
Di tempat lain,
Bhadrika Djani dan kedua orang muridnya Jayadita - Jaganitra (kujang kembar), sedang menyantap ayam panggang dengan lahapnya. Siapa tahu itu adalah ayam panggang terakhir, meskipun yang diharapkan ialah pesta kemenangan.
Ayam hutan yang hanya dipanggang di atas api, bahkan tanpa bumbu. Merupakan salah satu makanan umum para pengembara. Dimana tidak ada pilihan lain saat berada di tengah rimba. Sendirian. Satu kenangan yang akan dirindukan, menjadi cerita yang tersimpan di dalam hati. Layaknya nelayan yang akan mengenang waktu panik, ketika angin membuat perahu menjauh dari pantai.
"Aku tahu, Raja Iblis dari Lereng Utara datang dengan persiapan dan kekuatan yang amat matang. Namun kita akan datang dengan memetik lebih besar keuntungan. Hahaha!" Bhadrika Djani tertawa lantang, diiringi pujian kedua orang muridnya.
Berbeda dengan Bhadrika Djani, kelompok Raja Iblis dari Lereng Utara justru sudah dalam persiapan yang sangat matang. Mereka akan memberikan kejutan besar yang tidak terduga. Sudah saatnya, setelah sekian lama penantian yang amat panjang.
Raja Iblis telah siap dengan pakaian perang dan golok besar di punggungnya. Ada Muning Raib dan juga Nyi Parang Awi di samping kiri dan kanan Raja Iblis.
Tidak lama lagi, pertumpahan darah tidak mungkin bisa dihindarkan. Ada belasan pendekar yang telah siap untuk resiko perang. Mereka tidak lagi hirau pada diri sendiri. Bersiap pada posisi yang telah disepakati, di bawah panji Lereng Utara kesemuanya merupakan para pendekar aliran sesat yang sama sekali tidak takut mati.
"Ketua, mohon untuk menghadap!" seorang pasukan datang dengan tergopoh.
Muning Raib lekas datang mendekat. Namun tanpa terduga, kiranya Raja Iblis pula menghampiri.
"Apa ada yang penting?! Apa kalian sudah mengetahui di mana keberadaan Elang Putih dan keluarganya?!" dengan nada yang cukup tinggi Raja Iblis bertanya. Jelas dia kesal atas kinerja anak buahnya yang tidak beres. Di pulau yang begitu kecil, tapi tidak seorang pun yang mengetahui di mana keberadaan Elang Putih atau keluarganya yang lain, terutama Raditya. Hari ini, semua dendam di masa lalu harus diselesaikan.
"Ampun, Ketua! Seorang tiliksandi melaporkan jika dia sedang mengikuti putri Elang Putih. Hamba sudah meminta empat orang pasukan kita untuk segera mengepung," lapor anak buah Raja Iblis.
Raja Iblis mengangguk. Nampaknya jatah waktu untuk menunggu telah habis, terlalu banyak waktu yang terlewat. Yang ditakutkan ialah pagi segera menjelang sebelum sempat melihat sang rembulan. Maka dari itu, Raja Iblis memutuskan untuk segera bergerak. Ia sendiri yang akan memimpin pasukan.
Raja Iblis, Muning Raib, Nyai Parang Awi dan dua belas pendekar hebat aliran hitam lainnya segera bergerak. Mereka mengandalkan kemampuan lari cepat, hingga pergerakan mereka sama sekali tidak menimbulkan kegaduhan, tanpa ringkik dan derap kaki kuda.
Tidak butuh waktu lama, Raja Iblis telah tiba di tujuan. Dia menemukan tiga orang anak buahnya mengikuti seorang gadis muda yang cantik. Memang benar gadis itu ialah putri Elang Putih, tapi yang menjadi pertanyaan ialah untuk apa Tabib Dewa berada di tempat itu hanya seorang diri? Kemana keluarganya yang lain? Atau dia sengaja mengalihkan perhatian lawan supaya pesta ulangtahun sang kakek tidak terganggu?!
"Kepa*rat!" Raja Iblis mendengkus kesal. Dia baru sadar jika dia dan kelompoknya telah masuk ke dalam permainan lawan.
"Ringkus gadis kecil itu. Kita gunakan ia sebagai umpan! Raditya dan Elang Putih pasti dengan sendirinya akan datang! Ingat jangan dibu*nuh, kita tunggu sampai buruan kita mendekat! Hahaha!" perintah Raja Iblis.
Tanpa basa-basi, tiga orang pendekar segera melesat. Secara bersamaan mereka melayangkan serangan ke arah Suhita.
