Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Gingseng Seribu Nyawa


__ADS_3

Menggiring condongnya matahari, harusnya suasana sedikit sejuk. Tapi tidak yang terjadi di bukit berbatu tersebut. Justru panasnya terik semakin menyengat kulit.


Suhita berhenti sejenak, berlindung dari teeik di bawah sebatang pohon yang tidak begitu besar. Meskipun pohon itu hanya sebesar paha orang dewasa, tapi di tempat itu pohon tersebut termasuk tumbuhan yang paling rindang. Tentu saja karena bukit berbatu ialah tempat yang sangat gersang.


"Jangan sentuh apa pun! Tidak ada tumbuhan yang bisa dimakan di tempat ini," Suhita menghentikan Kencana Sari yang berniat memetik buah serupa mentimun kecil.


Kekuatan ilusi? Mungkin tidak tergolong kategori itu. Akan tetapi apa yang terlihat di sana bukanlah hal yang sebenarnya. Tipuan mata, yang coba membangkitkan selera orang untuk menyentuh benda-benda asing yang jarang dilihat.


Kencana Sari buru-buru menarik tangannya, melepaskan niatan untuk memetik mentimun kecil tadi. Seiring dengan itu, buah mentimun kecil hilang dari pandangan dan yang tersisa hanyalah buah aneh yang amat kotor penuh dengan penyakit.


"Hita, apakah ini bukit siluman? Kejadian yang tidak masuk akal!" ucap Kencana Sari.


Suhita tersenyum kecil, kemudian menggeleng, "andaipun ada, tapi bukanlah markas seperti yang kau maksud. Yang kau alami hanyalah permainan mereka, manusia yang telah lebih dulu datang."


Haus serta dahaga merupakan sahabat sejati yang menyertai sejak menginjakkan kaki di bukit berbatu. Biasanya, orang yang kehausan akan memakan apa pun buah-buahan yang mengandung air, mentimun misalnya. Tapi karena hanya sekadar tipuan manusia, tentu mudah untuk dikenali. Ciptaan Tuhan, jauh lebih sempurna dari itu.


"Mengapa tidak jadi ambil?" tanya Suhita.


"Ah?! Kau ingin aku celaka memakan buah aneh penuh kuman seperti ini," Kencana Sari mengangkat bahu, bergidik ngeri.


"Aku tidak meminta kau untuk memakannya. Simpan saja, nanti juga akan ada gunanya," jawab Suhita masih dalam balutan senyum.


Jika dilihat sekali lintas, tentu akan menganggap kalau perkataan Hita hanyalah gurauan semata. Tapi sebagai pelayan yang sudah ikut dalam waktu yang tidak sebentar, tentu Kencana Sari paham betul karakter Suhita. Tanpa bertanya lagi, Kencana Sari segera mengambil tabung kecil sebagai tempat penyimpanan.


Beberapa saat menghirup udara segar dari angin yang berhembus, kembali menambah energi dan semangat di dalam tubuh. Suhita segera melanjutkan perjalanan mendaki bukit berbatu.


Cuaca yang semula panas, begitu cepat berubah. Mendung yang berarak dengan cepatnya menutup cahaya matahari. Perlahan gerimis mulai turun.


Suhita menarik lengan Kencana Sari untuk segera berlindung di bawah batu besar. Air hujan yang turun bukanlah air biasa. Suhita bisa mencium adanya gelagat yang tidak beres dari sekadar gejala alam. Tentu saja, semakin bertambahnya hari maka semakin matang pula pengalaman dan kemampuan yang Suhita miliki. Tingkat olah kanuragan pula Suhita tekuni, sekarang di balik tangannya yang halus Suhita sudah menjelma menjadi sosok yang serba guna.


Ibarat api unggun, yang diperlukan hanyalah satu titik api. Tumpukan kayu dan yang lain menyusul untuk membuat api membesar. Dengan kemampuan Suhita yang begitu cekatan mendapatkan sumberdaya, bukanlah suatu hal yang aneh jika dia bisa meningkatkan kemampuan tenaga dalam dengan begitu cepat. Sementara orang-orang sibuk pertaruhkan nyawa atau sebagian bekerja untuk bisa memaharkan satu sumberdaya, Suhita tidak perlu repot-repot. Bahkan sumberdaya langka sekali pun, dengan mudah bisa Suhita peroleh. Dan lagi-lagi itu merupakan satu kemampuan Suhita yang tidak orang lain punya. Dia memang istimewa.


