Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Yang Diharapkan


__ADS_3

"Hahaha! Saat menemukan masalah yang berat, mengapa harus dihindari. Akankah ada jalan keluar saat kau meninggalkan persoalan? Seorang laki-laki yang lari dari tanggung jawab apakah masih pantas disebut laki-laki? Pengecut! Kau tidak lebih dari seorang pengecut! Angkat kepalamu, lalu hadapi. Selesaikan semua masalah, bukan malah lari dan sembunyi."


Mahesa mengangkat kepalanya. Menghela napas panjang sebelum kemudian melompat melayang mendekat ke arah suara.


Seorang wanita tua duduk membelakangi Mahesa, rambutnya yang memutih karena uban masih begitu rapi bergerak di belai angin. Wanita tua itu tidak lain adalah Rengganis. Meskipun hanya mendengar suaranya, Mahesa sudah paham itu adalah ibunya.


Dengan wajah yang kusut, Mahesa datang dan berlutut di depan kaki Rengganis. Rengganis tersenyum, dengan lembut dia menyentuh kepala Mahesa, memberikan sentuhan kehangatan yang menenangkan.


Sebagai seorang ibu, Rengganis bisa merasakan permasalahan yang menindih kepala anaknya. Beban batin itu pastinya sangat menyiksa.


"Ibu ... saya harus bagaimana? Mengapa permasalahan datang tiada henti. Saya sudah tidak kuat, ibu. Kepala ini rasanya mau pecah," Mahesa menangis di pelukan ibunya, menumpahkan segala kepedihan yang menekan beban batinnya.


Seperti biasa, sejak kecil Rengganis akan selalu bisa menjadi malaikat penolong yang mampu bangkitkan Mahesa dari keterpurukan. Pencerahan-pencerahan yang ibunya berikan, membuat Mahesa bisa kembali berdiri dengan tegap. Menghadapi prahara yang tengah menimpa keluarganya.


"Ibunda ... saya akan selesaikan masalah keluarga saya sendiri. Terima kasih, ibu selalu ada di sisi saya."


"Kau adalah kepala keluarga. Selesaikan dengan bijak, jangan sampai menyakiti dua hati yang sangat mencintaimu. Mereka tidak ada yang salah. Kau harus bisa mengambil hati mereka. Pergilah anakku," Rengganis tersenyum, dengan satu anggukan dia meyakinkan anaknya untuk bisa lakukan yang harus dilakukan. "Pergilah, ibu sangat yakin jika saat ini kedua istrimu telah membuat keputusan yang tepat."


Dengan penuh keyakinan, Mahesa segera berjalan kembali ke tempat Dewi Api dan Puspita berada. Dan saat Mahesa tiba di sana, dua orang wanita itu masih berdiri di tempat mereka semula.


Dewi Api segera berlari mendekat saat melihat Mahesa datang. Dengan wajah penuh harap, Dewi Api meminta untuk Mahesa memaafkan kekhilafan ini. Dia memohon untuk Mahesa tidak menceraikanya. Jarang sekali ditemui Dewi Api terlihat begitu takut.

__ADS_1


"Sa, kau lebih mencintai Puspita. Aku tahu itu, tapi kau harus ingat. Aku adalah istri pertamamu. Aku ... akuuu ..." Dewi Api mengurut keningnya. Sukar untuk dikatakan, meskipun kenyataannya memang dia tidak inginkan Puspita.


"Aku adalah orang yang patut untuk dipersalahkan. Sekarang, aku datang untuk memohon pada kalian," Mahesa menarik Dewi Api untuk lebih mendekat pada Puspita. "Aku tidak perduli apa yang kalian pikirkan tentangku. Yang jelas, aku tidak akan melepaskan kalian berdua. Kalian adalah istriku, selamanya."


Puspita menunduk dalam. Hatinya sangat bahagia, karena memang itu adalah jawaban yang dia inginkan. Tadinya Puspita menduga jika Mahesa akan lebih memilih Dewi Api. Karena memang, terkesan jika Mahesa yang takut.


"Aku mencintai kalian berdua. Justru karena aku sangat menyayangi dua-duanya hingga semua jadi sekacau ini. Jika saja aku punya pilihan lain, tidak mungkin akan bertahan hingga waktu selama ini. Aku hanya berharap kesabaran dan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Aku ingin, kalian tidak saling menyimpan dendam apa lagi saling celakai."


