
Dengan memetik bunga yang mekar, akankah cara terbaik untuk memilikinya? Justru bunga lain akan bermekaran kala tangan merawatnya. Menjaga merupakan satu langkah di depan memiliki.
"Pendekar muda, bisa kita bicara sebentar?" Ki Wadas menghampiri Danur Cakra yang sejak tadi berada tidak jauh dari ruangan rawat Kemuning.
"Silahkan ..." Danur Cakra mengangguk mempersilahkan.
Ki Wadas nampak ragu-ragu sebentar, sebelum kemudian dia mengajak Danur Cakra ke suatu tempat. Dia inginkan bicara empat mata.
"Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini. Tapi langit tidak mungkin salah dalam menurunkan hujan," Danur Cakra melirik ke arah ruang rawat Kemuning, tapi kemudian dia melangkah mengikuti Ki Wadas.
"Naaahhh! Lihatlah ... apa kataku?!" Arsita menunjuk punggung Danur Cakra dari kejauhan.
Bersama Arsita, Rangga juga sejak tadi mengikuti setiap gerak Danur Cakra. Sangat mencurigakan, dia terlihat begitu peduli pada Kemuning. Dan mana mungkin jika tidak ada tujuan yang tersimpan di balik semuanya. Pasti ada satu rencana busuk yang dipersiapkan. Tidak menuduh, sekadar curiga.
"Dia punya begitu banyak kepeng uang emas. Bahkan seluruh persediaan makanan dan kebutuhan kita, dia yang memenuhi. Dari mana dia dapatkan semuanya, kalau tidak ada satu kelompok atau bahkan organisasi yang membiayai. Aku yakin, dia adalah bagian dari kelompok yang menginginkan Kemuning. Cuma, dia membalutnya dengan sandiwara yang sempurna," terka Rangga. Tentunya saja Arsita sangat setuju pada argumentasi itu.
"Eh, Kak. Ayo kita lihat Kemuning. Aku takut ada hal neko-neko yang Cakra lakukan," ajak Arsita.
Buru-buru keduanya menuju ke ruangan rawat Kemuning. Namun betapa terkejutnya mereka, ketika tidak diperbolehkan masuk oleh Tabib Mala.
"Kemuning sedang melakukan pengobatannya khusus, jadi untuk sementara waktu tidak bisa diganggu. Dua jam dari sekarang, kalian bisa kembali ke sini," ucap Tabib Mala dari balik pintu yang hanya dibuka sedikit.
"Tabib, ada apa sebenarnya? Apa yang kalian rencanakan?!" Rangga bicara dengan suara yang tinggi, dia merasa jika ada yang disembunyikan oleh Tabib Mala. Atau bisa jadi tabib itu telah berkomplot dengan Cakra untuk bisa menculik Kemuning.
"Kamu yang apa-apaan? Apa mungkin kau menuduhku berbuat macam-macam?" Tabib Mala mengerutkan dahi.
"Ya! Jadi biarkan kami masuk kalau kau tidak dalam rencana busuk!"
"Hahaha! Baiklah. Tapi hanya adikmu yang boleh masuk. Atau kau pun tidak mempercayai adikmu sendiri?"
Rangga hanya bisa terdiam. Tidak lagi ada alasannya untuk menerobos masuk, kecuali jika inginkan masalah. Lagi pula, Arsita 'kan satu pemikiran dengannya. Meskipun hanya Arsita rasanya sudah lebih dari cukup.
"Hati-hati ..." ucap Rangga. Dia menunggu di depan pintu, sampai adiknya keluar.
Dengan harap-harap cemas, Rangga menunggu. Dia tidak sabar lagi ketika terdengar suara kunci pintu yang dibuka. Sesaat kemudian, Arsita muncul.
"Kemuning sedang diobati. Dia berendam di dalam bak bertelan*jang bulat makanya Kakak tidak boleh masuk. Apa kita sudah salah menilai, Kak?" pernyataan mengejutkan Arsita, membuat Rangga setengah tidak percaya.
"Lalu bagaimana dengan pemuda tadi, apa dia boleh melihat?" tanya Rangga.
Arsita gelagapan, dia saja tidak berpikir sejauh itu. Tapi Rangga memang luar biasa, dia cemburu sampai-sampai berpikir begitu jauh, "Kak, rasanya tidak mungkin. Tadi kita melihat Cakra membawa ramuan obat. Mungkin itu merupakan ramuan yang digunakan. Mungkin dia juga tidak tahu guna ramuan itu untuk berendam."
