
"Tabib, apa tidak sebaiknya saya pergi mengamati situasi? Rasanya ada yang tidak beres di luar sana," Kencana Sari hendak pergi ke luar, tapi Suhita melarangnya. Lagi pula, tidak ada niatan sedikit pun bagi mereka untuk mencari masalah.
"Yang aku lihat, hanyalah kehadiran para pengintai. Aku rasa mereka sedang mencari waktu yang tepat, tapi sayangnya seperti menjangkau matahari," ujar Cakra.
Karena beberapa waktu terakhir Suhita ikut campur tangan dalam hal pengumpulan sumberdaya, makanya dia peroleh masalah seperti sekarang. Baik Suhita maupun pelayan kepercayaannya sama-sama mengkonsumsi sumberdaya untuk meningkatkan level tenaga dalam mereka, hingga dalam waktu cepat bisa meningkat berkali lipat.
Dengan mengikuti tren seperti itu, membuat Suhita ikut terlibat dalam urusan dunia persilatan (bukan lagi dunia tabib dan juru sembuh) makanya dari para pendekar itu tidak lagi sungkan untuk melakukan serangan. Dan sepertinya Suhita harus kembali pada kebiasaan sebelumnya, tidak secara khusus turut serta mendapatkan sumberdaya. Paling tidak supaya dia bisa meminimalisir resiko dalam setiap perjalanan. Sebagai Tabib Dewa, Hita tidak memiliki musuh.
"Mengapa harus takut, lagi pula jika sumberdaya itu berjodoh denganmu tidak dicari pun maka ia akan datang dengan sendirinya. Hita, sekali lagi aku tekankan, jangan terlalu memikirkan hidup orang lain. Biarkan mereka mengurus hidup mereka, dan kau berjalan dalam kehidupanmu. Terkadang berprilaku masa bodoh akan membuat hidup kita lebih tenang. Percayalah!"
Danur Cakra sangat tidak setuju pada prinsip Suhita yang dia anggap terlalu cengeng. Bukan waktunya seekor paus untuk menunjukkan betapa gagahnya ia saat di padang pasir, bukan pula dikarenakan banyak yang berkurang atas kualitas sang paus, melainkan ia hanya salah tempat. Dalam hidup yang terpenting ialah kualitas hidup kita, persetan orang menyimpan rasa tidak suka, paling-paling mereka akan bosan sendiri. Setiap orang yang terlalu pusing pada urusan orang lain hanyalah mereka yang membuang waktu dengan percuma. Hasilnya, tentu saja nol besar, kecuali penyakit hati.
"Pendekar Cakra benar. Dan bukan pula dikarenakan aku merupakan orang yang diuntungkan, tentunya kau bisa mencernanya dengan baik. Ada kalanya tangan harus terbuka, lemah lembut. Tapi bila tebing yang terjal di depan mata, haruslah tangan kita menjadi kuat untuk menopang badan," Kencana Sari mendukung prinsip Danur Cakra.
"Ya, ya, baiklah, aku sangat mengerti. Hanya saja aku butuh banyak bimbingan kalian sebagai guru," jawab Suhita dengan senyum.
"Mengajari monyet memanjat pohon, aku rasa kau sudah licik sedari kecil. Sudahlah, aku muak mendengar basa-basimu!" Danur Cakra menonjol kening Suhita dengan jari telunjuknya, membuat kepala Suhita terdorong ke belakang.
Ada banyak kesamaan perilaku dan kebiasaan yang Hita dan Cakra lakukan. Secara tidak sadar, itu menunjukkan bila mereka berasal dari satu tempat, genetik yang sama. Dan tentu saja jika diperhatikan secara mendalam, terlepas dari wajah mereka yang sama-sama menawan, garis wajah mereka pula hampir mirip. Sebagai orang terdekat, Kencana Sari tentu sadar.
Semakin lama, mata Kencana Sari semakin terbuka bila dugaan yang ia sangkakan selama ini memang salah. Dulu Kencana Sari mengira jika sikap manja, kekanakan yang Suhita tunjukkan, merupakan cerminan perasaan sebagai pria dan wanita dewasa. Ya, Kencana Sari dan bahkan pelayan Suhita yang lain beranggapan kalau Cakra adalah kekasih Suhita. Hingga mereka mengutuk kedekatan Cakra dan Kemuning.
