
"Olala ... mau lari ke mana, hayo?!"
"Hump !!!" Rangga sangat terkejut. Tiba-tiba saja di hadapannya sudah berdiri empat orang berseragam. Sama sekali dia tidak menduga secepat ini dia bisa ditemukan.
"Hahaha !!!" prajurit lain pula bermunculan. Mengepung Rangga.
"Sialan! Bagaimana bisa mereka menemukanku secepat ini?" batin Rangga.
Padahal Rangga merasa telah melakukan dengan begitu rapi. Apa mungkin, sejak awal sudah ada orang yang mengikuti gerak-geriknya? Rangga tidak habis pikir. Dia sama tidak menyadari bahwa tindakan cerobohnya membuang cadar Kemuning membuat dia dalam masalah besar. Jika saja dia tidak melakukan hal bodoh tersebut, kemungkinan untuk tersusul akan sangat tipis. Bahkan mungkin Rangga bisa melenggang dengan bebas membawa Kemuning ke manapun dia suka. Tapi ... kiranya takdir Tuhan berkata lain.
Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, para prajurit kerajaan langsung menyergap Rangga. Mereka datang dengan tujuan untuk meringkus dan menangkap hidup-hidup, pastinya pilihan mencelakai akan dikesampingkan kecuali bila keadaan yang tidak memungkinkan.
"Kurang ajar! Bagaimana ini?" batin Rangga. Dia tidak mungkin mampu hadapi para prajurit tersebut dengan Kemuning dalam gendongannya, tapi jika tubuh Kemuning dibiarkan tergeletak tentunya bukan pilihan yang baik.
Desh! BRUUUKKK! Tidak cukup waktu untuk berpikir lebih lama, satu tendangan dari belakang keburu mendarat di punggung Rangga, membuat Rangga sekaligus Kemuning jatuh secara bersamaan. Tubuh Kemuning terlepas dari gendongan, tergelinding beberapa meter menjauh dari Rangga.
Rangga cepat bangkit dan berusaha untuk kembali menjangkau Kemuning, tapi beberapa sabetan pedang yang datang memaksa dirinya untuk menghindar dan semakin menjauh.
"Ringkus cecunguk itu, biar aku urus wanita tidak berdaya ini!" perintah hulubalang. Dia segera menghampiri Kemuning.
"Jangan sentuh dia, atau kalian akan terima akibatnya!" teriak Rangga penuh kemarahan.
Layaknya debur ombak di lautan yang terus menghantam tapi tidak juga mampu goyahkan karang. Rangga hanya bisa mengumpat, mencaci, tanpa punya daya untuk selamatkan Kemuning dari tangan hulubalang. Meskipun dia tidak rela, tapi kenyataan menghadapkan dirinya pada pertempuran yang sukar diatasi.
"Ah?! Benarkah ini?!" Hulubalang terperanjat ketika dia membalikkan tubuh Kemuning dan menemukan betapa indah wajah yang dimiliki oleh sosok Kemuning. Sampai-sampai jakun Hulubalang naik-turun berulang kali.
Seorang wanita berparas bidadari, mungkinkah dia merupakan anggota kelompok sirkus? Hulubalang berpikir sejenak. Jika benar wanita ini adalah Dewi Kundalini itu ... ah, sangat kebetulan sekali. Tumpukan emas akan datang menghampirinya. Senyum mengembang di bibir hulubalang. Secara logika, rasanya tebakannya tidak mungkin meleset.
Dalam sekejap, hulubalang menyingkirkan segala perasaan yang mendesirkan darah kelelakiannya. Jauh lebih baik untuk tumpukan emas, daripada mengikuti hawa nafsu yang justru menjerumuskan dirinya dalam banyak masalah. Hulubalang berpikir dengan realistis, jika dia berhasil dapatkan bayaran besar karena menemukan Dewi Kundalini, terlalu banyak wanita yang akan dia dapatkan.
Buru-buru Hulubalang membawa Kemuning menuju kudanya. Memberikan perintah pada anak buahnya untuk sekalian menghabisi Rangga. Karena sekarang, dia sama sekali tidak berguna.
"Hei, bang*sat! Lepaskan dia!" Rangga berteriak seperti orang gila.
Tanpa memperdulikan dirinya, Rangga menerobos paksa kepungan prajurit. Dia mencoba untuk mengejar kuda hulubalang. Kecerobohan yang Rangga lakukan, membuat dirinya terjerumus dalam kekalahan. Semestinya dia bisa setidaknya untuk celakai beberapa orang lawan, tapi karena ini maka dengan mudah para prajurit menyerangnya dari belakang.
