
"Sialan! Kutu kecil semacam kalian, tidak untuk diberi hati," maki Danur Cakra.
Danur Cakra mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangan kanannya. Membentuk bola berwarna merah kehitaman. Matanya nanar menatap pada mata pisau yang berdatangan.
"HIYYAAATTT !!!" diawali teriakan kencang, Danur Cakra melemparkan bola energi ke udara.
BAAAMMMM !!!!
Ledakan besar menggelegar di udara, percikan cahayanya mengoyak langit yang biru. Bersamaan dengan bola energi yang pecah, energinya menyebar menghempas setiap orang yang berdiri di atap bangunan. Seluruh pisau yang berterbangan, semuanya jatuh ke tanah beserta pemilik masing-masing.
Hanya dalam hitungan detik, pelataran belakang Padepokan Lembah Wilis sudah dipenuhi mayat-mayat pasukan Klan Macan Api. Mereka tewas mengenaskan terpapar energi hitam Tapak Naga yang Danur Cakra lepaskan. Siapa yang menduga, jika yang dihadapi ialah Pendekar Naga Kresna.
Tidak terkecuali Suhita Prameswari. Adik kembar Danur Cakra merupakan orang yang paling terkejut. Kiranya Pendekar Naga Kresna yang namanya mulai didengungkan jagat persilatan ialah orang terdekat dalam hidupnya. Setidaknya untuk saat ini, Suhita belum bisa menentukan sikap. Dia hanya mulai menerka-nerka mengapa bisa Danur Cakra menjadi buronan kerajaan. Alasannya hampir mendekati kejelasan.
"Tabib Dewa ... maaf," dengan sangat hati-hati Jagakarsa menyapa Suhita, membangunkan Tabib tersebut dari lamunan.
"A-ah?! Ya, ada yang bisa saya bantu?" Suhita tergagap. Dia memaksakan untuk tersenyum, menyembunyikan segala pikiran yang menggelayut di benaknya.
Meski dalam keadaan terluka, Jagakarsa memaksakan diri untuk berjalan. Seorang muridnya membantu memapah untuk Jagakarsa menghampiri Suhita.
"Mungkin, saya tidak banyak berguna. Namun setidaknya saya masih punya petunjuk untuk kalian bisa temukan sumber mata air di wilayah Binar Embun," ucap Jagakarsa.
Ki Jagakarsa mengambil sesuatu dari dalam jubahnya. Ya, kertas itu berisi peta. Petunjuk geografis untuk Suhita bisa temukan tujuannya. Dengan tangan yang masih gemetaran, Jagakarsa menunjuk satu persatu tempat penting dalam peta. Dia menjelaskan secara gamblang supaya Suhita bisa lebih mudah menempuh perjalanan.
"Hanya sedikit yang bisa saya lakukan. Semoga, dengan ini bisa membantu Tabib," dengan sikap penuh hormat, Jagakarsa menyerahkan peta tersebut pada Suhita.
"Ini lebih dari cukup, Paman. Maaf sudah merepotkan Paman," Suhita menerima peta tersebut. Beberapa detik selanjutnya, peta tersebut lenyap dari pandangan. Suhita selalu menyimpan setiap benda penting ke dalam cincin mustika pemberian ibunya.
"Emmm ... Tabib Dewa, sekali lagi saya mohon maaf. Apakah pendekar muda itu teman Tabib?" tanya Jagakarsa seraya menunjuk ke arah Danur Cakra.
"Iya, Paman. Jadi saya harap kalian tidak perlu khawatir. Pria itu tidak seperti yang sekarang kita lihat. Dia orang baik," Suhita meyakinkan Jagakarsa dan murid-muridnya untuk tidak lekas menyimpulkan sosok Danur Cakra hanya karena melihat energi tenaga dalam yang digunakan.
"Begitu terkutuknya kami jika memikirkan hal bodoh itu. Mohon untuk Tabib memaafkan," Jagakarsa membungkuk hormat.
Suhita hanya bisa menghela napas. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Lagi pula untuk hentikan Danur Cakra membantai pasukan Klan Macan Api, merupakan hal yang tidak mungkin. Pilihan terbaiknya yakni memalingkan pandangan dari apa yang terjadi. Lebih baik Suhita menyiapkan beberapa ramuan untuk dia gunakan sebagai penyembuh luka dalam Jagakarsa dan murid padepokan yang lain.
