
"Aku tidak mengerti, bagaimana cara kau berpikir. Kita ini saudara, dan aku tidak akan meninggalkan saudaraku sendirian dalam gelap tanpa cahaya. Apa pun yang terjadi," Raka Jaya mengangkat bahu, dia tidak habis pikir mengapa Danur Cakra seolah tidak menganggap dirinya ada.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku? Jelaskan cara kau gunakan pemikiran brilian itu," jawab Danur Cakra.
Keduanya beradu argumentasi, di mana masing-masing pihak merasa benar karena tidak dari seorang pun mereka yang mendahulukan kepentingan pribadi. Jika harus menguntungkan kedua belah pihak, rasanya sangat tidak mungkin. Mereka merupakan satu keping logam di mana berada pada sisi masing-masing. Saling bersama tapi tidak untuk bersatu.
"Kau pernah renungkan mengapa roda belakang pedati tidak pernah mampu menyusul roda depan? Padahal mereka menopang beban yang sama, melaju pada satu tujuan, tapi begitulah ... karena mereka tercipta hanya untuk saling melengkapi. Akan terhenti dunia kala perbedaan melebur. Karena sejatinya hidup adalah saling berpasangan. Saat kita berada di sisi yang berlainan, maka berperanlah sebaik mungkin untuk lengkapi sisi yang kurang," Danur Cakra tersenyum tipis.
Raka Jaya memejamkan matanya seraya menghela napas panjang berulang kali. Dia sedang berada di dua sisi yang saling bertolak satu sama lain. Raka Jaya harus rela melepas salah satu kakinya jika hendak melangkah ke satu arah. Namun jika memilih untuk tetap diam, dia hanya menanti waktu untuk hancur kala terjerumus pada satu sisi. Sejatinya, dalam hidup memang harus ada yang dipertaruhkan. Setelah itu, perjuangan yang akan menentukan hasil.
Bukan lagi satu rahasia, bahkan tiliksandi kepercayaan Raka Jaya telah menemukan gerak-gerik mencurigakan dari sekelompok orang yang juga merupakan pejabat istana. Mereka kelompok yang berseberangan paham dengan Jenderal Muda dan kawan-kawan, semampu mungkin untuk bisa menjatuhkan nama Raka Jaya di hadapan Raja. Begitu, terus-menerus bahkan tiada berhenti.
Belum lagi, ada kelompok konglomerat ternama dan paling berpengaruh. Bangsawan Cokro, Keluarga Cokro, yang bahkan telah melakukan tindakan dengan memanfaatkan petugas penegak hukum kerajaan memaksa masuk ke penginapan tempat Tabib Dewa. Saat itu, kebetulan Danur Cakra tidak ada di tempat, hingga ketika mereka coba buat masalah dengan memaksa untuk membawa Kemuning maka masih bisa diatasi dengan baik.
"Tidak jelas apa maksud di balik semua itu. Akan tetapi, ada baiknya kita cari tahu bersama-sama. Maaf, Cakra. Suatu hal yang tidak mungkin jika teman wanitamu itu sama sekali tidak memiliki keluarga. Mungkin sedikit demi sedikit kau bisa cari tahu tentangnya."
Danur Cakra mengangguk lemah. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Raka Jaya, memang sejauh ini Danur Cakra belum pernah bertanya mengenai masa lalu Kemuning. Bahkan dia tidak tahu, siapa nama asli gadis itu. Keluarganya, alasan bergabung dengan kelompok sirkus, juga mengapa bisa dia menjadi buronan Juragan Abdi. Cakra masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Paling tidak, sampai nanti Kemuning sembuh.
"Hei, kalian belum pergi tidur?" Suhita sedikit terkejut ketika mendapati dua saudaranya masih mengobrol di teras samping.
Danur Cakra juga Raka Jaya seolah mendapat angin segar saat kedatangan sosok Suhita. Mereka bisa bangkit dari percakapan yang banyak menguras energi, hati dan pikiran, tanpa keputusan, mengambang, tanpa peroleh solusi apa pun, yang pada akhirnya membiarkan semuanya mengalir layaknya air yang selalu berhasil menemukan tempat yang lebih rendah untuk bisa mengalir sampai ke muara.
"Kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali," tanya Suhita seraya memandangi satu persatu wajah kakak-kakaknya.
