
Mahesa masuk dan meneliti ke setiap sel tahanan. Dengan Ilmu Mata Naga yang dia punya, Mahesa bisa mendeteksi pendekar yang paling kuat di sana. Hanya ada beberapa orang yang merupakan pendekar, salah satu diantaranya ialah seorang pria berusia sekitar 50-an tahun. Kumisnya panjang dan sudah berwarna putih, tapi Mahesa tentu tidak bisa ditipu hanya karena itu.
"Hmmm ... kau memanggilku, apa pimpinanmu sudah kehabisan bahan latihan hingga membutuhkan seorang pria tua untuk teman bermain," ucap pria itu saat Mahesa memintanya untuk mendekat.
Tanpa menjawab, Mahesa justru mengerahkan aura membunuh yang teramat pekat. Membuat suasana di seantero penjara menjadi sesak tanpa ada udara yang mengalir. Bahkan, para pendekar yang menempati ruangan yang sama dengan si pria tua bisa merasakan jika Mahesa belum mengerahkan segenap kemampuannya.
"Ba-baik, baik! Aku ikut denganmu ..." pria tua itu memandang berkeliling dan menyaksikan jika udara yang ada di ruangan tersebut hampir habis. Dengan suka rela, dia melangkah ke luar sel tanpa percobaan perlawanan. Keselamatan banyak orang merupakan hal yang lebih penting baginya.
Mahesa mempersilahkan pria tua itu untuk berjalan di depannya. Sambil melangkah pergi, Mahesa mengibaskan tangannya guna menyingkirkan segala efek negatif yang terjadi akibat pancaran energi yang dia kerahkan tadi.
"Mengapa berhenti?! Siapa kau sebenarnya, mengapa sejak tadi tidak pernah bersuara?!" pendekar tua tersebut berbalik badan dan menatap Mahesa dengan penuh selidik.
"Tuan, kau tahu. Saat ada beberapa jenis ikan yang terbawa arus secara bersamaan, itu karena mereka sama-sama berenang di sungai yang deras airnya berada di luar kemampuan sirif mereka. Lalu, atas alasan apa hingga sampai ada beberapa pendekar di dalam sel yang sama?" tanya Mahesa.
Pendekar itu mengerutkan dahi hingga beberapa lapisan. Dia tidak pernah menemui ada anggota Kelompok Jubah Hitam yang mempertanyakan alasan. Biasanya mereka hanya menjalankan tugas dengan keras terkait para tahanan. Atau jangan-jangan orang yang memakai cadar dan jubah hitam di hadapannya bukan anggota Jubah Hitam.
__ADS_1
"Siapa kau ini? Mengapa bisa masuk ke dalam markas Jubah Hitam. Kau cari mati?!"
"Tentu saja tidak. Aku justru sedang mencari informasi. Jika kau bisa membantuku, mungkin kita akan keluar bersama-sama dengan yang lain atau juga mati bersama-sama di sini," Mahesa membuka cadar yang menutupi wajahnya. Memperlihatkan wajahnya pada pria tersebut.
Pria itu menjadi yakin jika Mahesa bicara sungguh-sungguh. Dengan sepenuh keyakinan, dia menyanggupi permintaan Mahesa dan akan membantu sejauh yang dia mampu. "Pendekar, orang-orang memanggilku Ki Maung Koneng. Kau bisa panggil namaku dengan nama itu."
Mahesa menganggukkan kepalanya berulang kali, tanpa menyebutkan siapa dirinya. Justru, Mahesa langsung menyerahkan peta lokasi gua Lubang Kaca Mata. Memang hanya ada satu pintu keluar. Akan tetapi, peta tersebut begitu membantu untuk menuntun mereka agar bisa keluar tanpa harus terjebak di jalan buntu.
"Itu peta lokasinya. Nanti, jika rencanaku berhasil. Maka Ki Maung dan teman-temanlah yang aku percaya untuk mengevakuasi para tahanan. Sekarang, apa bisa beritahu aku siapa-siapa pendekar yang menjadi andalan di kelompok ini?"
Ki Maung kemudian memaparkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh dua bersaudara yang merupakan pimpinan kelompok. Ki Surya Petir dan Bos Geledek merupakan penjahat yang pernah menjadi hulu balang di Aliansi Bunga Suci. Kemampuan mereka tidak diragukan lagi. Namun sebelim Aliansi Bunga Suci hancur, dua saudara tersebut telah lebih dulu keluar dan mendirikan perkumpulan sendiri.
