Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Prahara di Candi Karusian


__ADS_3

Danur Cakra memasuki pelataran Candi Karusian dengan hati yang bergemuruh. Pemandangan yang menyambutnya begitu menyayat hati. Peperangan besar telah terjadi meski hanya sebentar Danur Cakra pergi. Tidak sampai setengah malam, seluruh bukti dari penyelidikan yang dilakukan satu pekan lebih harus hilang begitu saja. Bahkan terlalu banyak nyawa tidak berdosa yang menjadi korban.


"Jika harus berakhir seperti ini ... rasanya sia-sia semua yang aku lakukan," gumam Danur Cakra.


Selama satu pekan ini, Danur Cakra berusaha untuk bertindak di bawah payung hukum. Meskipun harus menahan hati dan banyak bersabar, tapi nyatanya Danur Cakra berhasil untuk tidak melakukan cara pendekar. Sekarang, setelah apa yang dia dapatkan ... nampaknya kekerasan adalah hal terbaik untuk tegakkan keadilan.


Anta Sena, Beru Nunggal dan Si Rambut Merah tertawa terbahak menyambut kedatangan Danur Cakra. Ketiganya tahu jika tenaga dalam Danur Cakra sudah banyak terkuras setelah bertarung tiada henti melawan para pembunuh Kapak Emas. Meski demikian, Anta Sena tetap waspada pada pendekar muda tersebut.


"Kalian adalah iblis yang bersembunyi di balik jubah malaikat. Tempat para iblis bukan di sini, tapi di neraka. Dengan senang hati, aku akan kirimkan kalian ke tempat yang semestinya!" Danur Cakra mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya. Dia tidak ingin lengah sedikitpun. Danur Cakra sadar betul jika lawannya merupakan orang-orang yang sangat berbahaya.


"Rambut Merah, kau harus lebih berhati-hati. Anak muda ini sangat berbakat, jangan sampai kau mati dua kali terkena pukulan Tapak Naga. Bisa-bisa tidak hidup lagi," ucap Beru Nunggal.


Si Rambut Merah mendengkus kesal. Terasa seperti ada yang menekan dadanya saat digunakan menarik napas. Ucapan Beru Nunggal memang tidak salah, akan tetapi rasanya lebih menyakitkan. Sudah belasan tahun berlalu, tapi hingga saat ini Rambut Merah masih tidak bisa melupakan saat dia dan kelompoknya dijadikan badut idi*ot kala dipermalukan oleh Pendekar Elang Putih. Sekarang ... dihadapannya muncul seorang pendekar muda dengan kemampuan yang mirip dengan Elang Putih. Tidak perduli pada latar belakang pemuda ini, Si Rambut Merah akan balaskan dendamnya dengan menghabisi siapapun yang miliki Pukulan Tapak Naga.


Jurus demi jurus telah berlalu, baik Danur Cakra maupun lawannya bertarung dengan kemampuan terbaik mereka. Sesekali terdengar dentuman besar ketika pukulan tenaga dalam mereka berbenturan di udara. Meskipun usia Danur Cakra terbilang sangat muda, harus diakui oleh Anta Sena bahwa mereka dapatkan lawan yang sepadan. Entah dari mana anak itu pelajari kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga, yang jelas hingga saat ini kemampuan tenaga dalam tersebut sangat sukar dicari tandingannya.


"Kepa*rat! Kita harus ubah strategi, kita tidak bisa hadapi anak ini dengan pertarungan. Bisa-bisa kita mati konyol!" bisik Anta Sena. Diikuti oleh Beru Nunggal, Anta Sena melompat mundur beberapa tombak.


Dengan menjauhnya Anta Sena dan Beru Nunggal, hal ini membuat Si Rambut Merah hanya tinggal seorang diri menahan gempuran Danur Cakra. Si Rambut Merah begitu terkejut mendapati dua rekannya menjauh tanpa memberi aba-aba padanya. Sementara itu, Danur Cakra justru semakin bersemangat. Secepat mungkin Danur Cakra ingin menjatuhkan lawannya.


'Naga Langit Menelan Bumi' Danur Cakra melompat tinggi di udara, tubuhnya berputar dengan cepat. Kedua tangan Danur Cakra terjulur mengarah ke kepala Si Rambut Merah, melepaskan cahaya berwarna putih menyilaukan berbentuk kepala naga.