Crassh! Crasss! beberapa sabetan mata pedang mendarat di punggung Rangga, membuat darah menyembur keluar. Tapi Rangga tidak memperdulikan hal itu, dia terus coba berlari mengejar kuda milik Hulubalang yang membawa Kemuning pergi dari tangannya.
"Tidaakk! Kemuning ... Tidaaakkk!!!" Rangga meratap dalam lautan kesedihan. Jiwanya terperosok dalam, menuju lembah penyesalan.
Ayunan langkah Rangga semakin melemah. Darah yang mengucur dari luka di punggungnya membuat Rangga kehilangan tenaga. Rangga sadar, kematian sebentar lagi akan menghampiri. Biarlah, dia lebih rela. Lebih baik mati berkalang tanah, karena jelas-jelas dirinya tidak akan lagi miliki kesempatan untuk memiliki Kemuning, wanita yang sangat dia kagumi.
"Tanpa kau di sisiku, aku tidak mungkin mampu untuk hidup. Lebih baik aku mati ... Kemuning, selamat tinggal," Rangga tersenyum dalam derai air mata. Perlahan dia mengangkat pedang di tangannya, sebelum kemudian dengan kedua tangannya menghunjamkan pedang tersebut menembus dadanya. Rangga tewas bunuh diri. Kecewa, Frustrasi, terluka, sampai-sampai kehilangan akal. Puncaknya, dia tewas mengenaskan.
°°°
Derap seekor kuda yang dipacu kencang seketika terhenti ketika sang penunggang mendapati kenyataan yang terlihat tidak sesuai dengan ekspektasi dalam benaknya. Dia terlihat ragu untuk mengambil keputusan, menatap kosong tanpa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Orang itu tidak lain ialah hulubalang yang membawa Kemuning. Setibanya di puncak bukit, dia bisa melihat para prajurit yang mulai kocar-kacir dalam peperangan. Begitu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Tapi yang lebih mengejutkan lagi ialah Tumenggung Surotanu, yang terlihat begitu kerepotan menghadapi seorang pendekar muda. Empat Setan Alas yang ditakuti hanya tersisa dua, itupun dalam keadaan luka parah. Tidak lama lagi mungkin akan menyusul rekannya yang lain.
"Waahhh ... bagaimana ini?!" Hulubalang menggaruk kepalanya.
Begitu beresiko untuk datang menghampiri. Bisa-bisa dia langsung kehilangan nyawa karena Kemuning ada pada dirinya. Diam, tentu bukanlah satu keputusan. Namun akhirnya senyum tersungging di bibir Hulubalang. Dengan segera dia memutar arah kuda, kembali ke kota. Tentu saja, tujuannya ialah kediaman Juragan Abdi. Di sana, hulubalang bisa memperoleh apa yang dia inginkan. Bonus besar menunggunya. Meskipun dia harus pergi meninggalkan kota, tidak lagi menjadi prajurit, pastinya dia akan menikmati hidup dalam gelimang harta.
Kilau perhiasan dunia, membuat orang-orang jadi gelap mata. Di mana jasa dan persahabatan tidak lagi jadi pokok utama. Semua luntur karena harta. Jiwa seorang pengkhianat seketika tumbuh dengan subur.
Tumenggung Surotanu sedang berjuang dalam pertarungan hidup dan mati. Bisa-bisanya sang anak buah justru lebih memikirkan harta benda. Bagimana menanam, begitulah akan memetik. Mungkin itu merupakan sebuah karma untuk Surotanu, karena selama ini dia kerap berbuat demikian. Menumpuk harta benda adalah tujuan hidupnya.
Harta tidak dibawa mati, bahkan tidak akan mampu membantu untuk selamatkan pemiliknya dari kematian. Tumenggung Surotanu harus membuka mata akan hal itu. Kali ini, bahkan tidak seorang pun coba tolong dirinya dari bayang-bayang kematian. Sementara Danur Cakra terlihat begitu bersemangat untuk mencelakainya.
Tumenggung Surotanu kembali menerima pukulan demi pukulan. Tubuhnya yang selalu dibalut pakaian terhormat sebagai penegak hukum, kali ini telah berubah menjadi karung pasir. Karung yang digantung digunakan sebagai sarana latihan. Menerima pukulan adalah tujuan utama karung tersebut.
