Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Asap Pengubur Nyata


__ADS_3

Suhita tidak bisa berbuat banyak, bahkan suara teriakannya pun tidak terdengar. Pertarungan telah terjadi, tanpa bisa dihindari lagi.


Kalagondang terus tertawa seperti ciri khasnya sehari-hari. Tapi bagi Ki Pasopati semua itu hanya membuat dirinya semakin terbakar kebencian.


Belasan tahun yang lalu, saudara Ki Pasopati tewas di bunuh oleh Kalagondang. Ini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam. Mereka kembali bertemu dan bertarung satu lawan satu.


"Non, baiknya Non Hita cari tempat untuk berlindung. Tunggu sampai nenek kembali," Nyi Gondo Arum melompat menyambut serangan anak buah Ki Pasopati yang lain.


"Nenek, sudah. Jangan berkelahi!" Suhita berteriak meskipun tidak dipedulikan. "Apa yang harus aku lakukan? Pertarungan ini, bagaimana kalau nenek sampai terluka?" Suhita menggaruk kepalanya yang mendadak jadi gatal.


Di mata Suhita, tubuh Nyi Gondo Arum maupun Kalagondang sudah tidak pantas berhadapan dengan mereka yang masih begitu bugar. Atau lebih baiknya jika kedua kakek nenek itu tidak lagi berkelahi. Memangnya apa hebatnya jago berkelahi? Jika sekadar untuk melatih otot-otot, tidak seharusnya untuk buat masalah yang pertaruhkan selembar nyawa. Prinsip para pendekar memang sangat aneh bagi Suhita.


Sementara Suhita kebingungan, pertarungan yang berlangsung semakin bertambah sengit saja. Nyi Gondo Arum telah tumbangkan beberapa orang lawannya. Usianya memang berjumlah dua kali lipat dari lawan, tapi begitu juga dengan kemampuan yang dia punya.


Namun tidak untuk Kalagondang. Setelah sepuluh tahun lebih pakum dari dunia persilatan, semuanya telah banyak berubah, termasuk kemampuan lawan-lawannya. Dengan semakin mudahnya diperoleh sumberdaya dan segala jenis obat-obatan yang menunjang kemampuan tenaga dalam, membuat para pendekar di dunia persilatan pun semakin cepat berkembang. Termasuk Ki Pasopati.


Sekarang, kenyataan yang berlawanan ditunjukkan oleh Ki Pasopati. Di mana Kalagondang dibuatnya kewalahan. Hingga pada satu kesempatan, Ki Pasopati berhasil memancing Kalagondang dalam gerak tipuannya.


Wuuss Bugh!


Kesempatan emas tidak disia-siakan oleh Ki Pasopati. Satu serangannya berhasil mendarat di perut Kalagondang.


Kalagondang yang sedang melakukan gerakan salto, tubuhnya langsung saja terlempar saat kaki Ki Pasopati menerjang dengan keras.


"Hahaha!" tawa Pasopati meledak mendapati kemampuannya bisa diandalkan untuk lakukan upaya balas dendam. Dia cepat melakukan gerakan selanjutnya.


"Huuuhhh ... dasar aki-aki busuk yang lemah!" untunglah Nyi Gondo Arum bergerak cepat, hingga dia segera meninggalkan lawan-lawannya dan melakukan perlindungan kepada Kalagondang.

__ADS_1


"Hahaha! Kalian berdua, pasti akan mati bersamaan," Ki Pasopati mengirim isyarat untuk anak buahnya bergabung dalam formasi serangan yang mereka punya.


Tapi tiba-tiba ...


Wuusshh ... wuuussshh ...


Angin yang berhembus pelan tiba-tiba menggoyang dedaunan dengan lebih kuat, ada kelebat bayangan semu yang menimbulkan angin tersebut. Bayangan menyerupai ular yang samar berwarna putih, selain itu juga muncul pemandangan lain yang terbang bersamaan, berupa asap yang memiliki warna berbeda.


"Asap Pengubur Nyata?!" serentak, seluruh orang yang ada melompat mundur menjauh.


Namanya juga Pengubur Nyata, maka siapa pun yang terpengaruh oleh racun tersebut maka alam nyata seketika akan terkubur dan berganti dengan alam ilusi. Mereka akan kehilangan kesadaran saat itu juga. Tidak memilih siapa pun orangnya.


Termasuk Kalagondang dan Nyi Gondo Arum, keduanya segera bergerak ke arah tadi Suhita menunggu. Namun betapa terkejutnya kakek dan nenek tua itu. Tidak mereka menduga sebelumnya, jika ternyata yang menebar Asap Pengubur Nyata adalah Suhita itu sendiri.


"Nah, kalau kalian berhenti berkelahi, bukankah sangat enak untuk bicara baik-baik?!" Suhita Prameswari tersenyum.