"Jika tidak memungkinkan, baiknya kita cari gua untuk istirahat. Jalanan pasti sangat licin," ucap Suhita.


Dari sikap dan tindakan yang begitu santai tidak terburu-buru, seolah Suhita tidak begitu tertarik untuk segera mendapatkan sumberdaya. Atau mungkin bisa juga andai dia sudah mengetahui titik lokasi yang akan dituju. Dengan kata lain, Suhita datang hanya untuk mengambil dan bukannya ikut berburu. Cenderung terlihat sombong, padahal yang sebenar adalah sebaliknya. Penuh dengan kesabaran, memang karakter Suhita demikian adanya. Layaknya mengejar bayangan diri, semakin dikejar akan semakin menjauh. Dan bila saatnya telah tiba, bayangan tersebut akan berada di bawah telapak kaki kita. Tak akan lari gunung dikejar. Jika tergores takdir, pasti akan bertemu jua.


°°°


Sementara itu, di puncak bukit berbatu. Telah terjadi pertarungan sengit. Memang tidak sampai menimbulkan suara bergemuruh layaknya petir, ataupun hentakan kaki yang membuat tanah bergetar. Karena yang terjadi hanyalah pertarungan batin. Dua sosok berdiri saling berhadap-hadapan, mata mereka terpejam dengan memusatkan pikiran.


Mengapa begitu banyak tokoh besar dunia persilatan mendatangi bukit berbatu? Sebenarnya apa yang mereka cari di tempat yang tandus dan gersang? Tentunya bukanlah hasil panen ataupun material kayu. Melainkan hal lain yang pantas untuk diperebutkan. Sumberdaya langka.

__ADS_1


Lurah Paku Gelung, bertarung atas nama desa yang dia pimpin. Konon katanya andai bisa peroleh sumberdaya yang ada di bukit berbatu maka kesejahteraan akan mengalir pada segenap warga. Sementara yang menjadi lawan, merupakan seorang pendekar yang juga menginginkan sumberdaya. Meskipun dia berkata jujur jika akan menggunakan sumberdaya yang didapat untuk dirinya sendiri. Namun demikian, belum pernah tersiar kabar kalau Andaresta berbuat kejahatan. Justru dia adalah seorang penegak keadilan.


Bertarung satu melawan satu untuk bisa dapatkan sumberdaya, merupakan hal yang pantas diperjuangkan mengingat kebutuhan yang begitu penting.


Dalam hening, dua orang 'baik' (dalam kategori masing-masing) telah bertarung cukup lama. Bukan hanya keringat, tapi darah pula telah mengalir dari sudut bibir. Pertarungan yang alot, sangat luar biasa mengingat mereka bukan dari golongan ternama.


Wuuusss !!! angin kencang berpusar di tengah-tengah keduanya, melebur segala konsentrasi serta mengembalikan ruh pada jasad masing-masing.


Baik Lurah Paku Gelung maupun Andaresta sama-sama mengalami luka dalam yang serius. Keduanya memegangi dada, sambil mencari tahu siapa gerangan sosok yang turut campur dalam pertarungan mereka.


"Hahahaha !!! Tidak usah kaget, aku bukan ikut campur urusan kalian. Akan tetapi, aku hanya inginkan kalian berdua cepat angkat kaki dari tempat ini!" diiringi tawa cekikikan, seorang pendekar tua perlahan turun dari atas awan.


Buta Tuli, dunia persilatan mengenal sosok pria tua tersebut dengan julukan yang tidak normal. Meskipun kenyataannya dia masih memiliki dua mata juga dua telinga. Gelar Buta Tuli yang diberikan karena sepak terjang sang pendekar yang abai terhadap dunia di sekitar. Dia buta, bukan matanya melainkan hati nuraninya. Juga tuli, bukan telinganya melainkan kesombongannya.


Lurah Paku Gelung menyipitkan mata, memandang Buta Tuli dengan begitu dalam. Selama ini dia hanya mendengar nama Buta Tuli dari gaungan kata orang-orang yang pernah menyaksikan sepak terjangnya yang kejam. Sketsa wajah yang tersebar bahkan jauh lebih menyeramkan dari bentuk aslinya. Dengan tubuh ceking, kurus kerempeng, apa yang bisa dia lakukan?