Rangga manggut-manggut. Lagi pula mana mungkin dia ikhlas jika ada orang yang coba macam-macam pada Kemuning. Bahkan selembar nyawanya pun tidak berharga demi Kemuning.
"Ckckckck! Urgent sekali masalahnya, sampai-sampai dua bersaudara bicara rahasia di sudut ruangan yang gelap. Permisi ... silahkan dilanjut!"
"..." Rangga dan Arsita serentak menoleh.
Tanpa beban, orang yang sedang mereka bicarakan justru melintas di hadapan. Tidak mungkin Danur Cakra tidak mendengar meski hanya sedikit. Tapi pemuda itu bisa-bisanya pura-pura tidak tahu. Sungguh dia memainkan sandiwara dengan sangat sempurna.
"Kurang ajar! Lihat saja, seberapa jauh dia bisa bermain," Rangga mengepalkan tangannya dengan keras, menahan luapan emosi yang membuncah. Tapi bagaimanapun dia sadar diri, kemampuannya tidak cukup kuat untuk bisa atasi pendekar muda itu.
"Kak, hati-hati. Jangan sampai niat baikmu malah membuat kau dalam kesulitan," Arsita mengingatkan.
__ADS_1
Jika melihat gelagat Kakaknya, Arsita khawatir tindakan yang ia lakukan malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Sudah tahu berhadapan dengan singa, harusnya siapkan perahu untuk berada di tengah laut. Dengan demikian, berapapun tajamnya kuku, tidak mungkin singa bisa melukai.
°°°
Ki Wadas dan Jatmiko sedang memeriksa satu persatu anggota. Terutama mereka yang terluka akibat pertarungan dengan Maung Hitam. Ketika itu, seorang penjaga datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa?" tanya Ki Wadas.
Penjaga tersebut kemudian menceritakan kalau dia melihat keberadaan Watu Galing dan Gunda Soka. Dua nama tersebut tidak lain merupakan saudara seperguruan Ki Wadas.
"Benarkah? Apa kau yakin?!" tanya Ki Wadas lebih jauh.
"Saya sangat yakin, Ki."
"Kalau begitu, kita temui mereka. Sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Kiranya Tuhan memberikan jalannya," Ki Wadas meraih senjata pusakanya, berupa tongkat pendekar berbungkuskan kain putih.
"Jatmiko dan kau Rangga, aku percayakan mereka pada kalian. Ingat jangan pernah lakukan tindakan yang berbahaya," pesan Ki Wadas sebelum keluar dari gua.
Suasana di sekitar tempat itu masih sunyi, menandakan bahwa mereka dalam keadaan aman. Sampai hari itu, belum ada yang mengendus keberadaan mereka. Paling tidak mereka aman sampai nanti kondisi seluruh anggota membaik.
Ki Wadas memakai pakaian sebagai orang biasa. Petani tua yang hidup sederhana. Tombak pusakanya di sembunyikan di dalam keranjang yang ia bawa.
"Saya melihat Ki Watu Galing menuju desa itu," ucap anak buahnya.
Ki Wadas mengangguk lemah, mereka melanjutkan perjalanan. Pasti Watu Galing dan Gunda Soka sedang berada di kedai. Atau mungkin pula ada markas kelompok mereka yang berdiri di desa tersebut.
Gunda Soka dan Watu Galing merupakan sosok pemimpin pasukan anti pemerintah. Ya, bisa dikatakan mereka adalah pemberontak, tapi bukan penjahat. Keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu masyarakat dan rakyat kecil. Hanya paham idiologi mereka yang bertolak belakang dengan pemerintah berkuasa.
"Nah, kita sudah sampai. Kau pulanglah lebih dulu. Jika terjadi sesuatu di gua, tolong beritahu aku," ucap Ki Wadas pada anak buahnya.
Dari kejauhan, mereka bisa melihat Watu Galing dan Gunda Soka sedang bersantap di sebuah kedai. Ki Wadas harus menebalkan muka untuk menemui saudara seperguruan yang dulu tindakannya pernah dia salahkan. Apa boleh buat.
