Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kujang Kembar


__ADS_3

Seorang anak kecil menangis meraung, dia menolak untuk berjalan meskipun ibunya marah-marah dan menarik lengan si anak dengan kuat. Air mata anak kecil itu mengucur deras, dia bersikeras meminta ibunya membelikan manisan yang menurut sang ibu sangat mahal harganya.


"Hei anak manis, mengapa kau menangis? Mau ini?" tanya seorang wanita muda yang tiba-tiba berada di samping si anak seraya menyodorkan manisan yang amat diinginkan oleh anak kecil itu.


"Nona, tidak usah Nona," ibu si anak terlihat tidak enak untuk menerima pemberian itu.


Wanita muda yang datang tidak lain ialah Suhita. Dia sudah tiba di Kota Bukit Hijau pagi ini. Kebetulan Suhita melintas di pasar dan melihat seorang anak kecil menangis minta dibelikan manisan. Suhita jadi teringat akan masa kecilnya. Kala itu kemana-mana Suhita hanya berdua saja dengan ibunya (Puspita Dewi). Termasuk ke pasar mingguan seperti ini, Suhita tidak pernah absen menemani ibunya berbelanja. Sering juga Suhita membuat ibunya cemas karena tiba-tiba saja menghilang. Hanya yang menjadi pembeda, Suhita sejak kecil tidak bermasalah dengan keuangan.


"Jangan banyak-banyak makan manisan seperti ini, ya. Nanti giginya ompong ... mau jadi seperti nenek itu?" Suhita menunjuk pada seorang nenek tua yang berada di seberang jalan.


"Tidak mau. Memangnya nenek itu suka makan manisan ya Kak?" masih sesenggukan setelah menangis, dengan ekspresi polos yang amat menggemaskan anak kecil itu bertanya.


Suhita tertawa kecil, dia mengangguk. Menegaskan jika anak kecil tidak boleh terlalu banyak makan makanan yang manis dan juga coklat. Dengan bahasa yang lembut, seketika anak kecil itu bisa menerima penjelasan Suhita. Dia berjanji untuk tidak menjadi anak yang bandel.


Suhita mengelus kepala anak wanita berusia tujuh tahun itu. Mereka berasal dari keluarga yang sederhana, pergi ke pasar hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Untuk membeli pakaian, hanyalah jatah belanja tahunan. Menjelang pergantian tahun atau hari besar saja. Sisanya, ya tidak. Bukannya tidak mau, hanya tidak mampu.


"Iya ... anak pintar. Siapa namamu?"


"Welas, Kak. Aku punya dua orang kakak laki-laki, namanya Bayu dan Bagas. Tapi mereka tidak suka pergi ke pasar, malah ikut ayah ke hutan."


Suhita mengangguk seraya mengurai senyumnya yang manis. Kemudian Hita mengalirkan perhatiannya pada ibu si anak. Suhita menyampaikan jika ia berniat menghadiahi Welas dan kedua kakaknya beberapa setel pakaian. Hita juga meminta sang ibu yang langsung memilih, tentunya dia paham ukuran untuk pakaian kedua kakak Welas.


Meskipun sempat menolak, pada akhirnya si ibu menyerah setelah terus di desak oleh Suhita juga Kencana Sari yang ikut membantu bicara. Mungkin sudah menjadi rizki yang datang untuk anak-anaknya.


Setelah selesai, Suhita melanjutkan langkahnya. Dia mencari-cari sesuatu, semacam hadiah istimewa. Karena Suhita terlihat keluar masuk toko souvernir, baik tradisional maupun yang langka.


Kencana Sari hanya mengikuti dari belakang, tugasnya menuntun kuda, dan Kencana Sari tidak pernah menayangkan akan ke mana tujuan mereka sebenarnya.


"Mengapa sangat sulit untuk mendapatkannya? Biasanya banyak ditemukan ukiran dari kayu stigi."


"Aduh, Nona. Jika sekadar kayu stigi, kau bisa lihat di sana banyak. Tapi stigi lima ratus tahun seperti yang kau ingin, sangat sulit Nona. Saya sudah menghubungi rekan saya, tadinya dia menyimpan, tapi belum lama ini sudah dibeli oleh orang," pemilik toko souvernir menjelaskan.