"Sialan!" Si Rambut Merah mengumpat kesal. Tanpa bisa berbuat banyak, Si Rambut Merah berusaha menciptakan tameng tenaga dalam untuk melindungi kepalanya dari pukulan yang dilepaskan oleh Danur Cakra.


DAARRR !!! Semburan cahaya yang sangat menyilaukan memenuhi tempat di mana Si Rambut Merah berdiri. Untuk kedua kalinya Rambut Merah harus merasakan pukulan Tapak Penakluk Naga, dan kali ini keadaan jauh berbeda. Lebih buruk.


"Aakkhhh ..." dengan menekan dadanya yang terasa sesak, Rambut merah memuntahkan darah segar yang sangat banyak. Bahkan darah mengalir dari hidung dan juga telinga. Kondisi Rambut merah benar-benar terdesak. Tidak ada yang bisa dia perbuat. Jangankan untuk melakukan perlawanan, untuk berdiri saja tidak bisa.


"Sekarang!" teriak Anta Sena.


Secara bersamaan, Anta Sena dan Beru Nunggal melompat melayangkan serangan. Mereka secara sengaja mereka menggunakan Rambut Merah sekadar untuk mengacaukan konsentrasi Danur Cakra. Tepat setelah Danur Cakra melepaskan tenaga dalam dengan jumlah yang besar, Anta Sena secara curang langsung menyerang bahkan sebelum kedua kaki Danur Cakra menginjak tanah dengan sempurna.


"Bang*sat!" maki Danur Cakra. Dia tidak menduga, jika kedua lawannya akan menggunakan cara yang licik dalam bertarung. Akan tetapi jika dipikir-pikir, wajar saja mereka demikian. Dalam dunia hitam tentu saja kecurangan merupakan hal yang dianggap wajar.


'Tapak Naga Kresna' Danur Cakra menghentakkan kedua tangannya, mengeluarkan tenaga dalam tahap tinggi yang dia miliki. Melindungi diri sendiri, adalah hal terpenting dari segalanya.


Setelah terdengar satu benturan yang sangat keras, suasana di sekitar Candi Karusian berubah sepi senyap. Hanya sesekali terdengar suara burung malam yang mengalun samar dari kejauhan. Suasana tersebut terus bertahan hingga kemudian terdengar derap kaki kuda yang datang mendekat, memecahkan keheningan. Kelompok berkuda yang datang semuanya dibalut pakaian seragam yang begitu gagah. Mereka merupakan pasukan khusus dari Kerajaan.

__ADS_1


"Periksa dengan teliti!" perintah pimpinan pasukan.


Menjalankan perintah, seluruh prajurit tersebut bergegas turun dari punggung kuda dan bergerak menyisir Candi Karusian. Gerakan mereka nampak ringan, menandakan jika rata-rata kemampuan yang mereka miliki cukup tinggi.


Di dasar tebing, Danur Cakra yang telah mendapatkan kesadarannya kembali berusaha untuk bangkit. Dadanya terasa sangat nyeri, dengan mata yang masih berkunang-kunang Danur Cakra bisa melihat gerombolan prajurit kerajaan yang datang. Danur Cakra juga melihat jika para prajurit tersebut telah menemukan Anta Sena yang sedang sekarat. Insting Danur Cakra berkata jika dia akan mendapatkan masalah seandainya saat itu tidak segera pergi. Dia harus meneliti keadaan sebelum memutuskan untuk menampakkan diri. Takutnya para prajurit tersebut akan lebih mempercayai Anta Sena yang dikenal sebagai 'orang baik' di Candi Karusian. Danur Cakra hanya seorang pendekar, bukan pemain politik.


Dengan sisa-sisa tenaga, Danur Cakra berjalan menjauh. Luka dalam yang dia derita, setidaknya butuh waktu lama untuk bisa kembali pulih.


"Sialan! Domba-domba tua itu, membuatku hampir celaka!" umpat Danur Cakra mengatur napas sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


"Hei, Kisanak! Berhenti!" seorang prajurit memergoki Danur Cakra.


