Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pertandingan Final ll


__ADS_3

"Jika tidak saling kenal dekat, mana mungkin Melati akan segembira ini setiap anak yang bertanding itu unggul. Pasti mereka sangat dekat," batin Arya Winangun.


Dalam hati, telah tumbuh rasa kagum yang begitu besar. Arya Winangun berharap jika Suhita suatu saat nanti akan memberinya jalan untuk bisa mengabdikan diri pada orang yang tepat. Ya, jika semakin bertambah besar nanti dia harus bisa memiliki penghasilan untuk tetap bisa melatih kemampuan tenaga dalam. Karena semua yang berkaitan dengan sumberdaya dan pil-pil kekuatan dibanderol dengan harga yang sangat tinggi.


Berbeda dengan suasana hati Arya Winangun yang ber-angan jauh ke depan, Suhita justru ketar-ketir melihat kakaknya yang mulai terpancing oleh permainan kecil yang dimainkan lawannya.


Danur Cakra merasa jika dirinya, permainan pedangnya jauh lebih baik dari Bayu Bajra. Hal itu justru menjadi api dalam sekam, yang membuat dirinya harus terpancing oleh permainan Bayu Bajra yang sengaja mencari kelemahan lawan.


Semakin seorang tinggi hati, maka emosinya akan mudah dikendalikan. Hingga dia tidak begitu waspada pada rencana yang dijalankan oleh lawan. Danur Cakra terlena, hingga dia sangat gencar melakukan serangan-serangan berbahaya yang mengancam jiwa Bayu Bajra.


"BERHENTIIII ... !!!" satu teriakan keras menghentikan serunya pertarungan.


Wasit pemimpin pertandingan menghentikan pertandingan. Dia mengangkat bendera merah ke arah Danur Cakra, menandakan jika Danur Cakra telah menyalahi peraturan. Hampir saja, tindakannya mencabut nyawa lawan tanding. Bukan itu saja, bahkan beberapa properti di sekitar arena pertandingan banyak yang rusak akibat sabetan energi pedang yang Danur Cakra lepaskan.


"Babak kedua dimenangkan oleh Bayu Bajra. Kau menyalahi aturan. Aku masih berbaik hati, tidak mendiskualifikasi dirimu!" wasit itu menunjuk wajah Danur Cakra. Coba saja, jika bukan karena mereka telah tahu kalau anak itu adalah saudara seperguruan Elang Putih, kondisinya pasti akan berbeda.


Babak pertama dimenangkan oleh Danur Cakra, sementara babak kedua dimenangkan oleh Bayu Bajra. Itu menandakan bahwa babak terakhir merupakan babak penentuan. Siapa pun yang menjadi pemenang, maka dialah yang akan maju ke partai puncak. Menjadi juara satu dan dua di podium tertinggi. Sementara, bagi yang kalah hanya berkesempatan bertarung memperebutkan posisi ketiga.


Terompet berbunyi, menandakan kalau waktunya untuk istirahat. Dengan wajah yang kusut dan penuh kekecewaan, Danur Cakra kembali ke tempatnya istirahat. Beberapa orang telah bersiap memberikan perawatan. Termasuk menyiapkan air minum dan perlengkapan lain.

__ADS_1


Arya Winangun terkejut bukan main ketika mendapati jika teman yang duduk di sampingnya baru saja kembali dari arah Danur Cakra beristirahat. Ya, gadis kecil yang dia kenal bernama Melati tersebut tidak diketahui kapan perginya, tiba-tiba saja sudah kembali dari arena kompetisi.


"Melati, apa yang sudah kau lakukan dari sana?! Bahaya, tahu," Arya Winangun terlihat begitu cemas. Takutnya, dia pun akan terimbas oleh masalah itu. Arya Winangun sadar siapa dirinya, yang hanya orang biasa dan tidak memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk hadapi masalah sebesar ini. Bagaimanapun dia sadar jika semua akan berada di luar kendali.


"Kau jangan takut. Semua akan baik-baik saja, kau tenang saja," dengan ringan Suhita menepuk pundak Arya Winangun, berusaha menyingkirkan ketakutan di hati anak itu. Meskipun kenyataannya malah hal yang sebaliknya.


Dengan senyum yang dipaksakan, Arya Winangun mengangguk. Namun matanya masih saja liar melirik kiri dan kanan mengantisipasi bila mana ada orang yang datang menyergap. Seperti mata ayam betina yang sedang mengasuh anak.


