
Mantra sihir akan bekerja dengan baik saat di mana tujuan atas mangsanya jelas. Namun saat si pemilik dalam keraguan, jelas kekuatan mantra dipertanyakan. Begitu juga ketika sang target masih dalam tanda tanya, pengendalian fikiran yang dituju akan terhambat.
Hal senada dialami oleh Aki Calincing. Ahli sihir yang bahkan mampu bangkitkan orang mati, saat kemampuannya dipergunakan untuk mengendalikan manusia setengah siluman dia temukan titik buntu.
Aki Calincing bisa bangkitkan mayat karena secara jelas mantra terarah pada sosok yang sudah tidak lagi bernyawa. Namun untuk pengaruhi pikiran Danur Cakra, sepertinya dia harus kembali belajar.
Danur Cakra datang pada saat Aki Calincing membangkitkan mayat-mayat yang tewas membeku karena terkena pukulan Tapak Naga Es milik Suhita. Tentu saja Cakra lekas menghabisi boneka sihir itu sebelum kekuatan mereka bertambah setelah Aki Calincing memberikan petuah-petuah. Sementara di sisi lain, Aki Calincing yang coba kendalikan pikiran Danur Cakra mendapatkan masalah besar.
Aki Calincing sama sekali tidak menduga kalau pendekar muda yang menjadi lawannya sekarang merupakan manusia setengah siluman. Tidak akan bisa jiwa manusianya dipengaruhi, bahkan Danur Cakra sendiri kerap kehilangan kendali tatkala kekuatan siluman dalam dirinya bangkit. Apalah lagi orang lain.
Tidak butuh waktu lama, Danur Cakra telah berhasil menghancurkan lawan-lawannya hingga menjadi debu. Boneka-boneka sihir yang belum sempat di bina harus kembali mati untuk kedua kalinya.
Danur Cakra tertawa lepas, bukan karena kemenangannya. Melainkan dia merasa sangat gembira karena baru saja mencoba kekuatan yang baru ia dapatkan. Kekuatan siluman memang mengerikan. Setelah membuktikan sendiri, saat ini Cakra benar-benar percaya kalau fragmen tanah telah menyatu dalam dirinya. Selain itu juga, dengan kemampuan barunya Cakra bisa mengecoh para pendekar senior mengenai latar belakang kemampuan yang ia miliki. Sepenuhnya, Danur Cakra tidak menunjukkan kalau dirinya menggunakan kemampuan dasar dari Tapak Penakluk Naga yang dipelajarinya sejak kecil.
"Kakek tua, kau kirim mayat-mayat hidup untuk mengacaukan perjalananku. Apa tujuanmu sebenarnya?!" Danur Cakra menunjuk wajah Aki Calincing.
"Hei, anak muda! Kau tahu, aku tidak begitu mengerti apa yang kau maksud ... atau jika aku boleh menebak, apakah kau merupakan pelindung Tabib Dewa itu? Ya, ya, ya ... sulit diterima akal sehat, pria urakan sepertimu bisa nekat mengorbankan diri," Aki Calincing menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Benarkah aku masih berakal? Dan kau merasa masih sehat?!" Danur Cakra menggelengkan kepalanya, menatap miris.
"Kepa*rat! Berani sekali kau besar mulut. Kau tidak juga sadar, saat ini sedang berhadapan dengan siapa?! Bukannya memohon ampun dan meminta maaf!" Aki Calincing kemudian memperkenalkan dirinya, dia juga mengakui secara jantan bahwa benar dirinya yakin mengirim boneka sihir untuk menjegal perjalanan putra Mahesa.
"Kalau begitu, kita bertemu pada waktu yang sangat tepat. Kau tidak miliki penyesalan di sisa hidupmu, karena saat ini kau sedang berhadapan dengan salah seorang dari mereka, pak tua!"
Tidak memberikan waktu yang lebih lama untuk bercakap-cakap, Danur Cakra segera membuka serangan. Untuk menghadapi seorang pendekar senior, pastinya Cakra telah melakukan perhitungan yang sangat matang. Dia tidak ingin gegabah, kemudian bertindak ceroboh, lalu merugikan diri sendiri.
Dengan gunakan jurus-jurus Naga Kresna, Danur Cakra memberikan gebrakan yang semakin membuka mata Aki Calincing kalau lawan yang dihadapi merupakan tokoh aliran sesat yang sangat berbahaya. Pola serang yang sangat aneh dan sukar dibaca, membuat Aki Calincing berpikir ekstra untuk sekadar mengimbangi permainan.
Semakin lama, Danur Cakra terlihat semakin nyaman dalam menggabungkan jurus modifikasi Tapak Naga dengan kemampuan Naga Kresna dari alam evolusi. Dia bisa menekan Aki Calincing lebih jauh.