°°°
"Uhuukk ... uhuukk ..." batuk pelan terdengar begitu sering. Kondisi Kemuning masih jauh dari kata baik. Perbedaannya sekarang ini dia telah miliki tenaga sekadar untuk berjalan dan beraktivitas kepentingan dirinya sendiri.
"Kemuning ... kau jangan mudah putus asa. Anak kecil saja akan terus bangkit ketika dia terjatuh saat belajar untuk berjalan. Bagaimana, apa hari ini kau merasa lebih baik?" tanya Tabib Mala.
Kemuning mengangguk. Sejak terbangun, rasanya tubuhnya begitu ringan. Kemuning tahu kalau ini semua bukan karena ramuan obat, melainkan adanya transfer energi murni hingga membuat tubuhnya jauh lebih kuat. Meskipun demikian, Tabib Mala tidak pernah bercerita mengenai hal itu.
"Oh, ya Tabib. Apakah ada ramuan khusus yang saya konsumsi hingga perubahannya terasa amat cepat? Atau Tabib yang menghabiskan banyak tenaga dalam untuk saya?" tanya Kemuning.
Tabib Mala terdiam, dia seperti mencoba untuk menelaah maksud perkataan Kemuning, "maksudnya? Maaf, aku kurang begitu paham."
"Ah, tidak. Justru saya tidak mengerti pada kondisi saya," jawab Kemuning.
Tabib Mala tertawa kecil, kemudian dia menghela napas panjang sebelum akhirnya bercerita, "kau termasuk orang yang sangat beruntung. Meskipun terluka dalam sangat parah, tapi fungsi jantungmu sama sekali tidak terpengaruh."
Tabib Mala menjelaskan jika pukulan terakhir yang Kemuning terima merupakan pukulan yang juga mengandung racun. Ditambah lagi, kekuatan tenaga dalam yang Kemuning punya berada jauh di bawah Maung Hitam. Tapi mengejutkannya ialah racun tersebut justru terdorong ke luar bersama dengan darah yang termuntahkan. Hingga menyelamatkan nyawa Kemuning, jika tidak pastinya jantung Kemuning sudah pecah.
"Kau miliki dasar kemampuan yang sangat baik. Energi murni yang luar biasa. Aku belum pernah temukan ini. Dan kau tahu, energi tersebut pula yang saat ini membuat kau bertahan," lanjut Tabib Mala.
Ah, energi murni?! Kemuning hanya bisa menelan ludah. Apa benar yang dikatakan Tabib Mala? Tapi masa iya dia berbohong, untuk apa. Yang jadi masalahnya ialah Kemuning bahkan belum sempat menuntaskan belajarnya mengenai aliran energi murni. Gurunya telah wafat sebelum Kemuning mencapai tahap tersebut.
__ADS_1
"Apa mungkin ada orang yang diam-diam mengalirkan energi murni untuk menolongku?" batin Kemuning.
Mendengar penuturan Tabib Mala, jika ada orang yang menolong itu artinya dia datang beberapa saat setelah Kemuning menerima pukulan. Sebelum dia hilang kesadaran. Tapi siapa? Kemuning tidak bisa untuk menebaknya.
"Emmm ... Tabib, apakah pemuda yang sering datang membawa ramuan obat itu adalah pelayanmu?"
"Ah, bukankah dia berasal dari kelompokmu? Masa iya kau lupa. Ketika aku datang, dia sudah ada. Hanya dia yang banyak tahu, makanya sering kali aku meminta bantuannya," jawab Tabib Mala dengan kaget. Bicaranya sambil menahan tawa, seolah menertawai Kemuning yang dianggapnya lucu.
"Tidak! Aku sama sekali tidak mengenalnya. Atau jangan-jangan ..." Kemuning terbelalak kaget.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Mana mungkin dia orang jahat. Bahkan dia selalu menjaga matanya," bela Tabib Mala. Dia bisa melihat ekspresi ketakutan di wajah Kemuning dan itu tidak baik untuk proses penyembuhannya. Kalau tahu begini, mungkin akan lebih aman jika tadi Tabib Mala mengakui kalau Danur Cakra adalah pelayannya.
Beruntung ketika keadaan berubah sedikit kaku, Jatmiko muncul dengan membawa beberapa buah-buahan segar. Wajah Jatmiko bersinar sumringah mendapati kondisi Kemuning mengalami peningkatan yang baik.
