
Tanpa hambatan, Mahesa berhasil menyelesaikan rencana tahap awal. Bahkan, peta lokasi sudah dia gambarkan. Ya, sambil menunggu malam tiba Mahesa menghabiskan waktu dengan menyaksikan pertandingan gulat yang dilakukan para anggota Kelompok Jubah Hitam. Rutinitas tersebut selalu dilakukan setiap hari sebagai cara untuk melatih kekuatan fisik mereka.
Tanpa disadari oleh para pendekar di sana, sebenarnya Mahesa tidak hanya untuk memata-matai semata, tapi juga mampu mengukur kisaran kekuatan yang ada. Dengan tingkat olah kanuragan yang rata-rata para anggota jubah hitam miliki, Mahesa yakin jika akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa menumpas mereka sampai ke akarnya.
"Kau tidak mencoba peruntungan? Siapa tahu kau berkesempatan untuk tidur dengan mawar merah," tanya seorang pada Mahesa.
"Jika sekadar berkhayal, tentu semua orang juga bisa. Aku selalu mengukur kemampuanku sebelum bertindak. Kau yang miliki tenaga dalam lebih tinggi dariku saja masih duduk manis di sini. Apa kau inginkan aku tidak tidur semalaman karena engsel kakiku terlepas?" Mahesa mengelak. Tentu saja, jika Mahesa turun gelanggang maka kemampuan asing yang dia miliki akan tercium oleh para petinggi di sana.
"Hahaha! Ya, sudah. Kita tunggu aksi Bos Geledek. Kabarnya dia telah kuasai jurus baru," pendekar yang Mahesa ajak bicara malah tertawa, tak bergeming dari tempat duduknya.
"Hah, benarkah?! Apa posisi ketua Surya Petir akan terancam?" seorang anggota lain ikut berkomentar.
"Tentu saja tidak. Mereka itu saudara, mana mungkin berebut lubang yang sama. Ya paling tidak, 'kan bisa gantian. Hahaha!" tawa tertahan, terdengar sayup dari mulut-mulut mereka. Tentu saja, mengejek orang nomor satu dan dua di kelompok mereka. Suatu kesalahan besar.
Siapa tadi?! Rasa-rasanya Mahesa pernah dengar nama kedua orang yang merupakan pimpinan Kelompok Jubah Hitam itu. Tapi di mana, ya?
Sialnya, wajah mereka semuanya tertutup oleh cadar hitam. Mahesa hanya bisa mengukur kemampuan tenaga dalam yang mereka miliki, tidak bisa mengetahui secara pasti siapa orangnya, dari mana asalnya, serta kemampuan macam apa yang dikuasai. Kali ini, Mahesa harus lebih hati-hati dalam bertindak. Bagaimana pun kuatnya dia, Mahesa hanyalah seorang diri. Tidak mungkin bisa kalahkan semua orang, apa lagi ditambah dengan asal-usul mereka yang tidak diketahui dari mana berasal. Mereka pasti punya guru yang tentunya miliki kemampuan unik yang tidak bisa diabaikan.
Kunci mujarab satu-satunya ialah bersabar. Pelan-pelan pasti semuanya akan terkuak. Baiklah, kalau begitu Mahesa ambil kesempatan itu untuk memeriksa keadaan di dalam Lubang Kaca Mata. Biarkan para hulubalang bertarung. Sejenak, mereka melupakan keamanan markas.
Mahesa memastikan jika tidak ada orang yang mengikuti langkahnya. Mahesa menuju ruang tahanan. Barangkali ada orang yang disekap di dalamnya.
__ADS_1
"Hei, mau kemana kau?!" Di persimpangan lorong, Mahesa kepergok oleh seorang penjaga yang baru kembali dari ruang pusaka. Dia bukan orang sembarangan, Mahesa tidak bisa gegabah.
"Kepa*rat! Mengapa diam saja, kau pasti seorang penyusup!" pria itu membentak.
Mahesa diam saja, pura-pura takut. Sementara matanya melirik kiri dan kanan, memastikan jika tidak ada orang lain di sana. Saat dirasa aman, Mahesa memutar kepalan tangannya. Langsung menyerang orang dihadapannya.
"Sial!" pria itu sama sekali tidak menduga akan mendapatkan serangan yang sangat mendadak. Awalnya dia percaya pada sandiwara yang Mahesa mainkan dengan berpura-pura takut.
