereka. Dengan bantuan kemampuan meringankan tubuh, tentunya mereka menempuh perjalanan yang juga tidak jauh berbeda dengan menaiki kuda. Hingga tidak jauh lagi di depan mereka, terdengar suara deru air terjun.


"Sepertinya di depan sana ada air terjun. Kebetulan sekali ..." Dewi Api menepuk-nepuk perutnya dengan pelan.


Raka Jaya tersenyum getir, mengapa bisa bersamaan? Tidak berbeda dengan sang ibu, Raka Jaya pula merasakan jika dia hendak menuntaskan hajatnya. Seperti berlomba, kedua ibu dan anak itu melesat mendekati sungai di bawah air terjun. Mereka mencari tempat masing-masing untuk menyelesaikan urusan.


Setelah cukup lama, lega rasanya karena tekanan alami di dalam perut mereka sudah selesai. Perut pun terasa lega.


Jika saja saat beramal ataupun melakukan kebaikan seperti kita buang hajat, tanpa beban dan penuh keikhlasan, sudah pasti tidak akan ada sesalan yang muncul di kemudian hari.

__ADS_1


"Kepa*rat!" Dewi Api mengumpat. Belum juga lama selesai, baru saja menjauh dari bibir sungai, tiba-tiba perutnya kembali terasa sakit melilit.


Dan begitulah, kedua pendekar ternama itu disiksa dengan cara yang tidak biasa. Sudah berulang kali Dewi Api maupun Raka Jaya coba pergunakan kemampuan tenaga dalam untuk menahan rasa sakit. Akan tetapi, untuk menahan untuk tidak buang air besar, mereka tidak bisa melakukannya. Padahal, sudah tidak lagi ada kotoran yang keluar. Hanya air. Dan rasanya terasa sangat menyiksa.


Dewi Api mengunyah beberapa dedaunan yang dia tahu berkhasiat untuk menahan diare. Tapi itu tidak banyak membantu. Seluruh isi di dalam perutnya telah dikuras habis. Setelah itu barulah mereka merasakan lemas, kehilangan banyak tenaga, rasanya jauh lebih menyakitkan di banding menerima satu pukulan tenaga dalam tingkat tinggi.


"Ibu, tidak salah lagi. Pasti air Kepa*rat di padang tandus itu sudah diracuni. Huuhhh ... huuuhhh ..." Raka Jaya sampai ngos-ngosan.


Dewi Api mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Statusnya sebagai pendekar nomor satu di utara tercoreng karena penyakit aneh seperti sekarang ini. Dewi Api tidak pernah dikalahkan dengan mudah jika dalam pertarungan, akan tetapi kandungan racun di dalam air tersebut sungguh di luar kemampuan Dewi Api. Dia sudah tertipu mentah-mentah.


"Sial! Kita sudah masuk ke dalam jebakan!" dengkus Dewi Api.


Meskipun tanpa dijelaskan, Dewi Api dan Raka Jaya menyadari jika mereka kali ini tidak mungkin bisa lolos dari jebakan yang telah terlanjur mereka masuki. Sungguh sangat rapi, sampai-sampai pendekar setara Dewi Api sekalipun tidak menyadarinya. Jika saat seperti sekarang serangan muncul, maka bisa dipastikan jika mereka dalam bahaya besar.


Dewi Api duduk bersemadi, coba untuk menggunakan energi tenaga dalam murni guna membantu meringankan rasa sakit yang terus melilit perutnya.


Dewi Api baru saja duduk dan meluruskan kedua kakinya, mendadak sudut matanya menangkap pergerakan pada ranting pohon. Ada burung gagak hitam di sana, jelas sekali jika pohon seperti itu bukanlah tempat yang disukai oleh burung gagak.


"Pasti itu burung pengintai, kepa*rat!" Dewi Api langsung melepaskan satu pukulan ke arah burung gagak hitam itu. Dan tanpa sempat menghindar, seketika tubuh burung gagak hitam tersebut langsung hangus terbakar.


Seiring dengan Dewi Api melepaskan pukulan tenaga dalam, dari berbagai penjuru seketika bermunculan beberapa bayangan yang bergerak mendekat. Dan tentu saja, Dewi Api menyadari hal itu.


Dewi Api dan Raka Jaya saling berpandangan. Saat dalam kondisi seperti sekarang, bisakah mereka menghadapi para pendekar aliran hitam yang datang?


