Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Malam Perpisahan


__ADS_3

Tabib wanita yang diketahui bernama Tabib Asih Cangkar Kemuning, mau tidak mau setuju pada usulan Suhita. Mereka akan bekerjasama. Ya, meskipun sebenarnya sangat jarang ada tabib yang bekerjasama bahkan sebelum saling mengenal.


"Saya seorang anak yang baru belajar meracik obat, bukan tabib profesional seperti Tabib Asih, saya harap atas bimbingannya. Anggap saja, saya bekerja membantu Tabib. Jangan sungkan untuk memerintah," ucap Suhita dengan membungkukkan badan.


Tabib Asih Cangkar Kemuning menyeringai, karena memaksakan diri untuk tersenyum. Sementara, ada di antara asistennya yang terang-terangan menunjukkan raut wajah yang tidak senang.


Di dalam bangunan yang cukup besar, mereka berada di satu ruangan yang di sekitar ruangan itu terdapat puluhan pendekar dengan kemampuan yang sakti. Mereka bekerja cukup aman, karena berada dalam perlindungan penuh.


Arya Winangun datang dengan membawa satu keranjang kecil ramuan obat. Tumbuh-tumbuhan yang tidak berasal dari Giling Wesi. Suhita sendiri kaget mendapati hal itu. Hanya saja, dia tidak menunjukkan rasa kagetnya setelah mendengar bisikan Arya Winangun yang mana sumberdaya itu diberi oleh seorang pendekar tampan. Suhita berpikir jika itu adalah Ayahnya.


Suhita meracik sendiri obat yang akan dia gunakan untuk menangani luka di kaki Pendekar Tongkat Emas. Dengan tambahan sumberdaya yang Suhita petik dari dalam Gua Badai Salju tempo hari, dia berharap ramuan itu akan mampu menekan pengaruh racun yang telah menyebar. Sementara, Tabib Asih Cangkar Kemuning bertugas memulihkan kondisi tubuh Pendekar Tongkat Emas.


"Arya, kau ambil sedikit arak putih. Taruh di dalam dua mangkuk ini. Usahakan takarannya sama," ucap Suhita.


Meskipun dengan sedikit kaku, Arya Winangun segera melakukan tugasnya tanpa banyak pertanyaan. Dia bekerja sejauh batas kemampuannya.


Suhita kembali menggunakan jarum emas untuk membuat lubang luka di kaki Pendekar Tongkat Emas menjadi lebih besar. Suhita terus melakukannya hingga darah berwarna kebiruan mengalir keluar.

__ADS_1


Kedua mata Suhita terpejam rapat, dia berkonsentrasi untuk gunakan kemampuan Tapak Naga Api yang dimaksudkan untuk membuat darah di dalam tubuh Pendekar Tongkat Emas bergolak. Di sana, Suhita akan menemukan mana-mana racun yang mempengaruhi darahnya.


"AAA !!! AAA !!!" setelah sekian lama pingsan, akhirnya suara Pendekar Tongkat Emas terdengar. Pendekar sepuh itu menjerit histeris, penuh kesakitan.


Para pendekar yang semula berada di luar ruangan, hampir serentak masuk untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terpana saat menyakitkan cara pengobatan yang Suhita lakukan.


Tubuh Pendekar Tongkat Emas sampai terangkat, melayang di atas pembaringan. Tubuhnya menggelepar, meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sementara asap mengepul dari sekujur tubuhnya. Jaka Pragola dan pendekar besar yang lain kembali terkejut setelah melihat dengan mata kepala sendiri, jika Suhita mengekang tubuh Pendekar Tongkat Emas dengan Kekuatan Tapak Naga, tepatnya Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Rasanya, seperti sedang bersama Mahesa, hati Jaka Pragola merasakan ketenangan yang sama. Dalam satu hari, Jaka Pragola ditemukan dengan dua anak dengan kemampuan Tapak Naga, rasanya ini bukan kebetulan.


Keringat mengucur deras dari sekujur tubuh Pendekar Tongkat Emas. Dia terlihat begitu lemah. Sementara Suhita telah selesai menguras racun yang bersembunyi di dalam darah pendekar sepuh tersebut. Kemudian, Suhita memelankan pil herbal untuk membuat pasiennya kembali tertidur dan melupakan rasa sakit yang mendera.


"Tabib kecil, apa maksudnya dengan sementara?" seorang pendekar sepuh sahabat Pendekar Tongkat Emas.


"Melawan racun dengan racun. Jika kita bisa temukan tumbuhan Teratai Berduri seperti yang menyebabkan kakek pendekar terluka, maka saya akan bisa gunakan tumbuhan itu untuk kesembuhan kakek seperti semula."


Hanya desah napas yang terdengar. Mereka sama sekali tidak tahu di mana tepatnya tumbuhan langka itu tumbuh. Satu-satunya cara ialah menunggu Pendekar Tongkat Emas sadar lalu memintai keterangan atas asal-usul sakit pertamanya.


Suhita kemudian mohon diri, dia ingin beristirahat. Lagi pula, ada Tabib Asih Cangkar Kemuning yang masih di sana. Untuk kembalikan kebugaran, Suhita yakin jika Tabib profesional itu punya cara tersendiri.

__ADS_1


°°°


"Kau menghilang begitu saja, apa tidak berpikir jika para pendekar itu mencarimu?" lagi-lagi Raka Jaya menemukan tempat istirahat Suhita.


"Kau ini, seperti hantu. Selalu saja bisa menemukanku. Apa kau tidak bisa berpisah dariku meski hanya sebentar?!"


Raka Jaya tertawa kecil. Dia segera mengambil tempat duduk di hadapan Suhita, membuat mereka leluasa saling bertatapan.


"Hei, yang ada kau yang seperti hantu. Datang dan hilang dengan begitu saja. Kau seperti bayangan, yang sangat sukar untuk digapai."


"Oh, ya, benarkah? Tapi asal kau tahu. Aku hanya bayangan dari diriku sendiri. Aku bukan awan yang bisa teduhkan orang lain. Baiknya, kau cari awanmu sendiri," Suhita mengibaskan kain yang dipeluknya. Hingga angin itu berhembus meniup rambut Raka Jaya, membelai dingin wajah putra Mahesa dan Dewi Api.


"Tidak sopan sekali, ada teman bertandang eh malah di tinggal tidur. Ya, sudah. Kalau begitu aku permisi. Tidur di dalam, sana. Jangan di luar, banyak nyamuk," Raka Jaya lekas berdiri.


"Salah siapa, memangnya sekarang ini pukul berapa? Saatnya orang untuk istirahat. Daaa ..." Suhita melambai dengan senyuman, memasuki penginapan untuk pergi tidur.


Raka Jaya tersenyum, setelah beberapa saat dia bergegas melangkah pergi. Tidak sadar jika Suhita masih mengintip dari celah pintu. Berharap tadi Raka Jaya tidak menyerah dan memaksanya untuk tetap bercakap-cakap. Tapi sepertinya jual mahal yang Suhita lakukan terlalu mahal, hingga harapan itu kini membusuk.

__ADS_1


__ADS_2