"Kepo!" jawab Danur Cakra singkat.
"Biar Hita tebak. Pasti sedang membicarakan seorang gadis 'kan?"
"Iya. Dan jika boleh jujur, gadis itu adalah kau!" Danur Cakra menunjuk pada Suhita.
"Huuuhhh ... sudah hampir dini hari. Aku mau mengecek pergantian prajurit jaga. Jangan sampai dimanfaatkan oleh penyusup. Aku permisi ...." Raka Jaya melambaikan tangan, dengan senyum meninggalkan Suhita dan Cakra. Dan begitulah Raka Jaya, dia akan cepat pergi dan menghindari adu mulut dengan Hita.
"Hampir dini hari, lantas mengapa kau justru berkeliaran? Kembalilah tidur," ucap Danur Cakra seraya merapikan rambut Suhita.
"Temani aku tidur ..."
"Kau sudah tidak waras, ya? Terlalu banyak menyembuhkan orang sakit, kiranya kau terkena penyakit jiwa. Sudahlah, kalau begitu aku yang mau tidur duluan," Danur Cakra menonjol kening Suhita dengan jari telunjuk, membuat kepala Tabib Dewa terdorong ke belakang.
"Iihhh! Dasar sialan! Dengan hanya tidur, mana mungkin akan bisa kembalikan energi tenaga dalammu. Mungkin kau perlu meminta bantuan pada seseorang," Suhita melangkah meninggalkan Danur Cakra yang masih berdiri di tempat semula.
Danur Cakra menghela napas, dengan kata lain Suhita berkata jika Danur Cakra ingin energi tenaga dalamnya cepat pulih, maka Suhita punya sumberdaya untuk itu. Sulit sekali untuk mencerna maksud dari ucapan gadis itu, mengapa harus gunakan bahasa kias jika dengan mudah bisa menawarkan dengan langsung.
__ADS_1
"Dasar bocah sinting. Dia pikir aku akan mengemis-ngemis lagi padanya? Tidak sudi!" meski dengan dongkol Danur Cakra lekas menyusul Suhita.
°°°
"Mengapa malam ini hawanya panas sekali? Apa mungkin ini pengaruh dari sumberdaya yang diberitakan Tabib Dewa?" Kemuning terbangun, dia bangkit dari tempat tidur.
Keringat mengalir di dahi Kemuning, begitu juga dengan tubuhnya. Berkeringat, itu artinya sehat. Tidak diragukan lagi, sumberdaya Lumut Kehidupan yang diberikan oleh Tabib Dewa pasti berperan. Bisa dikatakan jika kondisi Kemuning mengalami kemajuan pesat.
"Aku harus ke luar kamar. Cari angin ..." ucap Kemuning. Dia bergegas bangkit dan berjalan ke luar kamar.
Tempat penginapan yang Suhita tempati sangatlah luas. Terdiri dari empat bangunan yang masing-masing bangunan memiliki beberapa kamar. Tidak heran, hal itu disebabkan karena Tabib Dewa merupakan seorang yang baru saja menyembuhkan salah seorang pangeran kerajaan. Selain itu juga, sang tabib terlihat cukup akrab dengan Jenderal Muda.
"Luar biasa! Aku sudah memiliki cukup tenaga," Kemuning tersenyum gembira, dia melakukan beberapa gerakan dalam jurus cepat, dan dia mampu. Semua ini, tentu berkat kemurahan hati Tabib Dewa.
Kemuning terus berjalan santai, menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi yang beberapa hari ke belakang ini tidak bisa dia melakukannya. Kemuning sangat terkejut ketika dia mendengar tawa seorang wanita dari arah berlawanan. Tabib Dewa, ternyata dia belum tidur.
"Bagaimana ini?!" Kemuning panik, dia cepat sembunyi sebelum Tabib Dewa tiba.
Betapa bertambah rasa terkejut Kemuning, bahkan mencapai level maksimal ketika dia menemukan kalau orang yang berjalan di belakang Tabib Dewa tidak lain adalah Danur Cakra.
"Cakra?! Sudah ku duga. Mereka saling mengenal akrab," Kemuning menelan ludah. Entah mengapa, mendadak ulu hatinya terasa pedih, ada ratusan jarum yang menusuk dari luar dan dalam, rasanya huuuhhh ... tiada kalimat dapat menggambarkan, juga tiada ibarat yang layak sebagai umpama.
