Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Jarum Kehidupan


__ADS_3

"Pak, bisa berhenti sebentar?! Saya mau buang air kecil," ucap Suhita.


Kusir kereta itu nampak berpikir sejenak, sebelum kemudian dia menggelengkan kepalanya. Sesuai perintah, dia tidak boleh berhenti sebelum tiba di tujuan, "mohon kau mengerti. Aku tidak mungkin pertaruhkan kepalaku demi masalah kecil seperti itu. Kau kencing saja dari sana."


Suhita segera berdiri, dia seperti hendak pergi sesuai ucapan kusir kereta. Namun lain halnya yang dia lakukan. Dengan cepat dan tidak terduga, tangan Suhita bergerak mencabut dua buah jarum yang menancap di kepala belakang sang kusir.


Tidak seperti yang Suhita perhitungkan. Jarum tersebut menancap sangatlah keras hingga Suhita tidak berhasil mencabutnya. Sontak, si kusir yang merasakan kesakitan langsung melayangkan bogem mentah ke arah wajah Suhita.


Suhita berkelit, ia mencoba menahan serangan kusir kereta dan mengunci kedua tangan orang itu. Suhita masih sangat penasaran dengan Jarum Kehidupan tadi, mengapa begitu sulit di lepas?!


BRAAAKKK!


Dua tubuh terjatuh dari atas kereta kuda. Kayu dinding kereta patah setelah ditekan oleh mereka yang menggunakan tenaga dalam.


"Bocah tidak tahu diuntung! Berani sekali kau coba buat masalah denganku!" wajah kusir kereta terlihat berang. Yang pastinya, dia merasa jika kekuatannya begitu diremehkan.


"Pak, maaf. Saya hanya ingin membantumu. Yakinlah, deritamu akan berkurang setelah jarum itu bisa dilepas," Suhita coba bicara baik-baik.


"Fuuiiihhh! Tahu apa kau tentang derita?! Bocah tidak berguna, aku akan membunuhmu!" selesai berucap, kusir kereta langsung menerjang Suhita. Kedua mata dan telinganya menjadi buta dan tuli. Buta dari kenyataan, tuli akan kebenaran. Yang dia miliki hanyalah emosi yang tiada beralasan.


Tanpa punya pilihan, Suhita terpaksa meladeni jurus demi jurus serangan yang di arahkan padanya. Jika tidak, maka bukanlah basa-basi kalau kusir itu akan membunuh Suhita tanpa belas kasihan.


"Tidak salah lagi, orang ini berada dalam pengaruh kekuatan iblis!" desis Suhita dalam hati.

__ADS_1


Aura yang dipancarkan oleh kusir kuda itu semakin waktu semakin menunjukkan jika dia bukan lagi seorang manusia seutuhnya. Dia berada dalam pengaruh ilmu sesat yang membuat hati dan pikirannya tidak bekerja. Yang tersisa hanyalah program dari kehendak orang yang memegang kendali.


Suhita berusaha memutar otaknya, dia harus segera bisa melepaskan Jarum Kehidupan yang membuat kusir kuda itu kehilangan jati diri. Tapi bagaimana caranya? Suhita juga tidak ingin jika sampai dia melukai kusir kereta itu.


Bugh! Bugh! Suhita melepaskan pukulan jarak jauh, membuat tubuh kusir kereta terhempas keras ke atas tanah.


"Ah, tidak bekerja," Suhita menghela napas setelah menemukan si kusir kembali bangkit dan tatapan matanya penuh dendam meskipun kesakitan.


Jika Hita harus menambah tingkat pukulan tenaga dalamnya, yang ditakutkan justru kusir kereta malah akan celaka. Tidak ada pilihan lain, Hita harus membuat kusir itu tidak mampu melakukan perlawanan.


WUURRR !!! semburan serbuk berwarna putih pekat menyambut serangan kusir kuda. Seketika pandangan matanya jadi berkunang-kunang, tidak butuh waktu yang lama tubuh kusir tersebut ambruk, lemas dan tidak bertenaga. Hanya tatapan matanya saja yang tersisa, tajam dan penuh dendam kebencian.


"Maaf, tapi aku tidak bisa biarkan jarum jaha*nam ini terus mengendalikan tubuhmu," Suhita membalikkan tubuh kusir kereta hingga posisinya jadi tertelungkup. Suhita bisa melihat tonjolan dari pangkal Jarum Kehidupan di bagian belakang kepala sang kusir.


