Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Tiba Di Giling Wesi


__ADS_3

Tepat di hari ketujuh, sesuai dengan janji yang pernah Suhita tuliskan. Tabib Titisan Dewa itu telah kembali melangkahkan kakinya di pelataran Padepokan Giling Wesi. Ditemani seorang pendekar yang gagah dan tampan, Suhita memasuki Giling Wesi tanpa halangan yang berarti.


"Hita, mungkin ayah tidak bisa menemanimu ke dalam. Ada hal yang akan ayah lakukan. Jika ada hal penting atau kau butuhkan bantuan, maka jangan ragu untuk memanggil ayah," ucap Mahesa.


Mahesa menatap ayahnya beberapa saat, tapi kemudian dia segera mengangguk tanpa adanya pertanyaan yang terlontar. Suhita mengatakan jika dia akan baik-baik saja dan meminta Mahesa untuk tidak mencemaskan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu lagi," Mahesa mengelus kepala Suhita sebelum mereka berdua berpisah.


Suhita melambaikan tangannya pada sang ayah ketika hendak memasuki pintu gerbang. Dia melihat ayahnya pun melangkah pergi untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Apa pun itu, Suhita tidak berhak untuk tahu.


Beberapa orang murid padepokan Giling Wesi tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Suhita. Mereka segera membawa Suhita menuju ke tempat di mana Pendekar Tongkat Emas dan tokoh Padepokan Giling Wesi menunggu.


"Tabib kecil, kami telah begitu lama menunggu kedatanganmu. Apakah kau mendapatkan masalah selama dalam perjalanan?" tanya seorang murid padepokan.


Suhita menampik jika ada masalah yang menghambat perjalanannya. Suhita hanya mengatakan jika sumberdaya yang dia cari berada di tempat yang saling berjauhan, hingga waktu yang dibutuhkan untuk mengambilnya pun sangat lama. Beruntung, Suhita masih bisa menyelesaikan semuanya sesuai dengan perhitungan.

__ADS_1


"Apa kalian tahu, bagaimana kondisi terakhir Kakek guru?" tanya Suhita.


Murid padepokan itu kemudian menjelaskan kalau kondisi Pendekar Tongkat Emas telah jauh membaik. Bahkan di mata orang biasa, dia tidak nampak sedang sakit. Atau mungkin juga karena memang dia sudah sembuh.


"Tabib Asih begitu hebat, aku yakin dia telah melakukan segala hal yang terbaik," puji Suhita di depan murid-murid padepokan.


Tidak sedikit pun ekspresi wajah Suhita menggambarkan rasa tidak senang atau kebenciannya pada Tabib Asih Cangkar Kemuning. Padahal, sudah jelas-jelas otak tabib itu yang telah memperkerjakan para pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Suhita dalam perjalanan pulang ke Giling Wesi. Suhita ingin lihat, apa yang akan dilakukan oleh Tabib Asih saat mereka berjumpa nanti.


"Aku sudah menduga, kau pasti akan kembali," Jaka Pragola menyambut Suhita di depan pintu. Seutas senyum hangat tersungging di bibir pimpinan padepokan Giling Wesi itu.


Suhita sedikit terkejut, dia sama sekali tidak menduga jika Jaka Pragola sendiri yang akan menyambut kedatangannya. Mendapati cara dan sikap yang ditunjukkan oleh Jaka Pragola, membuat Suhita berpikir jika orang itu telah mengetahui sesuatu. Ataukah ada orang yang telah banyak membuka suara perihal dirinya?! Selain Danur Cakra Prabaskara, Suhita sangat yakin jika tidak banyak orang yang mengetahui tentang jati dirinya. Bahkan Raka Jaya sekali pun. Apa lagi orang lain.


Pandangan mata Suhita bertabrakan dengan Tabib Asih yang sudah ada di dalam kamar, beberapa asistennya pun memandangi Suhita dengan tidak berkedip. Banyak ungkapan yang mereka simpan di dalam hati. Entah apa pun itu, seolah tidak telah terjadi sesuatu Suhita tetap menyapa dan bersikap sebagaimana kala dia berangkat kemarin. Cukup pandai anak itu bermain peran. Wajah polosnya membuat Tabib Asih dan anak buahnya masih bisa menarik napas dengan lega.


