Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Raja Iblis dari Lereng Utara


__ADS_3

Raja Iblis dari Lereng Utara. Nama itu mungkin asing bagi sebagian orang. Namun bagi para pendekar yang saat ini mulai berada pada bilangan usia yang di atas kepala empat, maka nama Raja Iblis dari Lereng Utara merupakan satu nama yang mampu menggetarkan hati meski hanya sekadar disebutkan.


Satu angkatan sebelum Aliansi Utara Selatan bangkit sebagai kelompok aliran sesat paling disegani, sebelum terjadi perang besar di Lembah Perangkap Kelinci (yang bahkan pada saat itu Padepokan Rajawali masih merupakan Padepokan nomor satu) nama Raja Iblis dari Lereng Utara masih menempati urutan penjahat paling menakutkan di dunia persilatan.


Dalam perang besar yang terjadi kala itu, Raja Iblis tidak turut ambil bagian (karena beberapa tahun sebelum itu Raja Iblis mulai jarang terdengar akan kabarnya). Kelompok aliran sesat Utara dan juga Selatan hampir rata-rata dikalahkan. Terkecuali mereka yang tidak ikut perang, termasuk Raja Iblis di dalamnya.


Tahun-tahun berlalu dengan damai, bersama dengan mulai tercipta perdamaian antara Utara dan Selatan, dunia persilatan pun semakin berkembang, baik tokoh aliran putih yang saling bersatu juga tidak luput hubungan tersembunyi antar tokoh aliran sesat. Sampai kemudian Aliansi Utara Selatan melakukan gerakan bawah tanah yang membangun kekuatan di Gunung Songgo Langit (perbatasan Utara dan Selatan) dengan Dewi Cahaya Langit yang menjadi pimpinan besar di bantu empat penjahat yang mana seorang dari mereka menjadi pimpinan Aliansi Utara Selatan saat ini (Bulan Jingga - si gadis pembaca pikiran). *seluruh cerita telah tersaji di Pendekar Elang Putih ss 1. Hanya sedikit kilas balik yang menegaskan bahwa Raja Iblis dari Lereng Utara merupakan tokoh aliran sesat legendaris, yang ada sejak puluhan tahun yang lalu.


Baik. Kembali pada Raja Iblis dari Lereng Utara.


Dengan mengetahui bagaimana panjangnya kisah yang dimiliki oleh Raja Iblis, juga menegaskan bagaimana keadaannya sekarang. Bisa ditebak jika dia tidak mungkin memiliki urusan dengan anak-anaknya Mahesa. Karena paling akhir, Raja Iblis bentrok dengan Padepokan Rajawali dan kelompok aliran putih kala itu Mahesa baru muncul sebagai seorang pendekar yang baru menetas. Sampai kemudian Mahesa menjadi pendekar ternama dan pro kontra dirinya yang merupakan pendekar utara dari selatan. Saat itu, fitnah merajalela akibat begitu naifnya cara pandang para pendekar aliran putih.


Raja Iblis dari Lereng Utara duduk di singgasana seraya menikmati anggur yang disuapkan oleh para pelayan. Rambutnya sudah tidak lagi menyisakan warna lain kecuali warna putih. Begitu pula dengan kerutan yang telah memenuhi seluruh bagian wajahnya. Tidak ada yang bisa untuk menolak menjadi tua.


"Muning Raib! Kau sudah bisa miliki sesuatu yang bisa aku dengar?" tanya Raja Iblis dengan suaranya yang serak.


Tangan kanan Raja Iblis bergegas memasuki ruangan. Dia menjatuhkan lutut dan menghaturkan sembah berulang kali. Muning Raib namanya, usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan Raja Iblis.


Tidak menyerupai istana yang megah. Hanyalah sebuah bangunan besar yang tidak lagi terawat. Di sanalah tempat Raja Iblis berada. Dan bukan pula Raja dengan mahkota seperti yang dibayangkan. Raja Iblis dari Lereng Utara, hanyalah sebutan untuk seorang pendekar jahat yang mendirikan kelompok pertamanya di Lereng Utara. Dia bukanlah seorang raja darah biru, melainkan seorang pimpinan gerombolan penjahat.


Raja Iblis tidak lagi memiliki anak buah yang banyak. Dia juga tidak mengangkat murid, atau membina pendekar muda secara khusus yang disiapkan untuk melanjutkan catatan kejahatan mereka.