Kusir kereta tetaplah seorang kusir kereta, sejak awal dia memang tidak dibekali kemampuan bela diri yang baik hingga meskipun sekarang dia telah dipengaruhi oleh Jarum Kehidupan tetap saja kemampuannya tidak menjadi menakutkan. Harus diakui jika cara yang Bulan Jingga terapkan sangatlah bijak. Dengan demikian dia bisa mengelabui para petugas dan prajurit jaga di setiap pintu kota. Karena kusir kereta yang di pakai hanyalah orang biasa.


Suhita mengeluarkan alat bedah dari dalam kotak pengobatan miliknya. Dengan bantuan alat-alat itu, Suhita bisa melakukan pemeriksaan lebih dalam. Dia bisa mendapatkan seluruh kepala jarum.


"Aku harus mencabutnya dengan paksa," gumam Suhita.


Dengan memfokuskan pikirkan, Suhita menyalurkan kekuatan tenaga dalam yang dia miliki pada telapak tangannya. Hingga alat yang dia gunakan untuk menjepit kepala jarum menjadi bergetar hebat. Cahaya terpancar dari dua benda yang saling bersentuhan tersebut. Dengan sekuat tenaga, Suhita menghentakkan kedua tangannya.


"Hump!" tubuh Hita sampai terjajar ketika dia berhasil mencabut satu jarum.

__ADS_1


Suhita memandangi jarum perak di tangannya. Tidak ada yang istimewa dari jarum tersebut, hanya saja mantera yang digunakan yang menjadi pembeda.


Kraaakkk! Kraaakkk! Terdengar suara seperti tulang yang bergerak. Ketika Hita menoleh ke arah tubuh kusir kereta, dia mendapati sosok mayat hidup bergerak kaku ke arahnya.


"Ah, apa ini?!" Suhita memicingkan matanya. Dugaannya tidak meleset. Kusir kereta itu adalah mayat yang hidup dalam kendali Jarum Kehidupan.


"Hiiyaaatttt !!!" Suhita terpaksa melepaskan pukulan tapak naga pada tubuh kusir kereta itu.


Dengan satu pukulan yang begitu keras, sisa satu lagi Jarum Kehidupan yang masih tertancap di kepala kusir kereta langsung terlepas dan jatuh ke tanah. Tapi bersamaan dengan itu, tubuh kusir kereta berubah menjadi abu. Tubuhnya yang dipaksa kuat selama ini, sekarang telah kembali pada kondisi sebagai mana mestinya.


"Serangan mayat hidup. Satu hal yang berbahaya dan perlu diwaspadai. Mereka adalah orang yang sudah mati, mana tahu rasa takut," Suhita menghela napas panjang. Dia mengais tanah yang bercampur debu tubuh kusir kereta. Hita berhasil menemukan sebuah lagi Jarum Kehidupan yang menancap di kepala kusir kereta.


"Tunggu dulu, siapa sebenarnya gadis cantik yang mengaku bernama Bulan Jingga itu? Dia pasti bukanlah orang baik-baik," Suhita teringat akan orang yang beberapa saat lalu membuatnya begitu kagum. Ternyata semua kata-kata manis yang terlontar dari mulut gadis itu hanyalah kedok yang menyembunyikan jati diri, siapa dia yang sesungguhnya.


"Tidak ubahnya pria yang memakai topeng, apa bedanya dengan wanita yang memakai make-up?!"


Lalu bagaimana dengan Klan Perisai Hujan? Apakah Suhita akan tetap mendatangi tempat itu? Rasa penasaran yang tadi sempat muncul, mendadak berubah menjadi ketakutan. Suhita baru tersadar jika dirinya telah masuk ke dalam perangkap. Umpan-umpan menggiurkan yang diletakkan di dalam perangkap, sungguh membuat segala bahaya menjadi tersamar.


"Aku harus segera keluar dari hutan ini," Suhita bergegas bergerak. Dia tidak ingin jika Bulan Jingga menemukannya.


"Tabib kecil, sepertinya kau salah jalan. Jika tersesat, mengapa tidak tanyakan arah padaku?!"


"Ah, sial. Mengapa dia begitu cepat datang?!" Suhita mengumpat. Di hadapannya, di akar sebuah kayu, telah duduk dengan manis seorang gadis yang mendadak jadi sangat menakutkan di mata Suhita. Dia tidak lain adalah Bulan Jingga. Seorang pendekar aliran sesat yang kuasai kemampuan membaca pikiran dengan amat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2