
Candi Karusian berdiri dengan gagah di sebuah bukit kecil, terletak di belakang kota besar yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Sebagai satu-satunya candi yang aktif, sudah barang tentu pusat peribadatan serta bermacam kegiatan adat di fungsikan di Candi Karusian.
Kekacauan beserta segala bentuk pengkhianatan terhadap kekuasaan sang pencipta, selayaknya tidak membayangi. Alhasil pun benar demikian yang dirasakan penduduk kota Sinar Surya selama puluhan tahun berjalan. Beberapa tahun terakhir, terhitung sejak pergantian ketua adat yang baru barulah samar-samar terdengar desas-desus pelan dari mulut ke mulut.
Kejanggalan cara kepemimpinan ketua adat yang baru, semakin terasa nyeleneh setelah muncul pula beberapa tokoh baru yang ikut berdiri di belakang bendera Candi Karusian.
Ketua adat, Ki Anta Sena memperkenalkan dua tokoh lain yang akan membantu tugasnya sebagai sesepuh kota. Mereka ialah Beru Nunggal dan Si Rambut Merah. Konon menurut Anta Sena, mereka merupakan tiga sekawan yang akan berusaha menjaga kelangsungan hidup manusia, sampai titik darah terakhir.
Belum juga genap satu tahun, berbagai kejadian ganjil mulai bermunculan. Berawal dari ditemukan bagian tubuh yang diduga seorang gadis di tempat pembuangan sampah. Selain itu, warga kota Sinar Surya kerap menemukan kejanggalan yang lain, yakni aroma amis darah yang tidak tahu dari mana asalnya. Bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan hampir sebagian besar penduduk pernah mencium bau anyir darah yang terhembus angin malam. Terutama jika bulan purnama tengah memancarkan sinarnya yang utuh.
Bermula dari kecurigaan tersebut, muncullah inisiatif dari tokoh muda yang bernama Surowanto. Seorang perjaka tua yang aktif menyuarakan kepentingan bersama. Pro dan kontra pastinya menjadi bagian dari kumandang gagasan Surowanto yang melakukan penyelidikan dibantu oleh sekelompok pendekar. Di satu sisi, memang Surowanto bukanlah seorang dengan kemampuan bela diri spiritual yang baik. Dia tidak lebih hanyalah rakyat biasa yang terusik hatinya untuk mengungkap kebenaran.
Seperti saat malam itu. Surowanto ditemani dua orang rekannya sedang dalam perjalanan pulang. Ada urusan penting yang harus mereka selesaikan lebih dahulu sehingga mereka harus kemalaman dan tertinggal oleh rombongan.
Kuda yang ditunggangi oleh Surowanto menabrak seutas tali yang secara tiba-tiba muncul menghalangi jalan. Kuda yang sedang berlari kencang tersebut seketika kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Berikut Surowanto yang juga tersungkur ke tanah.
"Sialan!" dua rekan Surowanto sebisa mungkin mengendalikan kuda mereka masing-masing. Beruntung mereka berhasil menguasai kuda hingga tidak sampai menginjak Surowanto dan kudanya yang terjatuh.
"Kau baik-baik saja?" seorang rekannya membantu Surowanto untuk bangkit.
"HA! HA! HA !!! Ce*cunguk tidak berguna seperti dirimu, mau sok-sokan jadi pahlawan!" terdengar suara tawa menggelegar seiiring dengan munculnya sosok-sosok tubuh yang bergerak mengelilingi Surowanto.
Tidak terlihat adanya niat baik. Mereka yang datang pasti sengaja untuk mencari gara-gara atau bahkan memang untuk melenyapkan Surowanto untuk selama-lamanya.
"Siapa kalian?! Kita tidak pernah punya urusan," ujar Surowanto.
Kedua rekan Surowanto pun telah bersiap siaga, ketiganya saling beradu punggung. Kemungkinan terburuk, rasanya tidak bisa dihindari lagi.
"Banyak bacot! Baiknya kalian serahkan nyawa kalian secara baik-baik, hingga tidak perlu adanya rasa sakit yang berlebihan!" perlahan, pedang di genggaman para penyerang telah terhunus dan bersiap menelan korban.