Danur Cakra menghentikan langkah. Dalam beberapa tarikan napas, prajurit tersebut telah berdiri di hadapan Danur Cakra. Sebentar saja bicara, Danur Cakra bisa menduga jika prajurit tersebut berada di pihak Anta Sena. Atau mungkin, karena tidak ada yang mengenal siapa Danur Cakra.


"Aku tidak tahu, sama sekali aku tidak terlibat. Aku tidak tahu apa-apa! Biarkan aku pergi!" ucap Danur Cakra.


Tentu saja prajurit tersebut bukanlah orang bodoh. Siapa yang percaya pada ucapan Danur Cakra, bahkan anak kecil sekalipun akan mengatakan jika itu adalah dusta.


"Berani sekali kau menentang perintah. Jangan salahkan aku jika harus bertindak tegas!" ucap prajurit kerajaan yang langsung berusaha meringkus Danur Cakra.


Dasar sial, dalam keadaan genting seperti itu justru muncul seorang prajurit lain yang pastinya datang untuk meringkus Danur Cakra.


BAAMM! Danur Cakra memukul prajurit dengan kekuatan besar, membuat kepala prajurit tersebut berputar balik menghadap ke belakang. Dia tewas seketika.


Prajurit yang baru datang terbelalak lebar, tuduhan atas kejahatan Danur Cakra menjadi terbukti. Pendekar muda itu adalah pengacau yang membuat Candi Karusian porak-poranda.


WUUUSSSS! WUUUSSSS! Danur Cakra pula menghadiahi prajurit tersebut dengan energi hitam. Untuk kemudian segera melarikan diri. Sebagai buronan.


°°°


Harusnya, saat ini Danur Cakra bisa menarik napas lega. Meskipun statusnya masih belum lepas sebagai buronan, setidaknya luka dalam yang Danur Cakra derita sudah diobati, tinggal menunggu waktu untuk sembuh seperti semula.


"Mengapa Hita belum juga kembali? Ke mana bocah itu?" berulang kali, Danur Cakra melongok ke luar jendela. Hatinya tidak bisa tenang. Bagaimanapun juga kemampuan yang Suhita miliki sekarang, di mata sang kakak Suhita masih merupakan seorang bocah kecil yang lemah.


Beberapa saat lamanya Danur Cakra berusaha untuk menunggu. Dia duduk dengan gelisah, namun belum ada tanda-tanda Suhita pulang.


Danur Cakra bangkit, kemudian berjalan meninggalkan kamarnya. Turun ke bawah menuju kedai untuk sekadar menghilangkan jenuh. Siapa tahu, di sana dia bisa mendapatkan berbagai berita penting seputar dunia persilatan. Karena tempat kedai merupakan salah satu pusat informasi terbaik.

__ADS_1


Paras rupawan yang Danur Cakra miliki tentu saja menjadi poin sendiri. Seperti layaknya Suhita yang menjadi pusat perhatian kaum Adam, sebaliknya Danur Cakra pun menjadi pemandangan sejuk bagi mereka kaum wanita. Kehadiran Danur Cakra dalam waktu singkat menjadi pusat perhatian setelah beberapa wanita dengan berani menyapa dan menggodanya.


Jika ingat pada sikap sang Ayah, begitu pula yang terlihat pada diri Danur Cakra. Dia tidak pernah perduli pada sapaan orang yang tidak dikenal, tapi sikap Danur Cakra cenderung lebih sombong dan nampak arogan.


Seorang pelayan datang menghampiri. Matanya menatap penuh selidik pada Danur Cakra. Bukan karena wajah Danur Cakra yang mirip dengan Tabib Titisan Dewa, akan tetapi dia terlihat mengingat sesuatu.


"Jangan cari masalah. Kau tahu bukan? Aku bisa saja membuatmu dalam masalah," ucap Danur Cakra pelan, hanya pelayan itu yang bisa mendengar.


Tubuh si pelayan nampak bergetar ketakutan. Kekuatan tenaga dalam yang Danur Cakra kerahkan membuat seluruh bulu kuduknya jadi berdiri. Menelan ludah pun, seperti menelan duri.


"Ampun ... Tuan pendekar, mohon ampuni kesalahan saya," ucap pelayan dengan suara yang bergetar ketakutan.


Danur Cakra mengibaskan tangannya, meminta pelayan itu untuk segera pergi dari hadapannya. Hati Danur Cakra mendadak jadi kesal, dia sedang suntuk menunggu, dan sekarang pelayan itu muncul membuat moodnya semakin buruk.


