
Belajar dan belajar, bahkan tidak akan selesai sampai akhir hayat. Menumpuk ilmu, memperluas pengetahuan, menambah teman, memperbanyak pengalaman. Setiap kaki melangkah, akan ada cerita. Dalam setiap cerita akan ada hikmah yang dapat dipetik guna pembelajaran di hari esok yang lebih baik.
Danur Cakra baru selesai berlatih, dia mengatur napasnya, menikmati berbagai rasa yang didapat setelah menjalani latihan. Danur Cakra merasakan ruang di dalam tubuhnya mendapatkan tambahan energi. Sejuk, nyaman, seolah Cakra tengah berenang di telaga nan jernih. Ya, dia berusaha untuk mengembalikan kemampuan tenaga dalamnya setelah banyak terhisap digunakan untuk membantu fisik Kemuning saat mereka dalam perjalanan. Benar apa yang dikatakan Raka Jaya, seandainya saat ini mereka bertarung pasti Danur Cakra akan mudah untuk dikalahkan.
"Huuuhhh ... semoga setelah ini semua kembali seperti sedia kala. Aku mulai lelah, mengapa harus begitu rumit?" Danur Cakra menghembuskan napas dalam-dalam. Menghirup lagi dari hidung, kemudian melepaskan semuanya melalui mulut. Beberapa kali.
Danur Cakra duduk termenung. Rasa sakit di wajahnya memang tidak seberapa. Hanya luka lebam yang ringan, sangat jauh dari nyawa. Akan tetapi mengingat penyebab atas lebam tersebut, rasanya ini merupakan luka paling menyakitkan yang pernah Danur Cakra rasakan. Untuk pertama kalinya, Suhita menampar dan memukulnya. Sakit di dalam dada ini, rasanya begitu memukul jiwa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Karena aku, Raka Jaya pasti akan terseret dalam masalah. Aku tidak mungkin menyerahkan diri, apa tanggapan Kakek dan Nenek jika mengetahui aku dipenjara?" Danur Cakra mengurut keningnya yang mendadak begitu nyeri.
Dalam beberapa kesempatan mungkin Raka Jaya bisa membuat Danur Cakra selamat dan bebas dari jerat hukum dengan menutup mata saat bertemu. Akan tetapi jelas itu bukanlah solusi, cepat atau lambat pasti ada Jenderal atau Panglima kerajaan yang mampu menemukan jejak Danur Cakra. Celakanya bila mana Raka Jaya akan terseret dalam masalahnya, karena telah melindungi seorang buronan. Tentu saja Danur Cakra tidak ingin itu terjadi.
Di sisi lain, sebagai seorang saudara tentunya Raka Jaya berada di tengah-tengah pilihan yang rumit. Dari dua, tidak ada satu pun pilihan yang bisa diambil. Pertama dia tidak mungkin bisa bertugas jika harus berhadapan dengan Danur Cakra, apalagi sampai bertarung. Pilihan kedua yaitu melindungi Danur Cakra, sama saja dia menciderai sumpahnya sebagai punggawa kerajaan. Dan hukuman atas itu sudah jelas tertera.
Dalam kesepakatan tiga anak Mahesa, mereka bersaudara tapi bukan di dunia persilatan. Begitu banyak hal yang harus mereka tutupi. Takutnya, seandainya diketahui bahwa Mahesa memiliki seorang istri yang lain tentunya berita tersebut akan mencoreng nama baik Padepokan Api Suci yang merupakan padepokan Dewi Api, istri sah Mahesa (yang diketahui orang). Hal yang tidak kalah buruknya yakni berkenaan dengan keselamatan Puspita Dewi (ibu dari si kembar Suhita Prameswari dan Danur Cakra). Seperti diketahui, sampai hari itu kelompok sesat terbesar Aliansi Utara Selatan masih terus mencari keberadaan Cahaya Langit yang mereka yakini masih hidup. Cahaya Langit dan Puspita adalah satu orang yang sama, hanya dalam balutan pakaian yang berbeda.
"Arggghhh ... ampun Junjungan, hamba mohon menghadap," samar terdengar suara yang menyadarkan Danur Cakra dari dalam lamunan.
Danur Cakra menoleh lalu kemudian mengangguk, mempersilakan Genderuwo untuk menampakkan diri. Berharap ada kabar baik yang di bawa.
"Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu? Informasi atau mungkin apa?" tanya Danur Cakra.
Wujud Genderuwo yang semula besar tinggi dan hitam, menciut menjadi bentuk tubuh manusia pada umumnya. Dengan hati-hati dia duduk bersimpuh di depan Danur Cakra. Bila mata orang biasa, yang terlihat hanyalah dua orang yang sedang bercakap-cakap. Hanya mata Genderuwo yang tetap memancarkan cahaya merah, selebihnya wujudnya sempurna seperti manusia biasa.
"Ampuni hamba, Junjungan. Tidak ada sumberdaya seperti yang Junjunganku maksud. Hamba sudah berkeliling coba untuk memastikan, akan tetapi tetap sama," Genderuwo bicara dengan hati-hati, berusaha menyampaikan berita buruk supaya tidak menyinggung Danur Cakra.
"Tidak mungkin! Apakah ada orang yang pengetahuannya melebihi Tabib Dewa? Atau kau secara tidak langsung mengatakan kalau Tabib Dewa mempermainkan ku?" Danur Cakra mengangkat kedua alisnya.
"A-ampuun, Junjungan. Hamba tidak bermaksud berkata demikian ..."
"Lalu apa?!"
"Bukan sumberdaya, tapi itu-itu ... yang dimaksud Tabib Dewa adalah jantung milik Junjungan."
Danur Cakra mengerutkan dahi, benarkah?! Apa maksudnya Suhita menginginkan jantungnya? Sama saja dengan mencabut nyawa, artinya menukar nyawa Kemuning dengan nyawanya. Namun jika harus jujur, Danur Cakra tidak percaya. Tidak mungkin Suhita tidak memiliki solusi lain. Juga tidak mungkin demi selamatkan orang lain, Suhita lebih memilih untuk mencelakai saudara kembarnya sendiri. Padahal yang Danur Cakra tahu, sedari kecil Suhita dan dirinya saling menyayangi. Sebegitu besarkah Suhita sekarang membencinya?
Selesai melapor, Genderuwo kembali pamit. Dia hanya menyampaikan apa yang didapat, melaksanakan tugas dengan baik. Masalah hasil tentu bukan tanggung jawabnya harus untuk berita baik.
"Suhita?! Ya, aku harus menemuinya. Aku harus meminta penjelasan. Tidak lucu jika sekadar bermain-main," Danur Cakra berdecak kesal, ada dugaan benar kalau Suhita hanya mempermainkan dirinya. Lantas bagaimana dengan Kemuning? Luka dalam yang diderita gadis itu sangatlah parah, bisa-bisanya Suhita menganggap sebagai candaan. Meski demikian semoga saja Suhita sebenarnya telah memiliki obat.
°°°
Senja sudah hampir tiba. Perlahan warna jingga mulai menegaskan kuasanya di ufuk barat. Kendati sebentar, sebelum kemudian warna hitam mengambil alih dan menutup seluruh mayapada saat malam menjelang.
__ADS_1
"Hei, Kak. Mengapa masih di sini? Bagaimana dengan tugas-tugasmu yang lain?" Suhita tidak enak karena hari itu, seharian penuh Raka Jaya terus berada di rumah penginapan.
"Tidak perlu khawatir, lagi pula apa yang perlu dipikirkan. Aku merasa di sini jauh lebih berbahaya," jawab Raka Jaya.
Tidak sembarang orang yang boleh datang dan memasuki bangunan tempat kamar Suhita. Sejauh ini hanya dua orang, Raka Jaya juga Kencana Sari. Pelayan lain pun harus lebih dulu meminta izin untuk bisa menginjakkan kaki. Lalu karena hal apa bisa disenyebut sebagai tempat yang berbahaya?
"Kak, kau jangan bercanda. Ingat kata-kata adalah do'a, apa kau sengaja inginkan aku dalam masalah?" Suhita cemberut.
"Hahaha! Jangan berpikir terlalu jauh. Tidak ada hubungannya dengan Panglima Braja, ataupun si pasien misterius mu itu. Ini lebih pada dirimu sendiri," jawab Raka Jaya.
Apa maksudnya? Suhita menerka kalau Raka Jaya berkata begitu pasti berkaitan dengan Danur Cakra. Oh, iya. Mengapa sialan itu belum juga kembali?
