
WUUUSSSHH !!! Praaakkkk!
Gelas yang terbuat dari tanah liat di genggaman tangan Suhita sampai jatuh dan terpecah. Ketika tiba-tiba saja, Suhita yang sedang menunduk memeriksa keadaan anak-anak Bu Sartem, mendapat serangan yang mendadak dan sangat cepat.
Tubuh Suhita yang begitu lentur meliuk, rebah ke samping. Tangan Suhita menangkap tiang ranjang guna menahan bobot tubuhnya yang memang begitu ringan bak kapas.
Kemudian, Suhita mendorong tiang ranjang tersebut. Hingga ranjangnya roboh, melemparkan tubuh orang yang berbaring di atasnya. Sementara dia sendiri terdorong ke belakang dan berdiri di tengah ruangan. Dengan sigap, Suhita mengait tali gendongan alat pengobatan miliknya dengan ujung kaki. Menariknya hingga kembali ke balik punggungnya.
Enam orang, lima yang tadi sakit ditambah Bu Sartem. Kesemuanya telah berdiri berhadapan dengan Suhita. Ternyata mereka hanya berpura-pura.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Siapa kalian?!" tanya Suhita penuh heran.
Sudut mata Suhita melihat senjata yang tadi digunakan untuk menyerangnya menancap di dinding rumah. Dinding itu sampai berubah berwarna kebiruan. Sungguh racun yang sangat berbahaya. Akan tetapi, Suhita yakin jika mereka telah memiliki penawarnya.
Saat racun itu mengenai Suhita, sebelum terjadi hal yang mengancam nyawa maka mereka akan langsung memberikan penawarnya. Yang terpenting ialah mereka bisa meringkus Suhita. Tapi sayangnya, rencana mereka gagal. Kecepatan menghindar yang Suhita miliki mampu mengungguli kemampuan serang lawannya hingga rencana anak kedua yang merupakan anak buah Sukantili gagal total.
"Kau ini bagaimana? Rencanamu sangatlah tidak bagus," keluh seorang lainnya.
"Semuanya sudah terlanjur. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain melanjutkan rencana. Cepat bersiap! Tidak bisa menangkap dengan halus, sekarang kita gunakan cara kasar. Serang anak itu!" perintah Sukantili.
"Siap, pimpinan!" serentak, kelima orang siluman anak buah Sukantili itu menghentakkan tubuh mereka. Membuat seluruh perban yang membungkus seketika hancur berserakan. Mereka memang tidak sakit. Racun yang tadi melekat, merupakan racun yang berasal dari tubuh mereka sendiri.
__ADS_1
Suhita berharap ayahnya cepat masuk, tapi sepertinya Mahesa masih di luar dan tidak mendengar adanya keributan di dalam ruangan itu. Mau tidak mau, Suhita harus melindungi dirinya.
"Ayah bicara benar, mereka memang orang jahat. Tapi, mengapa aku tidak bisa melihat ciri-ciri itu. Tapi ayah bisa tahu hanya dengan sekali lihat?!" Suhita tidak habis pikir.
Begitu banyak hal penting yang sama sekali tidak Suhita ketahui. Semakin dia belajar, maka ilmunya semakin terasa sangat rendah. Dunia ini begitu luas, Suhita hanyalah seekor semut lemah yang tidak tahu di mana ujungnya lautan.
Sukantili dan anak buahnya kembali pada wujud asli mereka. Siluman berotot dan memakai pakaian yang serba hitam dengan taring tajam menyembul dari sudut bibir mereka.
Suhita sadar, jika dia tidak melakukan perlawanan maka nyawanya dalam bahaya. Memanggil ayahnya juga tidak mungkin berhasil. Mahesa bukanlah orang awam, bahkan dia bisa mendengar dari jarak yang lebih jauh. Sekarang ini dia tidak masuk, itu artinya Suhita masih dalam masa ujian. Sama seperti sebelumnya. Mahesa memang terkesan aneh. Mengajar anak sendiri, seperti melatih kera untuk dijadikan pelaku topeng monyet. Sangat kejam, latihan tapi menghadapkan pada pilihan hidup atau mati.
Dua siluman menyerang Suhita secara bersamaan. Menyergap dengan jaring yang dibentangkan mengunakan tangan mereka berdua.
Suhita mengangkat tangannya, melepaskan pusaran energi yang menghancurkan jaring tersebut. Sekaligus membuat kedua siluman terdorong keras jauh ke belakang.