Suhita menghela napas berat. Mau bagaimana lagi, mencari orang yang membeli itu tentu sangat tidak mungkin. Hita yakin juka orang tersebut juga kesulitan untuk mendapatkannya, dan tidak lagi mau menjualnya pada Suhita.


"Mau bagaimana lagi ... kalau begitu aku ingin sesuatu yang menarik lainnya, yang kira-kira hampir setara dengan stigi lima ratus tahun," ucap Suhita kemudian.


Pemilik toko sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisanya gadis muda seperti Suhita justru tertarik pada benda yang sangat sulit dicari, sungguh selera yang aneh.


Setelah sangat lama, Suhita kembali dengan membawa bungkusan rapi. Entah apa isinya. Dia menghampiri Kencana Sari yang hampir kering menunggu.


Belum juga sempat Suhita dan Kencana Sari melanjutkan langkah, tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari tengah keramaian. Terjadi keributan di sana, orang-orang berlarian menyelamatkan diri.


Suhita bergegas mendekat, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Banyaknya orang-orang yang memenuhi jalan, membuat Suhita sedikit kesulitan untuk bisa cepat mendekat. Bahkan jaraknya dengan Kencana Sari pun semakin menjauh. Kencana Sari mengurus kuda mereka yang kaget mendapati teriakan kencang dan banyaknya orang di jalan.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu, di sekitar tempat kejadian orang-orang sudah sepi, mereka melarikan diri ke tempat yang dianggap aman. Yang tersisa tinggallah pertarungan. Sekelompok pendekar bertarung dengan gunakan kemampuan tenaga dalam tingkat tinggi.


Suhita terus berjalan, hatinya teriris pilu, memeriksa satu persatu tubuh penduduk yang tergeletak tak lagi bernyawa. Ada yang merupakan pedagang, sedang mengais rezeki untuk menghidupi keluarga. Sebagian juga para pembeli, ibu-ibu yang berbelanja kebutuhan dapur. Harusnya mereka memasak untuk keluarga di rumah, tapi justru sekarang malah tergeletak tidak bernyawa, tanpa tahu salah apa.


"Siapa mereka?!" setelah tidak mendapati seorang pun yang masih hidup, Suhita beralih pada lima orang yang sedang bertarung.


Dua melawan tiga, tapi jelas jika dua orang itu miliki kemampuan di atas tiga yang lain. Meskipun mereka kalah jumlah, justru mampu mendominasi pertarungan.


Energi yang terlepas dalam setiap pukulan amatlah dahsyat. Sudah cukup banyak Suhita temui para pendekar di jalanan, tapi nampaknya kali ini, orang-orang yang bertarung di hadapannya bukanlah pendekar sembarangan. Merekalah pendekar sejati, orang yang pantas menyandang julukan pendekar. Tidak seperti kebanyakan, yang hanya andalkan satu kemampuan saja.


BAAAMMM !!! Kembali terjadi benturan, pukulan keras yang saling beradu.


Suhita melompat mundur, hampir saja dia terkena percikan energi yang terpecah. Dan harus diakui, mereka sangat berbahaya. Untuk sementara waktu, Suhita memutuskan untuk menonton. Kendati saat ini kemampuan tenaga dalam Suhita sangat tinggi, tapi melihat pertarungan yang terpampang di depan mata, semakin membuat mata Suhita terbuka jika tenaga dalam saja tidak cukup untuk bisa keluar sebagai pemenang.


Braaakk! Seorang pendekar jatuh terlentang, punggungnya menghantam bangunan di pinggir jalan. Sampai-sampai pahatan patung batu itu hancur berkeping, tapi si pendekar masih berusaha untuk bangkit.


Wajahnya menunjukkan bilangan usia di kepala tiga. Dan Suhita yakin, kalau orang itu hanyalah seorang pengawal. Posisinya bukanlah bos atau pimpinan. Dengan kemampuan setinggi itu, lalu bagaimana dengan pimpinannya? Suhita tidak bisa menerkanya.


Sebilah kujang pusaka berkelebat, memancarkan cahaya mengkilap yang menyilaukan. Tidak lama kemudian, kujang itu sudah menembus dada pendekar yang tadi jatuh terjungkal.


Dengan brutal, beberapa sabetan kujang membuat bagian tubuh si pendekar menjadi berserak tidak tentu arah.


