Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pasukan Mayat Hidup


__ADS_3

"Mendengarkan segenap suara alam, membuat aku merindukan masa lalu. Suara burung malam, suara alunan angin yang menghantarkan pesan sendu dari tangisan serigala dan semua kenangan indah yang masih ku ingat di dalam pikiranku," ucap Dewi Api lirih.


"Jadi, kau sangat mendambakan pembantaian seperti ini? Hmm ... terkadang banyak hal yang menuntut untuk kita berubah."


Dewi Api tersenyum tipis, kakinya melemparkan tubuh seorang pendekar yang telah terjatuh tidak bernyawa. Sudah tidak terhitung lagi jumlah jasad yang berserakan memenuhi halaman klan. Suasana yang semula menampakkan perwujudan malam yang indah, berubah menjadi sangat mengerikan. Di mana jasad-jasad berserak tak tentu arah, seolah nyawa manusia tidak berguna.


Suatu pertempuran dengan pembantaian yang sangat sadis, mengingatkan mereka pada masa satu dekade yang lalu. Kala keduanya masih aktif berkelana, setiap hari bertarung guna menumpas para penjahat. Wajar jika Dewi Api menyebutnya seperti sebuah reuni.


Malam itu, tanpa mereka sadari jika apa yang keduanya lakukan disaksikan oleh anak-anak mereka. Dengan mata terbelalak, tiga bocah yang belum pernah menemui pertempuran besar itu diperlihatkan atas bagaimana sisi hitam orangtua mereka. Jika seorang dengan gelar pendekar baik hati, mampu bertindak lebih kejam dari seorang perampok. Tanpa belas kasih, mereka mengambil paksa titik kehidupan yang dimiliki lawan.


Wira Lodra sampai terperangah tanpa kata. Ternyata, apa yang pernah dia dengar mengenai sepak terjang sepasang pendekar muda tersebut hanyalah sebagian kecilnya saja. Di depan matanya, Wira Lodra menyaksikan sendiri bagaimana mereka jauh lebih menakutkan.


"Bagaimana ini?! Jika dibiarkan, maka pasukan kita pasti akan habis. Cepat pikirkan sesuatu," ucap Wira Lodra pada sang penasihat.


Penasihat di Klan Perisai Hujan merupakan seorang pendekar sepuh yang belum lama ini didatangkan oleh Bulan Jingga dari markas besar. Orang kerap menamainya Buyut Kafan. Dia datang bukan sekadar ditugaskan untuk membuat klan menjadi besar tapi juga dengan beberapa misi khusus. Dia juga yang merupakan penanggung jawab proyek gabungan antara Klan Perisai Hujan dan Menara Kematian. Proyek pengumpulan jenazah para pendekar.


Buyut Kafan adalah orang yang menciptakan Jarum Kehidupan. Dia merupakan bapak dari seluruh mayat hidup yang ada. Hingga terlihat jika dia tidak begitu khawatir melihat puluhan anggota Klan Perisai Hujan yang tewas. Entoh setelah selesai nanti, mereka semua akan bisa kembali dihidupkan. Bahkan akan jadi lebih penurut, menjadi budak yang baik.


"Kau jangan khawatir, lihat bagaimana aku membantumu. Aku juga penasaran, sampai sebatas mana kedua pendekar ini bisa bertahan," jawab Buyut Kafan.

__ADS_1


Wira Lodra boleh bernapas dengan lega. Bagaimanapun juga, dia sedikit keberatan jika seluruh anak buahnya harus menjadi mayat hidup. Karena itu akan membuat pamornya jadi redup ketika para mayat hidup itu lebih mendengarkan perintah Buyut Kafan daripada orang lain. Lalu, apa artinya posisi pimpinan?


Wira Lodra dan para pendekar besar lainnya, menatap tidak berkedip. Mereka menunggu apa yang bakal Buyut Kafan lakukan.


"Hahaha! Selamat berjumpa lagi, pendekar!" tawa nyaring terdengar dari atas atap.


Hanya Buyut Kafan yang menyungging senyum. Kemudian diikuti oleh Wira Lodra dan para pendekar aliran sesat yang lain. Buyut Kafan telah mulai menurunkan para mayat hidup ciptaannya.


"Ah, bukankah dia Busur Emas dan antek-anteknya?! Bukannya kau katakan jika kelompok itu telah musnah?!" Dewi Api terperanjat.


Tidak kalah kagetnya, Mahesa pun menatap satu per satu lawan baru mereka yang bermunculan dari atas atap. Ya, benar. Busur Emas dan antek-anteknya, tidak salah lagi. Bukankah mereka telah lenyap sepuluh tahun yang lalu?!


