
Pendekar Tongkat Emas belum juga membuka mata. Tubuhnya terbaring tidak bergerak seperti telah kehilangan nyawa, hanya sesekali dadanya menggembung lemah menandakan dia masih menarik napas.
Ya, jika sudah begitu, maka tidak ada yang menarik lagi dari diri seorang manusia. Hanya terbujur tidak berguna menunggu datangnya mati. Tidak perduli siapa dia tadinya, setinggi apa ilmu dan kemampuannya, bahkan harta yang melimpah, hanya bisa menonton tanpa berusaha untuk menolong.
Uluran tangan dari orang lain, menjadi satu-satunya harapan. Hampir tidak ditemui orang yang bisa urus kesembuhan saat diri sendiri sakit. Orang-orang di sekitar yang akan menjadi sangat sibuk. Di sinilah kita bisa menilai bagaimana perangai kita disaat sehat. Mana kala kita pernah berbuat baik dan membebaskan jasa sewaktu senggang, maka disaat sempit orang-orang datang tanpa terduga.
Seorang tabib wanita terlihat begitu terburu-buru, di tangannya tergenggam beberapa lembar daun sirih merah. Dia akan menggunakan daun sirih tersebut sebagai media untuk membantu menghisap penyakit yang diderita oleh Pendekar Tongkat Emas.
"Nyai, apa perlu saya mencari air windu?" seorang asisten tabib tersebut bertanya.
Air windu ialah air berusia delapan tahun yang disimpan di suatu tempat yang rapi tanpa terkotori oleh tangan manusia selama penyimpanan. Bukan pula air sembarangan yang bisa disimpan menjadi air windu. Biasanya, orang akan mengambil air dari sumur jala tunda pada saat malam satu suro. Kemudian menyimpannya dengan bantuan kekuatan doa hingga manfaat air tersebut sangat mujarab.
Beberapa orang pendekar yang ada, termasuk Jaka Pragola sendiri tidak menyimpan air windu seperti yang dimaksud oleh Tabib. Namun demikian, bukan berarti mereka diam saja. Beberapa utusan segera ditugaskan untuk mencari air tersebut. Siapa tahu, ada dari tamu undangan kompetisi yang memilikinya.
Suhita ditemani Raka Jaya melangkah perlahan menyeberangi halaman yang luas. Keduanya menuju ke satu bangunan di mana Pendekar Tongkat Emas sedang dirawat.
"Sepertinya ada tabib yang masih sedang mengobati kakek pendekar itu. Hita, setelah itu kau pasti dapat giliran," ucap Raka Jaya melihat ada beberapa orang asisten tabib yang lalu lalang dengan membawa ramuan obat.
__ADS_1
"Kakek pendekar yang kau maksud, pasti orang terpandang. Begitu banyak orang mencemaskan keadaannya," tebak Suhita tanpa mengurangi ayunan langkah kaki mereka.
"Orang memanggilnya Pendekar Tongkat Emas. Dia seorang pendekar sepuh yang ikut bersumbangsih besar dalam mempersatukan pendekar aliran putih Utara dan Selatan. Dia juga dikenal sebagai seorang yang baik hati. Makanya, dunia persilatan ikut bersedih mendengar kabar beliau sakit," papar Raka Jaya.
Raka Jaya juga menambahkan jika Pendekar Tongkat Emas memang sudah sering jatuh sakit. Sebagai seorang pendekar yang memutuskan untuk bergabung bersama Organisasi Naga Emas, tentunya begitu banyak halangan dan rintangan yang beliau hadapi dalam memikul misi mulia mempersatukan para pendekar Utara dan Selatan.
"Mulia sekali hatinya. Aku tidak sabar untuk bisa membantu kesembuhannya," jawab Suhita. Suhita bertekad untuk mencurahkan segenap kemampuan yang dia miliki untuk membantu seorang pahlawan seperti Pendekar Naga Emas.
Kedatangan Raka Jaya dan Suhita langsung disambut oleh Justa Jumpena yang segera membawa Suhita menemui pimpinan Padepokan Giling Wesi, Jaka Pragola yang juga ada di ruangan itu.
