Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pria Di Atap Penginapan


__ADS_3

Jaka Pragola berdiri sejenak di depan sebuah tangga yang menuju ke lantai paling atas. Memang banyak orang yang menghabiskan waktu di atas sana. Pengelola penginapan memberikan bonus ektra untuk layanan itu. Namanya bonus, tentu tiada biaya tambahan yang dipungut sebagai sewa pasilitas. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku.


Dari lantai paling tinggi di penginapan tersebut, mata para pengunjung di manjakan dengan indahnya pemandangan kota Giling Wesi. Hiruk pikuk masyarakat dengan berbagai aktifitas, bangunan di sepanjang kota, serta mereka juga bisa menyaksikan senja yang tenggelam menuju peraduan di dalam hijaunya pegunungan. Sungguh suatu maha karya Tuhan yang tiada habisnya untuk disyukuri.


Ada banyak manusia yang mengisi hampir di setiap sudut. Namun tidak sulit untuk temukan seseorang dengan wajah dan penampilan yang begitu dikenali. Dari belakang pun, sudah bisa ditebak. Bahkan cara berjalan orang yang sudah akrab, sudah mewakili wajahnya hingga kita bisa tahu meski hanya sekilas melihat.


"Sudah lama aku menunggumu, tadinya ku kira usia telah membuat gerakan tubuhmu menjadi sangat lamban," sapaan dengan nada yang kurang sedap didengar menyambut kedatangan Jaka Pragola.


Jaka Pragola hanya tersenyum tipis, orang yang bicara padanya sangat acuh bahkan tidak menoleh barang sedikit pun.


"Adik Elang, maaf. Tidak seharusnya aku datang dengan cara yang tidak semestinya. Kau seorang tamu agung, mengapa harus bertingkah layaknya pencuri jemuran?!" Jaka Pragola terus mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan dengan orang yang dia temui. Ya, orang itu tidak lain adalah Pendekar Elang Putih. Jaka Pragola akhirnya berhasil menemukan keberadaan Mahesa di penginapan yang mana ada Suhita yang pula telah memesan kamar di sana. Entah merupakan suatu kebetulan atau memang dikarenakan insting Suhita yang sangat kuat hingga menuntun untuk Hita datang ke tempat yang tepat.


"Huuuhhh ... ternyata ayah. Mereka saling kenal?!" Suhita menghela napas lega. Dia pun menepuk jidat, bukankah ayahnya memiliki akses berupa lencana khusus yang juga diberikan padanya untuk bisa masuk ke dalam Padepokan Giling Wesi dengan aman. Itu saja sudah menunjukkan jika hubungan mereka istimewa.


"Ah, tidak. Baiknya aku tidak menampakkan diri. Aku tidak boleh ikut campur urusan ayah," Setelah beberapa saat, Suhita yakin kalau ayahnya dan Jaka Pragola tidak mengetahui keberadaannya di sana. Dengan tenang, Suhita kembali menuruni tangga dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah mengunci pintu, Suhita mengambil posisi duduk bersila. Tabib kecil itu melakukan hal yang tidak biasa dia lakukan. Ya, Suhita melakukan latihan pernapasan. Dia menyelaraskan energi Sepuluh Tapak Penakluk Naga di dalam dirinya. Suhita juga belajar untuk gunakan telapak tangannya sebagai media penghubung antara pikiran dan hatinya. Hingga dia mampu kelola energi murni dari dalam tubuh, dengan kemampuan tenaga dalam hingga bisa disalurkan melalui telapak tangan untuk berbagai tujuan nantinya.


Cukup lama Suhita terus mengulang gerakan yang sama. Hingga dia mengakhiri latihannya dengan wajah yang tidak terlampau gembira. Bagaimana tidak, Suhita merasakan jika latihan yang dia lakukan merupakan suatu kesia-siaan belaka. Apa yang dia peroleh, sungguh di luar ekspektasi.


"Ah, mengapa ayah tak kunjung datang ke sini, ya? Bukankah aku telah mengulang latihan olah napas dari Sepuluh Tapak Penakluk Naga bahkan sampai belasan kali. Harusnya ayah tahu jika aku ada di sini," Suhita menoleh dan menatap lekat daun pintu. Tidak terdengar adanya tanda-tanda pintu itu diketuk.