°°°
"Uhuukk ... uhuukk ..." suara batuk pelan terdengar seperti tertahan untuk keluar.
"Baguslah, itu menandakan jika strata kekuatan tubuh manusia itu sama. Makanya jangan sok hebat jadi orang ...."
"Hanya orang lemah yang selalu sibuk untuk mengeluh. Waktuku tidak cukup banyak untuk itu."
Dua orang yang adu mulut tidak lain adalah Suhita dan Danur Cakra. Tidak perduli meskipun sekarang berada di tempat orang, Suhita tidak sungkan menyindir kakaknya.
__ADS_1
Hampir seluruh anggota Klan Macan Api tewas. Mereka yang masih bertahan hidup tentunya dalam keadaan luka parah. Tidak terkecuali Purwanda dan Purwandi. Kendati mampu melarikan diri, Pendekar kembar mengalami luka yang sangat serius. Hampir saja mereka tidak berkesempatan untuk tetap bisa melihat matahari.
Tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Danur Cakra tidak main-main, kalau dia mau pastinya tidak akan ada lawan yang tersisa. Hanya saja, kondisi fisik Danur Cakra menuntunnya untuk menghitung dengan cermat. Gunakan kekuatan naga hitam begitu banyak menguras energi. Kekuatan yang besar tentu harus didukung dengan daya yang juga besar. Sisi negatif kekuatan itu yakni tidak mampu beradaptasi dengan kondisi si pemilik. Kekuatan tersebut tidak sungkan untuk menghisap habis seluruh energi tanpa peduli pada keselamatan pemiliknya. Dengan kata lain, ilmu itu bisa membunuh tuannya.
"Apa dengan kekuatan sesat membuat Kakak merasa lebih gagah?" tanya Suhita.
Danur Cakra melirik sebentar, sejak masih kecil dia tahu jika Suhita sama sekali tidak setuju Danur Cakra melanjutkan mempelajari Kitab Terlarang Langit dan Bumi. Tapi kenyataannya, Danur Cakra memang bebal. Hingga kini seluruh isi kitab tersebut telah menyatu di dalam tubuhnya.
"Apa kau melihat diriku seperti halnya ayah?" Danur Cakra balik bertanya.
"Huuuhhh ... selalu itu yang menjadi alasan. Memangnya kalau sama mengapa? Orang akan menilai bagaimana dirimu, kakak yang miliki kekuatan pastinya tidak dikaitkan dengan nama besar ayah. Lagi pula, bukan pula hal yang buruk meskipun orang-orang silau pada nama besar orang tua kita."
Danur Cakra tertawa lebar. Jarinya menunjuk-nunjuk wajah Suhita. Ada hal menggelitik dari ungkapan Suhita tersebut. Jelas-jelas itu hanyalah pemanis bibir belaka. Sebelum memulai bicara, Danur Cakra memperbaiki posisi duduknya.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu? Selain menjadi tabib, pernahkah kau gunakan kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga untuk perkenalkan diri sebagai putri Mahesa? Apa ada yang tahu jika kita saudara kembar? Apa dunia persilatan tahu, kalau Raka Jaya putra Mahesa dari Padepokan Api Suci, memiliki saudara seayah dan itu adalah kita? Tidak. Jawabannya pasti TIDAK 'kan?! Makanya ... jangan sok usil urusanku!"
"Bukan itu masalahnya. Hita hanya takut sesuatu terjadi pada Kakak. Setelah ayah, tidak ada orang lain yang Hita cemaskan kecuali Kakak," suara Suhita lemah, bahkan bibirnya bergetar mengucapkan kalimat terakhir.
Danur Cakra terdiam. Terasa bagai jantungnya di tarik dan dilemparkan ke dalam lubang yang sangat dalam, hingga rasa dingin menyentuh seluruh permukaan tubuhnya. Ada satu rasa yang terselip, menyelinap dan menghantam ulu hatinya dengan telak. Meskipun tanpa kata, Danur Cakra menyadari hal tersebut.
Perlahan Danur Cakra bangkit, mendekat kemudian memeluk tubuh Suhita dengan erat. Tanpa perlu puisi indah ataupun kata-kata manis, ungkapan rasa sayang bahkan melebihi segalanya.