"Tidak, tidak, tidak! Pitaloka, kau harus kuat. Kau seorang perempuan, begitu banyak cara untuk bisa berjuang. Tidak! Kau tidak boleh terlalu bodoh!" Kemuning menghela napas panjang, menguatkan diri, menghibur hati, untuk dirinya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri, kalau dirinya telah jatuh cinta. Lebih dari sekadar rasa terima kasih atas kebaikan yang dia dapatkan dari Danur Cakra, melainkan lebih dari itu. Hatinya tidak rela, meskipun kenyataannya sosok yang bersama Cakra adalah juga orang yang berjasa besar, Kemuning berhutang nyawa pada mereka berdua.
Pelan-pelan Kemuning terus mengayun langkah mengikuti Tabib Dewa. Dan akhirnya dia terhenti setelah mendapati Tabib Dewa masuk ke dalam kamar pribadinya. Pemandangan yang sangat tidak dia inginkan yakni, melihat Danur Cakra pula masuk ke dalam kamar. Mereka berada di dalam satu kamar, malam-malam begini? Apa yang terjadi selanjutnya?
Tidak! Kemuning menepis segala pemikiran buruk. Dia tahu siapa Danur Cakra, meskipun Cakra merupakan seorang berandalan berdarah dingin tapi dia bukanlah tipe pria rendah semacam itu. Cakra selalu bisa menjaga diri, tidak mungkin melakukan perbuatan yang merendahkan diri sendiri dan orang lain. Kemuning berani berkata demikian itu karena dia telah menyaksikan sendiri, mengalami, menjalani pengalaman serupa.
Selama perjalanan, kala rasa ketakutan dan trauma berat dialami Kemuning, dia tidak bisa mengontrol diri. Jika tiada Danur Cakra yang melindungi dan memberikan rasa aman-nyaman, bisa jadi Kemuning sudah gila. Bahkan hampir setiap waktu, Cakra akan ada di sisinya, setiap malam pula Kemuning tidur di pangkuan Danur Cakra. Dan selama itu, Kemuning tidak pernah diperlakukan dengan tidak senonoh, apalagi dilecehkan. Sekadar meraba-raba dan dibumbui sedikit kecvpan tipis tentunya merupakan suatu hal yang wajar dan manusiawi. Hanya wanita munafik yang akan menampik perasaan suka.
"Mengapa Cakra tidak kunjung keluar? Apa mungkin dia menemani Tabib Dewa tidur? Ahhhh ..." Kemuning menggigit bibir bawahnya keras-keras, menahan bulir air mata yang hampir menetes. Dia tidak bisa membayangkan semuanya.
Sedikit melangkah mendekat, tapi Kemuning tidak mendengar apa-apa. Di dalam kamar mereka bahkan tanpa suara, mungkinkah sedang asik? Tidak tahan lagi, Kemuning menghambur pergi, berlari menjauh.
Kemuning bersandar pada dinding, hatinya hancur berkeping-keping. Entah karena apa, alasannya dia pun bahkan tidak tahu. Sakit karena dikhianati mungkin memang menyakitkan, tapi sakit sebelum memiliki? Patah hati sebelum jadian, rasanya tak tergambarkan.
"Hei, siapa itu?!" suara mengejutkan dari arah belakang Kemuning.
Cepat-cepat Kemuning menghapus air matanya. Ketika dia berbalik badan, sebilah pedang telah menempel di lehernya. Cahaya obor di kejauhan terpantul pada bilah pedang yang putih nan tajam, jika pemilik pedang itu terus bergerak maju maka bisa dipastikan leher Kemuning adalah sasaran yang empuk.
__ADS_1
"No-Nona ... ini saya ..." ucap Kemuning pelan, ketika melihat wajah orang yang menyerangnya.
"Nona, apa yang kau lakukan di tempat ini?" Kencana Sari segera menarik pedangnya, kembali memasukkan ke dalam warangka. Dia menatap wajah Kemuning dengan penuh rasa curiga, terlebih lagi tidak jauh dari sana adalah kamar Suhita. Kencana Sari menduga kalau Kemuning memiliki rencana jahat.
"..." Kemuning tidak bisa menjawab pertanyaan Kencana Sari, apa yang akan dia jelaskan?