Seiring Suhita menarik kekuatan tenaga dalamnya, maka Asap Pengubur Nyata dan bayangan naga yang dia sebarkan juga ikut menghilang. Sekarang, kedua belah pihak berdiri berhadapan dari jarak yang cukup jauh.


Ki Pasopati menatap Suhita dengan tajam. Sekarang mata kepalanya melihat sendiri bagaimana kemampuan tabib kecil itu. Dia yakin jika anak buahnya tidak salah lihat. Memang tabib kecil ini yang menyembuhkan orang-orang dengan gejala sakit aneh.


"Baik. Sekarang, apa aku bisa bicara lebih dulu?" Ki Pasopati mendekat ke arah Suhita.


"Non Hita, hati-hati dia ..."


Suhita mengangkat tangannya, meminta untuk Nyi Gondo Arum tidak meneruskan kalimatnya. Ya, cara seperti itu sering Suhita lihat jika ayahnya menyuruh ibunya diam. Dan benar, cara itu sangat ampuh.


Dengan tenang, Suhita menyambut keinginan Ki Pasopati. Dia menjawab apa yang Ki Pasopati tanyakan tanpa ragu.

__ADS_1


"Tabib kecil, lalu siapa yang memberimu Serbuk Pengubur Nyata?" tanya Ki Pasopati kemudian. Dari caranya, nampak jelas jika pendekar itu memperhitungkan racun-racun lain yang tidak kalah ganasnya yang kemungkinan besar masih di simpan oleh si tabib kecil.


"Tuan, saya bahkan tidak tahu apa yang kalian ketahui. Jadi, saya minta maaf untuk hal ini," Suhita tersenyum, kali ini dia berbohong untuk sembunyikan segala hal tentang ayahnya.


"Tabib kecil, bagaimana jika aku mewakili kelompok mengundang kalian bertiga untuk makan malam di markas kami? Guruku, Pendekar Naga Sayap Tunggal pasti senang bisa berjumpa dengan tabib kecil," Ki Pasopati mengajukan tawaran bagus.


Suhita menoleh pada Nyi Gondo Arum dan Kalagondang yang kontan saja langsung menggelengkan kepala mereka.


"Tuan, maaf. Sebelum gelap kami harus telah melewati hutan bukit hujan. Jadi, saya pikir mungkin lain kali saja kami akan berkunjung. Sampaikan salam kami pada guru Tuan sekalian," Suhita membungkuk minta maaf. Kemudian, dengan kemurahan hatinya Suhita membagikan beberapa bungkus obat-obatan pada mereka yang terluka akibat pertarungan dengan Nyi Gondo Arum.


Tanpa bisa dilarang lagi, Suhita dan kedua pembantunya segera pergi.


"Sialan! Berani sekali mereka permainkan kita. Ayo, kita pulang dan laporkan mengenai keberadaan Tabib Titisan Dewa itu. Ini berita besar!" Ki Pasopati membawa anak buahnya kembali ke markas mereka.


Tabib Titisan Dewa yang sudah beberapa waktu ke belakang ini menjadi berita hangat, mendadak muncul di hadapan mereka. Tabib Titisan Dewa didengar beritanya, tapi tidak bisa diendus keberadaannya. Bukannya tidak ada yang mencoba, akan tetapi sebanyak apa pun pendekar yang pergi maka sebanyak itu juga mereka yang menghilang tanpa kabar.


Beredar mitos yang menyebutkan jika Tabib Titisan Dewa benar-benar dibimbing oleh Dewa. Selama Dewa penjaga sang tabib masih mengajar di bumi dan belum pulang ke langit, maka selama itu pula tidak akan ada orang yang bisa menyentuh sang tabib.


"Seorang anak kecil, wanita?!" Pendekar Naga Sayap Tunggal mengerutkan dahi mendengar laporan Ki Pasopati.


Tabib Titisan Dewa yang banyak diburu oleh para pendekar dan tokoh padepokan ternyata hanya seorang bocah wanita berusia delapan tahun. Apa tidak salah?!


"Ke mana mereka pulang?" tanya Pendekar Naga kemudian. Terus terang, dia sangat penasaran. Jika hanya dijaga oleh Kalagondang dan Nyi Gondo Arum, tidak mungkin jika para pendekar besar yang pergi berburu bisa dilvmat habis seluruhnya.


"Mereka ke arah utara melewati bukit hujan, tidak jelas apa itu merupakan kediaman mereka atau hanya tempat singgah atau dia hendak mengobati orang."


Seorang hulubalang mengangkat kepalanya, dia menyampaikan berita bagus. "Ketua, di dalam bukit hujan terdapat sebuah gua yang bernama gua badai salju, aku yakin jika Tabib Kecil itu akan ke sana!"

__ADS_1


"Siapkan dua puluh orang pasukan khusus. Kita berangkat sekarang. Jangan sampai badai salju mengguyur bukit hujan malam ini."


Pendekar Naga dan para pendekar besar di sana segera bergegas.


__ADS_2