Darah mengalir dari mulut, hidung, telinga bahkan mata Tumenggung Surotanu. Dia bagaikan seonggok sampah yang dengan mudahnya siapa pun bisa menginjak. Akan tetapi, satu hal yang aneh yaitu dia tidak lekas meninggal. Danur Cakra sengaja menjadikan tubuh Tumenggung Surotanu sebagai bulan-bulanan untuk menuntaskan hasrat kemarahan, menjadikan pejabat kerajaan sebagai pelampiasan atas kesalahan yang dia lakukan.
"Di mana kau sembunyikan Kemuning?!" bentak Danur Cakra.
Dengan kasarnya, tangan Danur Cakra menjambak rambut Tumenggung Surotanu yang jatuh tertelungkup. Sementara kaki Danur Cakra seenaknya menginjak punggung pejabat hukum tersebut seperti menginjak anak babi yang terkena jerat.
"Aku tidak tahu!" jawab Tumenggung Surotanu.
Kendati bicara jujur, tetap saja Danur Cakra tidak percaya dan terus memaksa untuk Tumenggung Surotanu memberitahu di mana keberadaan Kemuning. Tidak segan-segan Cakra melakukan siksaan yang tidak manusiawi pada seorang pejabat hukum. Tidak ada kitab undang-undang kerajaan dalam pertempura. Yang ada hanyalah hukum rimba, yang menang bebas melakukan apa pun. Bahkan berhak untuk mengambil kesempatan hidup lawan.
Tumenggung Surotanu kelojotan, menahan rasa sakit yang seumur hidup belum pernah dia rasakan. Kedua tangan dan kakinya telah dipatahkan, daun telinga telah melayang jauh meninggalkan tempat semula, terakhir Danur Cakra mencabut paksa lidah pejabat hukum itu. Menutup kesempatan Tumenggung Surotanu untuk menjalankan tugas membaca keputusan pidana.
Dengan tangan yang masih berlumuran darah, Danur Cakra angkat kaki dari peperangan. Meninggalkan mereka yang masih bertarung. Bahkan tanpa menoleh barang satu kali pun.
"Kemuning ... di mana dirimu?" Danur Cakra berucap dengan bibir yang bergetar.
Danur Cakra mengutuk dirinya sendiri, karena telah lalai menjaga seorang yang begitu berarti. Seorang yang mampu bawa banyak perubahan untuknya. Tidak! Danur Cakra tidak mungkin gagal. Dia pasti berhasil untuk temukan Kemuning, secepatnya.
"Bodoh! Harusnya aku cepat menyisir wilayah di sekitar tempat ini. Bukannya malah meladeni permainan para cecunguk itu!" Danur Cakra cepat melompat, menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk coba mencari jejak Kemuning.
°°°
Waktu terasa begitu cepat berjalan. Tiba-tiba saja matahari sudah sangat berat condong di ufuk barat. Tandanya sang rembulan sudah bersiap-siap untuk gantikan menerangi mayapada.
Sebuah rumah bak istana, berdiri dengan megah di tengah kota. Para penjaga berseliweran di sana-sini. Itu merupakan kediaman Juragan Abdi.
Hulubalang yang membawa Kemuning sudah memasuki pelataran utama. Setelah melewati beberapa pos pemeriksaan, dia akhirnya tiba di beranda utama. Juragan Abdi sudah menunggu di sana.
"Hahaha! Juragan ... bagaimana?" tawa lepas Hulubalang terdengar setelah dia membaringkan tubuh Kemuning di sebuah karpet mewah yang disiapkan.
Beberapa waktu lamanya Juragan Abdi melongo. Bahkan sang juragan berulang kali mengucek-ngucek mata, seolah memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi.
"Kau?! Mengapa dirimu? Mana junjunganmu?!" tanya Juragan Abdi.
__ADS_1
Hulubalang sudah menduga akan hal itu. Dia sudah mempersiapkan semuanya, jawaban dan juga mental. Hingga ketika Juragan Abdi bertanya, Hulubalang bisa mengantisipasi rasa terkejut dan menjawab dengan santai. Dia mengarang cerita yang masuk akal. Lagi pula, hampir seluruh sudut kota tahu kalau hari ini Tumenggung Surotanu memimpin pasukan untuk menumpas pemberontak. Tidak sulit bagi Hulubalang untuk meyakinkan Juragan Abdi agar mau sekalian menyerahkan sisa bayaran yang dijanjikan berikut bonusnya.
"Akan tetapi ... jika Juragan Abdi tidak yakin, Juragan bisa menunggu hingga Gusti Tumenggung kembali. Tapi resikonya sama-sama kita tahu," tutup Hulubalang, sedikit menakuti Juragan Abdi.