"Nona Kemuning, aku peringatkan padamu. Jangan sesekali muncul niat di hatimu untuk berbuat yang macam-macam. Kau sadar tidak kalau hidupmu sekarang ini berkat kemurahan hati Tabib Dewa," ancam Kencana Sari.
"Saya tidak mungkin lupa, Nona. Jasa baik Tabib Dewa akan selalu saya ingat," Kemuning menunduk meminta maaf.
"Beehhh ... manis sekali kata-katamu, lantas untuk apa malam-malam kau menyelinap mendekati kamar Tabib Dewa? Siapa yang percaya mulut manismu?! Coba jelaskan padaku!"
Kemuning gelagapan. Dia tahu, sejak awal Kencana Sari tidak menyukai dirinya. Merawat pun dengan terpaksa, hanya karena Tabib Dewa. Kemuning tidak tahu, apa penyebab semua itu. Ditambah lagi sekarang, tentunya pandangan Kencana Sari padanya akan semakin miring.
"Begini saja, Nona. Baiknya kau terus terang, daripada kau membuat dirimu susah. Katakan saja, apa tujuanmu masuk ke tempat kami, ke penginapan ini? Pasti kau memiliki tujuan khusus. Sudah, mengaku saja!" tekan Kencana Sari.
Meskipun mati-matian Kemuning membela diri, tetap saja Kencana Sari tidak bisa percaya. Memangnya tujuan khusus apa itu, Kemuning sama sekali tidak mengerti.
"Aku bukan siapa-siapa, tidak berasal dari kelompok mana pun, serta tanpa tujuan apa-apa. Nona, mohon percaya."
"Benarkah?! Lalu apa hubunganmu dengan Pendekar Cakra, kau sengaja 'kan merebutnya dari tangan Tabib Dewa?! Lalu kau berpura-pura sakit dan datang ke sini untuk membuat Tabib Dewa hancur. Iya 'kan? Kau benar-benar manusia tidak tahu budi!" Kencana Sari mulai muak mendengar penjelasan Kemuning yang bertele-tele. Tanpa banyak ba-bi-bu, Kencana Sari kembali menghunus pedangnya mengarahkan pada Kemuning.
Tep! Laju pedang seketika terhenti ketika terjepit diantara celah jari. Cukup dengan jari telunjuk dan jari tengah, membuat ketajaman pedang milik Kencana Sari mandek.
Kemuning kembali membuka mata, dia merasakan kalau pedang Kencana Sari tidak laju menusuknya. Padahal dalam hati, Kemuning berharap untuk itu. Tiba-tiba dia lebih memilih untuk mati daripada harus menerima kenyataan.
Pantas saja, Kencana Sari memandangnya dengan begitu jijik. Sekarang Kemuning bisa mengerti alasan di balik semuanya. Namun yang sama sekali tidak bisa dia pahami ialah sikap Tabib Dewa kepadanya. Tabib Dewa sangat marah bahkan menghajar Danur Cakra, tapi tetap bersikap baik pada Kemuning. Bahkan, sumberdaya langka Lumut Kehidupan pun dia berikan dengan cuma-cuma. Mungkinkah ada satu orang lain yang memiliki hati seperti itu? Jika benar ada, Kemuning belum pernah berjumpa.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?!"
Kencana Sari hanya bisa menelan ludah. Raka Jaya adalah sosok orang yang menangkap mata pedangnya. Bahkan panah bidadari milik Suhita pun dia hentikan, bagaimana dengan Kencana Sari?
"Je-Jenderal Muda ... saya ..." Kencana Sari terbata-bata, dia tidak sanggup melanjutkan kalimat.
"Simpan pedangmu, jelaskan baik-baik apa yang sebenarnya terjadi," ucap Raka Jaya dengan kalimat yang lembut.
"Jenderal Muda, ini adalah kesalahan saya. Saya yang memaksa untuk bertemu dengan Tabib Dewa," Kemuning angkat bicara, melakukan pembelaan terhadap Kencana Sari.
"Kepa*rat sialan! Dasar rubah berwajah manusia! Bisa-bisanya dia mencari muka!" umpat Kencana Sari dalam hati.
Yang dilakukan oleh Kemuning semata buta hanyalah untuk menarik simpati dan perhatian. Setelah Danur Cakra, sekarang giliran Jenderal Muda. Siapa dia sesungguhnya?
__ADS_1