"Kakak janji, tidak akan membuat nama keluarga kita tercemar. Kakak juga sangat menyangimu," ucap Danur Cakra lirih, seraya mengecvp lembut kepala Suhita.
Cukup lama mereka berpelukan erat. Bahkan seekor semut pun tidak punya nyali untuk coba mengusik. Satu-satunya wanita yang pernah Danur Cakra peluk, hanya adiknya.
Setelah memastikan keadaan seluruh penghuni padepokan mulai membaik, Suhita ditemani Danur Cakra mohon pamit. Keduanya akan melanjutkan perjalanan, mencari sumber mata air beracun.
°°°
"APA?! Tidak masuk akal! GOB*LOK! Kalian semua cuma kumpulan gentong nasi tidak berguna, sama sekali tidak bisa diandalkan. Menghadapi satu orang saja tidak becus!" dengan penuh kemarahan, caci maki terlontar panjang kali lebar dari mulut pimpinan Klan Macan Api, Maung Hitam.
Selain harus kehilangan lebih dari lima belas pasukan, Klan Macan Api juga kehilangan dua punggawa andalan. Pendekar kembar, Purwanda dan Purwandi belum diketahui di mana keberadaannya. Masih hidupkah atau mungkin juga keduanya sudah hangus menjadi abu.
Maung Hitam duduk termenung, memikirkan cara terbaik untuk segera dilakukan. Sudah bisa dipastikan, Pendekar Naga Kresna tidak lagi berada di Padepokan Lembah Wilis. Setelah memperoleh apa yang diperlukan, sudah barang pasti dia mengawal Tabib Dewa melanjutkan perjalanan.
"Sialan! Aku sendiri tidak tahu di mana keberadaan mata air itu. Tapi ... seandainya Tabib Dewa yang lebih dulu berhasil menemukan keberadaan mata air, pastinya akan semakin mempersulit aku. Nanti dikiranya Klan Macan Api tidak melakukan tindakan apa pun. Kepa*rat!" umpat Maung Hitam dalam hati.
Tugas Klan Macan Api yakni membereskan duri penghalang. Termasuk tokoh penting yang dapat membantu Tabib Dewa dalam pengobatan. Sekarang semua semakin sulit karena ada Pendekar Naga Kresna yang ikut campur.
"Pendekar Naga Kresna telah bersama dengan Tabib Dewa. Itu artinya, luka dalam yang dia derita sudah sembuh. Sangat jelas alasan mengapa Pendekar Naga Kresna mau membantu Tabib Dewa. Pertama karena dia membalas jasa, lalu yang kedua Pendekar gila itu pasti akan membuat perhitungan dengan Tiga Iblis Utara yang telah melukainya."
Maung Hitam menghela napas berat. Ucapan sahabatnya sangat masuk akal. Kala Munding mengingatkan bagaimana Tiga Iblis Utara hampir mencelakai Pendekar Naga Kresna.
"Bagaimana mungkin Pendekar Naga Kresna mengetahui jika salah satu anggota Tiga Iblis masih hidup?" tanya Maung Hitam.
__ADS_1
Kala Munding nyengir, kemudian mengangkat bahu "entahlah. Tapi aku sangat yakin, semua ini membuat tugas kita semakin berat."
Pertama, Siluman Lipan sudah diringkus. Meskipun siluman pemangsa anak-anak itu tidak termasuk anggota kelompok mereka, tapi setidaknya keberadaan siluman lipan membuat perhatian para pendekar aliran putih jadi terpecah.
Kedua, pokok masalah di Kota Binar Embun sudah di ketahui. Ditambah keberadaan Tabib Dewa yang dilindungi oleh Pendekar Naga Kresna, semakin menyudutkan rencana pada jalan buntu.
Segala cara sudah dilakukan. Sebagai kelompok yang bertanggung jawab sebagai pembersih jalan, Klan Macan Api telah menghabisi ahli nujum (Ki Santana) supaya tidak ada orang yang bisa memberi petunjuk tentang keberadaan sumber mata air beracun. Lalu Padepokan Lembah Wilis. Karena pimpinan padepokan tersebut memiliki peta geografis yang sangat akurat, maka rencananya pula akan dihabisi. Sayangnya langkah mereka terhambat. Dan mungkin sebentar lagi, sumber mata air beracun akan ditemukan.
