Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Mundur Untuk Menang


__ADS_3

"Kak, kita terlibat masalah besar. Terpaksa aku melakukannya," Suhita menyesal karena telah menggunakan Serbuk Pengubur Nyata.


"Kau tidak salah. Justru dialah yang memulai. Sudah tua, tapi tidak berikan contoh yang baik. Apa pun yang nanti terjadi, ingat! Kau jangan katakan apa pun. Semua ini serahkan saja padaku," Danur Cakra menarik paksa tangannya dari genggaman Suhita. Sepertinya, Cakra sangat tidak nyaman jika bersentuhan dengan lawan jenis. Padahal Suhita jelas-jelas adalah adiknya, kembarannya.


Suhita tidak setuju pada keputusan Danur Cakra. Sebagai calon pemenang kompetisi, tentunya Danur Cakra harus bersih dan tidak boleh terlibat kasus apa pun. Suhita tidak ingin nama kakaknya tercoreng hanya karena kecurangan mereka orang-orang yang menaruh iri dengki.


"Kau tidak berhak membantah. Aku adalah Kakakmu. Selama ayah tidak ada, kau adalah tanggung jawabku. Kau cukup diam dan jangan lakukan apa pun di luar izinku, Mengerti?!" tegas Danur Cakra.


"Iya, iya. Kau bahkan jauh lebih galak dari pada ayah. Menakutkan sekali," Suhita mengangkat bahunya, bergidik ngeri.


Tidak lama kemudian, Suhita kembali menarik lengan Danur Cakra. Membawanya memasuki sebuah ruangan yang sepi.


"Iiihhh ... lepaskan!" Danur Cakra membersihkan pakaiannya bekas cengkraman Suhita.


"Apa ini?!" Danur Cakra mengamati buah yang Suhita berikan. Bentuknya sangat mirip dengan buah anggur, hanya saja warnanya putih mengkilap. Danur Cakra tahu, jika itu bukanlah buah sembarang. Jumlahnya pun hanya tiga butir.


"Sudah, simpan saja. Masa tidak tahu jika itu adalah sumberdaya."


"Tentu saja aku tahu. Tapi paling tidak, kau jelaskan fungsinya, juga cara konsumsi yang benar. Apa kau ingin meracuniku? Atau ... jangan-jangan kau sengaja. Untuk bisa tempatkan anak Padepokan Api Suci itu sebagai pemenang, ya?"


Suhita melotot. Tuduhan kakaknya sungguh tidak beralasan. Bagaimana bisa, Danur Cakra berpikir sejauh itu? "orang yang tidak bisa dipercaya, akan selalu menuduh orang lain berbohong. Karena setiap manusia akan menilai orang lain seperti dirinya sendiri. Konsumsi lima menit sebelum kau memulai perenggangan otot. Itu akan membuat tenaga dalammu bisa terkontrol dengan sempurna. Sudah, aku pergi!"

__ADS_1


Dengan wajah yang masih dibalut kekesalan, Suhita melangkah meninggalkan Danur Cakra.


"Hei, tabib kecil. Terima kasih," hanya itu yang Danur Cakra ucapkan. Tanpa ada usaha untuk mengejar atau coba untuk jelaskan apa yang sebenarnya dia maksudkan.


Bukannya tidak ikhlas, Suhita hanya selalu sebal atas tingkah laku kakaknya. Ya, meskipun sebenarnya Suhita sendiri terlalu mudah ngambek jika sedikit saja bertengkar dengan Danur Cakra. Mungkin, memang begitu jika anak di lahirkan kembar. Mudah bertengkar, tapi juga mudah untuk kembali rukun. Kalau dekat ribut, jika sudah berpisah rindu.


"Hita, kau kenapa? Wajahmu ..." Raka Jaya, Ateng dan beberapa anak dari Padepokan Api Suci memandangi Suhita dengan dalam. Membuat Suhita jadi salah tingkah.


Suhita mengerutkan dahi, meraba-raba wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Memangnya, ada apa dengan wajahku?!"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Kau hanya terlihat sedang kesal."


Benarkah?! Suhita tersenyum, kemudian dia berusaha untuk merangkai kata. Berbohong atas alasan kekesalannya. Suhita Prameswari tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Dia berdalih masih kesal pada orang-orang dari Padepokan Menara Kematian. Karena pada pertandingan selanjutnya pun mereka masih saja berlaku curang dan sekarang, langsung pulang begitu saja. Sungguh tidak sopan.


