
"Aku tidak bisa terus begini. Aku harus pergi dari kehidupan Hita. Meskipun hati ini berat, tapi ... ya, aku harus berhenti ikut sertakan hati. Aku akan menyambut takdir, tanpa ikut sertakan Suhita di dalamnya," tekad Cakra sudah bulat.
Membangkitkan kekuatan siluman hingga tahap sempurna, serta melatih kemampuan jurus pedang, Cakra yakini akan membuat dirinya menjadi sosok yang tak terkalahkan, hingga dia akan bisa bertindak seperti apa yang dia mau.
Memutus hubungan persaudaraan?! Tidak seperti itu yang Cakra maksud, hanya saja dia akan menjauh dari Suhita sampai tidak lagi telinga Suhita mendengar suara rintih rasa sakit bila mana keluar, juga tidak lagi mata Suhita melihat bagaimana sepak terjang dunia yang akan Cakra tapaki.
Dengan bantuan Tabib Dewa, tentu saja Danur Cakra dengan begitu cepatnya bisa kembali pulih dari luka dalam yang dia derita. Kini dia akan mampu melakoni pertarungan tingkat tinggi, seperti saat semula. Bahkan kekuatannya akan terus bertambah seiring semakin banyak darah lawan yang terhisap.
"Baiknya, kita lanjutkan perjalanan sekarang juga. Persetan dengan mereka! Dan aku yakin, jika belum seorang pun dari mereka yang mengetahui lokasi persis Kakek berada," Danur Cakra bangkit dari semadinya, mengajak Suhita dan Kencana Sari untuk cepat-cepat pergi.
"Aku berharap, saat ini Bibi Dewi bersama Raka Jaya sudah menyeberangi sungai. Jika mereka terus bergerak, pastinya mereka akan tiba lebih cepat," ucap Suhita seraya menghembuskan napas lega.
Danur Cakra tersenyum getir, hanya saja dia tidak mau mematahkan perkataan Suhita. Karena kecerobohan Raka jaya lah hingga suasana menjadi rumit seperti sekarang. Andai saja, pencitraan Raka Jaya sebagai Jenderal di kerajaan tidak mengikut sertakan urusan keluarga, pastinya tidak perlu keluarga besarnya kembali terlibat masalah dengan dunia persilatan.
Mendadak suasana berubah drastis, Danur Cakra telah berada di suatu tempat yang sangat sejuk, bahkan cenderung dingin. Di tempat itu, sejenak hiruk pikuk dunia terhenti. Kembali menikmati nuansa alam yang tenang.
Suara gemericik air yang mengalir, desir angin yang lembut membelai rambut, akan membuat siapa saja akan betah untuk berlama-lama, melepas penat dengan memanjakan mata pada keindahan.
"Ada apa lagi? Mengapa datang dan pergi hanya untuk satu pertanyaan yang jawabannya ada di dalam jiwamu ..."
"Putri ... aku datang tidak untuk itu. Melainkan untuk menagih janji, atas apa yang dulu pernah kau ucapkan padaku!"
Putri Foniks membalikkan badannya, menatap Danur Cakra dengan lembut. Sinar matanya seolah menyusup, mencari tahu kebenaran atas perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Cakra.
Kasta tertinggi di dunia siluman, dengan gambaran burung foniks. Dia berwujud seorang gadis yang kecantikannya tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa. Wajar saja, mengingat siluman miliki kemampuan khusus yang tidak bisa dijabarkan secara logika manusia. Di balik paras dua puluh tahun tersebut, entah berapa ribu tahun yang telah terlewat. Serta pula tidak terhitung berapa banyaknya korban yang berjatuhan, terkulai lemas di dalam pelukan sang foniks.
"Jika mengira aku tertarik padamu, baiknya lupakan. Aku datang bukan untuk urusan ranjang, melainkan ..." Danur Cakra mengangkat kepalan tangannya, menggenggam dengan erat hingga terdengar suara gemertukan.
"Kalau kau tetap menolak untuk tidur bersamaku, maka aku pastikan kau akan kembali dengan tangan hampa. Percuma saja kau datang sampai seratus kali dalam sehari. Kecuali jika kau berhasil penuhi beberapa syarat sulit!" Putri Foniks menelan ludah. Dalam ratusan bahkan ribuan dekade, rasanya ini adalah kali pertama dia merasakan kecantikannya sama sekali tidak bernilai.
"Meskipun sangat tipis, tapi bukanlah tanpa kemungkinan, memunculkan sejarah baru saat aku meneguk kekuatanmu!" Danur Cakra menyodorkan tangannya, memaksakan Putri Foniks memberi apa yang dia mau.
"Kau bawa setetes darah perawan, maka tanganmu akan bisa menyentuh Fragmen kekuatan seperti yang kau inginkan!" Putri Foniks menanggapi tantangan Danur Cakra dengan santai, seolah tidak ada makna apa pun dari perkataan Cakra yang berujar akan menantangnya bertarung.
