Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Menembus Partai Final


__ADS_3

"Genderuwo, kau cepat cari dan temukan adikku. Celakai siapa saja yang coba ganggu dia. Cepat, ini adalah perintah!" Danur Cakra menyipitkan matanya, menekan amarah di dalam dadanya.


Jika bukan karena sebentar lagi dia akan kembali naik arena kompetisi, maka Danur Cakra sendiri yang akan mencari Suhita. Tapi ... sialan, sepertinya semua ini ada yang sengaja mengatur.


Danur Cakra menggunakan kemampuan pikirannya untuk menggambarkan wajah Suhita pada si genderuwo. Dia berharap, dengan gunakan jasa siluman itu masih bisa untuk lindungi adiknya.


Tanpa menunggu lama, tubuh genderuwo langsung menghilang dari pandangan. Genderuwo tersebut pergi menjalankan titah. Mencari dan menghabisi siapa saja orang yang coba sakiti Suhita.


Selepas kepergian Genderuwo, Danur Cakra masih berdiri di tempatnya. Berulang kali dia memandangi surat yang ditulis adiknya. "Hita, kau jangan khawatir. Aku pasti akan memenangkan kompetisi. Setelah itu, aku akan langsung cari dirimu. Siapa pun yang cari masalah denganmu, maka aku akan pastikan hidupnya lebih menderita."


Dengan iringan satu hembusan napas panjang, Danur Cakra bergegas keluar dari kamarnya. Tempat tertinggi dalam kompetisi adalah tujuannya. Demi itu, dia telah tega mengabaikan keselamatan adiknya maka Danur Cakra harus menebus semuanya dengan kemenangan.


Semangatnya semakin menggebu tatkala menginjakkan kaki, meniti tangga arena kompetisi. Tidak perduli kawan maupun lawan, siapa pun yang coba hentikan maka Danur Cakra akan selesaikan dia. Dunia persilatan harus tahu, jika seorang murid Pendekar Naga Suci (Raditya) merupakan salah satu bakat yang akan tumbuh menjadi seorang pendekar besar di masa mendatang. Dan Cakra sangat yakin, dia akan mampu mewujudkannya.


Pertandingan kali ini, merupakan babak lanjutan dari kompetisi semifinal. Di mana setelah pertandingan ini maka akan ada dua laga terakhir untuk tentukan siapa yang mengisi podium satu sampai empat.


"Kau harus hati-hati, tinjuku tidak pernah bisa kompromi. Tendangan ku juga tidak lemah," bisik Danur Cakra pada lawannya.

__ADS_1


"Wow, itu artinya kau sangatlah berbahaya. Kita telah melangkah sejauh ini. Tidak heran jika kau pun haruslah waspada," dengan rasa percaya diri yang tidak kalah tingginya, anak dari Padepokan Walet Merah itu tersenyum pada Danur Cakra.


Tepat sesaat lonceng berbunyi tanda pertandingan dimulai, Danur Cakra segera membuka serangan. Dengan beringas dia melakukan serangan-serangan berbahaya pada Kuncoro Hadi. Begitu juga sebaliknya, sebagai murid nomor satu di Padepokan Walet Merah, tentunya Kuncoro Hadi bukanlah anak sembarangan. Kemampuan bela diri yang dia miliki telah berada pada tahap yang setara dengan Danur Cakra. Hingga mereka harus melakoni laga yang sangat alot.


Sejauh ini, mereka bertanding hanya dengan gunakan tangan kosong. Mengandalkan energi tenaga dalam di setiap serangan. Tidak seorang pun yang memulai gunakan senjata tajam. Bukan karena mereka sama sekali tidak kuasai jurus pedang. Hanya saja, bagi mereka bertarung dengan kekuatan tapak di rasa lebih menunjukkan kekuatan sejati.


"Tapak Naga - Naga Mengguncang Bumi" Danur Cakra melompat, melepaskan bayangan naga menyerang lawannya.