__ADS_1
"Sialan! Bocah ini menggunakan kekuatan siluman!" Aki Calincing terlambat sadar, dia baru tahu ketika dadanya merasakan bagaimana sesaknya terkena pukulan Danur Cakra.
Tep! Kraaakk! Danur Cakra menangkap ibu jari Aki Calincing kemudian mematahkannya. Membuat jerit tertahan keluar dari mulut Aki Calincing.
Dengan gunakan kekuatan yang dialirkan pada ibu jari tangan kanannya, biasanya Aki Calincing akan menekan kening lawan untuk membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kemudian setelah sadar, maka sepenuh jiwa dan raganya telah berada di bawah pengaruh ilmu sihir yang menguasai.
Dengan ibu jarinya yang patah, Aki Calincing kehilangan satu trik untuk bisa kuasai lawan. Justru sebaliknya, saat napasnya mulai tersengal akibat bertarung cukup lama, membuat Danur Cakra semakin leluasa untuk melakukan tekanan. Dia menyerang dengan membabi-buta, menggunakan lebih dari empat bayangan naga untuk menekan Aki Calincing dari berbagai penjuru mata angin.
Tidak salah, tujuan Bhadrika Djani mengutus Aki Calincing ialah untuk menguras tenaga anak-anak Mahesa. Hingga saat mereka tiba di barat daya Kota Bukit Hijau, dan ketika serangan terjadi pada pesta ulang tahun Raditya, setidaknya benteng pertahanan Raditya melemah karena cucu-cucunya kelelahan.
BAAAMMM !!! Danur Cakra berhasil mendaratkan satu pukulan yang sangat keras, membuat tubuh renta Aki Calincing terjatuh hingga menghantam bongkahan tanah keras sampai hancur.
Mata Aki Calincing melotot, dia tidak percaya atas apa yang baru dirasakannya. Bukan karena dikalahkan oleh anak kemarin sore, melainkan atas rasa sakit yang ia alami. Belasan tahun yang lalu, Aki Calincing pula pernah dikalahkan oleh seorang anak muda yang juga berikan rasa sakit yang serupa. Dan ini merupakan luka dalam akibat Pukulan Tapak Naga Suci. Tingkat tertinggi dari jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga yang melegenda itu.
"Mengapa harus kaget?! Apakah orang seperti diriku tidak boleh memiliki kemampuan seperti yang kau ketahui?!" ujar Danur Cakra seraya menyeringai, seolah Danur Cakra tahu apa yang sedang Aki Calincing pikirkan.
Aki Calincing tidak menjawab. Hanya tatap matanya yang tidak berkedip. Semua orang tahu, hanya keturunan asli Padepokan Naga Putih dari Selatan yang akan bisa menguasai Jurus Tapak Penakluk Naga secara turun temurun. Dan jika pemuda ini bisa, itu artinya jawabannya pasti. Dia merupakan salah seorang dari keturunan Raditya (karena hanya Raditya satu-satunya keturunan terakhir dari padepokannya yang tersisa).
Cakra tidak menjawab, bahkan dia tidak tahu apa yang Aki Calincing maksudkan. Tapi untungnya, Aki Calincing cepat tanggap.
"Ya, ya, ya ... kau pasti tidak tahu siapa itu Cahaya Langit. Karena dia dikabarkan meninggal sebelum kau terlahir ke dunia ini," Aki Calincing tertawa kecil, kemudian berusaha untuk duduk.
"Jika saat ini usiamu menginjak sembilan belas tahun, itu artinya dugaanku tidak keliru. Cahaya Langit dikalahkan oleh Elang Putih dua puluh tahun yang lalu ..." Aki Calincing membuka sejarah mengenai Cahaya Langit. Pendiri sekaligus pimpinan besar Aliansi Utara Selatan yang kemudian diketahui adalah bekas pelayan sekaligus kekasih Elang Putih.
Pasti merupakan sebuah dilema bagi Elang Putih saat itu, karena dia harus berhadapan dengan kekasihnya yang menjadi jahat karena dalam tubuhnya dikendalikan oleh Siluman Rubah Bulu Emas. Sempat ada keragu-raguan, bahkan Elang Putih dikalahkan dan Pedang Rembulan beralih ke tangan Cahaya Langit.
Tidak memiliki jalan keluar, Elang Putih memilih untuk kembali merebut Pedang Rembulan sebelum menimbulkan banyak kekacauan, salah satu caranya ialah dengan mencelakai Cahaya Langit.