"Fuuiiihhh! Menurutmu kau merupakan seorang perawan? Sangat tidak masuk akal, antara kedua syarat yang kau utarakan," Danur Cakra meludah ke tanah. Dia mentertawakan bualan yang diungkapkan Putri Foniks.
"Naga jelek! Kau baru saja mencapai puncak tahap keempat, tapi mulutmu begitu besar seolah kau adalah langit di atas langit seluruh tahap. Dan kau tahu, itu adalah satu kelemahan yang paling fatal. Kau tidak akan bisa bangkit tanpa kakimu yang menopang, bagaimana kau bisa maju bila kaki terayun ke belakang."
__ADS_1
Putri Foniks membuka telapak tangannya, saat yang bersamaan muncul Fragmen tanah yang tersegel di dalam kulit kayu seukuran telapak tangan bayi.
Level kekuatan naga seperti yang ada pada diri Cakra merupakan level tinggi yang hanya berada setingkat di bawah Foniks. Untuk mencapai kesempurnaan, maka Danur Cakra harus menyatukan beberapa Fragmen yang kemudian dilebur ke dalam tubuhnya. Fragmen tanah adalah yang pertama.
Fragmen tanah melayang di udara, mendekat ke arah Danur Cakra lalu kemudian berhenti di tengah-tengah. Tanpa menunggu lagi, Danur Cakra lekas mendekat dan menyambar Fragmen tersebut.
Blsss! Bagaikan menangkap angin, Danur Cakra tidak berhasil mengambilnya. Walau terlihat nyata, tapi Fragmen tanah bukanlah wujud melainkan hanya gambaran. Setelah beberapa kali mengulangi, akhirnya Cakra berhenti. Dia mengibaskan tangannya, memerintahkan Fragmen tersebut kembali pada Putri Foniks.
"Kau dengar baik-baik! Saat aku kembali, maka Fragmen itu akan menjadi milikku. Dan sekali lagi kau harus catat, jika aku tidak akan mau kau bodohi. Aku tidak berada di bawah perintah siapa pun, termasuk dirimu!" Danur Cakra menunjuk lurus pada Putri Foniks.
Dengan wajah dingin layaknya kutub utara, Danur Cakra berlalu meninggalkan Putri Foniks yang menatap penuh amarah. Meskipun Danur Cakra merupakan seorang pendekar aliran sesat, tapi dia merupakan seorang yang sama sekali tidak tahu tata krama. Jika saja diizinkan, pasti Putri Foniks sudah mematahkan leher Danur Cakra saat itu juga.
"Dan mengapa, pemuda ini menjadi sangat spesial. Dia berhasil memancing batas kesabaran yang aku punya. Lihat saja, apa yang bisa kau lakukan tanpa bantuanku? Dasar dungu! Apa susahnya dapatkan setetes darah perawan, di saat dia berada dalam keliling wanita muda!" Putri Foniks mengatur napas, menahan kesabarannya yang hampir meledak.
Putri Foniks menatap Fragmen tanah dengan napas yang masih naik-turun. Dia tidak mengambil Fragmen tersebut. Berharap Fragmen hilang dan tidak lagi bisa ditemukan. Dengan begitu merupakan cara yang paling menyakitkan untuk membalaskan rasa sakit hatinya atas penghinaan yang Cakra lakukan kepadanya.
Putri Foniks lenyap dari pandangan. Dia kembali ke tempatnya berada, meninggalkan alam evolusi Danur Cakra dan berjanji tidak akan kembali datang kecuali Cakra memohon padanya. Dan ya, Fragmen tanah masih melayang di tempat semula. Putri Foniks kesal, benar-benar kesal. Kiranya ada manusia yang berani meletakkan dirinya setara wanita penghibur di warung remang-remang. Bang*sat!
Danur Cakra kembali ke dunia nyata. Dan tentu saja, berapa pun lamanya Danur Cakra berada di alam evolusi tapi di dunia nyata waktu berlalu hanya beberapa saat saja.
°°°
Sementara itu, Kujang Kembar yang telah berhasil dikalahkan oleh Suhita dan Danur Cakra telah diobati oleh guru mereka, Bhadrika Djani.
Jaganitra dan Jayadita telah menceritakan semua yang mereka temui pada Bhadrika Djani. Meskipun sebenarnya keduanya tidak begitu yakin, tapi semua yang terjadi nampaknya bukanlah hanya sekedar kebetulan semata. Semuanya pasti saling berkaitan satu sama lain.
"Hahaha! Tidak perlu takut, aku bisa melihat kalau kedua bocah itu hanyalah tikus kecil yang cuma merepotkan. Bukan ancaman!" Bhadrika Djani tertawa, ucapannya begitu memandang rendah lawan.
Baik Jayadita maupun Jaganitra hanya bisa menganggukkan kepala. Keduanya tidak membantah perkataan guru mereka, meskipun dalam hati sangat tidak setuju. Di mata Bhadrika Djani, semua keterangan yang dipaparkan oleh Kujang Kembar hanyalah bualan yang membuat kekuatan lawan terlalu hiperbola.
