Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pembantaian Keji


__ADS_3

"Hei, apa yang kau pikirkan?! Tabib Hita. Alllaahhh ... dia sudah aman, pulang ke pelukan ibunya."


"Sialan kau! Mengagetkan saja. Pertama, jangan keseringan muncul mendadak di hadapanku. Kedua, baiknya jangan ikut campur urusanku," Raka Jaya yang sedang duduk seorang diri dikejutkan oleh kemunculan Aji Selenteng alias Ateng.


Ateng nyengir kuda. Tubuhnya yang basah oleh keringat dibiarkan telan*jang dada. Tanpa ragu-ragu, Ateng duduk dan mengambil buah jeruk di samping Raja Jaya.


"Tabib Hita, ya. Emmm, kau suka padanya?" Ateng kembali bertanya.


"Sekali lagi kau katakan itu, maka gigimu akan terlepas," Raka Jaya melotot. "Apa kau inginkan aku mati andai saja ibuku mendengar semuanya. Awas saja kau!"


Ateng mengangkat kedua tangannya memohon ampunan. Buah jeruk yang sudah dikupas, langsung saja dia telan. Mana mungkin dia berani mengadu pada Dewi Api, bisa-bisa bukan hanya Raka Jaya, bahkan dirinya pun akan kehilangan kesempatan untuk bernapas.


"Hahaha! Mengapa diam, takut ya?" Raka Jaya mengangkat sebelah alisnya, mengejek Ateng yang nampak sedang memikirkan sesuatu.


Raka Jaya mengatakan jika dia sedang memikirkan tentang kompetisi. Meskipun pikirannya tidak sedang di sana. "Aku merasa, jika di dalam kekuatan yang kita bawa tidak semuanya bekerja untuk kepentingan padepokan."


"Ah, kau takut apa. Yang penting, kau bisa menjadi yang terkuat. Maka, mau tidak mau mereka harus mengakui. Kaulah yang terbaik, jangan ragu."


"Dasar kau, orang aneh. Bisa tidak, untuk kali ini kau jangan banyak mulut?!" Raka Jaya melirik Ateng dengan kesal.


Ateng hanya tersenyum tipis. Memang, bicara jujur dan apa adanya akan selalu menarik pandangan negatif. Sebaliknya, bicara seolah mulia hanya menjadikan hidup penuh sandiwara. Memang sulit untuk membuat terlihat baik di mata orang lain.


Dua hari lagi, mereka akan tiba di Padepokan Giling Wesi. Kompetisi pencarian bibit muda akan segera berlangsung. Raka Jaya dan beberapa anak yang mewakili Padepokan Api Suci akan berlaga dalam kompetisi itu.


Biasanya, mulai malam nanti akan bermunculan serangan yang menuju pada calon peserta kompetisi. Terutama pada mereka yang dinilai memiliki potensi untuk menang.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan mereka para guru yang menginginkan anak didik mereka tercatat dalam sejarah. Dengan berbagai cara, mereka akan berusaha untuk bisa mewujudkan impian mereka. Salah satunya ialah dengan gunakan cara kotor.

__ADS_1


Cara paling kotor yang sudah menjadi kebiasaan ialah dengan mengirimkan pasukan khusus atau terkadang menyewa pembunuh profesional untuk lenyapkan anak-anak yang miliki potensi bagus. 


Secara otomatis, kemungkinan juara akan berubah jika anak berbakat yang merupakan calon juara dihabisi sebelum tiba di lokasi pertandingan.


Tiga hari sebelum tiba, dua hari, bahkan ada juga yang dihabisi di dalam penginapan tempat beristirahat ketika kompetisi mulai berlangsung.


"Mereka akan lakukan apa pun demi untuk menang. Kau harus hati-hati, atau kepalamu tidak menemani saat kau tiba di hari kompetisi," pesan Ateng.


Raka Jaya mengangguk, "Kau juga. Terlalu banyak orang yang tidak menyukaimu. Berdoalah sebelum kau tidur."


Ateng melambaikan tangan sebagai jawaban sekaligus kata pamit untuk kembali ke kamarnya.


Raka Jaya menghela napas, dia tidak banyak bereaksi dan membiarkan Ateng pergi meninggalkan dirinya tanpa ikut bergerak menuju kamar.


Menenangkan diri, Raka Jaya lakukan cara unik untuk hilangkan beban dan tekanan di dalam benaknya, dengan bersantai beberapa waktu.


Sebagai anak seorang yang diutamakan, pastinya Raka Jaya mendapatkan kesan tersendiri dari teman-temannya. Sudah barang tentu pandangan miring yang kerap dia dapat.