"Ahhh?!" Suhita terbelalak lebar. Ini merupakan pembantaian.


Pemilik kujang pusaka menjilat setetes darah yang ada di ujung senjatanya. Senyumnya mengembang menyaksikan bagian tubuh lawan yang tidak mungkin bisa disusun.


"Cuiiiihhhh !!! Kotoran kuda! Akuu kira kalian adalah pendekar pilih tanding seperti yang digaungkan. Ternyata tidak lebih dari seonggok sampah busuk!" sebelum membantu rekannya, lebih dulu ia meludahi genangan darah lawan.


Akan tetapi, pria itu sontak menghentikan ayunan langkahnya saat tanpa sengaja melihat seorang wanita muda berdiri memperhatikan. Kiranya mereka memiliki seorang penonton setia.


Tidak ada orang yang tersisa, semuanya melarikan diri karena takut. Tapi gadis muda itu justru berdiri tanpa rasa takut. Sungguh, membuat hati si pendekar jadi tertarik. Terlebih ketika dia merasakan jika wanita muda itu memiliki kemampuan tenaga dalam yang cukup.


"Hehehe! Anak manis, apa yang kau lakukan di tempat ini?" sapanya pada Suhita.


Suhita membungkuk memberi salam, menyampaikan pendapatnya bila perbuatan yang dilakukan oleh si pendekar telah melampaui batas, rasa kemanusiaan yang telah tersingkir.


"Hahaha! Kau salah satu dari mereka? Ckckck ... sayang sekali! Tapi tunggu dulu, kau harus sabar menunggu giliran!" tidak membiarkan rekannya dalam kesusahan, pria itu kembali pada rencana semula, untuk membantu rekannya melenyapkan dua orang lawan yang masih tersisa.


Seraya melompat, pendekar itu mengibaskan tangannya ke arah Suhita, mengirim beberapa bola energi yang bakal membuat tubuh Suhita hangus terbakar bila tidak segera menghindar.


Seperti memiliki nyawa, bola energi yang menghantam tanah kembali terpantul dan melayang ke arah Suhita, mengulang serangan pertama yang gagal.


Tidak hanya menghindar, kali ini dengan terpaksa Suhita menggunakan Tapak Naga Es untuk membuat bola energi itu padam sebelum menjadi bencana dan menimpa rumah penduduk sekitar.

__ADS_1


"Hemmm! Lumayan juga!" gumam pemilik bola energi kala melihat Suhita menghancurkan energi miliknya dengan satu gerakan.


Tidak mau terpancing, mereka tidak tertarik membagi konsentrasi untuk sekadar mengawasi Suhita. Lebih dulu, dua orang pendekar yang menjadi lawan mereka harus dibinasakan. Setelah itu, barulah giliran Suhita.


Dengan berhadapan satu melawan satu, kurang dari sepuluh jurus dua orang pendekar yang menjadi lawan kembali ambruk ke bumi, menyusul seorang rekannya yang telah lebih dulu celaka.


Sepasang pendekar dengan senjata kujang sebagai ciri khas. Sejak nama mereka muncul, mereka merupakan tokoh aliran sesat yang haus darah. Diketahui Kujang Kembar merupakan murid Ki Bhadrika Djani. Seorang tokoh masa lalu yang menghilang dari dunia persilatan.


Masih banyak tokoh dunia persilatan yang meragukan perihal kabar Bhadrika Djani yang masih hidup. Berdasarkan kabar yang beredar sebelumnya, Bhadrika Djani telah tewas di tangan saudara seperguruannya. Konon mayatnya memang tidak ditemukan, tapi siapa percaya jika ada orang yang mampu bertahan hidup jika terjatuh ke dalam Laut Tanpa Celah.


Laut Tanpa Celah, namanya saja membuat yang mendengar akan bergetar hatinya. Keangkeran Laut Tanpa Celah sudah melegenda dari masa ke masa. Dan di sana, Bhadrika Djani terjatuh setelah dikalahkan oleh Pendekar Naga Suci. Ya, memang benar. Laut Tanpa Celah berada di Selatan.