"Menarik, menarik! Sangat menarik. Disisa usiaku, aku berkesempatan untuk menyaksikan ekspresi terkejut bahkan takjub. Hahaha! Sekarang, aku baru percaya dengan sepenuh keyakinan. Jika kalian ternyata hanya manusia biasa," Buyut Kafan tertawa terkekeh, seraya bertepuk tangan tiada henti.


Mahesa dan Dewi Api saling lirik. Keduanya tidak mengenali siapa sosok yang sedang berbicara. Tokoh aliran sesat itu begitu senior, tapi rasanya mereka belum pernah berjumpa apa lagi terlibat masalah.


"Tuan! Aku tidak mengerti, apakah bisa kau beberkan alasan dari semua ini?!" tanya Mahesa. Suaranya memang terdengar pelan, tapi getaran tenaga dalam dan konsentrasinya menyelimuti seantero tempat itu.


Buyut Kafan kembali tertawa. Dia begitu menyesalkan kehidupannya yang tidak berguna. Bilangan usianya yang telah sepuh bahkan belum mampu membuat orang bisa mengingat.

__ADS_1


"Mulai saat ini, ah tidak. Mungkin beberapa tahun lagi. Maka barulah semua orang akan bergetar setiap kali namaku disebut," tutup Buyut Kafan dengan nada yang sedih. Sebagai seorang pendekar, dia mengaku sangat pilu ketika namanya tidak dikenali bahkan oleh pendekar ternama sekelas Elang Putih dan Dewi Api.


"Maksudku, dia hanya berpura-pura. Kau lihat siapa yang berada di bawah kendalinya? Aku yakin, dia adalah dalang di balik kemunculan teror dari para pendekar jahat yang telah mati," bisik Mahesa pada istrinya.


"Pasukan mayat hidup?! Menurutmu apa kita bisa membunuh orang yang sudah mati?!" Dewi Api mengangkat alisnya. Sepasang suami istri tersebut nampak saling berbisik kala Buyut Kafan bicara di seberang sana.


"Aku tidak menduga, jika apa yang Hita pernah ceritakan ternyata beralasan," Mahesa mengingat bagaimana Suhita bertemu dengan kelompok orang yang membawa peti-peti jenazah. Kala itu, Mahesa menganggap jika kecurigaan Suhita hanyalah isu yang tidak beralasan. Namun, mayat hidup itu memang benar nyata.


"Jelas ada sesuatu yang mengendalikan maka mayat itu bisa berlaku dan menuruti perintah Tuannya. Saat titik lemah itu kita dapatkan, maka bukanlah hal yang tidak mungkin jika mereka akan mati untuk kedua kali," papar Mahesa.


"Fiiihhh! Kalian para pendekar aliran putih memang sangatlah sombong. Sejak lama hingga kini, kalian menganggap jika kalian adalah kebenaran. Bahkan saat aku berbicara, sedikit pun kalian tidak perduli!" dengan murka, Buyut Kafan berteriak lantang.


"Anak-anak, saatnya kalian berpesta!" Buyut Kafan mengalihkan perkataannya pada kelompok mayat hidup yang berdiri mematung. Buyut Kafan merogoh sesuatu dari dalam sakunya, lalu seiiring dengan ditaburkannya serbuk tersebut puluhan mayat hidup melompat menyerang.


Dari balik tembok di tempat yang tidak diketahui letaknya, Suhita menyaksikan dengan hati yang bercampur aduk. Dia adalah satu-satunya orang yang telah mengetahui semuanya. Mengenai mayat hidup, Mengenai Jarum Kehidupan yang mengendalikan mayat-mayat tersebut, serta mengenai serbuk Anggrek Pencabut Nyawa yang ditaburkan ke arah Mahesa dan Dewi Api.


Mayat-mayat hidup itu kebal akan senjata tajam. Meskipun puluhan tombak kristal es maupun energi api tidak akan mampu menembus kulit mereka. Kecuali jika bisa mencabut Jarum Kehidupan yang menancap di kepala bagian belakang mayat hidup itu, maka dengan sendirinya tubuh mayat hidup akan berubah menjadi abu.


"Ayah, katakan bagaimana aku bisa menolongku?!" suara Suhita bergetar, bocah itu hampir menangis. Putus asa, apa pun yang dia coba lakukan untuk bisa keluar dari ruang tahanan semuanya gagal dan sia-sia. Suhita harus memberitahu ayahnya mengenai kelemahan dari pasukan mayat hidup.

__ADS_1


__ADS_2