"Apa aku tidak salah? Apa mungkin, mereka memiliki hubungan keluarga? Ah, semoga saja dugaanku salah besar. Ini sangatlah mustahil!" batin Kencana Sari.
"Kak, apa tidak sebaiknya kita pergi dari penginapan ini? Hita tidak ingin timbul korban dari mereka yang tidak tahu apa-apa, terlalu egois jika kita harus mengganggu istirahat tamu penginapan yang lain, kasihan mereka."
"Jangan terlalu melebih-lebihkan sesuatu. Rasa takut hanya membuat pikiranmu kacau. Lagi pula tidak ada alasannya untuk jadi gentar, bahkan kau miliki kemampuan tenaga dalam yang berada di atasku. Apa yang kau pikirkan? Ada-ada saja," Danur Cakra menggeleng tidak habis pikir.
"Jangan kalian terlalu banyak berfikir, hal seperti ini serahkan pada ahlinya. Sudah cukup kalian pikirkan obat-obatan yang mujarab saja. Serahkan semuanya padaku!" Danur Cakra bangkit, seraya berlalu dia mencubit lembut dagu Suhita.
Beberapa saat lamanya suasana kembali sunyi. Kencana Sari tidak berani lebih dahulu membuka suara sebelum Suhita mendahului.
Nampaknya Suhita cepat tanggap, dia melihat Kencana Sari sedang memikirkan sesuatu tapi tidak berani memulai bicara, "Sari, kau ada saran atau sesuatu yang menindih benakmu?"
__ADS_1
Kencana Sari tersenyum, sampai salah tingkah dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja hal tersebut membuat Suhita mengerutkan dahi, tidak biasanya Kencana Sari begitu.
"Emmm ... Tabib, maaf. Akan tetapi justru yang aku pikirkan merupakan sesuatu yang berbeda. Ya, aku tahu jika terlalu banyak mata dan telinga yang mendengar, bukan saatnya untuk kita bicara panjang lebar. Tapi aku hanya ingin menegaskan untuk Tabib tidak begitu risau, tiada hal apa pun yang aku takutkan. Ini ... masalah yang berbeda," ujar Kencana Sari.
"Ooohh ... ya, baiklah. Dan aku senang mendengarnya, dengan kita mampu berpikir jernih niscaya tindakan kita akan selalu terkontrol."
Kencana Sari mengangguk. Dia paham, dari cara Suhita bersikap, sudah jelas kalau Suhita telah bisa menebak akan hal apa yang hendak dibicarakan oleh Kencana Sari. Berkaitan dengan Danur Cakra, memang perihal pemuda itu tidak habisnya bahan untuk dibahas. Walaupun kenyataannya dia tidak seperti yang terlihat.
°°°
Mencari sosok dengan kekuatan terlemah, mungkin merupakan tindakan terbaik yang bisa diterapkan dalam pertarungan. Akan tetapi jika pertarungan itu belum berlangsung tentu merupakan kebalikan, kekuatan terkuat yang harus cepat ditemukan. Apa yang bisa dilakukan ular jika tanpa kepala?
Tanpa suara, Danur Cakra sudah berada jauh di luar penginapan. Matanya tajam menatap ke segenap penjuru, menggunakan kemampuan deteksi tahap tinggi untuk menentukan keberadaan pendekar yang miliki kekuatan besar.
Sesungguhnya tangan Danur Cakra sudah gatal, ingin rasanya dia mencabik-cabik tubuh para pendekar yang menyelinap tersebut. Akan tetapi, berkat Cakra masih memikirkan Tabib Dewa yang ada di penginapan, membuat dia harus menahan gelora nafsu membunuhnya. Biarlah sosok Cakra terlihat datang dan membuat kekacauan, tanpa ada mata yang curiga jika sesungguhnya memiliki hubungan dekat dengan Tabib Dewa. Cakra tidak ingin nama besar Tabib Dewa tercoreng karena dirinya, karena perbuatannya.