"Sialan! Mengapa semua orang seolah memojokkanku, pernahkah mereka ingin tahu atas apa yang sebenarnya terjadi?!" Danur Cakra mengepal keras. Dia harus bicarakan ini pada adiknya, daripada nanti Suhita harus mendengar dari orang lain. Danur Cakra yakin kalau Suhita akan lebih percaya pada dirinya.


°°°


Sementara itu, Suhita dan para pelayannya masih berada di wisma Kelompok Merpati Putih. Mereka sedang berbincang di beranda depan. Ki Tirta, Wana Yasa dan beberapa tokoh penting Merpati Putih juga ada di sana.


"Saya hanya seorang tabib. Tidak akan terlibat dalam urusan dunia persilatan. Bagi seorang tabib, siapa pun yang membutuhkan pertolongan maka saya akan membantu. Tidak ada baik dan jahat, yang ada hanyalah sakit dan sehat," ucap Suhita tetap pada pendiriannya.


Ki Tirta tersenyum lembut. Meskipun raut wajahnya terlihat kecewa, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada seorang pun juga di dunia ini yang bisa memaksakan kehendak. Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Begitu juga dengan Suhita. Lagi pula, tangan Suhita begitu dibutuhkan oleh orang-orang seantero negeri.


"Saya rasa, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Malam sudah semakin larut. Tuan harus banyak istirahat demi kesembuhan Tuan. Saya juga mohon diri, ada seorang pasien yang pasti gelisah menunggu saya," Suhita membungkuk memberi hormat. Tanpa bisa ditahan, Suhita melangkah meninggalkan wisma Merpati Putih.


"Tidak ada tanda-tanda kemunculan para penjahat Lipan Utara. Aku yakin ini hanyalah akal-akalan mereka untuk bisa membujukmu agar mau bergabung," ucap Arya Winangun setelah mereka di dalam kereta.


Suhita cuma tersenyum, tidak menanggapi perkataan Arya Winangun. Padahal semula Suhita berharap bisa bertemu dan bicara langsung dengan penjahat Lipan Utara, setidaknya mereka perlu tahu siapa dan bagaimana sebenarnya Tabib Titisan Dewa. Terkadang, berita yang beredar dari mulut ke mulut hanya membuat suasana semakin kacau. Mereka hanya memandang dari satu sisi belaka.


"Hupp! Ckckckck !!!" Prana menarik tali kekang kuda, mengendalikan kereta yang hampir menabrak seorang nenek tua di tepi jalan.


"Jangan turun, biar aku saja. Rasanya ada yang janggal," ucap Arya Winangun. Tanpa menunggu reaksi Suhita, Arya Winangun langsung turun bahkan sebelum dia selesai bicara. Pintu kereta kembali dia tutup.


Seorang nenek tua berjalan seorang diri, di malam yang sudah begitu larut. Secara akal sehat, rasanya tidak mungkin jika dia hanyalah seorang warga biasa. Gerak-gerik nenek tua itu begitu mencurigakan, bahkan sampai Arya Winangun mendekat dia masih belum berbalik badan untuk memperlihatkan wajahnya.


"Ehem ... ehem ... Nek, maaf," Arya Winangun pura-pura batuk sebelum menyapa si nenek. Dia takut jika membuat nenek terkejut dan membuat kesalahpahaman.

__ADS_1


Namun, nenek tua tersebut tidak juga bergeming. Tubuhnya yang bungkuk, semakin menambah sosoknya menjadi misterius. Arya Winangun meningkatkan kewaspadaan, bukan hal yang baru jika ada orang yang berniat untuk mencelakai Suhita. Sudah terlampau sering, hingga hampir menjadi hal yang biasa.


Suhita dan Kencana Sari yang memperhatikan dari jendela kereta, sama-sama mengerutkan dahi. Gerak-gerik nenek tua itu memang mencurigakan, akan tetapi Suhita tidak mencium adanya aliran kekuatan yang menyelimuti. Itu artinya, si nenek tidak berniat untuk melakukan serangan dadakan. Lalu, apa yang dia inginkan? Untuk apa nenek itu menghalangi jalan mereka?


__ADS_2