"OOO ... hahaha! Jangan khawatir. Ada barang, ada uang! Hahaha!" dengan tawa lebar, Juragan Abdi menjawab.
Tiga kali tepukan tangan, seketika satu peti kayu berisi emas keluar. Dan langsung berpindah tangan pada Hulubalang. OMG! Hulubalang kaya mendadak. Keputusannya sangat brilian!
Sebelum pergi, Hulubalang menjelaskan bahwa Kemuning atau yang mereka sebut sebagai Dewi Kundalini hanyalah pingsan, akibat obat bius. Dengan mendatangkan seorang tabib, masalah itu beres.
"Pelayan, bawa calon istriku ke kamar," perintah Juragan Abdi.
Enam orang yang keseluruhannya perempuan segera bergerak. Dengan sangat hati-hati, mereka membawa tubuh Kemuning memasuki kamar. Sementara seorang pengawal segera mencari tabib.
~~
"Akkhh ... Ahhh ..." Kemuning siuman.
Matanya memandang berkeliling, mendapati dirinya telah berada di ranjang yang amat mewah. Apakah dia telah kembali ke rumahnya?! Tidak! Sangat tidak mungkin. Kemuning ingat, terakhir kali dia di bekap lalu dibawa kabur oleh Rangga. Besar kemungkinan ini adalah penginapan.
"Apa yang terjadi padaku?" Kemuning mencoba untuk merasakan hal-hal aneh para tubuhnya. Terutama pada pangkal paha. Kata orang, rasanya akan terasa sangat sakit bila daerah itu telah di sentuh dan di nodai.
Ada sedikit perasaan tenang ketika Kemuning tidak merasakan apa pun di sana. Itu artinya dia masih seorang gadis suci. Rangga atau siapa pun belum merenggut sesuatu paling berharga yang dia miliki. Akan tetapi, sampai kapan Kemuning bisa pertahanan itu? Sementara kondisi tubuhnya semakin memburuk.
"Cakra ... di mana kau sekarang? Apa kau tahu, aku takut di sini. Mengapa kau belum juga datang? Tolong aku ..." dalam ketakutan Kemuning terus berdoa supaya sosok malaikat penolong segera tiba.
Mengapa harus Danur Cakra? Apakah Kemuning memiliki perasaan yang sama, apa mungkin dia pula telah menaruh simpati pada Cakra? Ada kemungkinan itu benar. Akan tetapi yang jelas, Kemuning membutuhkan Danur Cakra supaya dia bisa melanjutkan hidup. Jika sampai besok pagu tidak ada kekuatan tenaga dalam yang membuat dirinya bertahan, maka kondisi Kemuning akan semakin buruk. Lagi pula, ramuan obat yang telah diracik oleh Tabib Mala tertinggal di dalam gua.
Air mata Kemuning perlahan mengalir membasahi kedua pipinya. Dia takut, benar-benar takut. Bagikan seorang yang berada di tengah hutan belantara, tidak tahu arah, tidak punya kekuatan, tidak miliki bekal. Bagaimana cara untuk bertahan?
"Hehehe ... syukurlah, kiranya kau sudah sadar nduk ..." terdengar suara seorang wanita tua.
Kemuning berusaha untuk memutar kepalanya, mencari tahu siapa orang yang berbicara. Setelah berhasil, Kemuning melihat seorang wanita dengan usia sekitar enam puluh tahun sedang mempersiapkan ramuan untuknya. Sepertinya dia seorang tabib, orang yang telah membantu Kemuning sadarkan diri.
"Tabib ... di - di mana saya sekarang?" tanya Kemuning dengan lemah.
Tabib tersebut kembali tersenyum manis. Sebelum menjawab pertanyaan Kemuning, terlebih dahulu tabib mengucapkan selamat. Karena menurutnya Kemuning adalah seorang yang beruntung.
"Ah, beruntung? Maksud tabib?" Kemuning justru kaget.
"Hehehehe! Non harus segera sehat. Sebentar lagi akan jadi pengantin, masa lupa ..."
"APA, PENGANTIN?!" Kemuning hampir mati tersedak ludah. Seseorang akan menikahinya, siap orang itu?
Ketika Kemuning dalam kebingungan sekaligus rasa takut, dari balik tirai muncul seorang yang pernah Kemuning lihat.
"Selamat malam, calon istriku. Syukurlah kau sudah siuman."
__ADS_1