"Jika saja, aku tidak mendapatkan perhatian khusus dari kakek dan ibu, mungkin aku tidak sampai pada kondisi seperti sekarang. Huuuhhh ... semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan pada ibu," Raka Jaya mengingat wajah ibunya yang seolah tanpa lelah terus membimbing Raka hingga saat sekarang. Meskipun Dewi Api terkesan cerewet dan kasar, akan tetapi dia tetaplah seorang ibu yang bertanggung jawab atas putranya.


Krusukk! Krusukk!


Telinga Raka Jaya menangkap beberapa gerakan mencurigakan dari arah belakang penginapan. Dia segera bangkit dan melangkah menuju beranda samping penginapan.


Dari lantai tiga tempatnya bermalam, Raka Jaya bisa dengan leluasa mengamati pergerakan orang-orang di bawah sana. Dia menemukan beberapa kelebat bayangan hitam yang bergerak mendekati penginapan.


"Ah, mereka tidak ke sini. Siapa mereka?!" Raka Jaya mengernyitkan dahi. Dia memutar tubuhnya 180° dan menemukan ada penginapan lain yang berada di seberang jalan.

__ADS_1


Ada orang lain yang mereka cari. Pasti di penginapan itu merupakan tempat menginap peserta kompetisi dari tempat lain. "Jadi benar, selalu ada kecurangan setiap kali kompetisi berlangsung."


Raka Jaya meraih pedang pusaka pemberian ibunya. Dia tidak bisa tinggal diam. Ya, meskipun besar kemungkinan dia juga merupakan target, akan tetapi sebagai pendekar aliran putih tentu Raka Jaya tidak bisa berpangku tangan.


Sebentar kemudian, bocah itu sudah berada di jalan raya. Dia mengikuti langkah orang-orang berseragam hitam dari jarak yang aman.


"Harusnya, mereka tidak lewat jalan ini. Tidak mungkin mereka menyerang dengan terang-terangan," Raja Jaya kemudian menghentikan langkahnya.


Logikanya menolak. Tidak mungkin para pembunuh bayaran itu akan menunjukkan diri di tempat umum. Sama saja mereka sedang bercanda dengan maut.


"Aku yang terlalu termakan rasa ketakutanku sendiri. Ini tidak mungkin," Raka Jaya menghela napas panjang. Menekan berbagai gejolak di dalam hatinya dengan berbagai cara pandang yang positif.


Sambil mencangking beberapa bungkus makanan, Raka Jaya kembali ke penginapan tempatnya menginap. Ya, kejadian barusan merupakan pelajaran tersendiri agar Raka Jaya tidak perlu berburuk sangka, apa lagi pada orang yang tidak dikenal.


Karena besok mereka harus melanjutkan perjalanan, Raka Jaya bergegas untuk istirahat. Melupakan segala kejadian yang dia alami, dan fokus pada persiapan untuk kompetisi kelak.


°°°


Ada yang berbeda dengan sarapan pagi hari itu. Biasanya, Raka Jaya dan teman-temannya setelah makan langsung bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tapi, berita besar yang mengguncang membuat mereka harus menyisihkan waktu untuk sekadar melihat kejadian sesungguhnya.


Di penginapan Istana Bulan, telah terjadi pembantaian besar-besaran. Satu padepokan di habisi dalam satu malam. Anak-anak yang bakal ikut kompetisi, beserta seluruh pendampingnya. Semuanya dibantai tak bersisa. Sangat keji dan tidak berprikemanusiaan.


"AHH?! Apakah mereka yang aku lihat tadi malam, mungkinkah?!" Raka Jaya tersedak ludah.


Ya, penginapan yang dituju oleh orang-orang dengan seragam hitam yang Raka Jaya ikuti memang penginapan Istana Bulan. Dari kacamata Raja Jaya, sudah pasti mereka adalah pelakunya.


"Ah, jika saja tadi malam aku tidak kembali, setidaknya aku bisa melihat secara langsung. Atau minta bantuan untuk membantu mereka yang tewas. Dasar bodoh!" Raka Jaya memaki dirinya sendiri. Dia begitu menyesal.

__ADS_1


Sekarang, apa yang bisa dia lakukan? Menonton jenasah yang bermandikan darah itu? Atau pura-pura tidak tahu dan meneruskan perjalanan, mengikuti kompetisi dan mengambil keuntungan atas berkurangnya pesaing.


"Aku harus cari tahu, siapa orang-orang berpakaian serba hitam itu."


__ADS_2