Jika bukan karena Jaka Pragola, mungkin bukan hanya kelompok Tabib Asih saja bahkan Pendekar Tongkat Emas pun tidak begitu yakin atas kemampuan yang dimiliki oleh anak kecil itu. Asal-usul dan nama besar gurunya juga tidak diketahui.  Sebenarnya dia juga heran atas sikap Jaka Pragola yang begitu menaruh kepercayaan yang sangat besar pada anak kecil yang katanya mahir dalam mengobati.

__ADS_1


"Tabib kecil, apa kau bisa jelaskan atas penyakit yang aku derita? Terus terang, aku sendiri merasa jika hal tidak masuk akal kerap terjadi padaku," ucap Pendekar Tongkat Emas ketika Suhita memeriksa denyut nadi pendekar itu.


Suhita tersenyum sebelum kemudian menjawab. Dia menyinggung mengenai luka kecil yang terdapat di telapak kaki Pendekar Tongkat Emas. Tanpa ragu, Suhita mengatakan jika salah satu penyebab sakitnya ialah karena luka tersebut.


Pendekar Tongkat Emas mengerutkan dahi, dia meraba telapak kaki kanannya. Memang ada bekas luka di sana, tapi benarkah anak kecil ini tahu akan hal itu? Sejenak Pendekar Tongkat Emas berpikir dengan keras. Sudut matanya melirik dan menatap wajah Suhita dengan dalam. Memang dari garis wajah anak itu, ada garis wajah yang sama yang pernah dia lihat dalam generasi yang berbeda. Tapi siapa ya? Mungkinkah dia adalah anak dari seorang yang pernah dikenalnya dari generasi pendekar terdahulu? Pendekar Tongkat Emas coba untuk mengingatnya.


"Atau mungkin ... ya, bisa jadi Jaka Pragola telah mengetahui sesuatu," gumam Pendekar Tongkat Emas dalam hati. Karena hal itulah, maka Jaka Pragola nampak begitu sepenuhnya percaya pada Suhita. "Aku harus cari tahu. Baiknya sementara waktu aku harus menurut dan mengambil hati tabib kecil ini."


"Kakek, apa kau mengingat sesuatu?" tanya Suhita membangunkan Pendekar Tongkat Emas dari alam hayalnya.


"Ah, maaf. Aku tidak berhasil mengingatnya, mungkin kejadian itu sudah terlalu lama, hingga usiaku yang sudah lanjut membuat ingatanku jadi terganggu. Hehe ... apakah sakitku masih bisa disembuhkan? Belakang ini, aku sudah merasa jika kondisiku sudah sangat sehat," Pendekar Tongkat Emas berbohong. Bukannya dia lupa, jika luka kecil itu disebabkan oleh tanaman langka nan pusaka yang dia tanam sendiri. Bungan Teratai Berduri.


Suhita tersenyum, dia menatap ke arah Tabib Asih Cangkar Kemuning, "Semuanya karena kemampuan Tabib Asih yang begitu tinggi. Saya yakin, tanpa kehadiran saya pun Kakek guru pasti bisa disembuhkan."


"Tabib kecil, bukankah kau berjanji untuk temukan sumberdaya yang mampu melenyapkan segala pengaruh negatif dari penyakit yang Paman guru derita?!" Jaka Pragola ikut bicara. Dia tidak ingin pembicaraan jadi ke mana-mana. Menyembuhkan Pendekar Tongkat Emas merupakan hal yang paling penting. Dia tahu, jika Tabib Asih bahkan Pendekar Tongkat Emas ingin mencari tahu perihal latar belakang keluarga dan guru yang menjadikan Suhita begitu pandai membuat ramuan obat. Jaka Pragola sadar, jika belum saatnya dia membuka perihal jati diri Suhita yang merupakan Tabib Titisan Dewa.

__ADS_1


Suhita mengeluarkan beberapa sumberdaya dan ramuan obat yang dia dapatkan dari perjalanannya selama sepekan bersama sang ayah.


Satu-satunya orang yang paling terkejut ialah Pendekar Tongkat Emas itu sendiri. Dia bisa mengenali salah satu bentuk sumberdaya yang Suhita keluarkan untuk mengobati dirinya. Ya, itu adalah daun Teratai Berduri. Dari mana anak kecil itu dapatkan?!


__ADS_2