"Tabib Dewa tidak mungkin bisa dihentikan. Lagi pula, kita tidak mungkin celakai dia."
"Lalu, sekarang kita harus bagaimana?"
"Yang terpenting, perjalanan Tabib Dewa menuju Kota Raja terhambat. Bukankah itu salah satu tujuan utamanya?" Kala Munding mengangkat kedua alisnya berungkali.
"Pekok! Lancar sekali lidahmu bergerak. Kau tidak pikirkan aku? Klan Macan Api kehilangan banyak pasukan. Termasuk dua orang tangan kananku. Mereka semua celaka!" Maung Hitam melotot.
"Kalau begitu, kita harus buat perhitungan dengan Pendekar Naga Kresna! Masalah Klan Macan Api, kau jangan khawatir. Sementara waktu aku akan membantumu!" Kala Munding menepuk pundak Maung Hitam.
Dua orang sahabat itu serentak tertawa terbahak. Sebesar apapun masalah, jika berbagi dengan orang yang tepat maka masalah akan menjadi ringan Itulah gunanya teman. Jika ada teman yang memalingkan wajahnya disaat kau butuh bantuan, jangan ragu untuk membuang teman seperti itu ke dalam kotak sampah.
Masih ingat pada organisasi sesat terbesar, Aliansi Utara Selatan? Ya, tepat sekali. Organisasi tersebut merupakan dalang di balik kekacauan yang terjadi. Bulan Jingga, yang menjadi pucuk pimpinan seusai Cahaya Langit yang menghilang.
Klan Macan Api merupakan bagian dari Organisasi Utara Selatan. Menjalankan tugas mereka yakni menghapus perdamaian menciptakan kekacauan.
Sementara Kala Munding merupakan seorang pendekar aliran sesat yang juga merupakan anggota Organisasi Utara Selatan. Sejatinya dia tidak ditugaskan untuk membantu Klan Macan Api. Namun sebagai sahabat akrab Maung Hitam, tentunya dia tidak akan berpangku tangan melihat sahabatnya dalam kesulitan.
"Sudah barang pasti keberadaan sumber mata air beracun itu ada di puncak gunung. Hanya ada empat buah gunung besar di Binar Embun. Tidak akan terlambat jika para tiliksandi bergerak sekarang."
"Baiklah. Ayo kita bergerak sekarang! Selain kita, akan ada pasukan dari kerajaan yang juga memburu Pendekar Naga Kresna. Ini semakin menarik!"
Maung Hitam dan Kala Munding menggebrak kuda mereka dengan kencang. Dendam kesumat yang membara, menumbuhkan semangat juang yang menyala.
°°°
Di tempat lain, dua ekor kuda berwarna coklat kehitaman sedang minum di tepi sungai kecil. Sementara pemiliknya telah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Medan yang akan ditempuh sangat berbahaya, bila menggunakan kuda justru hanya semakin menyita banyak waktu.
"Hita!" panggil Danur Cakra.
Suhita menghentikan langkahnya, Tabib cantik itu menoleh dan tersenyum ke arah kakaknya, "iya, Kak. Ada apa?"
Danur Cakra melepaskan pandangannya jauh ke depan. Bisa dirasakan jika bukan hanya mereka berdua saja yang berada di tempat itu. Danur Cakra menepuk pundak Suhita, "mungkin aku tidak bisa menemanimu sampai ke bawah."
Suhita ternganga, meskipun senyum tipis menghiasi bibirnya tapi tidak bisa ditutupi jika pandangan matanya berkaca. Sinar wajah Suhita mencerminkan detak jantungnya yang tertusuk dari dalam. Luka, tapi tidak berdarah.
"Kakak, hati-hati," ucap Suhita lirih.
__ADS_1
"Kau juga. Jaga diri baik-baik. Maaf, aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Sampai jumpa, sayang."
Satu lambaian tangan serta senyum lebar yang terakhir Danur Cakra berikan, sebelum pada detik selanjutnya sosoknya lenyap ditelan rimbun dedaunan. Seakan terasa ada yang membetot jantungnya, ada yang hilang membuatnya tak tenang. Sepi, Hita merasa seperti dicampakkan ke pengasingan seorang diri. Untuk beberapa saat, mata angin dalam jiwanya lenyap. Suhita kehilangan arah.