Justa Jumpena memasuki ruangan, dia terlihat sedikit terkejut mendapati Suhita ada di dalam ruangannya.


"Tabib kecil ... ada baiknya kau bersembunyi saja dulu. Ada konspirasi yang membuat namamu terseret ke dalamnya," Justa Jumpena menghela napas sebelum kemudian melanjutkan cerita.


Ada orang yang melaporkan jika Suhita yang sesungguhnya merupakan aktor utama yang terlibat dalam setiap kecurangan. Dengan kepandaian yang dimiliki, hingga mampu membalik keadaan, membuat keadaan seolah-olah racun tersebut dilakukan oleh Menara Kematian. Padahal, dialah pelakunya. Suhita dituduh sebagai orang yang sebenarnya telah menyebarkan racun, lalu merubah diri dari iblis seolah menjadi malaikat.


"Mereka hendak menghancurkan namamu sebagai Tabib Titisan Dewa. Aku yakin, mereka hanya terlalu takut jika kejahatan mereka terbongkar," Raka Jaya bangkit lalu menghampiri Suhita, "percayalah, Hita. Kebenaran tidak akan tertukar. Aku yakin, kau akan mampu untuk atasi semua ini."

__ADS_1


"Ya, paman Justa Jumpena benar. Dengan kehadiranku, takutnya hanya akan membebani kalian. Untuk sementara, aku akan bersembunyi. Setelah kompetisi ini selesai, aku akan kembali datang untuk bersihkan namaku," Suhita memutuskan.


Suhita akan mundur untuk sementara waktu, sebelum kemudian dia kembali datang untuk meraih kemenangan.


Saat derap kaki terdengar mendekat, Suhita bergegas keluar dari pintu belakang. Hita tidak ingin, karena kehadirannya akan menambah kesulitan bagi Raka Jaya ataupun Danur Cakra. Jika semuanya telah pasti, dua orang itu telah meraih apa yang mereka inginkan maka tinggal giliran Suhita untuk bersihkan namanya.


Telah banyak tokoh dunia persilatan yang mengetahui jika Tabib Dewa yang sempat menggemparkan, merupakan sosok gadis kecil bernama Suhita. Dengan berbagai cara, mereka akan berusaha untuk menjatuhkan Suhita. Meskipun tidak meraih keuntungan, paling tidak bisa pisahkan Tabib Titisan Dewa dari Padepokan Api Suci. Satu padepokan besar yang bisa dikatakan telah kuasai terlalu banyak tokoh besar dan berbakat.


Wuuussshh! Sebuah pasek kecil meluncur dengan cepat, melewati celah fentilasi udara di kamar Danur Cakra. Tepat mengarah pada Danur Cakra yang sedang bersemadi setelah mengkonsumsi sumberdaya yang tadi Suhita berikan.


"Hump!" dengan sigap, Danur Cakra menangkap pasek itu sebelum sempat menyentuh kulitnya. Ada sepucuk surat yang diikatkan pada pasek.


Penasaran, Danur Cakra segera membuka surat tersebut. Pasti surat tantangan dari seseorang yang tidak menyukai prestasi yang dia raih di kompetisi. Danur Cakra tersenyum masam sambil membuka ikatan surat. Sebelah tangan Danur Cakra yang lain, terlihat memetik-metikkan jari. Seperti tengah memanggil sesuatu.


Benar saja, sebelum isi surat terbuka dengan sempurna, kepulan asap mendadak muncul di sebelah kanan Danur Cakra. Sesosok makhluk hitam dan tinggi besar dengan mata merah menyala membungkuk memberi hormat. Ya, dialah genderuwo yang bisa Danur Cakra perintahkan setelah dia kuasai Kitab Langit dan Bumi.


Setelah Danur Cakra tahu siapa pengirim surat itu, maka genderuwo yang telah dia panggil akan segera diperintahkan untuk lebih dulu memulai perang.


"Jagan coba-coba mengusik hidupku. Atau, kalian akan menyesal seumur hidup!" batin Danur Cakra.


Matanya melirik ke arah genderuwo yang telah menunggu titah apa yang akan diturunkan. Akan tetapi, raut wajah Danur Cakra mendadak berubah setelah dia mulai membaca isi surat di tangannya. Semuanya, tidak seperti apa yang dia perkirakan tadi.

__ADS_1


"Suhita?!" Danur Cakra segera berdiri dan berlari ke arah jendela.


Tidak ada tanda-tanda jika ada orang di seberang sana. Mungkinkah Suhita langsung pergi setelah melemparkan pasek berisi surat itu?


__ADS_2