Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Jalan Kesembuhan


__ADS_3

"Hmmm ... tabib kecil ini ..." semua mata terpana menyaksikan cara Suhita menangani pasien. Bisa dikatakan itu merupakan teknik kuno yang bahkan belum pernah dilakukan oleh tabib profesional mana pun. Suhita melakukan dengan cara apa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Di mana dia belajar, siapa gurunya?! Tentu saja pertanyaan itu membayangi setiap pemikiran pendekar yang menyaksikan. Semuanya sangat penasaran.


Konon, belakangan ini santer kabar yang menyebutkan perihal kemunculan Tabib Titisan Dewa. Para pendekar aliran sesat meyakini itu benar adanya, bahkan sudah cukup banyak korban yang melayang. Mereka yang berburu mendapatkan Tabib Dewa, hampir seluruhnya tidak ada yang kembali dengan selamat. Lalu benarkah anak kecil bernama Suhita ini adalah Tabib Dewa yang dimaksud?


"Sayang sekali, orang-orang Padepokan Api Suci telah kembali. Aku tidak sempat bertanya lebih jauh perihal Tabib kecil ini. Aku yakin, Justa Jumpena dan diantara pengawal itu ada yang mengetahui sesuatu," Jaka Pragola menghela napas dengan dalam.


Ya, di hadapan para pendekar ternama yang masih berada di Padepokan Giling Wesi, Suhita menunjukkan kehebatannya dalam bidang ilmu pengobatan. Dia membuka mata mereka, jika saat ini sedang berhadapan dengan siapa. Tabib Dewa yang namanya ramai diperbincangkan.


Pantas saja, Jaka Pragola memperlakukan Suhita dengan khusus. Kepercayaan yang begitu besar memang wajar diberikan pada seorang tabib masa depan yang akan sangat dibutuhkan oleh semua orang.


"Dugaanku tidak meleset. Satu hal lagi, aku harus bisa pastikan mengenai hubungan Tabib Dewa dengan Adik Elang. Aku yakin, mereka tidak sebatas sekadar miliki kemampuan yang mirip," Jaka Pragola terus memperhatikan setiap gerik Suhita. Semakin lama, semakin yakin hatinya bahwa ada ikatan yang erat antara Suhita dan Mahesa.


Jaka Pragola cukup mengenal Mahesa dengan baik. Sangat banyak hal yang dia ketahui, dan hampir keseluruhan bakat dan kemampuan itu menyerupai dengan yang Suhita peragakan. Buah yang dihasilkan, pastinya akan serupa dari pohon apa dia berasal.

__ADS_1


Keberhasilan Suhita dalam mengumpulkan sumberdaya, sudah pasti ada orang lain yang ikut andil dalam hal itu. Kendati kemampuan tenaga dalam yang Suhita miliki sangat tinggi, tapi mereka tahu jika itu saja tidak cukup. Banyak faktor lain yang akan mempengaruhi dan menjadikan tingkat kegagalan mencuat lebih dari seratus persen. Namun Suhita melakukan semuanya layaknya tanpa rintangan. Aktor di balik kesuksesan itu, pastinya bukanlah orang sembarangan.


Tanpa menunggu saat Pendekar Tongkat Emas benar-benar selesai diobati, Jaka Pragola telah merangkai alasan untuk dia segera pergi dari ruangan itu. Jaka Pragola yakin, orang yang dia maksud berada di sekitar tempat itu. Dia harus menemukannya.


Selepas kepergian Jaka Pragola, Suhita masih terus bekerja dengan cekatan. Kendati peluh telah mengucur membasahi dahi, tabib kecil itu tidak perduli. Dia belum berhenti sebelum pekerjaannya selesai.


"Ah, Tabib Dewa ... adakah hal kecil yang bisa saya lakukan?!" Tabib Asih berujar dengan senyum manis mengembang di bibirnya. Status Suhita yang baru dia ketahui, membuat sikap Tabib Asih dan seluruh asistennya menjadi berubah seratus persen.