Hingga pada akhirnya Cahaya Langit kalah, dan tubuhnya dimakamkan dengan disaksikan segenap jajaran tokoh dunia persilatan. Meskipun tidak seorang pun bisa menjamin kalau sosok yang tewas itu merupakan Cahaya Langit seutuhnya atau hanyalah jelmaan Siluman Rubah Bulu Emas saja. Sementara tubuh aslinya (Puspita Dewi) sebenarnya masih hidup dan disembunyikan oleh Elang Putih yang merupakan kekasihnya.
__ADS_1
"Jika benar ibumu bernama Puspita Dewi dan ayahmu Elang Putih, itu artinya kau adalah anak Siluman Rubah Bulu Emas, siluman paling jahat yang pernah ada di muka bumi!" Aki Calincing terbahak, dia nampak sangat puas.
Tidak berlebihan, di mana pun cerita didengar, atas sepak terjang Cahaya Langit maka hanyalah kekejaman yang tercermin. Selain miliki kemampuan olah kanuragan yang sangat tinggi, Cahaya Langit juga merupakan seorang ahli racun nomor satu di dunia persilatan. Dia bisa membunuh tanpa menyentuh.
Tubuh Danur Cakra bergetar mendengar cerita yang terlontar dari mulut Aki Calincing. Dia tidak menampik, karena semuanya adalah benar.
Puspita Dewi yang Danur Cakra kenal sebagai seorang ibu yang sangat lembut, tanpa miliki secuil pun kemampuan olah kanuragan, ternyata miliki masa lalu yang sangat kelam.
Dan pantas saja, saat itu Suhita sempat menunjukkan kemampuan ilmu racun yang sangat luar biasa ketika selamatkan Cakra dari kepungan pasukan Raja Iblis dari Lereng Utara. Sekarang Cakra tahu dari mana Suhita peroleh kemampuannya.
Berbagai teknik ilmu racun sekaligus cara meracik racun mematikan pastinya masih tersimpan di dalam memori Puspita Dewi meskipun sekarang dia tidak lagi miliki kemampuan tenaga dalam. Dan untuk berjaga-jaga, tidak salah jika Suhita pula dibekali pengetahuan tersebut. Paling tidak bisa menjadi acuan Suhita saat menangani pasien yang terkena racun.
Oh, ya. Harus juga diketahui. Bahwa hingga saat ini, meskipun seluruh kemampuan Puspita telah lenyap, akan tetapi dia merupakan seorang yang tawar akan racun. Tidak peduli racun bentuk apa pun itu, semua tidak akan berpengaruh bagi Puspita.
"Hahaha! Mengapa?! Apa kau memikirkan sesuatu?!" tanya Aki Calincing mengejutkan Danur Cakra.
Danur Cakra tersenyum sinis, "nampaknya kau pelu diberi paham. Apa kau tahu apa itu siluman dalam diri manusia?!"
Danur Cakra merentangkan kedua tangannya, seketika tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna hitam kelam. Saat mata Danur Cakra menyala berwarna merah, tidak lama berselang seekor naga berwarna hitam menampakkan diri di samping Danur Cakra. Dialah naga hitam yang sekarang beranjak remaja, naga di alam evolusi milik Danur Cakra.
"Ka-kau ..." Aki Calincing terbelalak lebar. Dia baru saja bercerita perihal Cahaya Langit. Dan sekarang di depan mata kepalanya, dia diperlihatkan atas apa yang hanya dia dengar dari cerita.
"Pak tua! Tidak seorang pun yang boleh mengacaukan hari ulang tahun kakekku. Kau salah telah berurusan denganku!" desis Danur Cakra.
Aki Calincing hanya bisa menelan ludah. Sifat pendekar muda ini benar-benar menurun dari ibunya. Ah, tidak. Sifat siluman yang membuatnya menjadi sangat kejam. Percuma juga memohon pengampunan, Aki Calincing yakin jika itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Lebih baik dia memejamkan mata, menunggu sampai saatnya siluman naga hitam mencabut nyawanya secara paksa.
°°°
Ada dua kubu, dua tokoh besar aliran sesat yang berniat membuat perhitungan dengan Raditya. Saat dari mereka mendapatkan info bocoran, mata-mata terus menempel Jenderal Muda putra Mahesa untuk terus gali informasi. Dan akhirnya, mereka menuju Kota Bukit Hijau.
__ADS_1
Selain Bhadrika Djani, kelompok Raja Iblis dari Lereng Utara telah mempersiapkan rencana yang lebih matang. Mereka telah menempatkan banyak pendekar di sekitaran Kota Bukit Hijau.
Pembalasan dendam akan segera terjadi. Pertarungan besar tidak akan mungkin bisa untuk dihindari. Raditya yang hanya diperkuat oleh anak dan cucunya, dipaksa untuk menghalau dua kubu sekaligus.