Sementara itu, Suhita acuh tak acuh saja. Bukannya dia tidak tahu jika temannya ketar-ketir hatinya, tapi Suhita yakin jika apa yang Arya Winangun khawatirkan tidak akan terjadi.


Tidak ada yang Suhita lakukan. Dia hanya memastikan jika minuman yang diberikan pada Danur Cakra merupakan minuman baik yang tidak dipengaruhi oleh obat atau apa pun itu yang cenderung akan merugikan Danur Cakra dalam pertandingan lanjutan nanti. Dia hanya berjaga-jaga, atas keselamatan kakaknya.


"Hei, tenang saja. Jangan terlalu tegang begitu. Itu pertandingannya akan dimulai lagi," Suhita menepuk pundak Arya Winangun yang masih sangat gelisah.


"Ya, sudah. Baiknya kita fokus pada pertandingan. Kali ini, temanku pasti akan keluar sebagai pemenang," Suhita bicara dengan keyakinan tinggi.


Semakin lama, sikap Suhita semakin menunjukkan jika ada hubungan khusus antara dia dan Danur Cakra. Caranya dalam mendukung terlihat sangatlah berlebihan.


Arya Winangun hendak membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut. Akan tetapi Suhita keburu menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir. Menandakan untuk dia tidak mau dengar apa pun. Karena pertandingan akan segera dilanjut.

__ADS_1


"Mereka miliki kemampuan yang berbeda, lawannya itu kuasai elemen angin dan mampu kerahkan seluruh angin guna hentikan Danur Cakra. Apa kau yakin?"


"Baik, kalau begitu kita bertaruh. Jika kau menang, maka aku akan berikan apa yang kau minta, terserah kau ingin uang atau sumberdaya. Aku akan berikan padamu. Tapi jika kau kalah, maka kau harus bekerja untukku untuk kita ciptakan sumberdaya," tantang Suhita.


Meskipun sangat kaget, akan tetapi dengan lancarnya Arya Winangun menyanggupi tantangan yang Suhita berikan. Mereka terlibat kesepakatan yang dirasa aneh bagi Arya Winangun.


Pandangan mereka kembali terarah pada kedua peserta kompetisi yang telah siap dalam menghadapi pertarungan lanjutan.


Baik Danur Cakra dan Bayu Bajra, keduanya telah bersiap untuk pertarungan tangan kosong. Mereka yang memiliki kemampuan tapak cukup tinggi, pastinya akan bertarung habis-habisan. Dengan satu peraturan utama, tentunya tidak diperbolehkan untuk saling mencelakai. Bebas bertarung tapi tetap dalam batasan.


"Aku ingin lihat, apa yang bisa kau lakukan. Apakah naga putihmu itu bisa menembus elemen angin yang ku miliki," dengan senyum sinis, Bayu Bajra memulai bangkitkan kemarahan.


"Jangan banyak bicara, semua hal bisa terjadi. Kau lihat bukan, bagaimana kau bisa unggul di dalam ketidak berdayaan," balas Danur Cakra tidak kalah pedas.


Bisa terlihat jika Danur Cakra tidak lagi bisa dipancing dengan cara seperti itu. Danur Cakra sudah belajar dari pengalamannya tadi. Pertandingan pedang itu adalah miliknya, tapi bagaimana bisa menjadi poin untuk orang lain? Sungguh, Danur Cakra belum bisa terima.


Terjatuh pada lubang yang sama, tentu bukanlah sikap seorang kesatria sejati. Danur Cakra harus bisa kendalikan dirinya kali ini. Kecuali, jika dia tidak inginkan partai puncak.


Sebaliknya, Bayu Bajra terus berusaha memancing kemarahan Danur Cakra. Mati-matian dia lakukan itu karena Bayu Bajra telah menikmati keunggulan dari hal itu. Jika sekali ini dia bisa lakukan, tentunya semuanya akan semakin mudah.

__ADS_1


Diam-diam, meskipun tanpa pengakuan langsung, Bayu Bajra sedikit gentar harus berhadapan dengan Jurus Tapak Naga yang dimiliki oleh Danur Cakra. Tanpa dia sadari, upaya yang dia lakukan itu justru memudarkan rasa percaya diri yang semula dia miliki.


Saat kepercayaan diri pudar, maka pada saat yang bersamaan potensi akan tertutup. Merasa jika orang lain lebih sempurna, merupakan cara paling ampuh untuk celakai diri sendiri.


__ADS_2