Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Hukum sebab akibat, atau lebih sering disebut dengan istilah karma. Sebagian besar orang menaruh kepercayaan akan hal itu. Karma baik ataupun karma buruk. Siapa pun menanam maka akan memetik, bila membeli akan memakai, berbuat dan bertanggung jawab. Semua siklus akan terikat hingga hidup berakhir mati.


Dalam hidup, kerap ditemukan namanya balas dendam. Kebencian, amarah yang tidak tertahan, berbalut alasan rasa tanggung jawab yang harus membayar tindakan kejam dengan balasan yang setimpal. Dendam kesumat pun bisa ditularkan hingga sampai ke anak cucu, bahkan generasi yang tidak sempat mengenal wajah sang leluhur yang terlibat masalah. Sangat ironis.


Jika diri tetap di jalan berbuat kebajikan, maka timbul orang-orang yang tidak senang dan memandang dengan penuh kebencian maka anggaplah itu sebagai gulma yang indah. Yang akan tumbuh di sela-sela suburnya tanaman kasih yang disemai.


"Ayah, memangnya kesalahan apa yang telah kita lakukan? Ataukah mereka adalah orang-orang yang mengikuti kita dari Wisma Pendekar Tongkat Emas?!"


"Bukan. Nampaknya mereka adalah orang yang tidak inginkan kau kembali ke Giling Wesi dengan keberhasilan. Mereka berniat menghentikan jalan kita hingga waktu yang kau janjikan tidak bisa dipenuhi. Sudahlah, Hita tenang saja. Serahkan masalah kecil ini pada Ayah. Yang jelas, esok hari kau akan lakukan pengobatan seperti rencana semula," Mahesa tersenyum.


"Ayah ..."


"Ssstttt! Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Ayah akan selalu menjadi malaikat pelindungmu, sayang."


Mahesa kembali menjalankan kuda dengan lambat. Mereka yang harusnya mengejar waktu dan keluar dari hutan sebelum tengah malam, kali ini harus lebih waspada karena sepanjang jalan pastinya telah dipenuhi oleh siasat yang diterapkan oleh kelompok pembunuh yang mengincar nyawa mereka.


Suhita merenung, benarkah dugaan ayahnya? Jika memang itu benar, Suhita hanya kesulitan untuk bisa temukan alasan dari kejadian yang menimpanya. Seandainya yang Suhita lakukan merupakan kesalahan, dengan ikhlas hati tentu Suhita bisa menerima karma tersebut. Lalu, apakah dengan mengobati orang bisa dengan mudah menambah musuh? Mungkinkah ini adalah perbuatan mereka yang menginginkan kematian Pendekar Tongkat Emas?!


Suhita baru tersadar ketika merasakan jika dirinya telah duduk seorang diri di atas kuda. Sementara, kuda terus berlari kecil menyusuri jalan yang gelap. Kemana ayahnya? Suhita celingukan, kewaspadaannya segera ditingkatkan. Namun demikian, Suhita tidak menghentikan laju kudanya. Dia yakin, jika Mahesa pasti telah merencanakan semuanya dengan sangat matang.

__ADS_1


Di balik rimbunnya pepohonan, bayangan besar berkelebat sangat cepat. Kakinya sama sekali tidak menginjak dahan ataupun daun pohon hingga tiada suara yang terdengar di dalam desau angin. Bayangan itu hinggap di satu dahan pohon yang tinggi. Seperti seekor kera, dia berjongkok mengawasi suasana. Matanya tajam menyisir kawasan di sekitarnya, dengan iringan tenaga dalam tingkat tinggi, mata itu mampu menangkap meskipun hanya gerakan seekor semut yang mencari makan.


WUUUSSS! Dengan gerakan kilat, sosok itu melompat turun menuju sebongkah batu besar. Di mana pada saat yang hampir bersamaan muncul dua tubuh manusia dari balik batu tersebut.


Braaakkk! Tidak terduga sebelumnya, kedua tubuh itu langsung terjungkal ketika kedua kaki yang datang tepat menghantam dada mereka.


"Sayang sekali ..." pendekar yang berjongkok di atas batu itu tidak lain adalah Mahesa. Dia berhasil menemukan persembunyian dua mata-mata dalam sekali gerakan.


"Uhuukkk ... uhuukkk ..." kedua orang bercadar itu memegangi dada mereka yang terasa hancur. Saat mereka hendak berusaha untuk berdiri, Mahesa telah lebih dulu kembali datang dan menginjak dada mereka.


