
"Heiii ... sudah, sudah, jangan bertarung lagi. Pertarungan ini sangat membosankan. Baiknya kalian biarkan bocah kecil itu pergi. Hahaha!" Raja kera bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Danur Cakra.
Yang Danur tahu hanyalah gerombolan kera yang berhenti menyerangnya. Sekarang, Danur Cakra bisa bernapas dengan lega. Dia memandangi raja kera dengan seksama. Wajah raja kera itu tidak nampak menyeramkan, malah terlihat lucu karena kepalanya tidak tumbuh bulu alias botak.
Perlahan, Danur Cakra mundur teratur hingga dia mencapai pintu gua jalan dia masuk tadi. Tidak menunggu sampai gerombolan kera itu berubah pikiran, Danur Cakra segera menyambar buntalan bekalnya dan kabur dari dalam gua.
"Awas saja, tunggu aku kuasai kemampuan yang lebih besar. Akan aku pastikan untuk memporak-porandakan tempat terkutuk ini. Kurang ajar kalian!" Danur Cakra mengepal keras. Ini adalah dendam pertama yang muncul di dalam hatinya.
Sifat Danur Cakra sangat berbeda dengan ayah ataupun ibunya. Dia begitu ambisius dan merasa dirinya lebih kuat dari orang lain. Danur Cakra menginginkan jika dia adalah seorang yang bisa diandalkan. Hingga jika ada yang mengalahkannya, membuat dirinya terlihat lemah, maka Danur Cakra akan menjadi marah.
Dengan kata lain, Danur Cakra sangat berbeda dengan Mahesa. Dia lebih mirip dengan sifat Puspita kala menjadi Cahaya Langit. Dan karena itulah mengapa Raditya dan Rengganis mengambil alih hak asuh Danur Cakra. Karena Raditya telah melihat tanda-tanda tersebut, hingga sepasang pendekar tua itu akan berusaha untuk melemahkan kekuatan negatif yang ada pada diri Danur Cakra.
"Sudah hampir satu pekan, mengapa Danur belum pulang juga, apa mungkin dia mendapat kesulitan?" Rengganis terlihat hilir mudik, menunggu kepulangan cucunya.
"Hahaha! Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Aku sudah pastikan seluruh daerah sepanjang jalan bersih dan tanpa halangan. Gerombolan kera itu pun tidak akan menyakitinya. Kita tunggu saja, pasti dia akan kembali. Ingat, bukankah kau sendiri yang katakan jika kita tidak boleh membandingkan Mahesa dengan siapa pun, termasuk cucu kita ini," sekali lagi Raditya menegaskan.
Bakat yang dimiliki oleh Mahesa adalah bakat yang muncul tidak dalam seratus tahun sekali. Fenomena langka tersebut sama sekali tidak banyak orang yang bisa peroleh kesempatan. Begitu juga dengan anak-anak Mahesa, mereka tidak seberuntung ayahnya dalam hal kemampuan olah kanuragan. Akan tetapi mengenai jalan hidup, tentu semua orang memiliki suratan takdir masing-masing yang pasti tidak akan sama.
__ADS_1
Saat mendayung perahu, bukan gelombang ataupun angin yang memutuskan arah dan tujuan. Akan tetapi, niat dan tekad orang yang mendayung adalah penentu di mana perahu tersebut mendarat.
Raditya hanya tertawa terkekeh saat Danur Cakra kembali tanpa membawa selembar bulu raja kera. Justru jika Danur Cakra pulang dengan membawa bulu raja kera, maka bakal ketahuan jika dia tidak bertemu dan melihat langsung kepala raja kera yang botak. "Selain ujian kemampuan, sebenarnya kakek ingin mengatahui bagaimana mentalitas yang kau punya, itu yang paling penting. Sekarang, kakek tidak ragu lagi. Selamat kau lulus ujian."
Danur Cakra tersenyum lega. Ternyata semuanya dipersiapkan oleh Raditya hanya untuk dirinya. Untuk melatih mental dan kepribadian.
Baiklah, Danur Cakra berjanji untuk berlatih lebih giat lagi. Danur harus secepatnya tumbuh menjadi seorang pendekar yang tak terkalahkan. Dengan kemampuan tenaga dalam dan bela diri yang diam miliki, maka dia akan menumpas semua kejahatan di muka bumi dan tentunya akan menghajar siapa pun yang berani mengusik hidupnya ataupun keluarganya.