"Kalian istirahat saja dulu. Jangan berlatih tenaga dalam atau sejenisnya, dan pastikan saat aku kembali, kalian telah kembali pada kondisi prima!" Bhadrika Djani melangkah ke luar kamar.
Kujang Kembar membungkuk menghaturkan sembah sampai sosok Bhadrika Djani tidak lagi terlihat. Kemudian keduanya hanya bisa saling bertukar pandang.
"Ke mana guru pergi?" tanya Jayadita.
Jaganitra mengangkat bahu, menggeleng lemah. Dia tidak tahu ke mana guru mereka pergi. Hingga keduanya akhirnya hanya bisa melanjutkan perintah, beristirahat.
__ADS_1
Sementara itu, tubuh Bhadrika Djani telah lenyap di telan kegelapan. Bayangannya hilang dan timbul dari pandangan mata. Kecepatan di atas rata-rata, meskipun mengayunkan kaki secara perlahan tapi dalam waktu yang singkat, jarak yang ditempuh Bhadrika Djani telah sangat jauh.
"Aki Calincing! Keluar kau!" teriak Bhadrika Djani di depan sebuah gubuk reot.
Tidak lekas mendapatkan jawaban, Bhadrika Djani mengibaskan tangannya, menciptakan gelombang angin yang seketika merobohkan pondok reot milik Aki Calincing.
Braaak! Braaak! Atap dan dinding pondok berhamburan, menyisakan tiang dan sedikit lantai pondok.
"Bang*sat! Ke mana aki-aki peot itu?" Bhadrika Djani memicingkan matanya, pondok tersebut kosong tanpa penghuni hingga sangat wajar bila tidak ada orang yang menyahut panggilannya.
Bhadrika Djani melayangkan pandangannya ke sekeliling, dan dia tidak melihat adanya tanda-tanda kemunculan seseorang. Yakin kalau Aki Calincing tidak ada di tempat, Bhadrika Djani mengangkat sebelah tangannya ke udara, melepaskan energi tenaga dalam ke arah langit.
Energi tenaga dalam berwarna putih terang terpancar ke udara, memberikan kabar pada Aki Calincing di mana pun berada untuk segera pulang ke pondoknya. Ada tamu istimewa yang harus segera ditemui.
Panggilan yang Bhadrika Djani kirimkan diterima oleh si pemilik pondok. Aki Calincing yang sedang berada di tepi sungai kecil, jauh dari tempat tinggal segera menangkap kabar bahwa Bhadrika Djani datang ke pondoknya.
"Kutu kupret! Ada-ada saja! Apa yang dia inginkan!" Aki Calincing segera bangkit, dan meninggalkan joran pancing begitu saja.
Memancing di malam hari, bukanlah semata buta untuk mendapatkan lauk makan keesokan hari. Melainkan hanyalah sekadar menyalurkan hobi semata. Jika ingin ikan, tentunya cukup dengan satu tangan dan ikan akan berlompatan mendekat.
"Kutu kupret! Iblis jaha*nam!" Aki Calincing memaki panjang pendek mendapati gubuknya telah hancur. Dengan kekuatan yang ia punya, dengan sekali mengayunkan tangan maka bentuk pondok yang berantakan seketika kembali utuh seperti sedia kala.
Aki Calincing mempersilakan tamunya segera menaiki pondok.
"Kutu kupret! Ada apa kau datang menemuiku? Kau tahu jika aku sangat terganggu?!" masih ngedumel, Aki Calincing menanyakan maksud kedatangan Bhadrika Djani.
Tanpa basa-basi, Bhadrika Djani mengungkapkan maksud kedatangannya. Secara singkat, Bhadrika Djani memaparkan apa yang Kujang Kembar laporkan. Kemudian dia meminta Aki Calincing untuk lekas mencari tahu, jika perlu lenyapkan akan lebih baik.
"Berkaitan dengan Tapak Penakluk Naga, akan selalu menarik untuk dibahas. Meskipun aku ragu atas apa yang dilebih-lebihkan oleh kedua muridmu ... tapi baiklah!"
"Hahaha! Aku sangat percaya pada kemampuanmu. Kau harus tetap mempertahankan nama besarmu sebagai pendekar terbaik," Bhadrika Djani menyambut antusias kesanggupan Aki Calincing.
Dengan banyaknya pendekar yang berangkat, paling tidak akan semakin memperbesar kesempatan untuk menemukan di mana keberadaan Raditya dan juga Mahesa. Para pendekar muda yang datang untuk menghadiri, meskipun tidak celaka pastinya mereka sangat kelelahan. Dan saat pertarungan sesungguhnya dimulai, Raditya akan kehilangan banyak kekuatan pendukung.
Aki Calincing segera bersiap, dengan senang hati dia berangkat. Meskipun tanpa diminta, Aki Calincing yang juga menaruh dendam pada Pendekar Tapak Naga akan selalu bersemangat meski di usianya yang tidak lagi muda.
Rintangan demi rintangan terus menerus dipersiapkan untuk mengikuti perjalanan anak-anak Mahesa. Bukan hanya memata-matai, lebih dari itu mereka juga bermaksud mencelakai jika ada kesempatan.
__ADS_1