Suhita kembali menerima serangan, kali ini dia harus menghadapi empat orang sekaligus. Kemampuannya benar-benar diuji. Harus bisa taklukkan para siluman kelelawar yang berusia ratusan tahun. Pengalaman mereka sangatlah luas.
Tenaga dalam saja tentu tidak cukup. Yang paling utama adalah otak bukan otot. Itulah pesan yang selalu ayahnya tanamkan. Karena orang yang kuat, hanya akan menjadi anjing peliharaan orang yang cerdas.
Suhita mundur beberapa tindak, dia tidak boleh sampai terkena cakar kuku tajam para siluman itu. Kuku tersebut mengandung racun yang begitu dahsyat. Untuk jaga-jaga, Suhita cepat menelan sumberdaya yang akan membantu menguatkan dirinya dari pengaruh racun.
Bumbung bambu kecil lainnya yang Suhita persiapkan tidak lain adalah serbuk racun racikannya. Serbuk Racun Waktu. Suhita baru akan gunakan jika dalam keadaan darurat saja.
__ADS_1
"Kalian tidak akan mampu, baiknya berhenti dan bertaubat. Aku akan membantu siapa saja, selama aku mampu. Bahkan kalian para siluman pun sama. Jadi, tidak perlu jadikan aku sandera," ucap Suhita.
"Banyak bicara, kau! Lihat saja, apa yang bakal aku lakukan!" dengan geram, Sukantili langsung menyerang Suhita.
Mereka segera melakukan pertukaran jurus. Suhita tentu tidak begitu saja menyerah meskipun dia tahu lawannya cukup tangguh. Rasa percaya diri, merupakan salah satu pondasi yang harus dimiliki agar kemampuan bisa keluar dengan sempurna. Saat seseorang telah kalah mental, maka seberapa pun kekuatan yang dia miliki akan memudar, menciut bersama nyali.
BRAAAKKK !!!
Hantaman besar menggetarkan tanah di sekitar tempat mereka bertarung. Suhita, dan juga seluruh lawan-lawannya jadi gelagapan, terkejut bukan main. Tanah yang mereka pijak, bergoyang dan mendadak semuanya menjadi terang benderang. Pandangan begitu luas, menatap ke segala arah.
Ya, mereka seperti berada di sebuah lapangan saja. Karena bangunan rumah tua yang merupakan tempat pertarungan telah berpindah. Hancur berhamburan menghantam pepohonan di seberang sana.
Nampak seorang pria tampan berdiri menghadap mereka. Sepertinya pria itu tidak sedang melakukan apa-apa, tidak menyebabkan apa-apa dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dia hanya berdiri, menatap tanpa berbuat apa pun.
Namun, tindakannya justru berakibat besar. Nyali para siluman anak buah Sukantili mendadak jadi ciut ketika aura membunuh yang dikerahkan oleh pendekar itu menyelimuti seantero wilayah itu. Energi yang begitu kuat, membuat kaki jadi gemetaran dibuatnya. Aliran udara pun seolah ikut terhenti, menjadikan paru-paru tidak lagi mendapatkan jatah oksigen. Sesak, dan serasa hampir mati.
"Bukankah kau sudah ku memperingatkan?! Luar biasa, anggap saja kau punya nyali yang besar," Mahesa bicara dengan biasa saja. Membuka mulut seperti pada umumnya. Nada bicaranya pun datar, tidak terkesan sedang mengintimidasi.
Sukantili yang diajak bicara tidak kuasa menjawab. Sejak pertama bertemu di kedai, dia tahu jika Mahesa memiliki kemampuan yang tinggi tapi sama sekali dia tidak percaya jika sekarang, hanya dengan bicara sudah mampu membuat anak buahnya kehilangan cara berpikir.
"Kalian hanya punya dua pilihan. Pertama mati secara bersamaan, atau yang kedua habisi nyawa kalian sendiri-sendiri," Mahesa mengangkat tangan kanannya, seketika itu di angkasa tercipta puluhan tombak es sebesar tiang rumah dengan ujung yang begitu tajam, bersiap turun menjadi hujan, melvmat rata apa pun yang ada di bawahnya.
__ADS_1
"Kalian hanya punya satu penyakit. Yakni penyakit hati. Maka dari itu, biarkan aku membantu melancarkan jalan kalian. Mengakhiri penderitaan dengan cara yang sempurna ."
Wajah para siluman itu berubah pucat mendengar Mahesa bicara. Mengakhiri penderitaan pastinya memiliki arti membunuh mereka semua.