Hanya tersisa tidak lebih dari dua puluh orang yang saat ini menghuni bangunan besar di Lereng Utara. Jumlah itu sudah termasuk para pelayan dan juga bekatik kuda. Tidak banyak, bahkan sangat sedikit sekali. Akan tetapi, meskipun tidak mencapai jumlah hitungan jari tangan, tapi kekuatan yang tersimpan di balik tubuh senja mantan para penjahat besar itu akan lebih dari cukup untuk mampu mengobrak-abrik sebuah padepokan besar.


"Dewi Api dari Padepokan Api Suci, dan seorang putranya sedang dalam perjalanan. Mereka akan ditahan oleh sepasang Siluman Kabut. Karena sebelumnya para pembunuh bayaran yang disewa Lodo Meteng sudah berhasil mereka habisi," lapor Muning Raib.


Raja Iblis manggut-manggut. Dia mengetahui bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh Dewi Api. Pendekar nomor satu di utara itu, sangat sukar untuk dicarikan lawan yang sepadan. Namun mengapa mereka mengirim Siluman Kabut, tentu dengan harapan bertumpu pada kemampuan teleportasi yang bakal banyak menghisap energi Dewi Api dalam pertarungan.


"Istri Elang Putih itu hanya berdua dengan anaknya? Lalu, di mana si Elang Putih?" tanya Raja Iblis lagi.


Muning Raib menoleh ke arah pintu. Sesaat kemudian muncul seorang wanita tua bertubuh kurus, di tangannya tergenggam sebuah kipas berwarna merah hati.


Nyi Parang Awi. Salah satu pendekar wanita yang masih tergabung bersama Raja Iblis dan kawan-kawan.


"Oohhh ... Nyi Parang Awi. Selamat datang, selamat berjumpa kembali. Senang rasanya kita berkesempatan untuk masih bertatap di dunia," Raja Iblis bangkit dan menyambut kedatangan sahabatnya.


Sudah cukup lama Nyi Parang Awi tidak berkunjung. Bahkan sempat dikira jika wanita jahat itu sudah berpindah ke dalam tanah. Dengan adanya Nyi Parang Awi, sudah cukup membuat seisi jagat raya menjadi gempar jika secara tiba-tiba mereka menyerang benteng istana saat ini juga.

__ADS_1


"Aku mendengar kabar jika anak murid Bhadrika Djani sudah berkeliaran. Tidak lama lagi, tua bangka bau itu pun pasti akan menunjukkan batang hidungnya. Aku hanya heran, mengapa dia turut andil pula dengan membawa murid."


Raja Iblis dari Lereng Utara tertawa kecil. Dia sampai menggelengkan kepala. Ungkapan Nyi Parang Awi sama saja dengan mempertanyakan alasan seseorang yang harus minum setelah makan.


"Permainan akan semakin menarik. Di sisa umurku, aku sangat merindukan bagaimana suasana malam yang mencekam layaknya saat usia kita masih muda tempo dulu. Saat kelompok aliran sesat menggenggam dunia, mempermainkan para pendekar dungu yang sombong itu dalam kebingungan juga ketakutan."


"Hahaha! Muning Raib, kau memang benar. Nampaknya sisa umurmu itu sudah tidak banyak," Nyi Parang Awi menepuk pundak Muning Raib seraya tertawa terkekeh. Disusul oleh gelak tawa dari mereka semua.


Pertemuan dengan teman lama yang satu frekuensi memang suatu yang sangat mengasikkan, bahkan melebihi nikmatnya hidangan di kedai mevvah. Meski hanya bicara kosong, suasana menjadi lebih hangat dan terasa lebih berarti.


Sambil menunggu kabar, Raja Iblis dan beberapa pendekar di Lereng Utara melakukan sedikitnya persiapan. Mereka berlatih dan mengendorkan otot-otot yang terasa kencang karena menganggur 😂. Terlihat jika mereka sangat serius mengadakan persiapan dalam mengahadapi pertarungan besar yang tidak lama lagi akan terjadi.


Secara tidak langsung, Bhadrika Djani telah memiliki rekan yang berasal dari kelompok lain juga dengan maksud yang berbeda. Tapi terlepas dari itu semua, tujuan mereka tentunya hanyalah satu, yakni untuk memporak-porandakan pesta ulang tahun Raditya. Jika memungkinkan mengambil nyawa dari salah satu keluarga tentu merupakan hadiah yang sangat istimewa.