Buta Tuli tidak peduli pada dua orang yang telah lebih dulu tiba. Dia langsung berjalan menuju sebuah tempat yang diduga merupakan jalan masuk untuk peroleh sumberdaya.


Batu besar yang berdiri tegak di kanan dan kiri jalan, hampir menyerupai pintu gerbang. Diyakini, setelah berhasil melewati pintu tersebut maka akan menemukan jalan untuk dapatkan sumberdaya.


Lurah Paku Gelung tidak tinggal diam. Dengan segera dia melompat dan menubruk tubuh kerempeng Buta Tuli supaya tidak melintasi pintu gerbang.


BRUUUKKK !!! Seperti membentur dinding tak kasat mata, justru tubuh Lurah Paku Gelung yang terpental dan jatuh tersungkur. Tanpa menoleh, Buta Tuli terus melanjutkan langkah.


CLIING! Tubuh Buta Tuli lenyap dari pandangan mata. Dengan kemampuannya, dengan begitu mudah bisa menembus tembok ghaib yang mengelilingi pintu gerbang.


Berbeda dengan Lurah Paku Gelung, Andaresta justru mengatur siasat. Sambil menunggu Lurah Paku Gelung kembali coba untuk menjebol dinding ghaib, dia hanya menghimpun tenaga dalam untuk membentengi dirinya. Pada waktu yang bersamaan, Andaresta melompat menyerang bersamaan dengan Lurah Paku Gelung.


Cling! Tubuh keduanya pula menghilang dan berhasil menembus tembok ghaib. Andai saja sejak awal keduanya tidak bertarung untuk saling mendahului masuk, gunakan kemampuan secara bersamaan merupakan satu jalan terbaik dari pada bertengkar tidak karuan.


°°°


WUUURRR!!! Di bawah sana, tanah dan pasir berguguran seperti seseorang sedang menyapu dinding batu.


"Eh, apa-apaan ini? Apakah ada gempa?" Kencana Sari terkejut, dia mengibas-ngibaskan telapak tangan untuk melindungi mata dari pasir yang beterbangan.


Suhita mengangkat bahu, dia tidak berani menebak meskipun besar kemungkinannya jika telah ada yang berhasil menembus tembok penghalang ghaib. Apa pedulinya, entoh kedatangan Suhita bukan untuk berburu sumberdaya panjang umur yang katanya ada di sana.


"Konsentrasi saja, jangan pedulikan apa pun. Kita baru dapatkan sedikit tanaman obat. Jangan terlalu suka ikut campur urusan orang lain," Suhita mendorong pundak Kencana Sari untuk lanjut berjalan.


Keranjang yang di bawa Kencana Sari sedikit demi sedikit bertambah muatan. Sungguh tidak terduga, kiranya di bukit batu yang tandus begitu banyak ditumbuhi tanaman langka yang berkhasiat obat. Bagaimana tidak pasien Suhita mudah untuk sembuh jikalau ramuan yang digunakan adalah tanaman berkelas yang sukar ditemukan baik di daratan maupun di dasar laut. Selain di alam dunia, bahkan beberapa didapat dari alam lain. Luar biasa bukan?

__ADS_1


"Gingseng seribu nyawa?!" gumam Suhita sedikit terkejut.


"Apa?! Kau bicara apa?" tanya Kencana Sari memastikan. Takutnya dia salah dengar.


"Ah, tidak. Aku hanya coba mengingat," jawab Suhita berbohong.


Setelah dirasa cukup, Suhita diikuti Kencana Sari menuruni tangga batu. Mereka bisa melihat jika ada sungai kecil yang mengalir air jernih di bawah sana.


Suhita memberi tanda untuk Kencana Sari tidak berbuat tanpa perintah. Sungai kecil, air yang jernih, juga adanya kolam kecil, merupakan fenomena yang tidak wajar. Tentu saja Suhita terlalu cerdas untuk bisa dikelabui oleh semua itu.


Seorang lelaki tua sedang duduk di tepi kolam, memegangi sebatang kayu kecil sebagai bias pancing. Secara normal, harusnya pangkal kayu yang dipegang dengan ujung kecil diikat tali penyambung kail, bukan malah sebaliknya seperti yang dilakukan oleh lelaki tua.