Sebegitu pentingnya kah pembicaraan mereka, hingga membuang waktu cukup lama. Tapi Suhita sama sekali tidak mendengar adanya pertarungan, itu artinya mereka tidak terlibat masalah. Tapi, apa kira-kira yang mereka bicarakan?!


"Ah, dasar bodoh kau ini!" Suhita menunjuk wajahnya sendiri. Rasa ingin tahu yang berlebihan, hanya akan membuat dirinya terjebak di dalam lumpur usil yang akan semakin menyeret jiwa kepo-nya menjadi tindakan yang tidak terpuji.


Buru-buru Suhita membuang segala pemikiran-pemikirannya. Dia mengambil Kitab Wasiat Iblis dari dalam cincin mustika dan mulai membaca ulang beberapa catatan penting yang tertulis di dalam kitab. Rasanya, itu jauh lebih bermanfaat.


"Kakak, aku tahu apa yang membebankan pikiranmu. Tapi bisakah aku memohon sesuatu padamu?" tanya Mahesa kemudian, setelah cukup panjang mereka bicara berbasa-basi.


"Jangan sungkan, katakan saja."

__ADS_1


"Saat kau menemukan seekor burung dengan bulu yang telah tumbuh dengan lengkap. Namun sang induk tetap membuat burung tersebut bertahan di dalam sangkar. Bukan karena sayap burung itu yang belum kuat, tapi karena waktu yang tepat masih menunggu dengan sempurna," Mahesa bicara dengan serius.


Wajah Jaka Pragola sedikit menua dengan munculnya kerutan mendadak. Pimpinan padepokan Giling Wesi itu bukan tidak mengerti atas apa yang Mahesa maksudkan, tapi perkataan Mahesa seolah telah mematahkan anak tangga di mana Jaka Pragola sedang meniti.


Masalah pribadi, masalah keluarga, biar Mahesa sendiri yang akan urus. Tidak perlu orang lain, juga tidak butuh uluran tangan siapa pun. Mahesa akan lakukan apa yang terbaik menurutnya untuk dilakukan. Tidak baik mengumbar aib keluarga pada orang lain, apalagi khalayak umum. Cukup pasangan saja yang tahu. Karena rumah tangga yang kokoh hanyalah rumah tangga yang tahu malu. Di mana suami berusaha untuk menutupi keburukan istri, begitu juga sebaliknya. Hingga yang orang lihat, hanyalah manis. Manakala temukan pahit, sama-sama diurai untuk diubah menjadi bumbu yang menyedapkan.


Beberapa kali Jaka Pragola coba untuk berikan penjelasan. Tapi Mahesa bersikukuh, dia menolak untuk bicarakan hal yang menyangkut masalah pribadi. Kecuali jika memang inginkan hal yang berbeda.


Jaka Pragola menyerah. Dia tahu bagaimana kerasnya kepala Mahesa. Namun demikian, kepalan tangannya jauh lebih keras. Siapa pula yang berani untuk paksakan kehendak.


"Kakak, aku pasti akan menyusul. Lagi pula, mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan seniorku. Aku pasti akan datang," Mahesa tertawa kecil menyanggupi undangan Jaka Pragola untuk menyempatkan waktu singgah di Padepokan Giling Wesi.


Pendekar Tongkat Emas adalah orang yang ingin Mahesa temui. Kendati tanpa undangan pun, Mahesa pasti akan datang. Tanaman langka Teratai Berduri yang menjadi penyebab. Mahesa perlu mendengar langsung jawaban yang keluar dari mulut Pendekar Tongkat Emas. Sebagai tokoh pendekar yang miliki kedudukan di dalam tubuh Organisasi Naga Emas, Mahesa punya wewenang untuk mengintrogasi Pendekar Tongkat Emas yang juga merupakan tokoh organisasi.


Tanaman langka Teratai Berduri adalah tumbuhan langka yang telah menghilang puluhan tahun yang lalu. Karena mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia, tanaman tersebut digolongkan pada tanaman yang tidak layak dipelihara. 

__ADS_1


Pertanyaannya ialah, apa tujuan Pendekar Tongkat Emas menyembunyikan tanaman terlarang itu di tempat rahasia dalam wisma pribadi miliknya? Ataukah ini merupakan suatu indikasi penyelewengan?


Setelah bicara langsung, barulah Mahesa bisa temukan jawabannya.


__ADS_2