
Dengan tangan yang begitu terampil, Suhita membersihkan lalu membalut luka di lengan dan bahu anak laki-laki Bu Sartem (nama wanita paruh baya yang bertemu di kedai). Ada dua orang anak laki-laki, seorang anak perempuan dan dua orang pria dewasa yang sepertinya suami dan adik Bu Sartem.
"Tabib kecil, bagaimana kondisi anak-anak saya? Apa mereka bisa terselamatkan?!" Bu Sartem yang sejak tadi memperhatikan pekerjaan Suhita membuka suara.
"Sudah selesai, Bu. Aku sudah membersihkan semua luka dan infeksi di tubuh anak ibu. Tenang saja, mereka akan baik-baik saja," Suhita tersenyum. Meyakinkan Bu Sartem untuk tidak menjadi cemas berlebihan.
Suhita menghela napas, dia baru menemukan ada bisa (racun) yang melekat begitu erat tubuh pasiennya. Biasanya, bisa (racun) meskipun membuat darah dan organ tubuh menjadi mati, akan tetapi keberadaannya tidaklah menyatu dengan tubuh manusia tersebut.
Mahesa berjalan mendekati Suhita. Masih dengan berdiri, Mahesa mengajak Suhita untuk segera pergi. "Saat bangun, maka mereka tidak lagi akan merasa kesakitan atau bahkan menjadi begitu kesakitan. Karena memang sebenarnya tidaklah sakit. Sembuh dan tidak, mereka yang bisa tentukan."
Suhita menoleh, kemudian dia tersenyum pada Bu Sartem. Tidak lama kemudian, tabib kecil itu mohon diri untuk bicara di luar sebentar.
"Jika tidak berangkat sekarang, kau akan kehilangan kesempatan untuk menonton semi final. Apa kau mau mengorbankan semua itu hanya demi menolong wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu?" Mahesa terus mendesak Suhita untuk segera pergi saja. Bukankah tujuan mereka yakni hendak menonton kompetensi yang diadakan di Padepokan Giling Wesi?!
"Ayah benar. Ah, tidak, tidak. Aku yakin, ayah hanya sedang mengujiku. Aku tidak akan tertipu kali ini. Siapa itu ayahku, bukannya aku tidak tahu yang dia pikirkan," gumam Suhita dalam hati.
Hampir saja Suhita terpancing. Kebenaran dari setiap poin yang Mahesa katakan, semuanya berkaitan dengan kepentingan diri sendiri. Mengutamakan kepentingan pribadi lalu mengabaikan kemaslahatan orang banyak, tentu bukanlah prinsip seorang juru sembuh. Tabib sejati tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. Tidak perduli siapa pun orangnya, apa pun status kehidupannya, selama dia sakit maka merupakan kewajiban seorang tabib untuk mengusahakan kesembuhan.
"Ayah, sebelum pergi maka aku perlu memastikan pasien yang aku obati sudah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik," Suhita menegaskan kalau dirinya tidak mementingkan diri sendiri. Egois bukanlah sikap seorang tabib.
__ADS_1
"Ya, sudah. Hehe ... kalau begitu lakukan apa yang kau anggap lebih utama," Mahesa tertawa kecil. Raut wajahnya berubah, kembali berseri dan tidak sok darurat lagi.
"Aahh, ayah. Berhenti menggodaku," Suhita cemberut.
"Hehehe ... cup, cup, cup, sayang," Mahesa memeluk putrinya dengan penuh kasih.
Di dalam rumah, seperti yang telah Mahesa duga. Beberapa pasang mata mengamati segala kegiatan Mahesa dan Suhita di luar.
"Sial! Siapa sebenarnya pria itu?! Sejak di kedai tadi, dia telah mencurigaiku," wanita paruh baya yang mengaku bernama Bu Sartem itu berdecak kesal. Dia mewanti-wanti pada anaknya untuk tidak bertindak ceroboh.
"Di lihat dari tampangnya, dia sepertinya adalah seorang pendekar dengan kemampuan tenaga dalam yang tinggi. Dia pasti orang yang bertugas melindungi Tabib Dewa itu," jawab anak laki-laki yang tadi di perban oleh Suhita.