Suhita?! Benarkah gadis cantik itu Suhita Prameswari putri Elang Putih?! Tentu saja bukan. Dia hanya memiliki paras serta penampilan yang serupa! Bukan pula suatu kebetulan, karena sosok di balik topeng Suhita itu tidak lain hanya seorang pelayan. Arya Winangun, putra Endang Kusuma Gandawati yang piawai dalam hal ilmu penyamaran. Kontan saja, kemampuannya tidak bakal bisa menahan gempuran para pendekar aliran sesat tersebut dalam waktu yang cukup lama.
Arya Winangun meninggalkan Soka Jajar dan menyusul majikannya setelah mendengar desas-desus perihal rencana serangan yang dilakukan oleh kelompok Raja Iblis dari Lereng Utara. Setibanya di Pulau Seribu Pandan, Arya Winangun tidak segera mencari keberadaan Suhita melainkan merubah penampilan menjadi sosok Suhita. Dan alhasil, rencananya tidak sia-sia. Dengan kemampuan langka yang dimilikinya, Arya Winangun berhasil mengelabuhi kelompok Raja Iblis yang notabene-nya merupakan pendekar tingkat tinggi.
__ADS_1
Namun sayang, kiranya Ilmu Penyamaran tidak membuatnya mampu unggul dalam pertarungan. Menghadapi tiga orang pendekar berkemampuan tinggi, membuat Arya Winangun keteteran yang kemudian membuat dirinya harus ikhlas kala kedua kaki dan tangannya terikat kencang oleh seutas tali. Derita seorang tawanan.
°°°
Di tepi pantai, angin yang berhembus sepoi-sepoi membelai rambut. Menyapa lembut setiap siapa saja yang datang menikmati pemandangan indah di sore hari.
Dengan senyum lebar menanti matahari yang tenggelam ke dalam laut, Raditya beserta anak dan cucunya ada diantara mereka yang menikmati keindahan ciptaan Tuhan tersebut.
BRAAAKK !!! Satu suara benda terjatuh mengoyak ketenangan.
Sesosok tubuh jatuh tersungkur menghantam meja bambu di tepi pantai tersebut. Memancing pandangan mata semua orang untuk ingin tahu.
Seorang gadis dengan wajah berlumur darah berusaha untuk bangkit, menyeka tetes darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Ah?!" hampir seluruh mata terbelalak lebar. Wanita itu tidak lain adalah Suhita.
Bukan hanya Raditya dan keluarganya, akan tetapi begitu juga dengan Raja Iblis beserta kelompoknya. Betapa kagetnya mereka, saat tiba di sana dan mendapati ada dua orang Suhita.
"Kepa*rat!" umpat Raja Iblis yang tertipu mentah-mentah.
"Hahaha! Hahaha!" Suhita tertawa terbahak-bahak, mentertawakan ekspresi wajah Raja Iblis dan kelompoknya.
"Hup!" memanfaatkan kelengahan lawan, Mahesa segera melompat menyelamatkan Arya Winangun yang masih berwajahkan Suhita.
Baammm !!! Pukulan tenaga dalam Mahesa lepaskan untuk menyamarkan gerakannya. Hingga penyelamatan berjalan dengan mulus. Mahesa membawa Arya Winangun dalam perlindungannya.
"Kau gunakan teknik yang sama dengan seseorang yang aku kenal. Hanya malam yang identik dengan rembulan, lantas siapa dirimu anak muda?" tanya Mahesa.
Dengan satu gerakan, Arya Winangun melepaskan topeng penyamaran di wajahnya. Menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.
"Arya! Ba-gaimana kau bisa ada di sini?!" Suhita semakin terbelalak kala mendapati kiranya orang yang babak-belur menyamar sebagai dirinya tidak lain ialah seorang pelayannya.
Dengan singkat, Arya Winangun menjawab pertanyaan Mahesa. Dia menyatakan bahwasanya ia merupakan anak dari Endang Kusuma Gandawati.
"Setelah puluhan tahun waktu berlalu, aku kira sudah tidak lagi ada yang perlu untuk diributkan. Kita sudah tua, mengapa tidak untuk menghapus dendam?!" Raditya lekas angkat bicara. Dia tahu, Raja Iblis dan antek-anteknya sengaja datang untuk membuat perhitungan dengannya.
"Sudah terlalu lama aku menantikan hari ini. Pendekar Naga Suci, begitu lincahnya bibirmu bergerak seolah tanpa beban, bisa-bisanya lidahmu berucap demikian! Apa kau gentar karena usiamu sekarang?! Hahaha! Apa pun yang terjadi, hari ini, tepat di hari ulang tahun kelahiranmu pula akan menjadi ulang tahun kematianmu!" dengan mata merah menyala, Raja Iblis mengobarkan api dendam di dalam hatinya.