Tidak kalah cepat, Surowanto dan dua rekannya pun telah membekali diri mereka dengan golok sebagai perlindungan. Meskipun sadar kalau mereka bukanlah seorang pendekar, akan tetapi siapa orangnya yang akan menyerahkan nyawa dengan begitu saja. Bahkan seekor semut yang lemah pun akan balas menggigit manakala terancam.
"Hahaha! Cepat selesaikan mereka, waktu kita tidak banyak!" perintah seorang pendekar yang merupakan pimpinan pasukan penyerang.
Mata pedang yang begitu haus darah segera terayun untuk menunaikan tugas. Ada lima orang yang serentak melakukan serangan. Surowanto dan dua rekannya melakukan perlawanan. Sebisa mungkin, mereka membela diri. Mereka bertarung layaknya pejuang sejati.
Seorang rekan Surowanto yang memiliki beladiri paling baik, dia berusaha untuk bisa membantu kedua temannya yang berada dalam bahaya. Tanpa ragu-ragu dia bergerak menghalau satu serangan yang mengarah leher Surowanto. Pedangnya berbenturan dengan keras, berhasil menyelamatkan Surowanto. Akan tetapi, tindakan nekadnya itu justru berbuah buruk untuk dirinya. Lawan yang dia tinggalkan terus memburu dan pada akhirnya berhasil membenamkan pedang di lambungnya. Satu rekan Surowanto jatuh meregang nyawa.
BUGH! Dessh! Seorang lagi teman Surowanto jatuh tertelungkup, setelah menerima pukulan yang sangat keras.
__ADS_1
Surowanto terbelalak, dia sadar benar kala ada tiga buah mata pedang yang bergerak cepat ke arahnya dalam waktu bersamaan. Tanpa ragu Surowanto mengangkat golok di tangannya, menyambut serangan ketika lawannya. Sama sekali dia tidak memikirkan hidup atau mati.
Ting! Ting! Suara benturan pedang yang beradu berdenging di telinga. Akan tetapi, Surowanto tidak merasakan kalau goloknya terkena benturan. Surowanto baru sadar jika suara benturan pedang itu memang bukan berasal dari golok miliknya.
Seorang pemuda dengan usia sekitar delapan belas tahun telah berada di tengah-tengah mereka. Dan dia pula yang memukul jatuh lima orang pasukan yang hendak membantai Surowanto.
"Kepa*rat! Habisi orang itu!" teriak pemimpin pasukan penyerang. Wajahnya terlihat buruk, dia sadar jika kemampuan yang dimiliki oleh pendekar muda itu sangatlah tinggi. Dalam beberapa gerakan saja, sudah berhasil menjatuhkan lima orang pasukan.
Sialan! Sungguh tidak diduga jika akan ada seorang pendekar yang membantu Surowanto. Padahal, rencana yang disusun sudah sangat matang. Dalam rancangan mereka, malam itu juga Surowanto hanya tinggal nama. Bersama jasadnya, semua impian untuk mengungkap kebenaran akan terkubur menjadi mimpi.
Kalau sudah seperti ini, bagaimana? Kemampuan olah kanuragan pendekar yang datang jelas bukan tandingan pasukan penyerang. Satu persatu dari mereka dipukul jatuh. Sekarang yang tersisa hanyalah si pemimpin. Berhadapan satu melawan satu.
"Kau tahu, sebanyak dan sesempurna apa pun strategi yang kalian siapkan, nyatanya akan hancur hanya dengan satu keputusan Tuhan!"
BAAAMMM!!! Suara dentuman keras mengakhiri semuanya. Energi berwarna biru kehitaman dengan cepat lenyap terbungkus gelap malam. Tidak seorang pun dari pasukan penyerang yang mampu berdiri. Hanya rintihan kesakitan yang samar terdengar, melambangkan rasa yang mereka derita.
"Tuan pendekar ... terima kasih," ucap Surowanto.
Pendekar muda tersebut menoleh ke arah teman Surowanto. Surowanto menggeleng lemah, temannya sudah tidak bernyawa.
Pendekar muda yang datang memperkenalkan namanya sebagai Cakra. Ya, Danur Cakra Prabaska. Dari sanalah kejadian bermula. Saat Cakra mendengar segala kisah yang dituturkan oleh Surowanto. Tentu saja, tanpa diminta pun Danur Cakra akan turut membantu menyelidiki kebenaran. Hingga dia harus berhadapan dengan tiga tokoh pendekar sesat yang bersembunyi di Candi Karusian. Ki Anta Sena, Beru Nunggal dan Si Rambut Merah.