Semakin lama dia bertarung, membuat orang-orang semakin curiga jika anak kecil itu memiliki hubungan dengan Elang Putih. Sejauh ini, hampir semua jurus yang dia gunakan sama persis seperti yang Elang Putih miliki. Yang menjadi pembeda hanyalah trik dan teknik pengembangannya saja. Itu wajar, karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Kembali pada pertarungan Danur Cakra yang telah mulai gunakan kekuatan Tapak Naga. Satu kemampuan legenda yang amat langka tersebut dalam sekejap mampu menarik perhatian tokoh dunia persilatan. 


Bahkan, Ambar Wati yang merupakan seorang pendekar dari Padepokan Walet Merah dipaksa untuk berdecak kagum. Pertarungan kedua anak itu mengingatkan dirinya pada kali pertama pertemuannya dengan Mahesa. Ya, mereka sempat bertarung dan gunakan jurus yang serupa. Hasilnya, tentu saja Mahesa (yang pada saat itu merupakan murid Padepokan Rajawali) keluar sebagai pemenang.


Tunggu! Bukan hanya seorang Ambar Wati saja. Ada sepasang mata lainnya yang juga menatap tidak berkedip. Berbeda dengan Ambar Wati yang sudah memiliki seorang anak, wanita yang satu ini sampai sekarang belum menikah. Dia tidak lain adalah Sulistya Sandra dari Padepokan Anggrek Jingga.


"Apa mungkin, dia adalah anak Elang Putih dari Puspita?!" Sulistya Sandra memicingkan matanya.

__ADS_1


Cinta yang Sulistya Sandra pendam pada Mahesa, sampai kapan pun tidak akan pernah pudar. Dia sempat ikhlas melepas Mahesa untuk menjalani hidup bersama seorang pelayannya (Puspita). Namun setelah banyak tragedi besar yang membuat Mahesa dan Puspita tidak ditakdirkan bersama, membuat Sulistya Sandra kembali memupuk harapan untuk bisa menempati hati yang kosong itu. Namun, apa daya karena Mahesa lebih memilih Dewi Api sebagai pendampingnya. Meskipun begitu, sampai saat ini Sulistya Sandra masih belum bisa move on.


"Ah, tidak, tidak. Aku tidak mendengar jika Puspita masih hidup. Atau jangan-jangan anak ini adalah murid dari Paman Raditya?!" Ya, Sulistya Sandra ingat jika Mahesa masih punya guru.


Pemikiran seperti itu, bukan ada di dalam benak Sulistya Sandra seorang, tapi hampir seluruh tokoh persilatan yang mengenal Elang Putih dari awal. Mereka berpendapat demikian. Yang mereka tahu, meskipun jarang menampakkan diri Raditya dan Rengganis hingga sekarang masih hidup.


Tepuk tangan yang riuh menyambut kemenangan Danur Cakra atas Kuncoro Hadi. Orang-orang yang tidak Danur Cakra kenal itu menatap dengan senyum kepadanya. Meskipun sedikit heran dan bingung, Danur Cakra membungkuk berterima kasih atas sambutan hangat tersebut.


Resmi. Danur Cakra orang pertama yang menggenggam tiket di babak final. Dia akan menunggu siapa pun lawan yang akan menyusulnya.


Beberapa orang tokoh besar dunia persilatan hampir bersamaan berdiri dan melangkah menuju tempat istirahat Danur Cakra. Sesaat setelah anak itu mengakhiri pertandingan. Pastinya mereka penasaran dan ingin mendengar secara langsung atas latar belakang Danur Cakra yang tidak mereka ketahui.


Entahlah, hal baik ataukah hal yang buruk. Apa yang bakal terjadi jika Danur Cakra sampai membeberkan perihal latar belakang keluarganya. Gurunya, adalah orang yang merupakan kakek dan neneknya. Ayahnya, ibunya serta Tabib Dewa yang juga merupakan saudara kembarnya.


Ya, Meskipun hal itu sulit untuk diterima akal sehat, tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan percaya. Kebohongan Mahesa dan Dewi Api yang selama ini tertutup dengan rapat, akan terbongkar saat itu. Di mana tokoh-tokoh dunia persilatan sedang berkumpul.


Semuanya, berada di tangan Danur Cakra yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2