"Baik, tunggu instruksi selanjut. Sekarang kembalilah ke tahanan," Mahesa bergegas pergi dari ruangan penjara. Dia mengarah ke gudang penyimpanan senjata pusaka dan penyimpanan harta.
Tidak ada seorang pun orang di sana, karena satu-satunya orang yang mengawasi tempat itu adalah orang yang telah Mahesa singkirkan dengan Pedang Rembulan tadi. Lagi pula, jalan menuju ruangan itu begitu rumit dan banyak sekali tembusannya.
__ADS_1
Mahesa tersenyum tipis. Dia melihat tumpukan harta yang dikemas dalam peti kayu yang begitu rapi. Pula senjata pusaka yang ditata dengan sebegitu rupa. Memang, tidak ada senjata yang sangat berharga. Namun dengan lenyapnya senjata itu, sudah cukuplah untuk membuat mereka jadi panik.
Dengan memusatkan pikiran, Mahesa melakukan gerakan seperti layaknya orang hendak memulai tarian. Dia mengerahkan tenaga dalam untuk merampok seluruh isi ruangan tersebut. Sungguh, jiwa muda Mahesa masih meronta-ronta kala di hadapkan pada perhiasan dunia semacam itu.
Dalam waktu yang singkat, gudang harta Kelompok Jubah Hitam menjadi kosong melompong. Hanya peti-peti kayu tak berharga yang tetap tersusun rapi. Mahesa mengisi peti-peti tersebut dengan dedaunan kering. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi dua saudara pimpinan Kelompok Jubah Hitam jika masuk dan melihat yang terjadi di ruang penyimpanan hartanya.
Mahesa terkejut bukan kepalang ketika kembali dari ruang penyimpanan pusaka dan mendapati begitu banyak pasukan yang lalu-lalang di dalam gua. Apa jangan-jangan mereka sudah menyadari jika terjadi sesuatu yang janggal saat mereka berlatih?
Huuuhhh, syukurlah. Ternyata ada hal lain yang membuat mereka menyudahi permainan. Dua saudara mendapatkan laporan jika terjadi kekacauan pada rencana mereka di Kota Giling Wesi. Maka dari itu, Surya Petir mengirim Enam Pendekar untuk mengurus masalah itu.
"Enam Pendekar langsung dikirim?! Berarti, masalahnya sangat serius. Memangnya siapa pendekar yang akan dihadapi oleh Enam Pendekar?" tanya Mahesa pada penjaga pintu masuk.
"Tidak ada pasukan Jubah Hitam yang banyak mulut. Kau pasti mata-mata!" penjaga pintu masuk menunjuk hidung Mahesa.
"Fiiihhh! Aku tanya baik-baik. Kalau tidak tahu, jangan memancing keributan. Kau selalu saja bersantai saat orang dalam keadaan genting. Jika merampok adalah pekerjaan yang menyenangkan, mungkin sejak lama aku jadi gemuk. Apa senangnya setiap hari mengadu nyawa!" Mahesa neyerocos mengumbar kemarahan. Dia pura-pura kesal dan mengumpat panjang pendek, sambil melangkah pergi meninggalkan pintu masuk.
__ADS_1
Mahesa terus berjalan dan ngedumel hingga tubuhnya hilang di balik gundukan batu. Sesaat kemudian, tubuh Mahesa telah melayang ringan, berlompatan di bebatuan melewati jurang berbahaya. Dia menyusul Enam Pendekar yang berniat menuju ke Giling Wesi. Ya, sore itu Enam Pendekar akan menggantikan pasukan pengacau untuk menyelesaikan misi mereka.
Kemarin, rencana penculikan pada peserta kompetisi digagalkan oleh seorang pendekar tidak dikenal. Selain dua anak peserta kompetisi yang lepas, Jubah Hitam juga kehilangan seorang anggota mereka. Dia ketua cabang di Padepokan Giling Wesi yang merupakan mata dan telinga mereka di Padepokan. Dan kali ini, Enam Pendekar dipercaya untuk menyelesaikan misi mereka yang tertunda, sekaligus menangkap pendekar yang diceritakan. Yang konon memiliki kemampuan sangat tinggi.