"Sialan! Apa yang kalian lakukan di tempat ini?! Kalian hanya membuat ikan-ikan bersembunyi ketakutan!" Lelaki tua mengumpat atas kedatangan Suhita.


"Meskipun seribu lima ratus tahun lamanya, Kakek tidak akan pernah berhasil menangkap ikan dengan pancing. Lihat saja, masa iya Kakek justru menggenggam mata kailnya," Suhita tersenyum ramah.


"Fuuiiihhh! Anak ingusan, jangan coba menasehati ku. Pergi sana, pulang dan memasak untuk ibumu!" dengan kesal, Kakek tua melambaikan tangan mengusir Suhita.


Merasa diganggu, dengan cemberut si Kakek bergegas bangkit dan berpindah tempat. Dia menyeberangi kolam untuk duduk di pematang seberang. Luar biasa! Kakek menyeberangi kolam dengan berjalan di atas permukaan air tanpa alas kakinya menjadi basah.


Kencana Sari sampai menelan ludah menyaksikannya. Belum pernah dia melihat secara langsung ada orang yang melakukan seperti yang Kakek tua itu lakukan.


"Kakek, kau menggunakan pancing dengan salah!" teriak Suhita lagi.


Si Kakek acuh tak acuh. Dia semakin erat menggenggam mata kail pancingnya. Sementara pangkal stik pancing terus dia goyangkan berharap ikan menyambar. Sangat tidak masuk akal, di luar nalar jika ada manusia yang melakukan hal serupa. Kekuatan Kakek membuat tali pancing bahkan mampu menahan bobot kayu biasan. Jika seminggu saja hidup di tempat seperti itu, rasanya bisa gila.


"Bocah ingusan, mengapa tidak segera pulang? Bila ibumu datang, aku pasti akan memberi tahu kau di sini. Sebenarnya apa yang kau cari wahai anak kecil?" tanya Kakek dengan wajah masam.


"Emmm ... Kakek sudah lama di sini 'kan? Apa pernah melihat adanya tanaman Gingseng Seribu Nyawa?" tanya Suhita.


"Mendengar saja baru kali ini. Sudahlah, jangan bicara aneh-aneh. Cepat pulang sebelum hujan kabut turun dan kalian tidak akan bisa pulang!" teriak Kakek.


"Biasanya, Gingseng Seribu Nyawa selalu berpindah-pindah. Dia tidak tahan di darat tapi juga tidak bisa tersentuh air. Benarkah Kakek tidak pernah melihat?"


"Anak kecil! Harus berapa kali aku katakan, aku tidak tahu. Memangnya untuk apa kau cari Gingseng? Carilah kerang kecil lalu rebus dan beri bumbu, itu baru anak yang baik. Bukannya malah keluyuran!" 


Di atas bukit, awan tebal telah terlihat dengan jelas. Seperti yang dikatakan oleh Kakek tua, sebentar lagi akan turun hujan kabut. Hujan yang begitu dingin kabut yang teramat tebal. Sekuat apa pun manusia, jika terjebak di dalamnya maka akan kehilangan kekuatan bahkan bisa-bisa celaka.


"Hita, hujan kabut benar-benar akan turun. Bagaimana ini?" bisik Kencana Sari.


"Bocah bandel! Apa kau tidak punya telinga? Cepatlah pergi!"

__ADS_1


Suhita menghela napas, sebelum hujan kabut benar-benar turun dia mengajak Kencana Sari berlindung dalam gua yang sebelumnya mereka gunakan untuk istirahat. Mereka tidak segera pulang, meskipun telah mendapatkan berbagai sumberdaya dan rempah obat yang dibutuhkan. Suhita akan menunggu hingga hujan kabut reda, untuk kemudian kembali mendatangi Kakek tua.


Tabib Dewa adalah Tabib Dewa. Kelebihan yang tidak dimiliki orang lain adalah karunia untuknya. Bukannya Suhita terlalu yakin kalau Kakek tua tersebut mengetahui di mana keberadaan Gingseng Seribu Nyawa yang konon berpindah tempat setiap satu jam. Tapi lebih dari itu, karena Gingseng Seribu Nyawa dan si Kakek adalah satu.


__ADS_2