°°°
Danur Cakra Prabaskara sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia yang begitu keras, untuk membentuk tulang dan otot yang lebih perkasa, untuk membuat dirinya menjadi seorang pendekar sebagaimana yang dia cita-citakan. Saudara kembar Suhita Prameswari tersebut tidak akan pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai. Sebelum dia meraih impiannya menjadi seorang pendekar hebat.
Mahesa yang akan mengambil alih kuasa kedua kitab. Di mana dia yang akan memberikan bimbingan secara langsung pada Suhita mengenai pembelajaran kitab tersebut. Sebelum Suhita belajar, Mahesa telah lebih dulu membaca dan memecahkan teka-teki dari apa yang tertulis di dalam kitab. Dengan demikian, apa pun resiko atas kesalahan dalam pemahaman maksud catatan, sebagai seorang guru maka Mahesa yang meng-handle semuanya. Suhita terima bersih dan berhasil.
"Sayang, bagaimana dengan catatan kusam yang ibu berikan padamu, apa kau sudah bisa pahami semuanya?" tanya Puspita pada anaknya.
Hari itu, Mahesa sedang tidak ada di rumah. Dia sedang berada di kediaman Dewi Api.
__ADS_1
Suhita tersenyum. Dia kemudian membuka kotak perlengkapan yang selalu dia bawa. "Lihat, bu. Sebenarnya Hita telah pelajari semuanya, tapi biarlah catatan ini akan hancur sendiri. Sering kali Hita membaca ulang sisa catatan yang tersisa," Suhita menunjukkan sebagian catatan yang mulai hancur.
Puspita mengangguk. Dia membelai rambut putrinya dengan lembut. "Terima kasih, ya. Kau sudah tumbuh menjadi anak pintar seperti yang ibu harapkan."
"Ah, ibu terlalu memuji. Aku ini tidak secerdas ibu, juga tidak berbakat seperti halnya ayah. Kemampuanku pas-pasan. Berkat kegigihan kalianlah makanya aku bisa begini," Suhita merangkul bahu ibunya dengan manja.
Sekarang, Suhita Prameswari sudah bukan Suhita yang dulu. Dia tidak lagi perlu dicemaskan. Dia juga tidak lagi begitu bergantung pada orang lain. Suhita sudah bisa menjaga dirinya dengan baik. Kemampuan ilmu pengobatan yang dia miliki juga sudah berada pada tahap yang tinggi. Ya, walaupun belum sehebat ayahnya. Tapi bakat alami yang dia miliki, akan menjadikan Suhita Prameswari sebagai tabib masa depan. Takdirnya telah tertulis, kelak tidak akan ada orang yang mampu ungguli kemampuannya.
"Ibu, bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan? Melihat air terjun, melihat kebun sayuran, dan melihat-lihat hal yang indah lainnya. Biar tidak bosan," usul Suhita.
"Baik! Ibu suka idemu. Apa kau sudah selesaikan tugas harianmu? Jangan sampai karena ingin berlibur hingga kau jadi abai. Ayahmu tidak suka hal itu," Puspita mengingatkan.
"Beres, bu. Hita sudah rampungkan semuanya. Sekarang Hita akan bantu ibu memasak kemudian kita berangkat. Kakek dan nenek tidak usah di ajak."
Puspita tertawa kecil. Sekali lagi dia memeluk tubuh Suhita dengan hangat. Sebelum kemudian mereka bergegas menuju dapur.
Hampir setiap hari, Suhita akan ikut membantu ibunya menyiapkan makan malam. Sejak usia lima tahun, Suhita sudah bisa menanak nasi dengan benar. Sekarang, dia bahkan sudah pandai meracik beberapa masakan layaknya sang ibu.
__ADS_1
Pernah satu waktu, Mahesa terkejut karena mengira Puspita yang memasak. Rasa sayur yang dihidangkan sedikit berbeda di lidah. Mahesa menduga kalau Puspita melupakan satu bumbu atau takarannya yang tidak pas.
Namun saat Mahesa bertanya, justru Suhita yang tertawa-tawa tidak jelas. Sudah pasti, kokinya yang berbeda. Karena beda koki pasti beda rasa, apalagi kalau kokinya abal-abal serupa Suhita.