"Raka, cepat tinggalkan tempat ini. Segera pergi ke Bukit Hijau, temui ayahmu. Ibu akan menahan mereka!" perintah Dewi Api.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Saya tidak akan melakukan hal itu. Lebih baik kita hadapi mereka secara bersama-sama, setelah itu kita akan bertemu dengan ayah juga berdua," Raka Jaya menolak dengan keras. Mana mungkin dia tega menumbalkan ibunya dan lari terbirit-birit seperti anjing terluka.


Dewi Api melotot, dia marah karena Raka Jaya tidak menuruti apa perintahnya. Bukan saatnya untuk berbicara ego, berpikir haruslah realistis. Jika semua harus celaka, lantas siapa yang akan membalaskan dendam? Seorang harus pergi, untuk kemudian datang menuntut pembalasan.


Plaaak! Dewi Api menampar pipi Raka Jaya dengan keras. Memaksa putranya untuk segera pergi, mencari bantuan.


"Ya, kau hanya menjadi beban. Lihat apa yang kau bisa, tidak ada hal lain kecuali daftarkan kekalahan. Cepat pergi!" bentak Dewi Api.


Raka Jaya tersentak, meskipun dia tahu kepribadian ibunya, tapi kemarahan ibunya kali ini merupakan yang paling membuat hatinya bergetar. Terasa jika ibunya akan semakin marah jika Raka Jaya tidak menuruti apa yang diperintahkan.


Dengan berat hati, Danur Cakra segera meninggalkan ibunya. Di satu sisi, memang apa yang diperintahkan ibunya tidak sepenuhnya salah. Semakin cepat Raka Jaya mendapatkan bantuan, maka akan semakin baik pula untuk keselamatan mereka. Dengan segenap kemampuan, Raka Jaya coba untuk mencapai Kota Bukit Hijau secepatnya.


Dari kejauhan, Raka Jaya bisa merasakan jika telah terjadi pertarungan dari tempat ibunya berada. Raka Jaya menghentikan ayunan langkahnya, ingin rasanya Raka kembali untuk membantu ibunya yang sedang dalam keadaan lemah. Tapi anehnya, langkah Raka Jaya justru kembali terayun semakin menjauh. Sebagai seorang Jenderal, dalam perang kerap melakukan hal serupa. Di mana keputusan selalu bertentangan dengan hati. Semua hanya ditentukan oleh situasi dan kondisi, untuk mengambil keputusan yang terbaik.


Untung tak dapat diraih, malang pun tak bisa ditolak. Setelah cukup jauh Raka Jaya meninggalkan ibunya, dia berharap akan segera keluar dari dalam lebatnya hutan. Akan tetapi, langkah Raka Jaya dipaksa untuk berhenti setelah beberapa pohon kayu mendadak tumbang menghadang jalannya.


"Hahaha! Hahaha! Salam hormat saya, Jenderal Muda. Tidak disangka suatu kehormatan menghampiri diriku yang hina, karena hari ini bisa bertatap langsung dengan seorang terhormat seperti dirimu!" Seorang muncul di tepi jalan. Dialah sosok yang membuat pepohonan mendadak ambruk.


Tidak lain, orang yang datang ialah Muning Raib. Orang kepercayaan Raja Iblis dari Lereng Utara. Usianya sudah mendekati senja, tapi bisa dipastikan kalau kemampuan dan juga staminanya setara bocah belasan tahun.


"Apa maumu?" tanya Raka Jaya. Hatinya sangat yakin jika tujuan orang di hadapannya tidak mungkin bersahabat.


"Hahaha! Pakai tanya. Bukankah kau tahu, kalau kedatanganku untuk membantu kau mengurangi rasa sakit?" Muning Raib terus tertawa-tawa. Dia merasakan jika kemenangan sudah berada di dalam genggaman tangannya.


"Lakukan saja. Itu pun jika kau bisa!" tantang Raka Jaya seraya mencabut pedang emas kebanggaannya.

__ADS_1


Muning Raib tertawa, kemudian dia tepuk tangan. Tidak lama kemudian, muncul tiga orang tinggi besar yang langsung menjalankan tugas, menyerang Raka Jaya dengan senjata masing-masing tergenggam erat di tangan.


__ADS_2