Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Tabib Titisan Dewa


__ADS_3

Seseorang yang berhati jahat, tidak memerlukan alasan untuk berhenti dalam berbuat jahat. Meskipun dia tidak mendapatkan keuntungan dari kejahatan itu, membuat orang lain dalam kerugian saja sudah merupakan kebanggaan dalam hatinya. Ya, meskipun kejahatan selalu saja merugikan tapi bagaimanapun juga kejahatan selalu berjalan beriringan dengan kebaikan. Orang bisa dikatakan baik, itu karena adanya sosok jahat yang menjadi pembanding. 


"Apa orang jahat itu adalah orang yang tidak tahu terima kasih? Lalu, mengapa bisa dia sampai hati berbuat jahat pada orang yang jelas-jelas berbuat baik padanya? Inikah yang namanya air susu di balas air tuba?" Suhita melamun. Dengan pikiran yang melayang tak tentu arah, pelan-pelan Suhita berjalan meniti bukit.


"Ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh berpikir demikian. Seorang tabib dilarang menghitung budi. Jika ingin cari uang, baiknya cari jalan lain dan jangan bercita-cita menjadi tabib. Aku tidak boleh berhenti mendarma gunakan sedikit pengetahuan yang ku punya untuk menolong orang lain. Apa pun balasnya, apa pun resikonya," Suhita menarik napas panjang. Senyum lebar menghiasi bibir manisnya.


"HITAAA !!!"


Itu adalah suara ayahnya. Tapi ... apakah mungkin ayahnya yang datang? Sementara, orang-orang banyak mencarinya. Suhita Prameswari langsung memalingkan pandangannya ke arah suara. Beberapa saat lamanya mata Suhita mencari-cari keberadaan orang yang memanggilnya.


Bayangan apa itu? Burung apa sebesar itu? Suhita mundur beberapa langkah. Sekelebat bayangan meluncur cepat dari atas langit. Belum juga Suhita sempat berkedip, bayangan itu sudah berubah menjadi sosok tubuh yang berdiri di depannya.


"Ayaaahhh !!! Huuuhuuu ..." Suhita langsung menjerit, menangis, dia mendekap erat tubuh ayahnya. Menumpahkan segala rasa takut dan kecemasan yang sejak tadi dia sembunyikan.


"Tenang, sayang. Tenaang, ya. Ayah ada di sini, ayah akan lindungi kamu," Mahesa membalas pelukan anaknya, dengan penuh kasih dia membelai rambut Suhita dan memberikan beberapa civman di kepala anaknya.


Bukannya Mahesa tidak sedih dan cemas, sesungguhnya di dalam hati Mahesa merasakan lebih dari itu. Hanya saja dia harus berpura tegar untuk menyingkirkan trauma di dalam hati anaknya. Mahesa harus bisa meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Karena semakin ke depan, jalan kehidupan yang bakal ditemui akan semakin sulit dan menakutkan. Mereka telah jauh melangkah, dan berada di tengah-tengah. Maju adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil.


"Ayah, Hita kangen ayah ... setiap malam Hita sulit tidur, menunggu ayah pulang. Hita ingin minta ayah ajari Hita banyak hal," di sela isak, Suhita menyatakan kerinduan pada ayahnya yang begitu dalam.


Mahesa tersenyum, kemudian dia menggendong tubuh anaknya di bahu. Membuat tanah menjadi rendah kala Hita pandang dari ketinggian.

__ADS_1


"Oh, ya. Apa ayah tahu di mana nenek dan kakek sekarang, apa mereka baik-baik saja?" Suhita mengingat sesuatu.


"Mereka menunggu kita di dekat gua tanpa dasar. Sayang, boleh ayah tahu bagaimana ceritanya sampai anak ayah yang cantik ini tersesat hingga ke gua tanpa dasar. Apa jangan-jangan nenek Gondo Arum yang membawamu bermain sejauh ini?"


DEG!


Untung saja Mahesa tidak melihat pusatnya wajah Suhita saat itu. Bagaimana ini? Apa harus dia berbohong? Kalau Suhita jujur, pasti Mahesa akan memarahi ibunya.


"Bu-bukan, bukan nenek, Yah. Justru Hita yang mengajak nenek menemani ke sini. Namanya paman Marunda, dia sakit dan Hita akan mengobatinya. Tidak tahu kalau akan mencelakakan nenek dan kakek."


"Ya, baiklah. Tapi tidak perlu khawatir, nenek dan kakek pengasuhmu bukan orang sembarangan, mereka bisa atasi masalah ini."


"Non Hita ... oohhh, syukurlah Nona baik-baik saja," Nyi Gondo Arum berlari memburu ke arah Suhita. Kalagondang mengikuti di belakangnya.


"Sayang, kau pulang lebih dulu bersama nenek dan kakek, ya. Ayah mau bicara dengan orang-orang jahat itu. Ayah akan meminta supaya mereka menghormati seorang juru sembuh," Mahesa mengelus kepala Suhita.