Jangan sampai kehilangan banyak waktu, Mahesa harus melakukan semuanya dengan cepat dan rapi. Jika tidak dia akan mendapatkan masalah besar.
Tidak seperti penjaga kebanyakan, kali ini Mahesa menemukan lawan yang cukup alot. Beberapa serangan yang Mahesa lepaskan belum berhasil bersarang dengan telak.
"Sialan! Tidak ada pilihan lain," sejak awal Mahesa tidak berniat untuk gunakan tenaga dalam Tapak Naga, Mahesa takut jika sisa energi yang dilepaskan bisa terendus dengan cepat oleh para pendekar di sana. Apa lagi, itu merupakan jalan utama.
Melihat lawannya sudah siap dengan pukulan tenaga dalam tingkat tinggi, Mahesa semakin membuang niatnya untuk menyambut serangan itu dengan tenaga dalam juga. Dia tidak bisa biarkan terjadi benturan yang keras di dalam gua. Terlebih, di mulut gua sedang berkumpul seluruh anggota Kelompok Jubah Hitam.
CRAASSHH !!!
Kali ini, dengan sekali serang Mahesa berhasil membungkam perlawanan lawannya. Pendekar itu terbelalak lebar menyadari sebilah pedang telah menembus dadanya.
Tidak jelas eksepsi apa yang ditunjukkan di wajah pendekar tersebut, yang terlihat hanya matanya melotot dengan lebar. Beberapa dia kali memandangi bilah pedang yang menghisap darahnya, terakhir mata pendekar itu menatap mata Mahesa dengan penuh rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Kau ... kau, pasti Pendekar Elang yang banyak dibicarakan orang. Aku ... aakkk," tidak semua unek-unek di dalam hatinya bisa dikatakan. Orang itu keburu kehilangan kesempatan untuk hidup. Napas terakhirnya telah melewati tenggorokan.
Mahesa kembali menyimpan Pedang Rembulan. Jasad pria bercadar yang tergeletak tidak bernyawa itu telah terbungkus kristal es. Perlahan, mencair dan meresap ke lantai gua. Angin yang Mahesa ciptakan, berhembus menggiring debu untuk menutupi permukaan lantai yang menjadi basah.
Mahesa melanjutkan langkahnya.
Di pintu ruang tahanan, ada enam orang yang berjaga. Mereka semua menatap ke arah Mahesa yang terus berjalan mendekat. Tanpa curiga jika sebenarnya, di belakang punggung Mahesa telah berterbangan tombak-tombak dari kristal es yang amat tajam. Belum sempat para penjaga mengajukan pertanyaan atas maksud kedatangan Mahesa. Mahesa telah lebih dulu melakukan gerakan mengejutkan.
"Hiiyaaatttt !!!" Mahesa membungkuk, dengan kedua tangan yang direntangkan lebar.
Pada saat yang bersamaan, puluhan tombak es meluncur dengan deras. Melibas keenam penjaga yang tidak sempat menghunus senjata mereka.
Braaakkk! Braaakkk! Tubuh para penjaga ruang tahanan terdorong keras dan menabrak dinding. Ada juga dari mereka yang tubuhnya sampai tertancap di atas dinding.
Sangat berisik! Akibat serangan itu, sampai membuat dinding jadi bergetar. Membangunkan para tahanan yang sedang tertidur di dalam sel.
Mengapa Mahesa nekad gunakan kekuatan besar di dalam sana? Tentu saja karena alasannya tempat itu letaknya paling terpencil. Meskipun berteriak dengan keras, tidak mungkin akan ada orang yang bisa mendengar. Seperti biasa, jasad para penjaga itu lenyap dari pandangan dan hanya menyisakan suasana lembab akibat sisa air es yang diserap oleh hamparan debu bercampur pasir.
"Sialan! Kunci penjaranya ikut cair!" Mahesa menghela napas. Terpaksa dia harus kembali gunakan tenaga dalam untuk menghancurkan gembok.
Wow. Ternyata penjara itu begitu sesak. Ada banyak orang-orang yang bermalam di bawah gunung batu tersebut. Sebagian besar mereka adalah anak saudagar dan orang terpandang. Sepertinya mereka dihargakan dan akan ditukar dengan kepeng emas dan perak. Juga tidak sedikit para wanita yang menggigil ketakutan saat melihat kedatangan Mahesa.
__ADS_1