°°°
Genap satu pekan Danur Cakra berada di Kota Sinar Surya. Begitu banyak hal yang semula sekadar bentuk kecurigaan, pelan-pelan terungkap kebenarannya. Anta Sena dan orang-orangnya memang bukan tokoh baik, mereka diketahui berasal dari kelompok aliran sesat. Candi Karusian yang merupakan pusat kegiatan adat yang suci sengaja mereka kotori oleh perbuatan tidak bertanggung jawab. Salah satunya yakni pembunuhan gadis-gadis perawan.
Namun, menghadapi perlawanan yang dilakukan oleh Surowanto dan kelompoknya, Anta Sena sudah lebih siap dalam segala aspek. Termasuk serangan yang terjadi di malam itu, rencana pembunuhan yang disiapkan oleh Anta Sena. Bahkan segala bentuk strategi yang Surowanto siapkan pasti akan bocor. Ya, karena memang ada pengkhianat yang berdiam di dalam kubu Surowanto.
Dengan segala bocoran informasi dari mata-mata setianya, Anta Sena dengan mudah bisa mematahkan berbagai rencana Surowanto. Hanya saja, satu yang menjadi masalah saat ini yakni keberadaan seorang pendekar muda di sisi Surowanto. Kemampuan yang dimiliki oleh pendekar muda itu bahkan jauh berada di atas rata-rata kemampuan anak buahnya. Danur Cakra benar-benar menjadi batu sandungan bagi para penjahat itu.
"Jika saja, sejak awal kita bisa singkirkan duri kecil itu ... aku yakin masalahnya tidak akan sejauh ini!" ucap Anta Sena.
Si Rambut Merah yang ada di sana, menghela napas panjang. Dia sedang menunggu seseorang, tapi hingga malam selarut ini belum juga nampak tanda-tanda kemunculan mereka. Pembunuh profesional yang diundang untuk menyingkirkan Danur Cakra.
"Kakang Sena, aku mohon pamit. Nampaknya perjalanan tamu kita sedikit terhambat," ucap Si Rambut Merah mohon izin. Dia bergerak menuju perbatasan kota menunggu kedatangan para pembunuh bayaran.
Semakin lama, kehadiran Danur Cakra yang kerap menjadi penyelamat Surowanto semakin mempersulit ruang gerak Anta Sena dan para begundalnya. Maka dari itu, mereka melakukan taruhan besar dengan mengundang pembunuh bayaran ternama. Meskipun harus merogoh kocek yang tidak sedikit, semuanya terpaksa mereka lakukan demi kelancaran misi.
Kapak Emas, nama kelompok pembunuh yang dibayar oleh Si Rambut Merah untuk mencelakai Danur Cakra. Kapak Emas termasuk para pembunuh antar Kerajaan. Selain di Kerajaan Utara, Kapak Emas pun kerap beraksi di Kerajaan Selatan, bahkan hingga ke semenanjung kepulauan. Mereka akan datang bila kesepakatan terkait kepeng emas telah disepakati.
__ADS_1
"Aku khawatir, kalian mengingkari janji."
"Hahaha! Rambut Merah, aku rasa dari sekian banyak para penjahat yang ada di dunia. Kapak Emas adalah satu-satunya yang paling tepat janji!" seraya tertawa lebar, bos Kapak Emas menimang kepeng uang emas yang diserahkan Si Rambut Merah.
"Hanya seorang bocah kecil, jadi aku rasa kau tidak perlu khawatir lagi sekarang. Bagaimanapun juga dia punya bakat, tidak akan mungkin bisa lepas dari tangan Kapak Emas!" lanjutnya.
"Ucapan selamat, serta sanjungan akan aku simpan hingga kalian selesaikan misi. Ingat, hanya kabar baik yang kami inginkan. Semoga beruntung!" tidak berlama-lama, Si Rambut Merah segera pergi. Dia tidak ingin ada yang melihatnya, meski hanya seekor lalat.
°°°
Sesuai dengan rencana yang sudah disusun matang, seorang pengkhianat menyampaikan berita palsu pada Danur Cakra. Membawa Danur Cakra hingga terpisah dari rombongan Surowanto. Tanpa Danur Cakra menyadari jika semua itu hanyalah perangkap, sungguh suatu rencana yang tertata rapi.
