Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Cabang Klan


__ADS_3

"Ibu kenapa? Apa ibu kurang enak badan?" Suhita Prameswari meraih lengan ibunya. Namun setelah memeriksa, bocah itu mendapati kondisi ibunya baik-baik saja.


"Ah, tidak. Mungkin ibu hanya mengantuk saja, sayang. Oh, ya. Apa kau sudah selesaikan pelajaran barumu?" Puspita membelai rambut Suhita dengan lembut.


Dengan wajah yang berbinar-binar, Suhita menjelaskan dengan penuh semangat. Dia sedang getol-getolnya membedah mengenai pengobatan atas sakit yang disebabkan oleh racun. Bukan racun biasa, racun yang berasal dari binatang buas ataupun tumbuhan jamur, melainkan racun yang diciptakan dari teknik tenaga dalam. Ya, contohnya Racun Waktu.


Racun yang dulu dikuasai oleh Puspita itu termasuk racun yang menggunakan teknik tenaga dalam. Racun semacam itu tidak memiliki kandungan. Dalam artian tidak ada bahan dasar yang digunakan untuk meraciknya. Dan tentu teknik pengobatannya pun jauh berbeda dengan racun dari bisa ular cobra. Untuk atasi racun dengan teknik seperti itu, dibutuhkan ketelitian yang lebih tinggi. Juga sang penolong haruslah dilengkapi dengan kemampuan tenaga dalam, agar bisa mendorong energi racun yang mengalir di dalam darah pasien.


Dalam hal ini, tentunya Suhita baru belajar teori dasarnya saja. Teknik pemula, berupa pengenalan dan ciri-ciri orang yang terkena racun teknik tenaga dalam. Memang, beda racun maka efek yang timbul juga berbeda. Tingkat kekuatan tenaga dalam juga menjadi faktor yang menentukan keganasan racun. Misalnya Racun Waktu. Racun tersebut merupakan salah satu racun paling ganas dari seluruh racun ganas yang pernah ada. Pemilik racun seperti itu, bisa dihitung jumlahnya. Dalam satu generasi, paling banyak ada satu orang saja. Namun untuk racun-racun biasa, tentunya banyak yang bisa lakukan.


Suhita belum memiliki sedikit pun tenaga dalam, hingga pembelajaran yang dia lakukan masih berkutat dalam teori semata. Obat-obatan yang bisa digunakan serta tanggap cepat saat terserang racun. Bagaimana orang yang keracunan bisa bertahan hingga tiba di pusat pengobatan.


"Sudah sejauh ini anakku belajar. Bagaimana dengan kemampuan tenaga dalam yang sama sekali tidak mau dia pelajari? Ah, semoga saja Kanda Elang punya cara untuk mengatasinya," batin Puspita.


Ayahnya sudah pergi selama beberapa hari, dan Suhita sudah membaca mengenai ciri-ciri dan dasar-dasar racun. Karena Suhita sangat cerdas. Sekarang, dia miliki satu keluhan. Suhita merasa kalau pengetahuan yang dia dapat hanya setengah jalan. Bukankah hal yang buruk jika hanya tahu sedikit dan sama sekali tidak punya cara untuk kembangkan.


"Kau sabar saja dulu. Nanti saat ayah kembali, maka bisa tanya-tanya lebih lanjut," hibur Puspita.


Namun Suhita masih terlihat sangat kecewa karenanya. Wajahnya seperti ditekuk beberapa lipat. Dalam bercerita saja, nampak jelas kalau hatinya kurang baik. Entah bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut.


"Bagaimana kalau ibu yang jelaskan? Bukankah kata ayah, saat gadis ibu juga merupakan seorang pendekar ternama? Ayolah, bu ..." rayu Suhita dengan manja. Berharap ibunya mau mengajarinya.

__ADS_1


Puspita sangat terkejut mendengar perkataan anaknya. Jadi, Mahesa sudah menceritakan perihal masa lalunya? Apa Mahesa juga menceritakan perihal ilmu racun ini? Tentang Puspita Dewi yang sempat menjadi seorang ahli racun terhebat dan tentang masa lalu yang kelam itu? Ah, tidak. Puspita yakin kalau Mahesa tidak mungkin hancurkan hati anaknya. Hanya saja, Puspita yang terlalu berlebihan dalam berpikir.


"Emm ... memangnya ayah cerita apa saja tentang ibu? Dia cerita tidak, bagaimana awal mulanya ayahmu jatuh cinta pada ibu?" tanya Puspita kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Sambil Puspita mencari cara untuk berikan penjelasan yang tidak menjerumuskan Suhita nantinya. Terus terang, perihal racun dan berbagai macam teknik masalah racun, dari dasar, ringan, bahkan berat, semuanya. Semuanya masih terukir jelas di kepala Puspita. Hanya yang menjadi masalah ialah Puspita Dewi atau bahkan Cahaya Langit sekali pun, hanyalah seorang ahli racun. Dia bukan tabib. Jadi bagaimana caranya untuk memaparkan cara mengobati? Puspita bisanya membunuh bukan buat sembuh. Lagi pula, sekarang dia tidak bisa apa-apa lagi. Kecuali membuat catatan, Puspita tidak mungkin bisa turunkan ilmu sesat itu pada siapa pun juga.


Suhita tertawa begitu lepas. Dia merasa lucu mendapati ibunya bertanya demikian. Lucu saja, kalau Suhita ingat cerita ayahnya yang mengatakan kalau Puspita itu dulunya sangat pemalu, bahkan menatap mata saja Puspita tidak berani, tapi ayahnya justru sangat suka.