"Mengapa, apa sekarang kau mulai mengingat seseorang? Kekasih hatimu itu? Sebentar lagi dia akan kembali, dan kau akan melihat kesungguhan hatinya," ejek Raka Jaya.
Suhita belum menjawab. Bahkan Suhita menolak bertemu sebelum Danur Cakra pergi. Hingga sekarang belum juga kembali. Ke mana dia mencari sumberdaya tersebut? Meskipun ke lubang semut sekali pun, tidak mungkin bisa didapatkan.
Tapi ... bagaimana kalau yang datang justru hanyalah 'jantung'-nya saja? Itu artinya Suhita tidak punya kesempatan untuk bertemu lagi. Belasan tahun saling bersama, harus berpisah dalam pertengkaran. Bagaimana Suhita bisa meminta maaf? Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Danur Cakra tidak akan bertindak bodoh, walaupun dia mungkin cinta mati pada Kemuning, tapi bukannya benar-benar untuk mati.
"Hei, ada apa lagi ini? Aneh sekali, mengapa tiba-tiba menangis?" Raka Jaya begitu bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mengapa Kak Cakra belum juga kembali? Dia tidak akan pernah bisa menemukan sumberdaya itu," ucap Suhita lirih.
"Ah?!" Raka Jaya terperangah. Karena mengikuti hawa nafsu demi amarah sesaat, nyatanya saat ini Suhita begitu menyesal dan hatinya tidak bisa tenang memikirkan sosok yang amat dia sayangi berkeliaran di luar, tidak tahu harus ke mana, juga dengan kemampuan olah kanuragan yang tidak stabil. Sementara, begitu banyak ancaman yang bertebaran. Hal buruk, tentu bukanlah yang diinginkan.
"Aku tidak suka tindakan bodohnya itu, tapi bagaimanapun juga dia adalah saudaraku. Dalam hal ini akulah yang bersalah," sesal Suhita.
"Jangan berlebihan, percayalah padaku. Cakra akan baik-baik saja. Aku kira kau masih marah padanya, mengapa tiba-tiba menjadi sangat khawatir? Jika inginkan jantungnya, bukankah sama-sama ingin dia celaka?"
"Aku berubah pikiran. Awalnya aku berpikir terlalu jauh, mengira seseorang lebih baik. Kau pun tidak jauh berbeda dengannya, mungkin akulah yang terlalu naif."
"Kau sudah memaafkan Cakra?" Raka Jaya hendak memastikan, dia memasang telinganya dengan baik.
"Bahkan sebelum dia meminta maaf. Aku ... aku tidak pernah marah apalagi sampai membencinya. Aku hanya tidak suka Kak Cakra yang bodoh," ucap Suhita.
"Baguslah, aku sangat lega mendengarnya. Itu artinya aku akan terbebas dari amukan liarmu, karena kau tahu kami memang tidak berbeda," Raka Jaya hendak bangkit, tapi lebih dulu dia dihentikan oleh sebuah benda dingin yang menempel di pipinya.
Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu gerbang dari jauh sayup-sayup terdengar. Memaksa Suhita menarik tombak es miliknya, mengubah kembali menjadi air kendi yang sejuk.
Raka Jaya cepat bangkit, menuju pintu gerbang di seberang ruangan. Menemui seorang prajurit yang datang. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya bukanlah kabar gembira, terlihat ekspresi tanpa senyum tawa dari keduanya.
"Kak Cakra, di mana kau sekarang?" Suhita tidak bisa mengalihkan pikirannya.
Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Harusnya fungsi utama saudara adalah untuk hal itu. Di mana saat seorang dalam kesulitan, maka saudara yang lain datang untuk membantu meringankan beban. Terkadang, disaat jatuh dan terpuruk seseorang tidak membutuhkan nasehat, tidak pula perlu motivasi untuk tetap tegar. Ada kalanya mereka hanya membutuhkan seseorang untuk sekadar menemani, mendengarkan cerita, sehingga beban tersebut terasa lebih ringan.
__ADS_1
Namun yang Suhita lakukan malah sebaliknya, semakin menumpuk beban di pundak lelah sang kakak. Padahal Danur Cakra merupakan orang pertama yang akan jadi sandaran dalam lelah yang Hita alami. Dan sekarang dia membalas air susu itu dengan air tuba. Menyesal? Ya, hanya menyalahkan diri sendiri. Menjabarkan rasa kecewa dengan cara yang kurang tepat.