"Siapa kalian? Mengapa menghalangi jalanku?!" dengan telapak kaki yang masih menempel di dada lawan, Mahesa bertanya dengan tatap penuh ancaman.


"Sampai mati pun, kau tidak akan dapatkan apa yang kau ingin tahu ..." dengan napas tersengal, seorang dari mereka menjawab.


Kraaakkk! Mahesa menghentakkan kakinya, menekan dada lawannya dengan begitu kuat, hingga tulang dada orang itu hancur dan tubuhnya tertanam separuh ke dalam tanah. Begitu sadis untuk disaksikan.


"Apa kau punya pilihan lain?!" Mahesa mengalihkan pandangannya pada seorang lagi pria yang diinjaknya.


Mata pria itu menatap nanar pada Mahesa. Dia tahu nasib yang sama akan dia dapat jika tetap pada pendirian semula. Namun, apakah ada jaminan dia akan selamat jika membuka mulut dan mengatakan apa yang diinginkan oleh Mahesa. Sementara, untuk saat sekarang saja dia tidak bisa meskipun hanya sekadar menggerakkan satu ruas jari.

__ADS_1


"Sayangnya waktuku tidak banyak!" Mahesa menekan dengan keras kakinya.


"Tunggu! Jangan bunuh aku. Akan ku lakukan apa yang kau inginkan. Kecuali jika kau tidak ingin dapatkan apa-apa. Mohon ampuni nyawaku ..." pendekar itu berteriak keras sebelum Mahesa benar-benar menginjaknya.


"Keputusan yang sangat tepat! Sekarang, bicaralah!" Mahesa mengangkat kakinya, dengan sekali tarik tubuh orang itu langsung tegak berdiri di hadapan Mahesa.


Napasnya ngos-ngosan. Dia seperti baru bangkit dari kematian. Meskipun masih terasa begitu sakit, tapi setidaknya dadanya telah terbebas dari ancaman maut. Tidak menunggu Mahesa berubah pikiran, pria itu menjelaskan tugas yang dia emban. Menghalangi jalan Mahesa dan Suhita dan menggiring ke Cugung Badas untuk menyerang dengan segenap kekuatan di sana.


"Sekarang, pergilah. Temui seluruh anggota kalian dan tunggu kedatanganku di Cugung Badas," Mahesa menepuk pundak si pendekar dan segera melompat pergi.


Pendekar bercadar itu melongo, sampai tidak bisa berkata apa-apa. Baru kali ini, dia menemui seorang pendekar hebat tapi begitu aneh. Anehnya seolah dia sama sekali tidak memiliki beban meskipun diancam hendak di bunuh. Apakah keselamatannya tidak berharga? Sungguh, dia merupakan seorang pendekar yang amat sombong.


"Lihat saja, apa yang bisa kau lakukan nanti. Aku pasti akan balas semua penghinaan ini," dengan mengelus dadanya yang terasa nyeri, pendekar bercadar itu bergegas pergi untuk menemui kelompoknya. Meskipun tanpa perintah dari Mahesa, dia juga akan melakukan hal yang sama. Pendekar pengawal Tabib kecil itu memang hebat, tapi apakah dia akan mampu untuk hadapi kekuatan penuh kelompok pembunuh. Jagan lupa, mereka merupakan pembunuh profesional yang namanya ditakuti banyak orang. 


Sementara itu, Mahesa telah kembali pada Suhita. Dengan senyum, Mahesa hanya mengucapkan permintaan maaf. Dia juga menjelaskan hal yang kemungkinan terjadi di depan. Tepatnya di Cugung Badas.


"Ayah tahu siapa mereka? Mengapa mereka ingin membunuhku?" tanya Suhita.


"Tentu saja ayah belum tahu. Kita harus bisa temukan dalang di balik semua ini. Para pembunuh itu, mereka tidak tahu apa-apa. Mengerjakan tugas dan mendapatkan imbalan sesuai dengan yang mereka janjikan," jelas Mahesa.

__ADS_1


"Itu artinya, kita tidak bisa menghindari pertikaian ini?" Suhita menghembuskan napas berat.


Apa boleh buat, Suhita akan melakukan apa pun seperti yang ayahnya sarankan. Semuanya tentu demi kebaikan bersama. Terutama kesembuhan pasien yang dia tangani, merupakan hal utama yang ada di dalam pikiran Suhita. Seorang tabib yang bertanggung jawab.


__ADS_2