Tiba di suatu tempat yang sudah ditentukan, di mana kelompok Kapak Emas sudah menunggu. Menyadari adanya aura tidak beres di sekitar lokasi, barulah mata Danur Cakra terbuka kalau mereka merupakan pengkhianat.
Danur Cakra menghentikan langkah. Dia berbalik, menatap orang-orang yang bersamanya. Satu persatu dia pandangi, sungguh Danur Cakra tidak bisa mengerti atas apa alasan yang membuat orang yang nampak polos justru mendukung kezaliman.
"Mengapa kalian tega mengkhianati sahabat sendiri? Di balik sikap manis kalian, ternyata kalianlah orang sangat menginginkan kematian Surowanto. Aku tidak habis pikir," ucap Danur Cakra pelan.
Tentu saja mereka sangat terkejut, tidak ada yang menduga jika Danur Cakra bisa tahu secepat ini. Celaka, itu artinya sandiwara penyamaran mereka ketahuan. Memang sudah tidak ada pilihan lain, kecuali mereka bergabung bersama Kapak Emas untuk membungkam mulut Danur Cakra untuk selamanya.
"Kepa*rat! Sadarkah kalian jika telah mengambil keputusan yang salah?! Senja ini akan menjadi matahari terakhir!" dengan geram Danur Cakra langsung melepaskan pukulan Tapak Naga.
Tiga orang pengkhianat yang berdiri paling dekat langsung tersungkur tidak bernyawa. Kesabaran Danur Cakra telah mencapai batasnya, hukuman mati ialah keputusan yang paling tepat.
Pertarungan sengit tidak terelakkan lagi, Danur Cakra tidak akan mendapatkan banyak masalah jika lawan yang dia hadapi hanyalah para pengkhianat suruhan Anta Sena. Akan tetapi dengan kemunculan pembunuh bayaran Kapak Emas, ceritanya jadi berbeda. Danur Cakra dipaksa bertarung hingga kemampuan tertinggi.
Bukan sekadar isapan jempol mengenai kehebatan kelompok Kapak Emas, Danur Cakra menyaksikan sendiri betapa mereka merupakan kelompok pembunuh yang sangat rapi. Kemampuan rata-rata personil Kapak Emas hampir setara dengan kepala regu prajurit kerajaan. Sungguh mengerikan. Jika dengan kekuatan penuh, maka perampok Kapak Emas akan mampu meluluhlantakkan satu padepokan kecil dalam waktu kurang dari satu malam.
"Kelompok pembunuh ini sengaja memancingku untuk berlama-lama di tempat ini, pasti telah terjadi sesuatu pada Surowanto dan yang lain. Aku harus selesaikan dengan segera!" Danur Cakra melompat ke belakang, dia mempersiapkan jurus yang berbeda.
"Hahaha! Aku pernah mendengar kehebatan jurus itu. Tidak disangka, aku berkesempatan untuk menjajalnya. Ayo anak muda, kita lanjutkan untuk bersenang-senang!" tantang seorang anggota Kapak Emas dengan jumawa.
Danur Cakra menyeringai sinis, matanya merah menyala seperti matahari yang baru terbit di ufuk timur memandang lawan-lawannya dengan tatap mematikan.
Perlahan malam mulai merangkak naik, gulita telah sepenuhnya membungkus mayapada. Siang telah berganti malam. Namun tidak dengan suasananya, kendati sang raja siang telah lama menghilang tapi cuaca panas justru semakin terasa membakar. Itu terjadi seiring dengan Danur Cakra yang menggunakan Pukulan Tapak Naga. Sekarang, membunuh adalah tujuan utama yang akan dilakukan. Hati Danur Cakra tidak lembut layaknya Ayah atau saudaranya yang lain. Dia sangat berbeda.
BAAMMM! BAAAMMM! Dentuman keras terjadi, kala pukulan tenaga dalam mereka saling berbenturan.
Satu persatu pasukan penyerang gugur ke bumi, terutama mereka para pengkhianat itu. Tidak seorang pun dari mereka yang masih tersisa, Danur Cakra telah mencelakai mereka semua tanpa ampun. Sekarang, Danur Cakra harus bisa selesaikan para pembunuh Kapak Emas untuk secepatnya menolong Surowanto dan yang lain. Danur Cakra sangat yakin, telah terjadi banyak hal selama dia pergi.
__ADS_1