"Baik, ayah. Tapi ayah janji, ya. Ayah harus cepat pulang. Hita tidak akan makan malam kecuali bareng ayah," ancam Suhita.


"Iya, iya. Nenek dan kakek saksinya. Nanti kalau ayah ingkar, maka Hita ajak kedua saksi untuk menghukum ayah, ya," Mahesa tersenyum lebar seraya berlutut menyodorkan pipinya.


"Emmuuaahh!" Suhita mencivm pipi ayahnya kiri dan kanan, sebelum beralih ke tuntutan Nyi Gondo Arum untuk pulang.

__ADS_1


Suhita berjalan dengan begitu semangat. Sampai-sampai dia melupakan jika tidak seorang pun anggota penjahat yang dia temui di sekitar gua tanpa dasar. Kecuali mereka yang terbaring tidak bernyawa setelah bertarung melawan Kalagondang dan Nyi Gondo Arum, tiada anggota penjahat yang masih bisa bicara. Suhita harusnya menanyakan dengan siapa Mahesa akan bicarakan perjanjian?


Setelah Suhita dan dua orang pengasuhnya tidak terlihat lagi, Mahesa memetikkan jarinya dan seketika bermunculan gelembung es yang mengurung tubuh Marunda, Kelabang Pitu dan beberapa orang pendekar lain yang belum sempat Nyi Gondo Arum bereskan. Saat Mahesa datang, Mahesa langsung mengurung mereka ke dalam kristal es.


"Kalian boleh bicara, boleh juga tidak. Tapi karena alasan itu aku akan pulihkan jalan kematian yang berbeda," ucap Mahesa dingin.


"Fuuiiihhh! Memuakkan. Ayo cepat habisi aku, apa kau kira aku takut pada nama besarmu? Elang Putih, lihat dirimu. Kau gunakan kemampuan yang kau punya untuk mengancam kami? Hahaha! Lepaskan kedokmu, maka kau akan tahu bagaimana rupamu yang sesungguhnya. Apa sekarang kau sepenuhnya telah menjadi anjing peliharaan Padepokan Api Suci? Kau datang untuk kuasai kemampuan Tabib Dewa itu 'kan. Dasar bermuka dua!"


Mahesa membiarkan Kelabang Pitu mengoceh panjang lebar. Dengan demikian, tanpa harus banyak bertanya, Mahesa bisa dengar semua alasan mengapa mereka memperebutkan Suhita.


Satu hal yang tidak diketahui oleh para pendekar aliran sesat itu ialah, bahwa Suhita adalah anak dari Pendekar Elang Putih. Mereka menebak kalau tujuan kedatangan Mahesa sama, yakni untuk membawa Suhita yang disebut sebagai tabib titisan dewa. Hanya saja, cara yang mereka lakukan sedikit berbeda. Sebagai pendekar aliran putih, Mahesa lebih pandai memainkan sandiwara palsu. Berpura-pura baik dan melindungi, padahal hanya untuk menarik simpati belaka.


"Kau memang hebat, Elang Putih. Tapi ingat, dengan cara licik seperti ini kau tidak akan pernah bisa kuasai tabib titisan dewa. Kau camkan itu!" Kelabang Pitu menunjuk lurus Mahesa.


"Oh, jadi begitu. Kalian ingin awet muda, kuat dan tak terkalahkan. Maka dari itu ingin menyekap seorang anak kecil untuk dipaksa ciptakan sumberdaya herbal. Ckckck! Memalukan!" Mahesa menggelengkan kepalanya berulang kali.


Sekarang Mahesa tahu alasan di balik penyerangan yang terjadi. Ternyata semuanya disebabkan oleh Suhita itu sendiri. Kemampuan langka yang tumbuh alami di dalam tubuhnya menarik minat orang-orang untuk berlomba jadikan Suhita bagian dari kelompok mereka.


"Hei, dengar. Sepertinya kalian harus kuburkan mimpi kalian itu. Minta saja pada raja neraka untuk berikan kalian mimpi yang lebih indah," selesai bicara, Mahesa langsung mengalirkan kekuatan tenaga dalam pada telapak tangannya. Tapak Naga Es. Kemampuan yang menjadi ciri khas Pendekar Elang Putih itu menghantam  tubuh mereka yang terbaring tidak bisa bergerak. Melenyapkan para pendekar aliran sesat itu dari muka bumi.


Suhita Prameswari. Ya, Mahesa harus bicara dengannya. Kali ini, Mahesa akan paksa untuk yakinkan anaknya jika dunia persilatan berlomba untuk mencelakai jika Suhita masih keukeh tidak mau belajar olah kanuragan. Mungkin, Mahesa harus sedikit lakukan sandiwara untuk bisa memaksa Suhita. Semuanya ialah untuk kebaikan Suhita sendiri.

__ADS_1


__ADS_2