Ahli nujum itu, di mana keberadaannya? Sudah cukup puas Cakra mencari tapi belum juga membuahkan hasil. Secara teori, pasti Balur Saga datang pula ke tempat itu untuk mengarahkan para pendekar dari padepokan Denda Gusta supaya bisa mendapatkan sumberdaya dengan tepat.
Atau malah sebaliknya, justru Danur Cakra yang telah berada dalam pengawasan Balur Saga. Tidak buruk, tapi itu bukanlah kebiasaan Pendekar Naga Kresna. Dia adalah pemeran utama, bukan sekadar pelengkap dalam permainan. Karena cepat atau lambat pastinya Cakra akan berhadapan dengan Balur Saga.
"Hahahaha! Ternyata kita kedatangan tamu agung. Cepat siapkan sambutan yang meriah!" ucap Balur Saga pada beberapa pendekar bawahannya.
Tanpa mengendurkan tawanya, Balur Saga bangkit dari tempat duduk, sementara waktu meninggalkan kobokan berisi air bunga tempat dia merapal mantra nujum. Di sudut ruangan Balur Saga mengambil sebilah keris pusaka miliknya, keris yang diletakkan pada tempat khusus yang tidak hentinya dihembus oleh asap kemenyan. Saat meraih keris tersebut, barulah Balur Saga berhenti tertawa. Mulutnya komat-kamit membaca mantra, mencium warangka keris sebanyak tiga kali, barulah kemudian Balur Saga menyelipkan keris pusaka tersebut di pinggangnya.
Balur Saga bisa merasakan adanya aura kental dari satu kekuatan yang begitu besar datang menghampiri pondok tempat mereka berada. Meskipun tidak begitu mengetahui secara pasti, karena Balur Saga tidak mampu menembus kemampuan untuk melihat wajah orang yang datang, akan tetapi bisa ditebak jika sosok tersebut merupakan bagian dari kemeriahan perburuan sumberdaya kali ini. Tentu saja saingan, karena mereka semua bersaing tanpa miliki rekan.
Glutuk! Glutuk! Glutuk! Terdengar suara gemerutuk dari arah kobokan tanah yang berisi air bunga. Air dalam kobokan tersebut mendidih seperti ditaruh di atas tungku dengan api menyala.
Dengan cepat Balur Saga mendekat, lalu duduk bersila di depan kobokan. Mulutnya komat-kamit membaca mantra yang amat panjang. Sementara air di dalam kobokan semakin bergejolak dan meninggi, hingga Balur Saga menyelesaikan mantra. Setelah selesai membaca mantra, Balur Saga menaburkan bunga melati putih ke dalam kobokan.
Pluuunngggg !!! Bersamaan dengan bunga melati yang menembus dasar kobokan, air yang semula bergolak kembali tenang seperti sedia kala. Bahkan warna air berubah menjadi pancaran cahaya putih berkilau.
"Hehehe! Hehehe!" tawa cekikikan seorang wanita tua mengiringi munculnya satu wajah di dalam kobokan.
__ADS_1
"Sialan! Nenek peot, apa maumu?!" dengan wajah kesal Balur Saga memaki.
"Kepa*rat! Jangan cuma banyak mulut, cepat bantu aku untuk keluar!" balas nenek tua berambut putih dari dalam kobokan.
Balur Saga mendengkus kesal, nampak jika dia tidak sudi memenuhi permintaan nenek tua, Balur Saga justru memalingkan wajahnya.
"Fuuiiihhh! Anjing kurap! Kutu busuk! Beraninya kau mengabaikan aku! Akan ku kutuk kau jadi seekor katak!" nenek tua tersebut memaki, marah bukan main, diperlakukan tidak sopan oleh Balur Saga.
"Heh, belatung tungau! Jika kau punya mulut maka bicaralah, jangan hanya pandai memaki. Aku bisa mendengar, tapi aku muak melihat rupamu yang mirip muntah kucing!"
"Kutu busuk! Kau ... kau pasti akan menyesal! Aku hanya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya, karena setelah ini mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi!" dengan murka, bayangan wajah nenek tua di dalam kobokan sihir milik Balur Saga bicara penuh emosi.
Bukannya mendengar, justru Balur Saga membalas dengan kemarahan pula. Dia meludahi air di dalam kobokan, dengan kata lain dia meludahi wajah nenek tua yang tercermin gambarnya di sana.
