Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Berkas Penting


__ADS_3

Ki Wijen dan seluruh pendekar yang ada di dalam ruangan saling pandang. Mahesa tahu, mereka tidak sedang memperhitungkan tawaran yang dia berikan. Melainkan sedang memikirkan cara untuk bisa menyelamatkan aset-aset dan berita rahasia yang Mahesa inginkan.


"Sekarang bagaimana, apa tertarik atau ...?" Mahesa mengangkat sebelah alisnya.


"Aku pilih poin yang kedua," seorang pendekar dengan sebilah pedang panjang langsung mengangkat pedangnya ke arah Mahesa, menghancurkan meja dan kursi yang sedang dia duduki.


"Satu keputusan yang salah!" ujar Mahesa dengan energi tenaga dalam di tangannya menyambut serangan dengan antusias.


Pedang panjang dengan tongkat genggaman tersebut meluncur dengan deras menunju kepala Mahesa. Kilau cahayanya tergambar jelas dalam bola mata.


WUUSSHHH!


Pedang itu bergerak beberapa senti di depan wajah Mahesa, tidak tepat sasaran dan malah tertancap pada daun pintu.


Pendekar berkepala plontos dan berjambang tebal itu hendak mencabut pedangnya kembali, saat telapak tangan Mahesa menampar pipinya dengan sangat keras. Hingga tubuh orang itu terdorong ke samping. Namun tangannya masih menggenggam erat gagang pedang dan pedang panjangnya terbawa jatuh tersungkur.


"Kurang ajar!" dengan memaki dia menepuk lantai dan membuat tubuhnya berdiri tegak.


"Kakak, aku datang membantumu!" seorang pria gempal datang membantu serangan. Tubuhnya berputar dan membentuk sebuah bola raksasa menghantam ke arah Mahesa.


Mahesa melompat dan mengayunkan tangannya, menyambut kedatangan bola raksasa itu dengan kepalan tinjunya.


Layaknya bola yang memantul, tubuh pria gempal itu bergerak berubah arah. Dia justru menyerang ke arah rekannya yang masih duduk. Terbanting keras dan menghancurkan meja serta kursi.

__ADS_1


"Kurang ajar!" serentak beberapa orang memaki dengan geram. Mereka tidak terima diperlakukan sesuka hati oleh Mahesa. Status mereka memang berbeda, berada di level pendekar berbintang tidak serta merta membuat Mahesa harus ditakuti begitu saja. Meskipun mereka hanya para pendekar biasa, tapi mereka menang jumlah. Semut saja, dengan bergotong royong bisa angkat benda yang berpuluh kali lebih besar.


Beberapa kelebat bayangan naga berwarna putih bergerak melingkar, menyambut serangan para pendekar yang menyergap Mahesa dari berbagai arah. Naga-naga tersebut menggulung satu persatu lawan dan menghempaskan mereka hingga terbanting ke lantai. Tidak butuh waktu yang lama, ruang pertemuan itu hancur berserakan bak kapal pecah.


"Hentikan!" Ki Wijen berteriak menghentikan pertarungan.


Pria paruh baya itu berdiri di atas meja, menatap ke arah Mahesa. Di tangannya, tergenggam segulung kertas yang diikat dengan pita merah. Perlahan, Ki Wijen mengangkat gulungan kertas tersebut.


"Kau inginkan ini? Jika aku berikan semuanya, lalu apa yang akan aku dapatkan?" tanya Ki Wijen.


"Kedatanganku bukan untuk negosiasi. Jika kau tidak berbuat salah, lalu untuk apa kau takut? Aku hanya ingin memeriksa, bukan untuk memiliki," Mahesa melambaikan tangannya, meminta gulungan kertas itu secara baik-baik.


"Baik! Pendekar Elang, maaf," ucap Ki Wijen seraya melemparkan gulungan kertas tersebut pada Mahesa.


Mahesa yang tidak menduga sebelumnya, sangat terkejut. Dia segera menahan napas dan melepaskan energi dari dalam tubuhnya untuk mendorong kabut beracun yang menyembur ke arahnya. Meskipun Mahesa melakukannya dengan cepat, tetap saja sebagian serbuk racun berhasil mengenai tubuhnya, membuat keseimbangan Mahesa sedikit goyah.


Mendapati hal itu, seorang pendekar memanfaatkan kesempatan untuk balas menyerang Mahesa. Dia melupakan kesepakatan awal bersama rekan-rekannya untuk kabur saat Mahesa terpengaruh racun. Bukannya malah menyerang.


Berharap mendapatkan durian runtuh, pendekar itu malah tertimpa pohon durian. Saat pedangnya diarahkan pada Mahesa, orang itu berharap bisa mencatatkan rekor untuk bisa melukai seorang pendekar setara Mahesa. Tapi apa daya, karena memang bukan sekadar isapan jempol mengenai kemampuan yang Mahesa punya. Teknik bertarung yang dimiliki oleh Mahesa, tidak akan bisa dibaca oleh lawan-lawannya. Dan itu terbukti. Mahesa tidak perlu menghindar atau sekadar bergerak sedikit pun juga. Karena sebelum pedang tersebut berhasil mendekat, kristal es telah lebih dulu menepis pedang tersebut dan menghempaskan pedang hingga berubah menjadi bongkahan es. Belum reda terkejutnya pendekar itu, kristal es yang lain telah lebih dulu menembus tubuh sang pendekar. Niatnya untuk kabur, harus terkubur bersama jasadnya saat itu juga.