"Semuanya telah selesai. Tabib Asih bisa lanjutkan untuk memberikan ramuan penguat tubuh untuk mengembalikan stamina Kakek guru seperti sedia kala. Saya yakin, seluruh pengaruh negatif racun sepenuhnya telah ditawarkan," Suhita menyudahi perawatannya. Dengan segera, Suhita mengemasi pelengkap pengobatan miliknya.


"Saat siuman nanti, maka kondisi Kakek guru telah kembali stabil. Saya jamin, tidak akan ada efek negatif yang tersisa," Suhita menjelaskan pada para pendekar yang ada.


Namun saat ditanya mengenai asal muasal penyakit aneh yang meracuni tubuh Pendekar Tongkat Emas, Suhita bungkam. Sedikit pun dia tidak buka suara mengenai tanaman langka Teratai Berduri yang ditanam secara rahasia oleh Pendekar Tongkat Emas di wisma miliknya. Biarlah untuk sementara waktu hal itu menjadi rahasia bagi mereka. Hingga nanti ayahnya yang akan menguak hal tersebut.

__ADS_1


Oh, ya. Apakah ayahnya sudah selesai dengan urusannya?! Suhita teringat pada pesan ayahnya yang meminta Suhita untuk tidak pulang mendahului. Bagaimana cara untuk bisa memanggil sang ayah? Suhita menepuk jidat. Ketika Mahesa bicara, mengapa dia tidak sekalian bertanya dan minta untuk diajari cara agar bisa berkomunikasi dari jarak jauh. Setelah sejenak berpikir, Suhita memutuskan untuk keluar Padepokan saja dulu, setelah itu mungkin dia bisa minta bantuan Si Putih.


Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa Suhita jawab. Mereka para pendekar yang disegani karena nama besar, ternyata sama saja. Manusia diciptakan tidak berbeda. Kekonyolan mereka bahkan sampai membuat Suhita sakit perut menahan tawa.


Dengan segala kemampuan bersilat lidah, akhirnya Suhita bisa membuat dirinya menjauh dari kerumunan para pendekar yang sangat kepo itu. Suhita tidak ingin berlama-lama, apalagi hanya sekedar untuk mengobrol yang tidak penting. Perlahan tapi pasti, Suhita terus bergerak perlahan dan meninggalkan Padepokan Giling Wesi. Suhita berpikir, semakin lama dia bergabung dengan para pendekar besar, maka semakin mudah pula dirinya dikalahkan. Terlalu banyak orang yang menginginkan dirinya, ingin kuasai kemampuan yang dia punya. Suhita belum siap jika harus berhadapan dengan tokoh besar dunia persilatan. Kemampuannya masih mentah, kecuali jika nanti dia telah bisa untuk lindungi diri sendiri. Maka saat itulah Suhita akan muncul sebagai dewa penolong bagi segenap umat manusia.


°°°


"Tidak mungkin aku mengeluarkan pukulan Tapak Naga supaya ayah mengetahui keberadaanku di sini. Aku harus cari penginapan yang paling tinggi. Di sana aku bisa memulai rencana baru," Suhita menghela napas. Dia segera menuju ke sebuah penginapan mewah yang berdiri dengan beberapa lantai pencakar langit. Dari sana, Suhita bisa mengawasi penjuru kota. Jika ada kesempatan, dia akan memanggil Si Putih untuk dimintai bantuan.


Belum juga Suhita tiba di kamarnya. Tapi lebih dulu matanya menangkap sekelebat bayangan yang sepertinya dia kenal. Tanpa pikir panjang, Suhita mengikuti langkah orang itu dari jarak yang aman.


"Ah?! Pimpinan padepokan Giling Wesi?! Mengapa dia sudah ada di tempat ini? Apa mungkin, aku sedang diawasi?!"Sambil berjalan lambat, Suhita mengedarkan pandangannya ke segenap penjuru, berharap ada sesuatu yang bisa dia temukan. Entah hal apa pun itu, sejauh ini Suhita juga tidak tahu.

__ADS_1


"Siapa yang akan ditemui oleh Pimpinan Padepokan?! Sepertinya sangat rahasia," batin Suhita sambil terus mengawasi dan mengikuti langkah kaki Jaka Pragola.


__ADS_2