"Saya hanyalah seorang anak yang baru belajar dunia pengobatan. Suatu kehormatan besar jika diizinkan untuk ikut belajar dan menangani seorang pendekar terhormat," ucap Suhita merendah ketika dia mendengar Justa Jumpena begitu memujinya di hadapan Jaka Pragola.
Tabib wanita yang tidak Suhita ketahui namanya itu, mundur untuk memberi ruang agar Suhita leluasa memeriksa. Sementara dia sendiri masih menunggu kabar dari utusan yang mencari keberadaan air windu.
"Tabib kecil, waktumu tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, aku akan memeriksa ulang kondisi pasienku. Mohon untuk kerjasamanya, kau jangan singkirkan ramuan obat yang aku tempelkan," dengan nada bicara yang mengandung sedikit ancaman, tabib wanita itu pergi menempati kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sambil matanya menatap terus pada kegiatan Suhita.
Suhita menghela napas beberapa saat. Sebelum kemudian dia membuka perlengkapan pengobatan yang selalu dia bawa. Suhita menggunakan jarum emas dan intan untuk memeriksa kondisi Pendekar Tongkat Emas.
__ADS_1
"Harusnya, jika merupakan gejala racun maka dengan jarum emas ini akan bisa mengatasinya," batin Suhita saat hendak memulai pengobatan.
Dengan tenang dan teliti, Suhita memeriksa hampir seluruh bagian tubuh Pendekar Tongkat Emas yang diduga merupakan sumber rasa sakit.
Hampir tidak percaya, ketika Suhita menemukan ada titik luka kecil yang berada di celah antara jempol kaki sang pendekar. Luka itu sudah hampir sembuh dan hanya merupakan luka gores yang sangat kecil. Suhita kembali melolos beberapa jarum emas yang kemudian dia gunakan secara bersamaan, menusuk beberapa titik syaraf di kaki Pendekar Tongkat Emas.
"Racun Duri Teratai?!" Suhita tersentak.
Suhita pernah membaca mengenai racun langka tersebut pada Kitab Wasiat Iblis miliknya. Namun Suhita tidak menemukan jawaban resep di Kitab Pengobatan Dewa. Awalnya Suhita mengira jika biji teratai duri telah hilang dari muka bumi karena dalam puluhan dekade ke belakang tidak terdengar kasus demikian.
Muncul dua dugaan dari Suhita. Pertama, Pendekar Tongkat Emas merupakan salah seorang yang menyimpan biji teratai duri yang langka tersebut. Dia menanam di tempat yang rahasia lalu tanpa sengaja menginjak duri teratai tersebut. Kedua, ada seorang musuh dari Pendekar Tongkat Emas yang menanam pohon teratai berduri. Karena duri dari pohon teratai tersebut sangat langka dan sulit didapatkan, maka orang itu mencari kesempatan untuk menaruh duri di mana Pendekar Tongkat Emas sedang tidak gunakan alas kaki. Hingga rencananya tepat dan tidak terlacak.
Setelah tahu penyebab sakitnya, Suhita membenahi peralatannya. Dia berdiri dan menjauh dari tubuh Pendekar Tongkat Emas tanpa sedikit pun menyentuh ramuan yang ditempelkan oleh tabib sebelumnya.
"Tabib kecil, bagaimana? Kau pasti sudah tahu sebab penyakit kakek guru 'kan?!" tanya Raka Jaya sebelum ada orang yang bereaksi.
Suhita menghela napas dan kemudian mengangguk lemah. Dia segera menjelaskan atas apa yang baru dia ketahui. Dengan jelas dan suara yang tegas. Tanpa sedikit pun takut jika ada orang yang sengaja mencuri tahu hasil pemeriksaan singkat Suhita.
__ADS_1
"Racun Duri Teratai?! Usia dari cerita racun itu sudah lebih dari seratus tahun, bagaimana kau bisa yakin?!" seorang asisten tabib yang turut mendengar angkat bicara.
"Itu adalah pandanganku. Saat kita berharap akan kesembuhan kakek guru, apa salahnya saling bekerjasama. Aku akan lakukan semampu yang aku bisa," tegas Suhita. Diikuti anggukan kepala lebih dari separuh orang yang ada.