Perkataan nenek tua itu, sama seja dengan menyumpahi Balur Saga. Menyampaikan kabar kematian bukanlah hal yang dibenarkan. Sebagai sesama ahli nujum, tentunya mereka saling paham. Pertemuan terakhir, memangnya siapa yang akan meninggal? Balur Saga tidak terima jika itu diarahkan pada dirinya.
"Anjing kurap! Kutu busuk! Mau mati masih tidak tahu adab! Balur Saga, lihatlah! Aku pasti menyaksikan jasad bungkukmu yang tidak dilengkapi nyawa!" meskipun hubungan komunikasi telah diputuskan, tapi si nenek tua tidak henti-hentinya ngedumel.
Memang, perlakuan Balur Saga kali ini sudah melebihi batas. Walaupun marah dengan segenap kemarahan di hati, tidak semestinya sampai meludahi lawan bicara. Lebih baik dipukul, daripada diludahi. Jangankan seorang pendekar, bahkan anak kecil pun demikian. Hanya orang tidak bermartabat yang akan melakukan perbuatan demikian.
Nenek tua yang baru saja menghubungi Balur Saga menggunakan komunikasi tenaga dalam bernama Nyi Bonggol. Ia merupakan saudara tertua dari perguruan Kaca Benggala yang hanya miliki lima orang murid. Sementara dua orang lainnya sudah tiada, mereka celaka dengan cerita masing-masing. Ya, tentunya sudah lama. Bahkan sebelum Cakra dan Suhita ada di dunia. Karena mereka tewas di ujung Pedang Rembulan kala Mahesa masih mengembara. Termasuk maha guru Kaca Benggala, pula celaka di tangan Mahesa.
Nyi Bonggol menumpahkan rasa kesalnya dengan melepaskan satu pukulan menghantam tumpukan batu gunung, membuat batu keras tersebut hancur menjadi abu, tidak tersisa.
"Mungkin, si kepa*rat Balur Saga ingin mati di tanganku. Beraninya dia menginjak ubun-ubun, dasar tidak tahu diri!"
Napas Nyi Bonggol sampai naik turun. Diludahi merupakan satu-satunya hal yang belum pernah dia rasakan. Tapi kali ini, dia mengerti bagaimana rasanya hati yang tercabik-cabik.
Beberapa waktu, Nyi Bonggol mulai sedikit tenang. Dia termenung, mencoba berpikir menggunakan akal pikiran. Apa mungkin, karena dia memberi tahu akan kematian yang akan menghampiri hingga membuat adik seperguruannya, Balur Saga begitu marah? Harusnya Balur Saga berucap terima kasih, dengan demikian dia bisa lebih berhati-hati.
Sebagai ahli nujum yang memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan, mereka dibekali kemampuan yang berbeda dari kebanyakan manusia. Namun sayangnya dari seluruh pemilik ilmu, tidak seorang pun yang bisa meramalkan bagaimana jalan hidup diri mereka sendiri. Mereka bisa melihat kehidupan orang lain tapi tidak untuk diri mereka. Ya, ilmu itu sangat tidak adil.
Harusnya hal tersebut bukanlah untuk dirisaukan. Bukankah ada pemilik ilmu lainnya yang bisa memberi tahu? Misal, Balur Saga bisa meminta tolong Nyi Bonggol untuk membaca hari esoknya, begitu juga sebaliknya. Tapi tentu saja sebagai pantangan ilmu, yakni mereka tidak akan pernah bisa percaya pada hal tersebut. Buktinya, emosi Balur Saga menjadi sangat tidak terkontrol ketika Nyi Bonggol mengatakan perihal hari apesnya.
__ADS_1
"Sialan! Mengapa aku hanya diam berpangku tangan? Balur Saga dalam bahaya!" Nyi Bonggol tersadar, menepuk keningnya yang dipenuhi kerutan.
Tidak menunggu lagi, Nyi Bonggol segera bangkit. Seraya berjalan keluar pondok dia merapalkan mantra pemanggil hujan. Ya, karena tunggangan Nyi Bonggol ialah siluman ular yang membutuhkan air untuk melaju dengan cepat.