°°°


Sementara, kabar baik yang dinanti dari pasangan Siluman Kabut belum juga datang. Jangankan untuk memberi kabar, saat ini posisi kedua Siluman Kabut sedang berada di ujung tanduk.


Gelembung Api Kemarahan berhasil mengurung Siluman Kabut di dalam bola api yang berbeda. Kerjasama apik antara Dewi Api dan putranya berhasil menaklukkan kehebatan ilmu teleportasi milik Siluman Kabut. Sebelum mereka menghilang dan berpindah tempat, Gelembung Api Kemarahan telah lebih dulu mengurung mereka.


Memang kemampuan yang dimiliki Siluman Kabut tidak lain ialah kemampuan es yang sangat bertolak belakang dengan panasnya api. Akan tetapi, apalah dayanya bongkahan es yang dikurung dalam lautan api yang amat panas. Tidak ada celah untuk Siluman Kabut mengeluarkan kemampuannya.


Semakin lama, Gelembung Api semakin panas, dan ukurannya pun semakin mengecil seiring dengan Dewi Api yang menambah tekanan tenaga dalamnya.


"Ibu, haruskah kita melakukan ini?" tanya Raka Jaya.


"Ini sangat bertentangan dengan hukum. Akan tetapi, adakah jalan yang kau anggap lebih baik?" Dewi Api balik bertanya.


Raka Jaya menghela napas, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Para penjahat karatan itu tidak bisa dibiarkan terus berkeliaran, semakin hari mereka akan terus menebar kejahatan.


Raka Jaya menghembuskan napasnya dengan kuat. Dia kemudian mengikuti apa yang dilakukan oleh ibunya. Dua anak dan ibu itu segera memusatkan kekuatan tenaga dalam mereka, semakin menekan sepasang Siluman Kabut yang tidak lagi bisa lakukan perlawanan.


Dewi Api melompat tinggi ke udara, tangannya terjulur dengan energi tenaga dalam mengarah pada bola api yang mengurung Siluman Kabut. Sementara Raka Jaya duduk bersemadi, dia mengumpulkan energi pada kedua telapak tangannya yang berpusat di depan dada. Dalam waktu yang bersamaan, Dewi Api dan Raka Jaya melepaskan pukulan tenaga dalam milik mereka.


BAAAMMM !!! Ledakan yang sangat keras menggema di udara, energi panas dari gelombang api yang menyebar membakar habis pepohonan di sekitar area pertarungan. Sungguh, kemampuan yang amat mengerikan.


Bruk! Bruk! Sepasang Siluman Kabut jatuh tersungkur. Sekujur tubuh mereka gosong dengan asap yang masih mengepul di sekujur tubuh. Tidak lagi ada tampang yang menakutkan, yang ada hanyalah dua sosok tidak berdaya memelas belas kasihan. 

__ADS_1


Kemampuan teleportasi tidak bisa selamatkan mereka dari maut. Siluman Kabut yang mencoba untuk kembali berdiri, sama sekali tidak bisa menunjukkan jika tubuh mereka anti senjata. Saat Pedang Inti Api datang, seketika tubuh mereka terbelah lalu kemudian menyala dan menjadi kobaran api. Menutup segala kisah dan sepak terjang mereka di dunia persilatan.


Danur Cakra mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia tidak melihat apa yang terjadi. Lagi pula saat ini dia hanyalah seorang pendekar biasa yang hanya kuasa untuk membela diri sendiri.


"Rasanya, kematian saja tidaklah cukup. Dosa mereka terlalu besar, hanya ditebus oleh selembar nyawa yang tidak berharga!" Dewi Api mengatur napas, menyelaraskan energi di dalam tubuhnya.


"Ibu, kita istirahat saja dulu. Esok hari, barulah melanjutkan perjalanan."


Dewi Api setuju. Energi mereka banyak terkuras setelah bertarung melawan angin. Sebelum berhasil dikurung dalam Gelembung Api Kemarahan, sepasang Siluman Kabut merupakan pendekar yang sangat menyulitkan. Berapa pun tenaga dan kecepatan yang digunakan, sama sekali tidak berguna.