Mengingat kisah terakhir, membuat pemikiran kita berputar kembali ke belakang. Kisah yang terjadi delapan windu silam. Perang saudara yang terjadi di Pulau Tengkorak. Di mana tokoh utama dalam perang ialah Raditya (Pendekar Naga Suci) yang kala itu tidak diterima oleh saudara dan padepokannya karena mempersunting Rengganis yang merupakan pendekar asal Utara. (Pembaca setia Pendekar Elang Putih ss 1, pasti tahu). Raditya dan Rengganis sama-sama kita ketahui merupakan orang tua Mahesa, ayahnya Suhita, Danur Cakra, juga Raka Jaya.


Nah sementara ... Bhadrika Djani tidak lain ialah seorang yang memiliki dendam pada Raditya. Dia masih hidup, dan dendam harus dibalas. Bhadrika Djani hanya mengangkat dua orang murid, mereka adalah Kujang Kembar. Jayadita dan Jaganitra.


Kembali ke pasar tradisional di Kota Bukit Hijau.


Tiga orang lawan telah dihabisi oleh Kujang Kembar. Bukan itu saja, mereka juga telah membuat belasan jasad lain bergelimpangan, mengubah hiruk pikuk pasar menjadi tempat yang mencekam penuh bau amis darah.


"Anak kecil! Katakan siapa dirimu, mengapa begitu beraninya memandang wajah kami!" ujar Jaganitra pada Suhita.


"Saya hanya melihat kalian melakukan kemungkaran. Mengapa harus memilih tempat ini? Bukankah alam sangat luas untuk bisa bertarung, lihatlah ..." Suhita menunjuk pada jasad penduduk tidak berdosa.


"Ahahaha! Kau pikir kami peduli?! Sama sekali tidak, bocah! Fuuiiihhh!" Jaganitra meludah ke arah Suhita. Namun karena jarak mereka cukup jauh tentu air liurnya terjatuh ke tanah sebelum kena Suhita.


Suhita menghela napas berat, dadanya berdegup kencang. Wajar jika Kujang Kembar tidak mengenali dirinya, Suhita juga baru kali ini melihat mereka.


Kujang Kembar hanya membantai orang-orang yang miliki masalah dengan mereka, dengan guru mereka, dan juga orang yang coba mengusik wilayah kekuasaan mereka. Tidak pernah terdengar keduanya melanglang buana, menjajaki kemampuan banyak pendekar di berbagai penjuru. Maka dari itu, tidak banyak para pendekar yang tahu bagaimana ganas dan panasnya pukulan api milik keduanya. Pukulan tenaga dalam ciptaan Bhadrika Djani yang diberi nama Pukulan Sembilan Matahari.


"Anak kecil, sebaiknya kau pergi. Sekarang juga angkat kaki dari hadapan kami, jangan sampai aku berubah pikiran!" usir Jaganitra.


Ketika kemarahan Kujang Kembar kembali terpancing oleh Suhita yang tidak bergeming dari tempatnya, saat itu Kencana Sari datang. Di belakang Kencana Sari berdatangan pula para prajurit kerajaan, keamanan di wilayah Bukit Hijau. Beberapa pendekar aliran putih dari padepokan terdekat juga datang, mereka terpanggil untuk mengatasi Kujang Kembar.


"Sari, hati-hati. Kedua orang ini sangat berbahaya," Suhita memperingatkan Kencana Sari untuk lebih waspada.


Belum juga bibir Suhita tertutup dengan sempurna, para prajurit telah menyerang Kujang Kembar. Dan seperti yang sudah diduga, mereka roboh ke bumi hanya dengan satu serangan.


"Kurang ajar! Teman-teman, kita habisi mereka secara bersama-sama!" seorang murid padepokan menyalakan semangat teman-temannya. Serentak mereka menghunus senjata dan menyerang.


"Tuan-tuan tunggu!" teriakan Suhita sudah tidak lagi dihiraukan.


"Baiklah, tidak ada pilihan lain," gumam Suhita.

__ADS_1


Suhita tidak bisa membiarkan para pendekar aliran putih menjadi bangkai tidak berguna, mereka pasti dibantai secara brutal. Maka dari itu, Suhita memutuskan untuk ikut membantu serangan.


"Ayo, bocah manis! Kita bermain-main sebentar!" Jayadita menghadang gerakan Suhita. Sementara Jaganitra menjadi eksekutor untuk melumuri kujang di tangannya dengan darah segar lawan-lawan empuknya.


__ADS_2