Mahesa masih mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, seolah debu beracun itu masih berada di sekitarnya. Sialan! tidak biasanya dia kecolongan. Sungguh cara tipuan yang digunakan oleh Ki Wijen begitu sangat nyata, membuat Mahesa sudah merasa menang dan menjadi lalai. Dia menduga jika kelobak pencuri informasi tersebut takut padanya, padahal hanyalah taktik semata.


Beruntungnya Mahesa sekarang adalah seorang dengan kemampuan ilmu tabib yang sangat mumpuni hingga dia tidak kelabakan ketika mendapati serangan racun. Obat-obatan yang dia punya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tetap bertahan.

__ADS_1


Mahesa baru sadar jika dia datang berdua bersama istri setelah melihat bayangan seorang wanita yang mendekat ke arahnya. Ya, itu istrinya. Lalu kemana Dewi Api saat Mahesa bertarung tadi? Suaminya hampir celaka, masa dia tidak melakukan tindakan. Mahesa yakin jika istrinya sedang tidak berada di tempat saat kejadian tadi. Bagaimana juga marah dan kesalnya Dewi Api, dia tidak mungkin tega berlaku seperti itu. Lalu, dari mana dia?


"Hei, kau kenapa? hehe ..." Dewi Api menutupi mulutnya saat tertawa. Dia mendapati suaminya hampir dikalahkan oleh para pendekar kroco. Ah, sungguh lelucon yang tidak lucu.


"Sialan! Istri seperti apa kau ini? Suamimu hampir mati keracunan, sempat-sempatnya kau tertawa," umpat Mahesa.


"Aduh, suamiku tercinta. Apa aku tidak salah lihat? Kau hampir mati di tangan para pendekar receh, apa yang bisa ku jelaskan pada dunia persilatan nanti? Hahaha! Memangnya kau ingin aku berbuat apa? Bukannya kaulah seorang tabib?" Dewi Api berjongkok dan berniat untuk membantu suaminya berdiri. Namun tangannya buru-buru ditepis oleh Mahesa.


Dewi Api menunjukkan segulung kertas pada Mahesa. Gulungan kertas berpita merah tersebut merupakan berkas rahasia yang berhasil dia curi dari dalam ruang penyimpanan. Dan tentunya berkas yang dibawa oleh Ki Wijen dan teman-temannya adalah berkas palsu, karena Dewi Api telah lebih dulu masuk dan menukar gulungan berisi berita rahasia dengan gulungan kertas kosong. Mereka terlalu panik hingga tidak curiga, apalagi memeriksa gulungan berkas, memeriksa para penjaga yang telah dicelakai oleh Dewi Api saja mereka tidak sempat.


"Ayo, sekarang kita pulang. Lagi pula, Ki Wijen dan siapa pun itu tidak lagi berguna tanpa berkas rahasia ini. Untuk datang menuntut balas padaku, aku yakin keberanian mereka tidak sampai di sana," Dewi Api masih menahan tawa ketika menggandeng suaminya ke luar gua.


Gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Ki Wijen, nampaknya tidak berjalan mulus. Belum lagi utusan dari klan mata hantu yang masih berkeliaran memburu mereka, akan menambah kesulitan ruang gerak. Segala berita dan informasi rahasia yang mereka gelapkan saat ini sudah berada di tangan Dewi Api. Tidak banyak yang bisa mereka perbuat, sebentar lagi juga pihak kerajaan akan menyebar perintah penangkapan kepada seluruh nama yang tercantum.


°°°


"Sayang, ayah harus pergi. Kau belajar yang giat, ya. Nanti kapan ayah datang kemampuan beladiri yang kau kuasai harus meningkat," Mahesa mengelus kepala Raka Jaya.


Raka Jaya tersenyum. Bocah kecil itu memeluk sang ayah seraya meyakinkan akan keseriusannya. Tanpa tangis, Raka Jaya melepas kepergian ayahnya dengan ikhlas.


Mungkin, semuanya karena biasa. Sejak kecil, Mahesa memang selalu datang dan pergi. Anak-anaknya sudah tidak kaget lagi. Yang mereka harapkan ialah kedatangan ayahnya kembali setelah kepergian sekarang, tidak lebih. Keinginan anak-anak memang sederhana. Sedikit berbeda dengan ibu mereka yang masih bawa-bawa perasaan. Tentu semuanya wajar, karena cinta memang tidak bisa dibagi-bagi dan disebar sana-sini.


Mahesa semakin mempercepat lari kudanya, selain rasa rindu pada Suhita, juga ada perasaan lain yang sedikit mengganjal dalam dada pendekar muda itu. Mendadak dia mencemaskan keselamatan keluarga kecilnya yang sama sekali tidak dibekali kemampuan olah kanuragan.

__ADS_1


Dalam pikiran Mahesa, dibayangi rasa ketakutan. Kalau-kalau mereka para perampok yang pernah berseteru datang dan mengancam keselamatan Puspita dan Suhita. Belum lagi, belakang diketahui jika Suhita sudah sering menolong orang yang sedang sakit, tanpa meminta imbalan secuil pun. Pastinya, tabib dan dukun yang sudah kadong beken merasa tersaingi. Tidak jarang, orang-orang yang memiliki pikiran picik seperti itu akan menghalalkan segala macam cara. Ah, hati Mahesa semakin berdebar tidak karuan.


__ADS_2