"Tabib, mau ke mana?" Raka Jaya dan prajuritnya kaget karena tiba-tiba Suhita melintasi keduanya.
"Jenderal Muda, saya ada sedikit urusan. Saya izin untuk ke luar sebentar," Suhita membungkuk hormat sebelum kemudian langsung melangkah.
"Kau kembalilah, aku harus pastikan Tabib Dewa tidak terancam," ucap Raka Jaya pada anak buahnya. Kemudian segera menyusul Suhita, mengikuti dari belakang.
°°°
"Harus berapa lama lagi?"
Suhita menoleh, dia mendapati Raka Jaya melompat mendekat. Kiranya Jenderal Muda itu terus mengikutinya, hingga tengah malam.
"Kau lihat, rembulan sudah hampir condong. Sebentar lagi, hari akan berganti. Ayolah pulang, siapa tahu Cakra sudah ada di rumah penginapan," Raka Jaya membujuk Suhita agar mau cepat pulang.
"Bagaimana mungkin, sementara aku bahkan tidak bisa merasakan auranya," tolak Suhita.
"Baiklah, begini saja. Kita pulang lebih dulu, nanti setelah itu aku akan kembali mencarinya, aku janji!" Raka Jaya mengangkat dua jari tangannya.
Setelah beberapa saat dibujuk, akhirnya Suhita menyerah. Dia bersedia pulang dengan catatan Raka Jaya akan melanjutkan mencari Danur Cakra, setidaknya sampai ada kabar.
Keduanya tiba di penginapan ketika banyak orang sudah tertidur. Bahkan Kencana Sari pun tidak nampak. Hanya seorang pelayan penginapan yang datang menyambut. Ekspresi wajah wanita itu terlihat kaget.
"Ta-Tabib ... maaf, saya kira Tabib ada di dalam. Ta-tadi sore ada orang yang meminta bertemu dengan Tabib, tapi setelah saya panggil-panggil Tabib tidak menyahut. Maaf, terpaksa saya mengatakan kalau Tabib menolak untuk bertemu. Mohon maafkan kesalahan saya," pelayan tersebut melapor dengan terbata-bata.
"Ah, ini bukan kesalahanmu. Aku pergi keluar tidak memberi pesan pada siapa pun. Oh, ya. Apa kau tahu ke mana dia sekarang?"
"Dia menunggu Tabib di ruang depan," jawab pelayan.
"Ya, terima kasih. Sekarang kau pergilah istirahat," ucap Suhita.
Setelah pelayan itu pergi, Suhita segera menuju ruang depan diikuti oleh Raka Jaya. Suhita sangat yakin jika orang yang dimaksud oleh pelayan adalah Danur Cakra. Jika sejak sore dia datang, itu artinya Cakra datang saat Suhita baru keluar. Sia-sia saja Suhita mencari sampai larut malam.
Di ruang depan, Danur Cakra pun sudah tertidur. Di hadapannya, nampak tersusun beberapa wadah yang nampaknya berisi makanan. Apa maksudnya?
"Hmmm, itukah sumberdaya yang dia dapat?" gumam Raka Jaya.
"Sssttt!" Suhita menyilangkan jari di atas bibir, meminta agar Raka Jaya tidak banyak bicara.
Dengan hati-hati Suhita membuka tutup rantang di atas meja. Ya, benar. Itu berisi makanan. Kerang hijau yang sudah diolah. Suhita tersenyum, dia teringat akan sesuatu di masa kecil, kenangan indah, kenangan konyol dan penuh tawa yang tidak mungkin bisa terulang lagi. Tentu saja berdua dengan saudara kembarnya itu. Danur Cakra, siapa lagi.
Kerang hijau asam manis dan kerang hijau saus tiram. Jenis masakan kerang yang pernah Suhita dan Danur Cakra sama-sama belajar mengolahnya ketika mereka berdua masih kecil. Tentu saja dua jenis masakan yang tersaji tersebut sudah dingin. Sedari sore Danur Cakra menyiapkannya hingga sekarang sudah dini hari.
__ADS_1
"Hmmm ... apa mungkin, Kak Cakra yang memasak ini? Penasaran, apa sekarang dia sudah bisa memasaknya?" Suhita mengambil satu kerang hijau untuk dicicipi.