Mahesa telah banyak berkorban, terutama perasaan tertekannya. Dewi Api tahu itu, jika saja dia mau membuka sedikit hati semuanya tidak akan seperti ini. Bukankah yang meminta untuk Mahesa menikahi Puspita juga dirinya?


"Baik, aku tidak akan datang menemui Puspita lagi. Maaf, jika caraku tidak seperti orang pada umumnya. Aku yakin, Puspita memahamiku," Dewi Api menatap wajah Puspita beberapa waktu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Mahesa. "Jangan biarkan anakmu terus bertanya, kau harus sering mengunjunginya."


Dewi Api berbalik badan dan hendak kembali ke Padepokan Api Suci.


"Bangun, aku bukan dewa yang bisa kau sembah. Titip suamiku, layani dia dengan baik saat dia bersamamu," jawab Dewi Api.


Puspita bangkit, dia menatap wajah Dewi Api dengan dalam. "Aku janji, akan ku lakukan semua itu. Aku akan menggantikan posisimu selama Kanda Elang bersamaku."


"Baguslah. Kau memang harus melakukannya." Meskipun tanpa adanya senyuman, Dewi Api menghampiri kemudian memeluk tubuh Puspita. "Hati yang tersakiti, layaknya paku yang menancap di papan. Meskipun paku itu telah tercabut, bekasnya akan tetap tertinggal."


"Kakak, aku telah melupakan semuanya. Aku senang, karena kau bisa mencintai orang yang aku cinta dengan setulus hati. Sekali lagi, terima kasih."

__ADS_1


Mahesa menghela napas lega melihat kedua istrinya bisa saling peluk. Tidak perduli itu dilakukan hanya di hadapannya, paling tidak itu merupakan satu hal yang sangat baik.


"Sa, aku pulang," Dewi Api mengulurkan tangannya pada Mahesa.


Mahesa menyambut uluran tangan Dewi Api dengan senyum. Kemudian, dengan sekali tarik, tubuh Dewi Api telah berada di peluknya. "Istriku, terima kasih. Terima kasih atas segala kebesaran hatimu. Maafkan atas segala keserakahanku."


"Bisa melihat kau bahagia, itu merupakan suatu kebahagiaan bagiku. Aku sadar, semua ini adalah goresan takdir. Aku akan langsung kembali ke padepokan, Raka Jaya pasti sudah lama menunggu."


Dewi Api kemudian pergi meninggalkan Mahesa dan Puspita, tanpa menoleh barang sekali. Kecepatan ilmu meringankan tubuh yang dia miliki, membuat tubuh Dewi Api lenyap dari pandangan hanya dalam beberapa tarikan napas.


"Dinda, kau masih bisa berjalan?" Mahesa memeriksa kondisi Puspita.


Puspita mengatakan jika dia baik-baik saja. Puspita juga bungkam mengenai apa-apa saja yang telah terjadi padanya. Sedikit pun Puspita tidak mengungkit apa yang Dewi Api katakan padanya. Cukup dia dan Dewi Api saja yang tahu.


"Ya, sudah. Kalau begitu, kita pulang sekarang. Biar aku menggendongmu," tanpa menunggu persetujuan, Mahesa langsung membopong tubuh Puspita. Membawanya terbang menerobos awan, seperti halnya beberapa tahun yang lalu kala mereka mengembara di selatan.


Sekarang Mahesa bisa fokus pada perkembangan olah tenaga dalam Suhita. Mahesa akan menurunkan seluruh kemampuan tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga pada putrinya. Tidak perduli jalan apa yang bakal Suhita tempuh. Meskipun bukan untuk menjadi seorang pendekar, paling tidak dengan kemampuan itu tidak akan ada yang bisa celakai Suhita dengan mudah.


Selain mempelajari tenaga dalam dari ayahnya, Suhita juga belajar kitab pengobatan dewa dan kitab wasiat iblis yang dia dapatkan dari seseorang di jurang gua tanpa dasar.


Diam-diam, Suhita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang tabib dengan kemampuan ilmu kanuragan yang begitu mumpuni. Selain bisa menolong orang dengan mengobati, Suhita juga akan mampu melindungi mereka dari ancaman kejahatan.

__ADS_1


"Wah, bagus-bagus ... jika kau rutin berlatih, maka bakat yang kau punya akan mengantarkan dirimu pada kesuksesan. Kau adalah seorang gadis yang pantang menyerah. Kau pasti bisa raih segala angan dan mimpimu!" Mahesa berseru gembira. Suhita telah tumbuh menjadi anak seperti yang dia dambakan.


__ADS_2