"Heh, kenapa malah tertawa? Iiihhh ..." Puspita menggelitik pinggang Suhita. Membuat Suhita semakin tertawa cekikikan. Dua anak dan ibu itu tertawa bersama. Mereka bercanda sampai berguling-guling di atas lantai.


Meskipun tanpa ayahnya, Suhita dan ibunya membuat rumah mereka tetap penuh dengan cahaya positif. Puspita begitu ikhlas merawat putrinya yang miliki hobi yang sangat aneh di mata pendekar seperti mereka. Cara pandang Suhita pun cenderung berbeda dengan dunia persilatan. Suhita sama sekali tidak setuju atas tumpahnya darah. Menurutnya, setiap orang itu memiliki hak yang sama untuk tetap hidup dan mengembangkan keturunan. Tidak perduli orang baik ataupun jahat, jika mereka butuh pertolongan maka harus ditolong. Itulah prinsip seorang tabib.


Cabang klan mata hantu di kota bilah api malam itu mendapatkan kesialan yang amat besar. Bersama dengan laporan buruk yang disampaikan oleh Madaya, hanya berjarak beberapa waktu Pendekar Elang Putih benar-benar muncul di markas mereka. Memaksa untuk berikan penjelasan yang sama sekali tidak mereka ketahui hingga pada akhirnya Pendekar Elang mengamuk dan porak-porandakan beberapa bangunan di markas.


Sebagai pimpinan, Durantra tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa buat negosiasi yang tenangkan hati Mahesa. Sudah jelas, kedatangan Mahesa ialah untuk menghancurkan mereka. Hanya sedikit kesalahan yang dilakukan, tapi akibatnya sangatlah fatal begini. Sungguh, semuanya di luar kendali Durantra.


"Pendekar Elang, sebenarnya apa tujuanmu? Hanya karena salah satu dari kami yang hampir lukai anakmu, mengapa kau sebegitunya memusuhi kami?" ucap Durantra.


"Aku tidak butuh alasan apa pun untuk melakukan sesuatu. Kau tahu, aturan mana pun tidak mungkin mengikat leherku. Kalian anggota klan sesat, mana mungkin berhak ajukan penawaran," Mahesa mengibas-ngibaskan tangannya, membersihkan jubah yang dia pakai.


"Hahaha! Kau pasti akan menyesal! Kau lihat saja nanti !!!" dengan berteriak penuh amarah, Durantra mengerahkan pasukannya untuk menyerang Mahesa secara serentak.

__ADS_1


Dengan sangat senang hati, Mahesa menyambut serangan mereka dengan jurus tapak naga andalannya. Pertarungan sengit segera berlangsung. Durantra memimpin pasukannya bertarung dengan gagah berani. Sementara di pihak lain, Mahesa dengan kemampuan besarnya menghantam lawannya satu per satu.


Saat pertarungan itu berlangsung, tanpa Mahesa ketahui ada tiga orang yang sejak tadi bersembunyi di dalam markas diam-diam menyelinap meninggalkan tempat itu. Beberapa gulung informasi diikat di punggung mereka. Tiga orang itu sengaja diloloskan oleh Durantra untuk selamatkan informasi dan juga untuk persiapan balas dendam pada Mahesa.


Cabang klan mata hantu di kota bilah api adalah cabang terkecil dari seluruh kota yang ada di utara. Durantra yakin, mereka akan mampu buat Mahesa menyesal suatu saat nanti karena telah memilih membuat masalah dengan mereka.


BAAMM !!! BAAMMM !!!


Ada satu energi lain yang baru datang. Energi itu bukan milik Mahesa, melainkan milik istrinya, Dewi Api. Ya, Dewi Api telah berhasil menyusul dan langsung membantu serangan.


Masih seperti dulu, cara bertarung Dewi Api sangatlah brutal. Dia bergerak ke sana ke mari untuk hantamkan pukulannya pada anggota klan mata hantu. Kebencian Dewi Api semakin menjadi bukan karena mereka adalah klan sesat yang harus ditumpas, melainkan karena klan tersebut telah membuat masalah dengan hampir celakai anaknya.


Dengan munculnya Dewi Api, membuat Mahesa hanya dipertemukan dengan pimpinan cabang klan, Durantra. Membuat Durantra semakin kelabakan karena harus bertarung satu melawan satu dengan Mahesa.


Baru mulai beberapa jurus, Durantra sudah mendapatkan hadiah besar. Kepalan tangan milik Mahesa bergerak cepat di sela-sela kedua tangan pertahanan Durantra, hingga menghantam rahang pimpinan cabang klan, dua buah gigi gerahamnya melesat ke udara, meninggalkan kewajibannya sebagai alat pencernaan.


Saat tubuh Durantra limbung, Mahesa kembali lancarkan dua serangan beruntun. Kaki kanan Mahesa menendang lutut Durantra, saat Durantra hampir jatuh tersungkur, tendangan susulan menyapu kepalanya. Seketika itu pandangan Durantra mendadak jadi kabur.


"Katakan saja, siapa orangnya. Siapa orangnya yang merupakan bagian dari kalian. Kau tenang saja, kalian akan tiba di neraka dengan tempat yang berbeda," Mahesa menjambak rambut Durantra dengan keras.


Mahesa terus mendesak agar Durantra buka mulut untuk membocorkan penghianat di dalam tubuh Padepokan Api Suci. Dia tidak begitu mempermasalahkan mengenai pemilik toko pakaian, meskipun pemilik toko pakaian tersebut pastinya punya pengaruh besar. Pertama tentu saja dengan memusnahkan klan sesat ini. Selanjutnya akan dipikirkan. Itu juga kalau tidak keburu bertengkar antara suami istri "super harmonis" itu.

__ADS_1


__ADS_2