"Paman, di mana Ki Wadas? Bisa aku bicara dengannya?" tanya Kemuning. Tentu tujuan Kemuning ialah untuk mempertanyakan perihal Danur Cakra. Sebagai pimpinan, pastinya hanya Ki Wadas yang tahu semuanya.
"A-ah ... Ki Wadas?! Emmm, beliau sedang ke luar sebentar," jawab Jatmiko. Setelah melirik pada Tabib Mala yang kembali pada pekerjaannya. Jatmiko kembali melanjutkan bicaranya.
"Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh pimpinan. Akan tetapi, yang aku dengar dia menemui Ki Watu Galing dan Gunda Soka, saudara seperguruannya. Yaahhh ... kita berdoa saja semoga keadaan tidak memburuk," pungkas Jatmiko dengan senyum.
Kemuning mengangguk lemah. Dia mengerti sekarang, besar kemungkinan jika pendekar muda itu adalah bagian dari kelompok Watu Galing. Tapi untuk apa? Masa iya untuk menjaga dirinya.
"Terima kasih, Paman. Tapi saya perlu istirahat," ucap Kemuning.
Jatmiko mengangguk, dia mengerti. Melihat kondisi Kemuning yang membaik itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula ada Tabib Mala yang merawat Kemuning secara intensif.
"Aneh sekali ... mengapa aku jadi curiga. Atau jangan-jangan pemuda itu yang mengalirkan energi tenaga dalamnya untuk membantuku," batin Kemuning.
Bahkan Kemuning tidak mengetahui siapa namanya. Lalu untuk apa dia mengorbankan diri? Sangat tidak masuk akal jika hanya kebetulan dia orang baik.
"Tabib ..." panggil Kemuning.
Tabib Mala tidak mendengar panggilan Kemuning. Dia nampak begitu sibuk merebus obat untuk diminum oleh semua orang di sana.
Kemuning bangkit dari pembaringan, dia melangkah hendak mendekat pada Tabib. Tapi dengkulnya yang masih lemah membuat langkahnya tertatih. Tanah yang tidak rata, membuat tubuh Kemuning jadi limbung. Sekuat tenaga Kemuning coba untuk pertahankan diri, tapi semakin dia keluarkan tenaga maka semakin cepat pula tubuhnya terkalahkan gravitasi.
"A ..." mulut Kemuning ternganga, dia telah membayangkan bagaimana rasanya sakit ketika jatuh layaknya anak kecil belajar melangkah.
Namun sebelum tubuh Kemuning benar-benar jatuh terjerembab, sosok penolong kembali muncul. Dengan tangannya yang gagah, Danur Cakra menangkap tubuh Kemuning. Layaknya mempertahankan benda yang sangat berharga.
"Ah, maaf. Tapi seharusnya kau tidak perlu banyak bergerak dulu," ucap Danur Cakra seraya kembali membaringkan Kemuning di atas balai bambu.
Tabib Mala menyaksikan semuanya, dia mengelus dada, bersyukur pada Tuhan. Seandainya Danur Cakra tidak datang pada waktu yang tepat, mungkin kepala Kemuning akan terbentur kuali tanah.
"Saya bosan terus berbaring. Kau tahu, biasanya setiap waktu saya habiskan dengan bergerak."
Danur Cakra menatap wajah Kemuning dengan tajam. Meskipun mulutnya diam, tapi sinar matanya mengatakan kalau Kemuning begitu keras kepala.
"Den Cakra benar, harusnya Nona jangan memaksakan diri," Tabib Mala datang dan membela Danur Cakra.
Oh, namanya Cakra. Dari mana dia berasal? Pikir Kemuning dalam diam. Dia tidak berani membalas tatapan mata Danur Cakra, hanya sesekali mencuri pandang untuk pastikan wajahnya dari jarak dekat.
Baik Kemuning maupun Danur Cakra, keduanya hanya mampu ucapkan sedikit kata. Yang ada mereka larut dalam pikiran masing-masing. Secara tidak sengaja, meskipun tidak langsung, juga tidak diakui, tidak masuk kategori, baru saja mereka berpelukan. Jelas tangan mereka saling merangkul satu sama lain, dadapun saling berhimpitan. Memang pada kenyataanya, Kemuning hampir jatuh lalu Danur Cakra menyelamatkan.
__ADS_1