Dewi Api duduk bersemadi, dia mengatur napas dan menyelaraskan energi di dalam tubuhnya. Mengembalikan kebugaran dan mengembalikan tenaga dalamnya, hingga saat esok hari mereka telah kembali dalam kondisi prima.


°°°


Sementara itu, berjarak yang cukup jauh tempat Dewi Api dan Raka Jaya istirahat, ada tiga orang yang duduk di dahan pohon yang basah. Tubuh mereka telah menggigil karena dingin, tapi mereka tetap bertahan dan tidak coba untuk berhanjak barang sedikit pun.


"Kang Barong, mengapa belum juga ada kabar?" bisik seorang dari mereka.


Orang yang dipanggil Barong mengangkat bahu, dia juga sejak tadi menunggu kabar seperti yang ditanyakan oleh rekannya. Tugas mereka ialah menunggu berita, tapi belum ada tanda-tanda kemunculan Siluman Kabut atau juga utusan penghantar kabar yang mereka kirim.


Waktu terus berputar, ketiga orang itu masih tetap pada posisi mereka. Mereka tidak berani bergerak meninggalkan tugas yang sudah diberikan. Takutnya jika harus melakukan kesalahan maka mereka tidak akan bisa mempertanggung jawabkan di hadapan Raja Iblis.


"Huuuhhh ... ini merupakan kesalahan ketua kita. Coba saja kalau kita diizinkan untuk ikut serta Siluman Kabut, paling tidak kita bisa melihat secara langsung!"


"Menurutmu, apakah kau bisa atasi Dewi Api, begitu?" ledek Barong.


Bukan hal yang mudah untuk membuat Dewi Api bertekuk lutut. Sejauh ini, bahkan sejak namanya muncul dan bertambah besar setelah perang antar aliran putih dan sesat, belum ada seorang pendekar pun yang mampu membuatnya celaka. Terlepas dari kuatnya Padepokan Api Suci dan juga kemampuan sang suami yang sangat mumpuni, memang tidak salah jika Dewi Api masuk dalam jajaran pendekar yang ditakuti. Bukan tidak bisa dikalahkan, hanya saja dibutuhkan lebih dari dua pendekar dengan kemampuan setara untuk bisa lakukan itu.


"Begini saja. Seorang dari kita baiknya pergi mencari tahu. Kita tidak bisa sekadar mengandalkan keyakinan. Belum tentu dengan kabar baik yang kita yakini itu," Barong menengahi kebingungan mereka.


Dua rekannya setuju. Serentak jadi telunjuk keduanya terarah pada Barong. Meminta pemilik ide untuk melakukannya langsung.


Seperti diketahui, putra Dewi Api dan Elang Putih yang sekarang menjadi Jenderal Muda di Kerajaan Utara, pula memiliki kemampuan olah kanuragan yang hampir setara dengan ibunya. Bisa dibayangkan jika keduanya bersama, akan sukar dicarikan lawan yang bisa membendung amukan energi api milik mereka.


Barong mendengkus kesal. Dalam hati dia menyesal telah memberikan saran, jika pada akhirnya senjata memakan tuannya sendiri. Setelah sepakat, Barong segera turun dari tempat persembunyiannya. Dia bergerak mengikuti jalan yang semula dilalui oleh Sepasang Siluman Kabut.


"Ah, mengapa perasaanku tidak enak? Jangan-jangan Siluman Kabut sudah dikalahkan. Bukankah sudah aku peringatkan, teknik yang sekarang dilakukan merupakan satu kesalahan besar. Dengan sengaja memecah kekuatan. Membiarkan lawan mencelakai satu demi satu," sambil berjalan Barong menggerutu.

__ADS_1


Ke arah yang semula terjadi getaran akibat tenaga dalam yang beradu merupakan tujuan Barong. Dia belum percaya jika sudah tidak lagi adanya perlawanan dari salah satu pihak. Terbukti jika luapan energi yang terjadi sudah tidak bisa dirasakan. Jangankan suara benturan tenaga dalam, suara pertarungan, atau suara apa pun itu. Malam kembali sepi seperti tidak terjadi apa-apa.


"Gawat! Jangan-jangan Dewi Api sudah menaklukkan Siluman Kabut," mendadak bulu kuduk Barong berdiri kala melihat pepohonan yang hangus terbakar.


__ADS_2