__ADS_1
Para pengunjung yang tidak berkepentingan berbondong-bondong meninggalkan tepi pantai. Meskipun dari mereka berasal dari golongan pendekar atau padepokan, tapi pertarungan yang bakal terjadi bukanlah pertarungan biasa. Pasti, hari ini akan kembali tercatat dalam sejarah menjadi salah satu pertarungan paling akbar yang akan mengguncang dunia.
"Hahaha! Sepertinya mereka ketakutan, Ketua! Ternyata mereka tidak lebih dari seekor tikus got yang menciut kebasahan. Tidaklah seperti nama besar yang berkumandang ..." Muning Raib ikut mengejek.
"Siapa yang akan lebih dulu?! Silakan maju dan buktikan kalau kepalan tangan kalian bisa melampaui ucapan. Dengan sendirinya akan terlihat perbedaan besar antara ular dan seekor cacing," dengan seutas senyum tersungging di sudut bibir, Mahesa menantang siapa pun yang punyai nyali.
"Ah?! Hahaha! Ternyata kau masih bisa bicara!" dengan tawa terpingkal-pingkal Muning Raib terus memprovokasi.
"Bang*sat!" umpat Danur Cakra lirih. Sudah cukup baginya membuat telinga panas mendengar cuitan para pendekar aliran sesat yang datang. Cakra sangat berbeda, dia bukan seperti yang lain. Tidak ubahnya, dia pula seorang pendekar dengan aliran darah panas di dalam tubuh.
Danur Cakra membuka telapak tangannya, memutar pergelangan tangan tersebut dengan mengirim satu pukulan jarak jauh ke arah lawan. Mengawali pertarungan.
Bammm! Baammm! Ledakan langsung terjadi kala pukulan jarak jauh yang Danur Cakra lepaskan ditepis oleh Muning Raib.
Danur Cakra hendak melompat mendekat, akan tetapi ditahan oleh Kakeknya.
"Akar masalah ada pada diriku. Biar aku yang menyelesaikannya," Raditya meminta anak dan cucunya untuk mundur.
Tentu saja Danur Cakra menolak dengan keras. Bisa jadi, orang tua rela berkorban jiwa dan raga demi keselamatan kebahagiaan anak dan cucu. Akan tetapi bakti seorang anak ditunjukkan dengan memikul beban tersebut disaat bahu orang tua mulai lemah.
"Langkahi dulu ma*yatku!" tanpa ba-bi-bu, Danur Cakra mengabaikan perkataan Kakeknya, membumbung ke udara dan saat kembali turun dia datang dengan seekor naga hitam yang siap menelan korban.
Layaknya anak panah yang telah melesat dari busur, meluncur tanpa terbendung. Curahan air bah yang meluap tatkala tanggul penyangga terbelah. Api dendam yang coba ditahan, tercurah sudah dituntaskan.
Muning Raib mengambil alih perlawanan Danur Cakra. Dia memberi kesempatan pada Raja Iblis Lereng Utara untuk menuntaskan dendam kepada Raditya.
"Kurang ajar! Nampaknya kau terlalu memandang rendah diriku!" umpat Danur Cakra. Dengan kepercayaan diri penuh, Danur Cakra melancarkan serangan-serangan berbahaya ke arah Muning Raib seolah hendak menuntaskan pertarungan dalam waktu yang singkat.
Seperti diketahui, para pendekar aliran sesat yang datang merupakan para pendekar dengan kemampuan tinggi, pendekar pilih tanding yang sukar untuk dapatkan lawan. Kontan saja, pertarungan tidaklah mudah.
Di sisi lain, Raja Iblis Lereng Utara telah menuntaskan keinginan bertarungnya menghadapi Raditya. Ya, meskipun tidak lebih dari sepuluh jurus. Karena Elang Putih tidak hanya bertumpang kaki menyaksikan ayahnya bertarung.
Raditya tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menuruti keputusan anak dan cucunya. Dengan segera melompat mundur, menyaksikan pertarungan dari jarak yang cukup jauh. Di sana, Raditya hanya bertanggung jawab atas keselamatan Puspita Dewi yang tidak lagi memiliki kemampuan olah kanuragan.
Dewi Api berhadapan dengan Nyai Parang Awi. Sudah cukup lama mereka saling mendengar nama dan kehebatan yang mengaung diantara siulan berita yang terbawa angin. Dan menjadi hukum yang tetap, bahwa dalam satu pertarungan akan didapat hanya seorang pemenang.
"Arya, kau akan baik-baik saja. Setelah obat ini bereaksi maka lukamu akan segera sembuh," Kencana Sari menyandarkan tubuh Arya Winangun. Ada Raditya dan Rengganis di sana, tentulah Kencana Sari tidak perlu risau.
__ADS_1
"Tak kan aku biarkan siapa pun melukai Nona," selesai berucap Kencana Sari menghunus pedang di pinggangnya, segera terjun ke medan laga.