"Pimpinan, kita menang jumlah. Apa kau meragukan kemampuan kami untuk meringkus pria busuk pelindung Tabib Dewa tersebut?!" pria lain yang tadi berpura-pura sakit terlihat mulai bosan dengan sandiwara konyol yang mereka perankan.
"Ah, percayalah padaku. Kita pasti berhasil," ucap anak laki-laki kedua dengan penuh percaya diri. Dia kemudian kembali membaringkan tubuhnya, menunggu Suhita datang.
Empat orang yang lain, melakukan hal yang sama. Mereka kembali pura-pura terbaring sakit. Padahal, semuanya tidak ada yang sakit.
Mereka adalah siluman yang begitu penasaran pada kehebatan yang konon Tabib Dewa miliki. Tidak tanggung, mereka sudah melakukan pencarian selama setahun lebih dan baru hari itu berjodoh, hingga di pertemukan saat Tabib Dewa dalam perjalanan ke Padepokan Giling Wesi.
__ADS_1
Hampir semua pendekar, baik yang tertarik maupun yang tidak begitu tertarik pada ilmu pengobatan dan sumberdaya, akan melakukan pengintaian ketika kompetisi di Giling Wesi berlangsung. Perhitungan mereka, Tabib Titisan Dewa yang selama ini tidak diketahui keberadaannya akan menampakkan diri dan ikut kompetisi. Ya, meskipun pada akhirnya semuanya kecewa karena berita tersebut hanyalah isapan jempol semata. Tabib Titisan Dewa tidak muncul.
Siapa sangka, kelompok siluman kelelawar yang tadinya berniat untuk pulang ke sarang mereka di Gunung Andara justru berpapasan di jalan. Pimpinan mereka, Sukantili langsung menyamar menjadi seorang wanita paruh baya yang miskin dan menderita. Sementara lima anak buahnya menyamar sebagai orang yang sakit. Alhasil, mereka berhasil mendapatkan simpati Tabib Titisan Dewa. Dan sekarang, Tabib Dewa yang mereka incar sedang melangkah mendekati mereka.
"Emm, Hita. Kau masih ingat pesan ayah tadi, bukan?" Mahesa kembali mengingatkan.
"Iya, ayahku sayang. Setiap saat, Hita selalu waspada. Apalagi sekarang, Hita merasa jika kemampuan Hita telah bertambah jauh lebih kuat," Suhita memamerkan nadi di tangannya, yang menunjukkan jika level energi yang dia miliki telah berada pada tahap yang paling tinggi.
Mahesa tersenyum seraya mencubit dagu putrinya, "Jangan sombong, karena dalam segala hal yang paling utama adalah otak, bukan otot."
"Ayah tidak ikut masuk?" tanya Suhita melihat Mahesa berdiri tidak bergerak.
"Kau saja. Bukankah mereka itu pasienmu?! Ayah hanya ingin lihat, bagaimana cara kau waspada," goda Mahesa lagi.
Suhita mengulum senyum. Dengan langkah yang mantap, dia bergegas memasuki rumah. Bu Sartem masih duduk di tempatnya semula. Dengan tatapan yang kosong, memandangi anggota keluarganya yang semuanya mengalami sakit yang aneh.
Sudut mata anak kedua melirik ke arah Suhita, dia menunggu saat tabib kecil itu datang memeriksa baru dia akan melakukan serangan untuk meringkus Suhita.
"Bu, baiknya ibu makan saja dulu. Takutnya nanti ibu malah ikut sakit," sialnya, Suhita justru mengarahkan perhatiannya pada Bu Sartem.
__ADS_1
"Iya, nak. Terima kasih. Andai saja, salah satu dari mereka sudah sadarkan diri, betapa bahagianya hati ini," jawab Bu Sartem. Dia mengarahkan Suhita agar segera memeriksa kondisi anak-anaknya. Dengan demikian, rencana anak keduanya bisa berjalan dengan sempurna.
Suhita mengangguk, tidak lama kemudian dia mengambil perlengkapan dari dalam kotak pengobatan. Untuk menenangkan hati Bu Sartem, Suhita akan memeriksa kondisi anak-anaknya. Sebenarnya Suhita juga merasa agak janggal, karena seharusnya dalam jangka waktu tersebut pasiennya sudah sadarkan diri. Tidak seperti sekarang yang terlihat tidak ada perubahan.